GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
persiapan melawan nenek sihir


__ADS_3

Asih mengetuk pintu kamar Aulia, gadis itu pun membuka pintu kamarnya.


"Makan dulu non" Ucap Asih pada Aulia.


"Taroh situ aja mbak, Aulia belum lapar" Ucap gadis itu lesu. Asih meletakkan Nasi di atas meja kecil di samping ranjang Aulia. Wanita itu kemudian duduk sambil mengusap lembut Rambut panjang remaja itu.


"Apa non tak ingin mencari mamah?" Tanya Asih kemudian. Aulia menatap tajam pada Asih. Asih mengangguk lalu menarik nafas dalam.


"Sebelum ibuk berangkat, ibuk menitipkan non Aulia dan adik adik pada mbak asih, dan mbak Asih sudah berjanji akan menjaga kalian jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi di rumah ini. tapi setelah mbak Asih bertemu dengan nyonya Hesti, mbak rasa mbak tidak akan mampu menjaga kalian jika kalian tidak mau ikut berjuang bersama mbak." Ucap Asih lembut membuat Aulia menatap Asih tajam. Asih mengangguk memahami tatapan majikan cilik nya itu.


"Nyonya Hesti adalah tipe wanita yang licik dia tidak akan berhenti begitu saja sebelum semua kehendaknya terpenuhi, niat utama nya adalah menguasai papa non Aulia, Oleh karena itu non Aulia harus bisa melawan nya dengan cara yang cantik. jangan Protes atau pun menentang nya di depan papa, jadilah anak lemah yang penurut di depan papa, tapi jadilah Aulia yang kuat di saat wanita itu mulai merajalela." Ucap Asih menyalakan Api di dada Aulia.


"Maksud mbak apa?" Tanya Aulia belum mengerti.


"Nanti jika non Aulia sudah melihat dan merasakan sendiri perbuatan Nyonya Hesti non Aulia akan mengerti maksud Mbak, Sekarang mbak mohon, non Aulia makan dan minum obat, jangan biarkan tubuh non Aulia lemah, dan mulai besok mbak Asih akan mengantar non Aulia dan den raja ke tempat latihan taekwondo seperti biasanya. non Aulia harus punya tenaga untuk melawan nenek sihir itu. Ucap mbak Asih menyodorkan nasi ke bibir Aulia, Aulia pun membuka mulutnya dan memakan nasi yang di suapi mbak asih.


"Setelah makan non solat dan turun ke bawah, jangan perlihatkan kesedihan non di depan wanita licik itu." Ucap Asih kemudian Aulia hanya mengangguk dan menurut ucapan mbak Asih.


Sesuai dengan ucapan mbak Asih selesai makan Aulia melaksanakan solat dan kemudian Turun ke lantai bawah, di sana ada Raja dan Dila yang sedang menonton kartun Favorit mereka.


"Kak, sini...?" panggil Raja, Aulia menurut dan ikut bergabung dengan ketiga Adiknya itu. sedangkan Hesti menatap kesal pada ketiga anak tirinya itu.


"Anak anak ini harus banyak belajar cara menghormati orang tua." Batinnya.


*****

__ADS_1


"Jangan asal kau, aku bukan mak comlang, enak saja" Protes Mia pada Haikal.


hahahaha semua pun tertawa lucu mengingat kelakuan mereka saat di sekolah dulu.


"Ayok sekarang kita makan dulu " Ajak pak Samsul pada semuanya. mereka menikmati makan siang sambil bercerita di meja makan. setelah selesai makan wak Samsul mengajak Mia bicara di Ruang tengah di sana juga ada Iman yang sedang menyusun beberapa kertas, entah itu kertas apa.


"Ini," pak Samsul memberikan sebuah buku tabungan pada Mia.


"Apa ini wak," Mia menatap buku tabungan itu penuh tanda tanya.


"Itu hasil dari pembagian ladang dan sawah Almarhum orang tuamu, Dulu saat almarhum kakak mu masih hidup wak selalu mengirim bagian itu ke rekening nya, tapi saat wak dengar kabar dia telah meningal wak bingung mau memberikan hasil panen itu pada siapa dan akhirnya wak putuskan untuk membuat rekening saja, agar uang itu aman sampai pada yang berhak."Ucap wak Samsul menjelaskan.


