
"Mas....?" Mia kaget dan menatap Arifin dengan wajah bingung nya.
"Aku tau, kita sama sama tidak saling mencintai, tapi melihat kedekatan mu dengan anak anak aku merasa yakin kalau kau adalah pilihan yang tepat untuk menjadi ibu sambung mereka, lagi pula ini adalah permintaan terakhir kakak mu kan?" Mia tak menjawab kepalanya tiba tiba terasa pusing.
"Bunda juga yakin sayang, kau tidak akan menolak semua ini kan?" Ucap Bunda Hanum yang sangat senang karena Mia menyetujui perjodohan itu.
"Kenapa jadi begini, aku memang mau menjadi ibu untuk ketiga keponakan ku itu, tapi tidak dengan menikahi mas Arif kan." Batin Mia.
"Mia aku tidak memaksamu, kau bisa memikirkan lagi jawaban mu, setidaknya demi anak anak tak beribu itu." Lirih Arifin kemudian dia meninggalkan Mia dan bu Hanum.
Mia menatap bergantian sepasang bayi kembar yang tertidur di dalam bok bayi, airmata nya menetes haru melihat dua bayi gemoy itu, "Ahmm anak anak ku, " Lirih Mia mengusap pipi chubby Si kecil Dila.
"Aku tak bisa membayangkan jika kalian di asuh oleh seorang ibu tiri yang jahat seperti di sinetron sinetron. Aku pasti akan sangat menyesal jika aku tidak bisa melindungi kalian, ahhh tidak.. aku tak mau egois." Akhirnya Mia menemui Arifin dan memutuskan menerima perjodohan itu.
Tiga hari kemudian Arifin dan Mia memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana di kediaman Arifin, tidak banyak undangan yang datang hanya keluarga dekat, tetangga sekitar dan anak anak panti asuhan permata hati.
Fahmi barusaja turun dari mobil mewah bewarna hitam itu matanya membulat saat melihat keramaian di rumah kakak ipar kekasihnya itu. "Hummm, sepertinya ada pernikahan , apa mas arif sudah memutuskan untuk menikah kembali" Batinnya, sambil berjalan memasuki pintu rumah. matanya menatap sepasang pengantin baru yang barusaja melangsungkan ijab qobul. "Tidak.... ini tidak mungkin.." Fahmi berusaha meyakinkan dirinya bahwa pandangannya salah, namun semakin dia mendekat semakin jelas wanita itu adalah Mia.
"Mia...." Fahmi terpaku di tempatnya, pandangannya menjadi kabur dan dia tumbang seketika saat matanya wanita itu beradu pandang dengan mata Fahmi.
******
"Mia....?" Fahmi terbangun dari mimpi buruknya saat terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
"om Fahmi.... om.... om.. bangun om." Zahra menggedor pintu kamar Fahmi kuat.
"Ahhh, kenapa aku masih saja memimpikan nya." Fahmi bangun dan membuka pintu kamar sambil mengucek matanya.
__ADS_1
"Ada apa princess..." Fahmi berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Zahra.
"Di panggil Oma." Ucap hadis kecil itu polos.
"Baiklah om akan keluar beberapa saat lagi." Zahra pun meninggalkan kamar Fahmi, Sedangkan Fahmi segera membersihkan diri ke kamar mandi.
***
Sedangkan di sebuah rumah Mia tengah mengintrogasi putri sulungnya yang tak mau menunaikan solat dengan alasan sakit perut.
"Kakak kenapa gak solat magrib sayang, kalau kakak sakit perut bilang sama mamah biar mamah bikinin minuman herbal hangat yah" Mia hendak bangun namun Aulia mencegahnya.
"Ti.. tidak usah mah, sebenarnya kakak tidak sakit perut tapi.. umm tapi kakak menstruasi." Ucap gadis itu menunduk malu.
"Apa...," Mia tersenyum melihat sang putri yang terlihat malu. kemudian dia duduk di samping Aulia dan mengusap lembut kepala gadis remaja itu.
"Sayang, kamu tidak perlu malu, itu wajar terjadi pada anak seusia kamu, seluruh wanita akan mengalaminya, itu tandanya anak bunda sudah besar, Mamah solat dulu nanti akan mamah minta mbak asih untuk membuat kan jamu."
