
"Talak aku mas"
"Mia," Sungguh Arif tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir sang istri.
"Tidak Mia," Arifin bangun dari tempatnya dan kini duduk di depan Mia, merangkul kedua tangan wanita itu dan menghapus Airmata yang sudah membanjiri pipi sang istri.
"Tidak, mas mohon jangan mengambil keputusan seperti ini Mia, anak anak membutuh kan mu, mereka akan terpukul jika tau kita berpisah Mia"
nyus..... nyeri, yah itulah yang dirasakan wanita itu saat ini, Hanya anak anak, semua di lakukan nya demi anak anak, demi keponakan tercintanya, Namun kenyataan saat ia mendengar dari mulut suaminya langsung ini begitu menyakitkan.
"10 tahun, aku berharap kau membuka pintu hatimu untuk ku mas, Namun ternyata kau membuka nya untuk wanita lain." Batin Mia, Di hempaskan nya tangan Arifin kasar. Ia bangun meraih switer meninggalkan Arifin yang masih terpaku di tempatnya.
Suara deru mobil membangunkan Arifin, ia berlari mengejar sang istri yang mengemudi dalam keadaan emosi.
"Mia stop Mia,....!!!!" Arifin berteriak dengan kencang namun tak di dengar oleh wanita itu.
"Papa...?" Aulia kini berada di belakang sang papa, menatap heran pada pria itu.
"Ada apa pah" Tanya Aulia penasaran."
"Tidak apa apa" Arifin meraih bahu putrinya itu dan membawanya ke dalam rumah. "Sebaiknya kakak ke kamar dan beristirahat papa masih ada urusan " Aulia hanya menurut dengan pikiran bertanya tanya.
"pah, apakah papa dan mamah...?"
"Aulia... masuk?" Tegas Arifin membuat Aulia menurut dan kembali ke kamarnya.
*******
Mobil Inova bewarna hitam itu melesat di keheningan malam, tanpa arah dan tujuan di pengemudi membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, hingga satu jam kemudian mobil itu berhenti di sebuah pemakaman umum. Entah apa yang di pikirkan wanita pemilik mobil itu hingga dia memutuskan ke pemakaman di tengah malam buta seperti ini.
"Kakak...."
"hiks.... hiks.... hiks...., kenapa kak, kenapa kau libatkan aku dalam pernikahan seperti ini, kau tau suami mu itu jahat kak, kenapa kau memintaku menjadi ibu dari anak anak mu. Padahal tanpa menikahinya aku akan tetap menyayangi mereka, dan mereka tidak akan kehilangan cinta seorang ibu." Isak tangis pilu menambah seramnya tempat pemakaman umum malam itu.
*****
Pagi itu di kediaman Arifin anak anak nya tengah di sibukkan dengan rutinitas mereka untuk berangkat ke sekolah, kini semua tengah duduk di kursi ruang makan menunggu kehadiran kedua orang tua mereka.
__ADS_1
"Mbak Asih, kok tumben yah mamah belum keluar kamar" Ucap Dila si bungsu.
"Mbak juga nggak tau non Dila, mungkin sebentar lagi ibuk keluar, oh ya, ini bekal non Dila sudah bibik siapin." Ucap asih sambil memasukkan bekal makanan ke dalam tas masing masing anak majikannya itu.
"Mbak, apa papa belum berangkat ke kantor?" Tanya Aulia kemudian.
"Bapak juga belum keluar dari kamar nya non Aulia." Akhirnya Aulia memutuskan untuk menggedor kamar kedua orang tuanya setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 06:00 pagi.
"Pah, Mah, kami sudah siap untuk sarapan, apa kalian tidak ingin sarapan bersama kami." Ucap Aulia dari balik pintu kamar.
"Iya kak, sebentar lagi papa keluar." Terdengar suara langkah kaki Arifin mendekati pintu.
kreekk...
"Ayo sarapan, pagi ini papa yang akan mengantar kalian ke sekolah." Ucap Arifin sambil tersenyum.
Semua sarapan dalam diam, tak ada suara yang terdengar kecuali dentingan sendok yang sedang beradu dengan piring dan garpu. selesai dengan rutinitas sarapan mereka pun menuju mobil dan berangkat ke sekolah.
"Pah, memang nya mama kemana?" Tanya Aulia memberanikan diri.
