GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Lepaskan Mia mas.


__ADS_3

"Raja..?" Mia mengusap kepala putra sambung nya itu, ada kesedihan dalam setiap usapan itu, ia tak ingin menyakiti siapa pun, namun jika ia memilih diam ia pun sudah tak sanggup.


"Mama tidak perlu menjelaskan semua nya, Raja tau dan raja sudah mendengar semuanya" Ucap bocah itu datar sambil tetap fokus pada kertas yang sedang di lukis nya.


"Raga menggambar apa nak?" Mia mengambil buku gambar milik Raja dan kagum melihat sketsa sebuah rumah yang sangat indah.


"Ini rumah siapa sayang" Tanya Mia saat saat Raja hendak mengambil buku gambarnya kembali.


"Ini rumah Raja mah, Jika raja besar nanti Raja akan menjadi orang sukses dan membangun rumah yang sangat indah untuk kita, hanya ada Raja , mamah , kak Aulia dan Dila." Ucap bocah itu dengan nada sendu namun meyakinkan. Mia mengerutkan kening nya,


"Lalu papa?" Tanya Mia kemudian.


Bocah itu menatap tajam sang mamah tak menyukai kalimat mama sambung nya itu. "Dia bisa tinggal dengan istri barunya itu" Kalimat itu membuat Mia syok.


"Raja...?" Mia tak percaya jika putranya tau jika suaminya telah menikah lagi. "Mamah tidak perlu bertanya dan menjelaskan sesuatu, jika mamah ingin bercerai bercerai saja, Raja tau mamah bukan mamah kandung Raja, Tapi sampai Kapan pun mamah tetap mamah Raja." Raja bicara dengan wajah tertunduk, walau remaja 10 tahun itu bicara dengan suara datar tapi demi tuhan dia sangat sedih dan berusaha menahan bulir airmata yang hendak berjatuhan.


"Maafkan mamah nak, mamah tau kalian akan terluka dengan keputusan mamah, tapi mamah berjanji walau kita berjauhan mamah akan tetap ada untuk kalian nantinya." Janji Mia sambil memeluk putra kesayangannya itu.


"Jangan berjanji mah, Mamah juga harus bahagia." Lirih Raja


*********


"Mas, bangun lah ini sudah malam dan kau belum solat isa, bahkan tadi kau meninggalkan solat mahgrib mu." Hesti menggoyang bahu Arifin pelan berusaha sabar menghadapi suaminya itu, entah apa yang terjadi semenjak datang kerumahnya tadi Arifin sama sekali tidak bersuara ia datang dan langsung tidur tanpa memperdulikan pertanyaan yang keluar dari bibir Hesti.


"Dasar sialan dia pasti bertengkar dengan wanita itu, sehingga mood nya tampak tak baik, tapi.. ini sangat baik untuk ku, aku akan mempermainkan peran istri penyabar yang baik hati untuk mengusir wanita itu dari kehidupan mas Arifin." Batin Hesti sambil tersenyum menang.


"Ahhhh" Arifin menguap dan melihat jam di dinding.


"Sudah jam 10 malam," Gumam nya.


"Mas mau mandi biar aku siapkan air hangat nya " Hesti mendekat sambil memijit bahu sang suami manja.

__ADS_1


"Ah, ternyata aku sudah tidur cukup lama." Arifin menarik jemari lentik itu dan mengecupnya seketika.


"Mas sangat lapar sayang, Apa kau memasak sesuatu?" Tanya Arifin sambil menoleh pada sang istri. Hesti mengangguk.


"Mas mau langsung makan, biar aku siapin." Arifin bangkit dari kasurnya. mengecup sejenak bibir merah di samping nya lalu melepaskan semua kain penutup tubuhnya membuat Hesti melotot kaget.


"Mas...?" Arifin terkekeh lalu masuk ke kamar mandi.


"Siapkan makanan sayang, aku mandi sebentar." Ucap Arifin sebelum memasuki kamar mandi.


*******


Arifin barusaja selesai menyantap hidangan yang di sediakan Hesti. Ia tersenyum puas karena istri ke duanya itu selalu bisa membuat selera makannya meningkat, yah Hesti memang sangat pandai memanjakan lidah suaminya dengan keahlian memasak yang di milikinya.


"Gimana mas, enak masakan ku?" Tanya Hesti penasaran melihat senyum di wajah Arifin.