"Minuman nya buk?" Asih datang dengan beberapa dua gelas susu untuk Raja dan Dila, lemon hangat untuk Mia dan racikan herbal untuk Aulia.
"Mbak Asih gabung sini yok" Ajak Mia lada asih asisten rumah tangga kepercayaan nya itu, Asih sudah bekerja dengan keluarga ini sejak usianya 20 tahun saat itu Almarhum Nia baru mengandung Aulia putri pertama mereka.
Asih duduk di samping Aulia yang sedang bermain bersama adik adiknya. Mia menatap ketiga buah hatinya dengan perasaan sukar untuk di jelaskan. Tiba tiba airmata kembali berjatuhan di pipi Mia.
"Buk?" Mia menatap Asih dan mengusap butiran bening itu.
"Sih, sudah berapa lama kamu bekerja di rumah ini?" Tanya Mia kemudian.
__ADS_1
"Kalau gak salah sudah mau 15 tahun buk, saat itu Almarhum buk Nia barusaja mengandung non Aulia." Ucap asih mengenang kembali saat saat ia memasuki rumah mewah itu.
"Sudah lama sekali yah mbak," Mia tersenyum namun matanya menatap Asih sendu.
"Iya buk, saya sangat betah kerja sama ibuk, maupun sama buk Nia dulu, kalian berdua tidak pernah menganggap saya sebagai pembantu, saya jadi merasa punya keluarga sendiri di kota besar ini." ucap asih sambil tersenyum.
"Syukur lah mbak, saya sangat bersyukur jika mbak asih betah, dan saya harap mbak asih akan tetap menjaga anak anak saat saya tak lagi berada di samping mereka nanti." Asih tertegun kaget mendengar kalimat majikannya itu. begitu pun Aulia yang sedari tadi mencuri dengar percakapan sang mamah dan Mbak asih.
"Maaf buk maksud ibu bagiamana." Tanya Asih tak mengerti. Mia tersadar dengan ucapannya begitu ia melihat tatapan aneh dari putri nya.
"Ah, ti.. tidak mbak, sayang.. kenapa menatap mamah seperti itu." Mia berusaha untuk menutupi kegugupannya. Walau ternyata itu gagak karena Aulia sudah terlanjur menebak isi kepala Mia.
"Jangan bilang mamah mau meninggalkan aku dan adik adik." Ucap Aulia menatap Mia tajam.
"Sa.. sayang, " Mia terbata segera di tariknya gadis remaja itu kepelukan nya, memberikan ketenangan pada Aulia yang sudah mulai terisak-isak.
"Aku tau, mamah memang bukan mamah kandung ku, tapi bolehkan aku meminta agar mamah tak pernah meninggalkan aku." hiks...hiks...hiks...
"Cup.. cup.... cup..., sayang... kenapa berpikir seperti itu humm.." Mia menepuk nepuk pundak Aulia pelan. Mbak asih yang melihat pemandangan itu pun ikut menangis haru.
"Kakak sama mamah kenapa?" Tanya polos Dila saat melihat Mia dan Aulia menangis.
"Ah... tidak sayang, .. mamah hanya terharu." Mia segera mengangkat wajah Aulia dan menghapus Airmata di pipi gadis itu. kemudian di menggeleng sambil mengecup puncak kepala Aulia.
"Mamah menangis karena mamah sedih, karena mamah akan bercerai dari papa, dan mama juga akan meninggalkan kita." Ucap Raja tiba tiba membuat semua menoleh pada anak 10 tabun itu.
"Ra... Raja...?" Mia tak mampu berkata kata, ia tak menyangka putranya itu akan bicara seperti itu, Rahasia yang tak mampu ia ungkapkan pada ketiga buah hatinya itu ternyata telah mereka ketahui. Mia menatap Aulia seolah bertanya, Aulia menggeleng. kemudian pada mbak asih, Asih pun menggeleng.
__ADS_1
"Mamah tidak usah cemas, kami sudah besar dan kami akan mengurus diri kami sendiri, Raja anak laki laki raja pasti bisa menjaga kedua saudara perempuan raja." Anak laki laki itu pun meninggalkan mereka semua dan menuju ke kamarnya.
bugh... suara pintu di banting yang membuat semua kaget dan bertanya tanya.