
"Sekarang jelaskan apa yang kamu lakukan di tempat itu" Ucap Doni pada Aulia saat keduanya sudah menghabiskan sarapan mereka.
"A... Aulia cuma ikut teman wak" Jawab gadis remaja itu tertunduk malu.
"Huf...., sejak kapan kamu mulai berteman dengan mereka Aulia" Lirih Doni menatap ponakan nya itu bingung. Aulia yang di kenal Doni adalah anak Rumahan yang manja dan gak neko neko.
"Maaf uwak,.." Gadis itu kembali tertunduk .
"Papa mu tau kau di keluar malam?" Tanya Doni lagi. Aulia menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk.
"Papa tidak pernah ada waktu untuk kami, dan dia juga tak perduli jika Aku mati sekalipun." Ucap gadis itu kemudian. Doni menatap keponakan nya itu dengan perasaan iba.
"Wanita itu sudah membuat si culun itu kehilangan otak nya, tunggu kau wanita sialan, akan ku buat kau menderita." Batin Doni.
"Kau tau apa yang terjadi pada mu semalam Aulia " Reflek gadis itu menggeleng kan kepala nya kembali.
"Jika anggota uwak tidak melihat mu saat itu, mungkin kau... Ahhh sudah lah, pokok nya Uwak gak mau melihat kau bergaul dengan anak anak seperti itu lagi, kau mengerti." Tegas Doni pada keponakan nya tersebut.
"I.. Iya wak, " Sahut Aulia lagi.
"Sekarang telepon papa mu, katakan kau bertemu uwak dan menginap di sini, dan satu lagi, jangan pernah kau kabur dari rumah lagi, apa lagi keluar malam, itu akan membuat wanita itu semakin gampang mencelakai mu." Aulia tersentak dan menatap Doni dengan penuh tanya.
"Maksud uwak,..?"
"Denger Aulia wak tau apa yang terjadi di rumah mu, ingat lag satu hal, istri papa mu itu adalah orang jahat, dan dia tidak akan membiarkan kau dam adik adik mu itu dekat dengan papa mu, jadi jangan sekali kali kau melawan nya dengan cara memberontak, itu akan membuat papa mu semakin jauh dari kalian, ingat pesan wak ini baik baik, dan berhenti berteman dengan orang orang seperti teman mu semalam , kau tau jika saja wak tidak datang tepat waktu maka kau pasti sudah celaka." Arifin bicara dengan penuh tekanan berharap Aulia mengerti maksud dari kata katanya.
"Telpon papa mu, minta jemput. Dan ingat setelah sampai di rumah jadilah anak baik seperti dulu lagi." Aulia mengangguk sambil mencerna kata kata Doni.
"Baik uwak." Aulia kemudian menelpon Arifin dan mengatakan dimana ia berada.
Satu jam kemudian Arifin sudah berada di depan gerbang rumah mewah tersebut, rumah yang paling ia hindari di dalam hidupnya, rumah orang yang sangat dibencinya.
Setelah lama menatap rumah mewah itu, akhirnya Arifin memutuskan untuk masuk demi sang anak sulung nya, di dalan hati Arifin begitu kesal pasa sang putri yang memutuskan untuk kabur ke rumah kakak tirinya itu
"Doni sialan itu pasti akan mengira aku tak pandai mendidik putriku, ahh tambah besar nanti kepalanya, his...." Geram Arifin sambil memasuki gerbang ke rumah Doni.
__ADS_1
"Buka pintu nya, " Ucap nya tak bersahabat pada satpam rumah Doni.
"Anda siapa ?" Tanya satpam tersebut dengan nada tak suka pada pria angkuh di depan nya, Buka niat Arifin untuk kasar tapi suasana hatinya yang sedang tak baik sehingga membuat cara bicara nya menjadi ketus.
"Maaf, saya perlu bertemu dengan Doni, katakan Arifin datang menemuinya " Ucap nya yang menyadari kesalahan nya.
Satpam pun melaporkan kedatangan Arifin pada Doni, dan setelah mendapat izin pria itu akhirnya membukakan pagar rumah sehingga Arifin dapat masuk.
"Akhirnya adik kesayangan ku ini datang juga." Ucap Doni dengan nada menyindir.
"Jika bukan demi putriku , aku haramkan memijak kam kakiku ke rumah mu ini." Jawan Arifin dengan tatapan permusuhan.
