GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Pengkhianatan Hesti.


__ADS_3

Anita menatap album lama yang masih ia simpan rapi lembaran lembaran foto persahabatannya bersama Hesti membuatnya tersenyum, wajah wajah manis mereka di kala remaja, mulai dari SMP hingga ke bangku kuliah semua tersimpan penuh kenangan.


"Hesti kau tau aku begitu menyayangimu seperti adikku sendiri, bahkan di saat kau salah pun aku selalu membelamu tapi kenapa justru kau menusukku." Gumam Anita sambil mengusap butiran airmata di pipinya.


Anita dan Hesti Bersahabat sejak mereka memasuki smp di kampung kunyit, karakter Anita yang penyayang begitu cocok dengan Hesti yang manja dan ceria. kedua nya menjadi siswa favorit dan selalu meraih juara kelas di SMP hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mendaftar di SMA yang sama.


Di awal ospek, Anita mengenal seorang senior yang sangat tampan dan terkenal di SMA tersebut sebulan masa sekolah mereka pun jadian, Hesti yang memang sangat menyayangi Anita pun mendukung hubungan sahabat nya itu, hingga suatu hari Hesti juga dekat dengan kakak kelasnya yang terkenal cupu dan pintar, mereka pun berpacaran. Tanpa mereka sadari cowok yang mereka sayangi ternyata saudara tiri.


"Hai," Sapa Doni siang itu saat Anita masih latihan tari di sangar.


"Kak Doni" Hesti mendengakkan kepalanya menatap mata pria tampan itu.


deg... deg..deg... jantung Hesti berdebar tak karuan saat mata mereka beradu pandang.


"Ah, ada apa dengan jantung ku, kenapa aku jadi deg deg kab gini sama kak Doni." Batin Hesti.


"Kenapa gak ikut latihan," Tanya Doni dan duduk di samping Hesti.


"Lagi sakit perut kak" Ucap Hesti sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa di bawah " Tanya Tanya Doni sambil ikut menatap susunan konblok yang di tatap Hesti


"Ha...h.. ," Hesti yang gagal fokus memalingkan wajahnya heran dengan dengan pertanyaan Doni, lagi mata itu membuat Hesti terpaku.


Doni menaik turunkan alisnya kemudian melambaikan tangannya di depan Hesti.


"Hai... Heloo..., Apa ada sesuatu di wajahku."


"Ha, e... mmm, iya kak ada apa" Jawab Hesti grogi.


"Kau ini sangat aneh, tadi menatap konblok, barusan wajahku, apa ada sesuatu di sana." Ucap Doni sambil terkekeh.


"Hehehe iya, ada sesuatu wajah kakak tampan dan tatapan kakak membuat jantung ku gak sehat." Jawaban Hesti yang bernada candaan membuat keduanya menjadi terdiam menyadari kalimat itu.


"Hehehe maksud aku,.. maksud aku " Tangan Doni menggenggam jemari lentik Hesti.


"Apa aku beneran tampan" Lirih Doni sambil menatap intens mata coklat milik Hesti, bagai di hipnotis wanita itu mengangguk.


"Hesti, kau juga sangat cantik bahkan bola mata coklat ini sangat serasi dengan kulit putih dan rambut gelombang mu ini" Doni merapikan anak rambut di yang turun ke pipi Hesti.

__ADS_1


Jantung Hesti berpacu dengan cepat saat jari jari tangan Doni menyentuh pipi Hesti, matanya terpejam tanpa sadar terpejam Doni tersenyum jahat saat ia merasa Hesti sudah mulai terjebak dengan permainan nya.


"Huh... ternyata gadis bodoh ini sangat mudah di taklukkan tak serumit perkiraan ku." Batin Doni.


"Aku menyukai mu Hesti" Lirih Doni di telinga Hesti membuat wanita itu merinding.


"Kak...Doni..?" Hesti membuka matanya seketika , wajah nya memerah menyadari kebodohannya yang seperti menikmati sentuhan jemari Doni di Pipinya.


"Aku kagum padamu, kau cantik , Pintar, dan setiap aku bersama mu aku merasa seperti hidup, sangat berbeda dengan Anita, Dia kaku, dan ah... sudah lah." Doni memasang wajah murung nya.


"Kak.." Hesti memberanikan diri menggenggam jemari kekar milik Doni.


"Aku benar benar menyesali pertemuan kita yang terlambat, andai aku mengenal mu lebih dulu, huf...." Doni melepaskan genggaman jemari Hesti dan berdiri menatap halaman sekolah yang di penuhi anak anak yang sedang melaksanakan ektra kurikuler.


"A.. aku juga menyukai mu kak" Lirih Hesti yang membuat senyum tampil di balik wajah tampan itu.


"Be.. benarkah Hesti," Ucap Doni berbunga bunga, ia berjongkok fi depan Hesti dan mencium jemari tangan wanita itu.


"Tapi.., bagaimana dengan Anita, dia sahabat ku kak, satu satunya yang peduli sama aku." Hesti menunduk sedih.