"Mia kini membuka buku tabungan itu, dan matanya melotot saat melihat nominal saldo di tabungan itu."


"Wak...., apa ini benar, banyak sekali?" Ucap Mia kaget.


"Jadi selama ini siapa yang mengurus sawah dan ladang itu wak." Tanya Mia lagi.


"Karena wak tidak tau alamat mu,dan juga nomor ponsel mu, jadi lahan itu wak sewakan pada seseorang di ujung desa,mereka keluarga kurang mampu, jadi wak terapkan sistem bagi hasil, dan Alhamdulillah kehidupan mereka banyak berubah semenjak mengelolah sawah dan lahan milik keluargamu itu." Jelas wak samsul lagi.


"Sebenarnya tadi Mia juga ingin bertanya tentang sawah itu wak, tapi Mia tidak tau tentang lahan yang di beli kak Nia, yang Mia tau hanya petakan yang Mia lihat pagi tadi." Ucap Mia polos.


"Ya sudah, sekarang kau sudah di sini, dan wak ingin menyerahkan amanat ini pada mu, wak takut jika suatu saat wak gak sempat Mia, umur wak sudah semakin berkurang." Ucap wak samsul.


"Iman, mana surat surat sawah itu." Iman mengeluarkan beberapa surat kepemilikan sawah dan lahan dan memberikan nya pada Wak Samsul.

__ADS_1


"Ini yah," pak Samsul menerima semuanya dan memeriksa isinya dengan teliti kemudian menyerahkan surat surat itu pada Mia. Mia menerima tanpa memeriksanya kembali karena ia percaya pada wak Samsul.


"Terimakasih banyak wak, tapi untuk pengelolaan nya Mia serahkan semua pada wak,Mia tidak mungkin bisa mengolah sawah dan lahan ini, biarkanlah di kelolah seperti sebelumnya" Ucap Mia pada pak Samsul.


"Baiklah, tapi untuk lebih jelasnya besok sebaiknya kamu bertemu sama petani yang mengolah lahan itu." Mia mengangguk setuju pada rencana pak Samsul.


"Oh ya, masalah renovasi rumah mu itu, tadi pas solat zuhur wak bertemu dengan orang yang bisa mengerjakan nya, besok dia akan memeriksa rumah itu" Mia kembali mengangguk.


"Terima kasih banyak wak," Ucap Mia penuh haru.


"Oh ya,Man, kau bantu Mia memotong Rumput yang menjalar di halaman Rumah itu, nanti bisa bisa ular masuk ke rumah itu" Ucap wak Samsul pada Iman.


"Ya yah,"Ucap Iman merapikan pekerjaan nya,kemudian berganti pakaian dan segera mengambil mesin Rumput.


"Ayok," Ajak Iman pada Mia.


"Wak, sekali lagi terima kasih ya, Mia pamit dulu." Ucap Mia kemudian mencium punggung tangan wak Samsul.


sesampainya di rumah orang tua Mia, dengan lincah Iman langsung memangkas semua rumput yang sudah menjalar ke seluruh halaman Rumah. tak lupa Mia menyiapkan makanan ringan dan segelas kopi sebagia pengobat lelah.


selang satu jam semua rumput sudah terpangkas habis, saat Mia dan Iman duduk di teras seorang pria paru baya datang menghampiri mereka.


"Saya kang Parmin neng, tadi siang di minta Pak RT, buat ngecek rumah yang mau di perbaiki." Ucap pria itu sesaat setelah Mia mempersilahkan nya duduk.


"Oo, iya kang, rencananya saya mau renovasi rumah ini, jadi saya minta akang hitung seluruh biaya nya, dan juga bahan bahan nya, nanti saya akan titipkan semua biayanya sama wak Samsul, karena saya harus kembali ke kota besok sore " Ucap Mia pada kang Parmin.

__ADS_1


Kang Parmin dan Iman memeriksa kedalam Rumah banyak genteng bocor dan tembok yang sudah lapuk, Mia meminta semua ya di ganti baru.


"Kang saya akan ke kota, besok sore, jadi akang bisa mengerjakan nya mulai lusa, saya mau bagian dapur di robohkan dan di renovasi ulang ya. saya sudah punya desain nya" Mia pun meminta Rincian biaya pada mang kang Parmin, setelah kesepakatan di dapat kang Parmin pun pamit pada Mia dan Iman


__ADS_2