GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
permintaan Arifin


__ADS_3

Arifin terpaku di samping jenazah sang istri, tak percaya wanita yang selama lima tahun ini menemani nya telah meninggalkan nya untuk selama lamanya.


"Sayang..., bangun lah, aku mohon jangan bercanda?" Ucap Arifin sambil menggoyang goyangkan tubuh sang istri.


"Mas", Mia menarik tangan Arifin berusaha menenangkan kakak iparnya tersebut


"Bangun kan dia Mia, mungkin dia marah pada ku karena tak ada saat ia berjuang melahirkan si kembar, jadi dia tak mau mendengarkan ku" Arifin memohon pada adik iparnya itu dengan wajah bersimbah air mata.


"Mas, kita harus mengikhlaskan kak Nia" Ucap Mia di sela isak tangisnya.


"Tidak,...! tidak...!!! sayang mas mohon bangun lah" Arifin terus berusaha membangunkan sang istri hingga dokter memastikan bawa Nia telah pergi untuk selamanya.


***


Tiga bukan berlalu setelah kepergian Nia, Mia pun mengantikan peran kakak nya itu menjadi ibu bagi keponakan nya, Aulia dan Si kembar. Dengan telaten Mia mengurus mereka dengan bantuan Bu Hanum ibu kandung Arifin, tanpa Mia sadari hari harinya telah di habiskan dengan ketiga keponakan nya tersebut hingga ia melupakan seseorang yang juga harus ia prioritaskan.


"Mia, ibu lihat Fahmi tak pernah lagi datang " Tanya buk Hanum di suatu sore.


"Iya bunda, mungkin Fahmi sibuk dengan kuliahnya, saat ini dia melanjutkan S2 nya sambil bekerja di perusahan keluarganya, jadi mungkin sedikit repot." Jawab Mia yang sebenarnya juga baru menyadari bahwa ia dan Fahmi sudah lama tidak berkomunikasi.


"Ou, lalu bagiamana dengan hubungan kalian, bukan kah kalian berniat untuk segera menikah?" Bunda menatap wajah cantik berbalut gamis sederhana bewarna merah muda itu dengan tatapan penuh selidik.


"Baik baik saja bunda?" Jawab Mia sambil tersenyum pada bayi lelaki yang kini di gendongannya , entah kenapa pertanyaan bunda Hanum membuatnya tak nyaman.


"Sykurlah kalau begitu." Hanum tersenyum kemudian mengusap kepala berbalut hijab itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu wanita baik Mia, alangkah beruntung nya nanti Fahmi jika menikah dengan mu." Puji buk Hanum yang membuat Mia memerah karena Malu.


Setelah percakapan singkatnya dengan buk Hanum Mia menyadari kerenggangan hubungannya dengan Fahri sehingga Mia berinisial untuk menemui Fahri di kediaman orang tuanya.


"Hai sayang..?" Mama Ratih menerima kedatangan Mia dengan antusias, dan mencium pipi Mia kiri dan kanan, begitu pula dengan Mia.


"Terus, bagaimana kabar mu saat ini sayang" Ratih mengusap tangan Mia penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah Mia sehat mah" Mia mengedar kan pandangan ke anak tangga saat menyadari kehadiran lelaki yang sangat di cintanya di sana.


"Fahmi..?" Mia tersenyum namun Fahmi hanya diam dengan wajah datarnya.


deg... perasaan Mia mulai tak enak


"Sayang, Mia dari tadi menunggu mu, sebaiknya kalian bicara mamah akan membuat kan sarapan untuk kalian" Wanita 45 tahun itu pun meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Mia kita harus bicara?" Fahmi menarik tangan wanita itu ke lantai atas dan menuju kamarnya.


"Fahmi, ngapain kita di sini?" Ucap Mia yang merasa risih berada di kamar seorang pria.


"Bagaimana kabarmu Mia? Tanya Fahmi canggung.


"Ada apa mas?" Mia yang menyadari perubahan sikap Fahmi tak ingin berbasa basi.


"huf...mmm" Fahmi menghembuskan nafasnya perlahan.


"Bagaimana keadaan anak anak?" Tanya Fahmi lagi.


"Langsung saja mas, ada apa?" Tanya Mia penasaran


"Apa rencana pernikahan kita harus di lanjutkan Mia.?"


"Kenapa kau bertanya begitu mas, bahkan kita telah merencanakan ini dari awal" Ucap Mia menatap nanar wajah tampan di depannya itu.


"kenapa aku bertanya...? hheh..." Fahmi terkekeh


"Sekarang aku ingin bertanya padamu Mia, kapan terkahir kita bicara, Mia, Atau apakah kau pernah menelpon ku akhir akhir ini. ah... tidak, apa kau pernah mengangkat telpon ku akhir akhir ini Mia." Ucap Fahmi getir.


"Maaf" Mia tak mampu berkata selain kata maaf, yah karena sejujurnya ia pun telah mengabaikan pria di depannya itu untuk waktu yang cukup lama.


"Kita telah merencanakan pernikahan ini sejak dulu, yah.. aku maklum jika kau belum siap sekarang karena kau sedang berduka, tapi setidaknya kau tidak melupakan ku Mia."


