GODAAN CINTA PERTAMA

GODAAN CINTA PERTAMA
Bertemu bunda Hanum


__ADS_3

Arifin tercenung, sesaat dia membeku membenarkan semua kalimat Hesti, yah dia akan menjadi pria egois dan jahat karena telah membelenggu Mia dengan pernikahan, namun tak memberikan apa yang seharusnya menjadi hak nya, tapi ada sisi lain di hatinya yang tak rela melepas Mia.


"Tapi sayang..."


"Stop mas, aku gak mau mendengar lagi apa pun. jika mas tidak bisa menceriakan Mia, maka aku yang akan mundur." Hesti meninggalkan Arifin yang masih membatu di tempatnya.


Tiga puluh menit kemudian Hesti telah bersiap dengan koper di tangannya, Arifin yang masih duduk di sofa kaget dan segera menghampiri Hesti.


"Hesti, apa apa an ini...?" Arifin yang memang sedang kalut pun membentak Hesti .


"Aku harus pergi mas, dulu aku yang meninggalkan mu karena terpaksa, namun sekarang aku meninggalkan mau karena keinginan ku, karena aku tak ingin menyakiti istri mu itu lebih dalam lagi, jadi biarkan aku pergi."


"Hesti... beri aku waktu." Hesti tak mengindahkan kalimat Arifin wanita itu menarik kopernya perlahan dengan airmata berjatuhan di pipi cantik nya.


"Hesti aku telah berjanji pada mu, jadi tolong jangan tinggalkan aku, yah.. aku akan menceraikan Mia," Langkah kaki Hesti terhenti mendengar kalimat yang di tunggu tunggunya itu, senyum mengembang di bibirnya, akhirnya rencananya berhasil. Hesti memutar tubuhnya menatap haru pada suami yang sangat di cintai nya itu.


Hiks.... hiks... hiks...., tangis wanita itu pecah di pelukan Arifin, "Maafkan aku mas, aku tak ingin memaksamu, andai Mia mau berbagi dengan ku, ini pasti tak akan sulit, hiks... hiks... hiks... seharusnya kita bisa menjadi keluarga bahagia,bersama membesarkan anak anak."


"Sudahlah, kau tidak bersalah dalam hal ini, seharusnya dari awal aku tak menikahinya, karena di hatiku hanya ada kamu."


********


Mobil hitam milik Mia berhenti di depan panti asuhan PERMATA HATI, Ketiga buah hatinya itu membuka pintu dengan antusias ingin bertemu dengan nenek mereka.


"Nenek," si kembar Raja dan Dila memeluk neneknya erat.


"Kalian sudah besar" buk Hanum mencium kedua pipi cucunya itu kemudian bergantian pada Aulia si sulung.


"Kamu cantik sekali, sangat mirip dengan ibumu." Aulia mencium punggung tangan buk Hanum lalu memeluk wanita tua itu tanpa terasa airmata Aulia mengalir haru.


"Buk" Mia mencium punggung tangan ibu mertuanya, dan buk Hanum pun mempersilakan semua nya masuk.


"Mah, Raja main ke sana yan" Raja berlari kelapangan ingin bermain bola bersama anak anak panti lainnya.

__ADS_1


"Dila juga mau main " Dila pun menyusul anak anak yang sedang bermain di taman bermain. Sedangkan memilih untuk tetap di samping mamanya sambil memainkan ponsel miliknya.


"Bunda....?" Mia menarik nafas dalam. Buk Hanum menatap lekat wajah menantunya itu.


"Katakan nak" Ujar wanita tua itu lembut.


"Mas Arifin menikah lagi." Buk Hanum tersentak kaget lalu menatap Aulia sejenak.


"Aulia sudah tau bun" Ucap Mia seolah tau apa yang maksud mertuanya itu.


"Sejak kapan kau mengetahui nya." Tanya wanita itu kemudian dengan wajah mulai sedikit tenang.


"Beberapa hari yang lalu bunda" Mia berdiri dan menatap hamparan luas tempat anak anak bermain bola.


"Kau sudah menanyakan kebenarannya pada Arifin." Tanya nya lagi.


"Justru aku tau dari bibir mas Arifin sendiri bunda." Wajah murung menerpa Buk Hanum tak menyangka jika pernikahan putranya itu akan bermasalah.