"Kita saling mencintai Hesti, kita bisa menyembunyikan ini sementara di belakang Anita, setelah waktunya tepat aku akan bicara jujur padanya, Aku yakin jika dia menyayangi mu, dia akan mengerti, perasaan cinta kita tulus Hesti dan aku juga tidak tau kalau aku akan jatuh cinta pada sahabat baik Anita." Hesti Diam sejenak, mencerna kalimat kalimat Doni.


"Kalau begitu kau segera putus kan hubungan mu dengan si mata empat itu, aku sangat cemburu saat mata empat itu menggandeng mu, aku tidak suka ada seorang pun berani menyentuh tangan mu ini, apa lagi jika ada yang berani mencium pipi mu, atau pun ini..., " Doni menyentuh bibir merah delima itu dengan ibu jarinya, memainkan ibu jarinya di sana.


"Apa dia pernah menyentuh nya, " Hesti menggeleng cepat.


"Baguslah ini semua milikku," Doni tersenyum manis sekali


"Hai, apa kalian melihat Hesti, " Terdengar suara Anita yang mulai mendekat, Doni menarik tangan Hesti untuk menjauh menuju ruang kelas yang sudah tertutup rapi, menandakan semua siswa telah pulang.


"Kak, ..." Hesti kaget saat Doni menempelkan tubuh semampai itu di balik pintu kelas.


"Tidak, biarkan Anita pulang duluan hari ini aku akan mengantar mu." Dalam keraguan Hesti mengangguk , sementara di luar sana Anita berkeliling mencari sahabat nya itu.


"Ah... kenapa tak terpikir oleh ku, untuk menghubunginya." Anita mencoba menghubungi nomor ponsel Hesti namun tak di angkat.


"Ah mungkin dia sudah pulang," Akhirnya setelah beberapa kali ponselnya tidak di angkat, Anita memilih untuk pulang sendiri.


***

__ADS_1


beberapa minggu setelah kejadian itu Hesti memutuskan hubungannya dengan Arif, dan melanjutkan hubungan diam diam nya dengan Doni hingga mereka kuliah di kampus yang sama, Hubungan itu sama sekali tak terendus oleh Anita.


"Hesti, apa kau sudah mendengar nya," Anita berlari ke arah Hesti yang sedang menikmati es kelapa muda di taman kampus.


"Apa.." Tanya Hesti cuek.


"Mantan mu Arifin dia menikah dengan kakak kelas kita yang bernama Masnia, Kau ingat dia?" Tanya Anita sambil memperlihatkan undangan di tangan nya.


"Mereka mengundang mu" Tanya Hesti heran,


"Tentu saja dia kan adiknya Doni."


Sejujur nya ada perasaan iri di hati Hesti pada Nia , Pria yang dulu di sia sia kan nya itu kini malah menikahi gadis lain, sementara dia harus rela menjadi yang kedua demi menjaga jati sahabat nya dan juga demi cinta nya pada lelaki yang telah berhasil merenggut kegadisannya.


"Ah..., andai saja hari itu aku tidak melakukannya dengan Doni." Batin Hesti.


"Hesti kau kenapa?" Anita menyadari perubahan wajah sahabat nya itu.


"Ah, tidak apa apa, aku hanya sedikit iri pada Nia, dia akhirnya bisa menaklukan hati si mata empat itu, dan merubahnya menjadi pria yang sangat tampan... " Hesti terkekeh dan kemudian mengembalikan undangan itu ke tangan Anita.


"Yang sabar yah beb, aku yakin kau akan segera bertemu dengan pria pujaan mu, mungkin Arifin memang bukan jodohmu." Hesti mengangguk.


"Dan jika itu terjadi nanti, kau adalah orang pertama yang akan tau hari bahagia ku itu." Anita mengangguk haru.


"Dan aku akan membuat sebuah gaun istimewa dengan tangan ku sendiri" Dua sahabat itu pun saling berpelukan.


*****


Anita baru saja pulang dari acara resepsi Arifin dan Masnia. ia sangat lelah, namun karena ingin tau kabar sahabat nya yang ia pikir sedang patah hati akhirnya Anita menjalankan mobilnya ke kos kosan milik Hesti, yah Semenjak kuliah Hesti memutuskan keluar dari panti Asuhan dan tinggal di sebuah kos kosan sambil bekerja paru waktu di sebuah mini market.


Baru saja Anita hendak membuka pintu kos kos an itu Anita mendengar suara yang sangat di kenal nya sedang bicara serius.


"Aku gak mau selalu kau jadikan pelampiasan birahi mu saja kak, aku mencintaimu tulus, aku bahkan rela memberikan kesucian ku pada mu, tapi lihat lah setelah 5 tahun kau tidak pernah berani untuk mengambil sikap, aku capek kak, aku ... aku .


"Hesti....."


*****


jangan lupa dukungannya sayang....

__ADS_1


__ADS_2