"Sangat lezat sayang, kau memang ahlinya menyenangkan suami, baik itu urusan perut maupun yang di bawah perut " Ucap Arifin terkekeh.


"Mas," Hesti meletakkan puding tersebut di meja kecil dan memeluk sang suami dari belakang. kepalnya di senderkan di samping kepala suaminya lalu mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


cup...


Mia mengecup pipi suaminya dari arah belakang, Arifin mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.


"Katakan ada apa?"Tanya Hesti manja, Arifin terdiam sejenak, lalu menepuk pahanya meminta Hesti duduk di pangkuannya. Wanita itu pun segera pindah ke pangkuan suami, dan tangannya pun beralih ke dada suaminya itu mengusap manja di sana.


"Sejak sore mas mengabaikan ku,"Arifin melirik nya sejenak lalu terkekeh.


"Aku hanya sedikit pusing." Pria itu lalu mengecup bibir merah di depannya itu sejenak.


"Mas, " Hesti berharap Arifin akan berbagi cerita dengannya.

__ADS_1


"hum..." Arifin tampak ragu namun kemudian ia pun mulai menceritakan pertengkaran nya dengan Mia pada Hesti.


"Lalu, kenapa mas tidak menceraikannya seperti permintaan nya "Hesti menatap curiga pada Arifin.


"Apa mas kini telah mencintainya " Tebak nya kemudian.


"Tidak begitu sayang, pertama mas tak ingin anak anak membenci mas, dan malah berpihak pada Mia, kedua Mia adalah amanah Nia, dan mas masih ingat waktu itu Nia meminta adiknya itu untuk mengantikan posisinya menjadi ibu dari anak anak mas." Ucap Arifin jujur.


"Mas, tapi jika kau bertahan dengan Mia, kau akan menyakitinya, Mia wanita normal mas bagaimana bisa kau mengabaikan nya bertahun tahun mas, lepas kan dia mas, atau kau lepas kan aku."


"Tidak sayang, mas tidak akan pernah melepaskan salah satu di antara kalian, mas mencintaimu namun mas juga tak akan menceraikan Mia." Arifin beranjak dari duduknya.


"Mas egois, Apa mas sadar kalau tindakan mas ini menyakiti Mia." Arifin tertegun dan menoleh pada Hesti yang menatapnya tajam.


"Iya, mas aku sudah tak mau lagi menyakitinya, aku pikir selama ini mas telah berlaku adil pada ku dan Mia, makanya aku tak pernah protes walau mas jadikan aku simpanan, tapi ternyata selama ini mas bahkan tidak memberikan nafkah batin pada nya, dan sekarang setelah dia tau hubungan kita, apa mas pikir dia tidak hancur..."


"Tidak mas, aku lelah, dan aku tak ingin lagi menjadi duri dalam hubungan kalian, aku sudah memutuskan aku akan mundur." Hesti berlari ke kamarnya dan membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.


"Hesti....?" Arifin meraup wajahnya merasa frustasi dengan kedua istri nya yang tengah marah.


"Hesti kau tau kan mas sangat mencintaimu sayang, Dhoni sialan itu pernah menjebak mu dan memisahkan kita, setelah bertahun tahun kita akhirnya bisa bersama lagi, mas gak maj kehilangan kamu lagi sayang,.. Hesti ... mas mohon buka pintunya, kita harus bicara.


klek....


Akhirnya pintu kamar terbuka. Arifin segera masuk memeluk sang istri erat," Sayang jangan katakan hal seperti itu lagi, mas mohon kita tak akan pernah berpisah" Hesti tersenyum licik di balik punggung Arifin lalu berkata.


"Mas harus memilih aku atau Mia, aku tak ingin menjadi egois, dan menyakiti wanita itu terus menerus." Ucap Hesti lemah.


"Tidak sayang, kau tidak bersalah , kau tidak egois mas yang salah andai mas menyadari cintamu yang begitu besar dari awal mas pasti tak akan menikahi Mia." Pria itu kini melonggarkan pelukannya dan mencium kening Hesti.


"Kau wanita baik, Mia juga, bedanya kau adalah cinta pertama mas, dan akan selalu menjadi yang pertama di hati mas, Mas janji mas akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan mu, itu janji mas." Hesti begitu bahagia dan merasa di atas angin mendengar kalimat Arifin.

__ADS_1


"Kalau begitu buktikan mas, permintaan ku hanya satu, lepaskan Mia, biarkan dia bahagia." Tegas Hesti.


__ADS_2