"Maafkan bunda Mia," Buk Hanum hanya bisa menunduk pasrah.


"Mia...?" Bunda Hanum pun tak kuasa menahan air mata nya. ia faham betul perasaan menantunya itu, karena ia pernah berada di situasi yang sama di saat ayah Arifin meninggalkan nya demi janda kaya yang juga mantan cinta pertamanya.


"Lalu apa keputusan mu nak," Ucap bunda Hanum saat ia telah berhasil menguasai diri.


"Maaf kan aku bunda, aku tidak sanggup jika harus di madu, Aku memilih untuk berpisah dan ingin menitipkan anak anak di sini sebelum mereka bisa menerima kehadiran istri ke dua mas Arif." Buk Hanum tak mampu berkata apa apa lagi, bagaimana pun ia adalah seorang wanita, dan ia faham betul perasaan Mia saat ini.


"Bunda tak berhak melarang mu, masalah anak anak, bunda pasti akan menjaga mereka karena mereka juga cucu cucu bunda"


"Aulia gak mau, Aulia mau ikut mamah." Aulia yang sedari tadi menyimak perbincangan kedua orang dewasa di depan nya itu tiba tiba angkat bicara. Mia dan Buk Hanum saling pandang bingung harus bagaimana menjelaskan pada Aulia bahwa Mia tak mungkin membawa mereka.


"Sayang....?" Mia hanya bisa memeluk dan mengusap kepala putri sulung nya itu dengan mata berkaca kaca.


"Untuk saat ini mamah belum bisa membawa kalian tapi percayalah mamah akan selalu mendoakan kalian dari jauh." Mia tak kuasa menahan isak tangis nya hingga suasana menjadi haru.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Suara salam itu terdengar jelas membuat mereka bertiga mengalihkan pandangan pada sosok di depan pintu.


"Mas Arif..?" Mia kaget melihat kedatangan suaminya, begitu pun Arifin yang tampak kaget melihat keberadaan istrinya.


"Bunda.." Arifin segera mencium punggung tangan wanita tua itu dengan penuh kasih.


"Arif kebetulan kau datang nak, kita harus bicara." Ucap bunda Hanum sambil beralih ke ruang kerjanya.


"Mas...."


Langkah kaki Bunda Hanum tertahan saat mendengar suara lembut dari arah pintu. Buk Hanum pun melirik tajam pada Arifin, begitu pula Mia, yang kaget ternyata suaminya mengajak wanita itu, wanita yang menjadi madunya. entah sejak kapan.


"He... hesti..." Arifin segera menarik tangan Hesti membawanya ke arah Bunda Hanum.


"Assalamualaikum bunda" Ucap wanita 37 tahun itu.


"Waalaikumsalam" Sambut bunda Hanum dingin. Hesti masang wajah manis nya dan mengulurkan tangan pada Mia. Namun wanita itu tak membalas hanya menatap tajam pada Arifin.


"Hay cantik kamu pasti Aulia, kenalkan nama ku Hesti kamu bisa memanggil ku mamah Hesti" Ucap Hesti mencoba mencairkan suasana dengan menyapa Aulia Dan mengulurkan tangan nya hendak bersalaman dengan Aulia. Gadis remaja itu menepis uluran tangan Hesti dan berkata " Aku tak sudi memanggil mu mamah, mama ku adalah mama Mia"


"Aulia...!!!!" Bentak Arifin yang membuat Hanum dan Mia kaget.


"Jangan kau bentak putri ku mas" Bela Mia.


"Putrimu....???? apa kau lupa, kau hanya ibu sambung, dan tak mungkin bisa jadi ibu kandung." ucap Arifin yang membuat Bunda Hanum angkat tangan


Plak....


" Bagus Arifin.....!" Geram bunda Hanum melayangkan lima jarinya di pipi putra semata wayang nya itu.


"Mas, ...?" Hesti yang kaget mengusap pipi Arifin dengan lembut.


"Kenapa bunda memukul suamiku, ia hanya mengajarkan putrinya untuk berlaku sopan" Hesti tak terima atas perlakuan Hanum.

__ADS_1


"Oh ya, .. " jawab bunda Hanum sinis


"dan aku juga sedang mengajarkan putraku untuk menghargai istri sah nya." Kalimat bunda Hanum membuat Hesti memerah.


__ADS_2