"A.. aku , tidak berniat mengabaikan mu mas, aku hanya ingin fokus pada anak anak, karena mereka masih sangat kecil mas, aku tak ingin mereka merasakan kehilangan kasih sayang seorang ibu." Ucap Mia sendu.


"Aku mengerti Mia, bahkan aku rela jika kau tetap memberikan kasih sayang mu pada mereka nantinya setelah pernikahan kita, asal kau tidak mengabaikan keluarga kecil kita." Fahmi menatap calon istrinya itu meyakinkan.


"Tapi.. aku sudah berjanji pada kak Nia untuk mengasuh mereka dan menjadikan mereka putriku mas, aku ingin mereka tetap bersama ku setelah kita menikah nanti." Mia menatap Fahmi seolah memohon pengertian pria 22 tahun itu.


"Mia, aku tidak keberatan kau memberikan kasih sayang mu pada mereka, tapi untuk membawa mereka itu adalah hal yang mustahil Mia, mereka punya ayah dan nenek yang akan merawat mereka, mereka tak akan kehilangan kasih sayang darinya, dan lagi pula mas Arifin tentu tidak akan setuju. " Fahmi.


"Tapi mas, aku tak ingin berpisah dengan mereka. aku mohon mereka adalah amanat kakak ku." Mia menatap Fahmi seolah memohon pengertian nya.


Fahmi tak dapat berkata kata lagi, keinginan Mia di luar logikanya, karena ketiga anak Nia masih mempunyai ayah dan nenek kandung. Jika mereka sebatang kara tentu Fahmi tak akan menolak permintaan Mia.


"Mia, ok kita bisa bicarakan itu dengan mas Arfin" Fahmi mencoba mengalah demi wanita yang di cintai nya itu


"Mas,..." Mia menatap penuh haru pada pria fi depannya itu.

__ADS_1


"Jangan tatap aku begitu Mia, sungguh aku tidak sanggup melihat airmata itu." Fahmi mengusap airmata di pipi Mia, wanita itu pun tersenyum bahagia.


"Kita akan mencoba nya, tapi aku tak yakin mas Arifin akan mengabulkannya." Fahmi pun mengusap kepala di balik hijab itu.


****


Setelah sarapan pagi di rumah kediaman keluarga Fahmi, Mia memutuskan untuk pulang, karena ia tak ingin buk Hanum keteteran mengurus dua bayi dan satu balita di rumah.


"Hai... keponakan tante yang cantik " Sapa Mia pada Aulia yang sedang makan bersama Asih.


"Hai juga mamah?" jawab Aulia yang membuat Mia tertegun dan menatap keponakannya itu dengan airmata berlinang.


"Sayang ..?" Mia mengusap wajah cantik mungil itu dan mengecup nya berkali kali, sungguh ia tak sanggup membantah panggilan itu, ia bahkan rela jika keponakannya itu memanggilnya mamah selamanya.


"Kamu sudah pulang Mia?" Tanya bunda yang menyusul Mia ke halaman depan sambil menggendong Bayi Raja.


"Masuklah Mia, ada yang ingin bunda bicarakan dengan mu," Mia pun memasuki rumah mengikuti langkah kaki bunda Hanum.


"Mas Arif di rumah?" Tanya Mia heran melihat kakak iparnya itu masih di rumah padahal ini sudah sangat siang.


"Mia, duduklah" Arifin meminta Mia duduk di sofa dan Mia pun duduk di samping Hanum.


"Kau sudah bertemu Fahmi?" Tanya Arifin membuka percakapan, Mia pun mengangguk .


"Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?" Tanya Arifin lagi.


"Sesuai rencana mas" Jawab Mia apa adanya.


hummmm Arifin menarik nafas berusaha menetralkan nafasnya yang terasa sesak. Mia menatap Arifin dan Bunda Hanum bergantian.


"Mia, jika aku meminta sesuatu yang sangat berharga dari mu, demi anak anak itu apa kah kau akan memberikannya." Tanya pria 30 tahun itu. Mia sontak menatap Arif penuh tanya.


"Apa maksudnya mas?" Tanya Mia heran.


"Apa pun itu, tentu aku akan lakukan demi anak anak , mereka adalah amanat kakak ku" Jawab Mia yakin.


Arifin menatap bunda Hanum sejenak, Hanum pun mengangguk memberikan isyarat nya.


"Ehuf.. Mia, mungkin ini terdengar aneh, Tapi aku sudah memikirkan nya sejak sebulan terakhir, " Arifin diam sejenak.


"Mia, maukah kau menjadi ibu dari anal anak malang itu, Maukah kau memberikan kasih sayang mu pada mereka dengan tulus agar mereka tak merasa kehilangan sosok ibunya." Mia mengangguk pasti sebelum mendengar kalimat berikutnya.

__ADS_1


"Terima kasih nak " Bunda Hanum menggenggam tangan Mia hangat.


"Mia benarkah, kau bersedia menjadi istriku." Arifin meyakinkan lagi kalimat nya. membuat Mia kaget dan mengangkat wajahnya menatap Arifin tak percaya.


__ADS_2