"Tak masalah, apa pun alasan mu, setidak nya akhirnya kau punya alasan untuk bertemu dengan ku, bagaimana pun juga sudah 10 tahun kau menghindariku." Ucap Doni sambil duduk di sofa.
"Silahkan duduk," Ucap Doni berbasa basi.
"Aku bukan berniat duduk lama di rumah mu, aku hanya ingin menjemput Aulia." Ucap nya ketus.
"hah....., " Doni menghembuskan magas bertanya karena kesal dengan adik tirinya itu.
"Kenapa putriku bisa kabur ke rumah mu, apa yang kau lakukan pada putrimu, jangan coba coba meracuni otak putriku , aku tau betul siapa kau, dan sampai kapan pun kau tidak akan bisa menghancurkan keluarga ku, dan kebahagiaan ku " Ketus Arifin ber api api, membuat Doni terkekeh.
"Arifi.. Putra.. Darmawan."
"Hah... Ternyata walau penampilan mu sudah berubah tapi otak mu masih saja tolol seperti 25 tahun lalu... Ehhh tunggu kita belum setua itu yah, mungkin sekitar 23 tahun yang lalu, ahhh aku sangat suka melihat tampang mu seperti itu, lebih cocok untuk mu." Balas Doni dengan nada mengejek.
"Huh...." Arifin kesal namun tak bisa berkata apa apa.
"Kebahagiaan....???? , apa kau yakin kau bahagia?"
"Menghancurkan keluarga mu...?, keluarga yang mana yang kau maksud ?"
Ucapan Doni seperti api yang membakar jiwa Arifin.
"Kau....?" tangan Arifin terkepal kuat , namum ia masih berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan pada wajah Doni.
__ADS_1
"hahahaha" Tawa Doni pecah melihat wajah kesal Arifin.
"Bagaimana kabar istrimu..?, eh... tunggu maksudku Istriku , ?" Mata Arifin membulat mendengar kalimat Doni.
"Apa maksudmu..?" Tanya Arifin kaget.
"Adik ku..., tidak usah berpura pura bloon di balik wajahmu yang memamg sudah bodoh itu , kau tau betul siapa yang aku maksud." Ucap Doni sambil tersenyum sinis.
"Ternyata kau memamg penyuka sampah."
Bugh.....
Akhirnya pukulan itu melayang ke rahang Doni , namun pria itu tak membalas pukulan Arifin, ia usap sudut bibirnya yang berdarah dan dengan tersenyum sinis ia pun berkata.
"Kau tau, wanita itu masih istriku dan kau hahahaha, bahkan dari dulu kau terobsesi pada nya kan, sehingga kau membuang istri mu , dasar bodoh, "
"Cih... bagaimana rasanya bercinta dengan nya, apa kau menikmatinya, ahhh aku rasa kau pasti sangat tergila gila pada nya, aku akui dia memang sangat pandai bergoyang di ranjang ,"
"Hahahaha" Doni kembali tertawa melihat wajah penuh amarah Arifin.
Bbugh .. Bugh... Bugh... .
Pukulan demi pukulan di layang kan Arifin ke perut Doni.
"Apa kah ini yang di namakan pukulan, heiii ayolah Arifin kau belum tua kan, sehingga sudah kehilangan tenagamu" Ejek nya kemudian. Arifin yang memamg sudah terpancing emosi kembali memukul Doni. Namun lagi dan lagi Doni tak melawan ia malah tersenyum semakin mengejek Arifin.
"Jika kembali menghina istriku, aku pastikan alu akan membunuh mu dengan tangan ku ini, sialan." Teriak Arifin pada Doni.
"Hei..., adik kesayangan ku, kau salah dia masih istri sah ku, hingga saat ini aku belum menceraikan nya secara hukum, dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi, kau tau kenapa karena wanita Sialan itu harus menderita sepanjang hidupnya menjadi istri ku, Istri sekaligus Budak Doni Darmawan." Ucap Doni tak kalah geram.
Arifin terdiam tanpa kata, menahan amarah dan rasa takut di dalam hatinya.... Yah... Saat ini ia takut kalau Doni akan kembali merebut Hesti wanita tercinta nya.
******
Hai hai... Sahabat ku semua jangan lupa like dan subscribe nya yah, dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolam komentar.
__ADS_1