Sesampainya di depan gerbang sekolah Aulia sudah di tunggu oleh seorang pria remaja seusianya. Pria itu berjalan ke arah Aulia dan menyapa Arifin.
"Hai om, hai Aulia" Sapa remaja itu ramah.
"Pah, ini kevin Teman sekolah Aulia." Ucap Aulia saat menyadari tatapan papanya yang mengintimidasi.
"Oh, hummm?" Ucap Arifin kemudian, Aulia mencium punggung tangan Arifin dan kemudian memasuki gerbang sekolah. Sementara itu Arifin mengantar kan Raja dan Dila ke sekolah mereka.
Sementara itu Mia yang semalam ketiduran di dalam mobilnya tepatnya di depan gerbang tempat pemakaman umum .
"Astagfirullah halazim , Ya Allah aku ketiduran di sini, dan aku melewatkan solat subuh ku." Gumam Mia menatap ke sekeliling dan ternyata hari sudah mulai pagi. Ia pun segera beranjak dari pemakaman umum tersebut.
******
"Assalamualaikum mas, " Sapa seorang wanita yang kini telah berada di dalam ruangan Arifin.
"Hesti, kesinilah." Arifin memeluk wanita yang amat di cintainya itu dan mencium bibir wanita itu sejenak, melepas kerinduan setelah semalam mereka tak berkomunikasi.
__ADS_1
"Aku bawakan sarapan untuk mas," Hesti hendak membuka rantang makanan yang ia bawa, namun Arifin menarik tangan wanita itu.
"Tidak usah, mas sudah sarapan tadi, kesini lah temani mas, " Arifin mengajak wanita itu duduk di sofa panjang yang tersedia di sana.
"Kenapa...?" Tanya Hesti yang tau jika sang suami sedang tidak baik baik saja. Arifin diam sejenak menghembuskan nafas beratnya. "Huf..."
"Mia pergi dari rumah " Ucapnya sendu.
"A... apa....?" Hesti menatap tak percaya.
"Apa mas memberitahu tentang hubungan kita." Tanya wanita itu kemudian. "Arifin menggeleng.
"Tadinya aku ingin membicarakan tentang itu, namun ternyata Mia sudah mengetahui segalanya ."Pria itu tertunduk sejenak, pikirannya di penuhi perasaan bersalah pada Mia.
"Ini salah ku mas, tak seharusnya aku masuk ke dalam kehidupan kalian" Ucap Hesti dengan tatapan sedihnya.
"Tidak sayang, ini bukan salah mu, seharusnya dari awal pernikahan kami memang tidak terjadi, sehingga kita tak perlu berada di situasi sulit ini." Arifin mengusap lembut kepala sang istri.
"Lalu, kemana dia pergi mas, apa kau sudah mencarinya." Tanya Hesti kemudian, Arifin menggeleng.
"Aku tidak tau, aku sudah menelpon ke rumah peninggalan orang tuanya, tapi kata si mbak Mia tidak datang kesana."
"Kalau begitu kita harus mencarinya mas, Aku tak ingin terjadi sesuatu pada Mia, dan Anak anak.. mereka pasti akan sangat bersedih jika sampai itu terjadi" Hesti terlihat panik, Atau tepatnya berpura pura panik. huf... akting yang luar biasa.
"Sayang tenang lah, aku yakin dia akan baik baik saja, dan aku yakin dia akan pulang jika hatinya sudah tenang." Arifin memeluk hesti berusaha setenang mungkin membuat seringai licik terbit di wajah Hesti yang berada di di balik punggung Arifin.
"Baguslah jika wanita itu pergi, dan kelihatan nya, mas Arif juga tidak terlalu perduli padanya, aku harus bisa meraih hati anak anak sialan itu agar mas Arif segera menikahiku secara resmi."
"Ahhh... tuhan memang adil, aku di buang oleh Doni sialan itu, tapi akhirnya aku mendapatkan Arifin yang sangat tergila gila pada ku." Hesti bahagia dalam hatinya, namun ia tetap harus berusaha panik dan khawatir tentang keberadaan Mia.
*******
Hai... sobat ku semua nya, makasih udah sempetin hadir yah...
jangan lupa like dan komentar nya yah,
salam santun Alfirzik.
__ADS_1