GRAPPLE

GRAPPLE
The Love


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Ketika sama-sama terluka\, orang yang tidak saling mengenal pun bisa saling menguatkan._


 


 


~•o•~


 


 


Givar dan Shasha melihat Amelia dan Sven yang sedang menonton TV. Sepasang suami istri itu saling pandang.


 


 


"Sejak kapan mereka akrab begitu?" Bisik Givar sembari melipat kedua tangan di depan dada. Shasha bertolak pinggang, "Aku juga gak tahu."


 


 


Givar menatap remote di tangannya, "Ah, percuma."


 


 


Meskipun hari sudah malam, Sven dan Amelia tetap menonton TV di rumah Givar dan Shasha. Seolah mereka tidak pernah menonton TV sebelumnya. Film yang mereka tonton kali ini adalah komedi romantis. Itu akan membuat keduanya semakin nyaman saja berada di sana.


 


 


Tampaknya, Givar dan Shasha juga tidak mempermasalahkan hal itu.


 


 


Givar yang memakai handuk di pinggangnya sedang duduk di depan cermin. Pria itu sedang memperhatikan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di dagu dan rahangnya.


 


 


"Sejak kapan kamu berada di sana? Aku rasa, aku sudah mencukurnya."


 


 


Melalui pantulan cermin, Givar melihat kepala Shasha muncul dari balik pintu kamar mandi.


 


 


"Eh, itu... handuk." Shasha menunjuk handuk yang dipakai oleh Givar. Ternyata Shasha sedang mandi.


 


 


Givar menoleh, "Jubah mandi kamu kemana?"


 


 


"Gak tahu, tiap hari basah mulu. Jangan-jangan kamu make jubah mandi aku," ucap Shasha dengan nada curiga. Dengan cepat, Givar menggeleng, "Tidak, tidak."


 


 


Ah, memalukan. Jangan sampai Shasha tahu, batin Givar.


 


 


Pria itu bangkit dan melepaskan handuknya. Shasha terbelalak. Dia segera menutup pintu kamar mandi.


 


 


"Kenapa dibuka di depanku?!" Gerutu Shasha dari dalam sana. Givar menunduk melihat bagian bawah tubuhnya. Dia terkekeh pelan.


 


 


"Jadi gak?" Tanya Givar sambil mengetuk pintu kamar mandi. Perlahan pintu sedikit terbuka. Tangan Shasha terulur. Givar memberikan handuknya.


 


 


Shasha segera mengambil handuk itu dan menutup pintu dengan cukup keras.


 


 


Givar mengerutkan dahinya, "Ada apa dengan anak ini."


 


 


Selesai mandi, Shasha keluar dengan handuk melilit di tubuhnya. Wanita itu melirik suaminya yang sudah tertidur.


 


 


Dia duduk di depan cermin dan mengoleskan body lotion ke tubuhnya. Givar membuka sebelah matanya. Dia sedang pura-pura tidur.


 


 


Shasha tidak menyadari itu.


 


 


Selesai dengan body lotion, Shasha memakai krim malam. Givar memutar bola matanya, oleskan semuanya sampai merata. Memangnya perempuan selalu begitu?


 


 


Shasha menoleh pada Givar. Pria itu segera menutup matanya. Shasha mulai menyadari jika suaminya tidak sedang tidur. Wanita itu mengambil pakaian dan memakainya di kamar mandi.


 


 


Givar menoleh ke kamar mandi. Dia menghela napas berat. Sebelum istrinya kembali, Givar segera ke posisi semula dan berpura-pura tidur lagi.


 


 


Shasha keluar dari kamar mandi. Dia menatap punggung suaminya. Givar merasakan pergerakan dari belakangnya,  menandakan istrinya berada di sana. Pria itu membuka matanya.


 


 


Shasha membaringkan tubuhnya dan menatap suaminya dari belakang. Wanita itu tersenyum sembari mengubah posisinya menjadi terlentang menatap langit-langit kamar.


 


 


Merasa kesal karena Givar masih pura-pura tidur, Shasha berniat membuat suaminya itu memperhatikannya.


 


 


"Eemm... aku takut sendirian... kenapa Bunny tidur duluan," gumam Shasha pelan. Namun, Givar masih bisa mendengar suara istrinya. Matanya bergerak ke sudut.


 


 


Shasha menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Wanita itu pura-pura menangis. Givar menoleh melihat istrinya yang terbungkus selimut.


 


 


"Aku mau pulang saja," tangis Shasha. Givar segera memeluk tubuh istrinya dengan erat, seolah-olah Shasha akan menghilang jika dilepaskannya.


 


 


"Aku masih bangun, kok, Sayang. Jangan pulang, ya. Aku gak tidur, kok." Givar mencoba menenangkan istrinya.


 


 


Di dalam kungkungan selimut, Shasha tersenyum penuh kemenangan. Dia membuka selimutnya dan menatap Givar.


 


 


"Haha, aku bohong. Kamu kena!" Tunjuk Shasha seperti anak kecil. Givar menghela napas lega.


 


 


Shasha tertawa lepas, karena Givar mudah sekali di manipulasi. Pria itu menatap Shasha dan tidak kunjung melepaskan pelukannya.


 


 


Shasha menyingkirkan lengan kekar milik Givar dari lehernya, namun pria itu tidak bergeming. Dia malah menatap Shasha dengan seduktif. Shasha menjadi gugup.


 


 


"Bunny..." Shasha memanggil suaminya dengan suara bergumam.


 


 


"Apa, Sayang?" Desah Givar sembari mendekatkan wajahnya. Shasha menangkup wajah Givar agar tidak mendekat. Itu membuatnya takut dan gugup.


 


 


"Ke-kenapa kamu?" Tanya Shasha. Givar menautkan alisnya seperti elang, "Aku pengen... yang kayak di dapur waktu itu."


 


 


Shasha terbelalak, "Ta-tapi... jangan melihatku seperti itu, kamu bikin aku takut."


 


 


Givar bisa mendengar detak jantung istrinya. Pria itu mendekatkan wajahnya, otomatis Shasha menutup kedua matanya rapat-rapat. Hidung mancung mereka bersentuhan. Pria itu menatap bibir Shasha yang tertutup rapat seperti matanya.


 


 


Givar tersenyum, "Haha, aku bohong. Kamu kena!"


 


 


Shasha membuka matanya. Dia segera memukul lengan Givar.


 


 


"Kamu bikin aku takut aja! Dasar suami nyebelin!"


 


 


Givar tertawa sembari memegangi kedua tangan Shasha, "Aku bisa denger suara detak jantung kamu. Kayak mau copot aja. Kamu takut ngeliat cowok ganteng kayak aku?"


 


 


"Aaarrhhgg! Pergi sana!" Gerutu Shasha sambil menarik kembali tangannya dan membelakangi Givar.


 


 


Pria itu terkekeh, "Sayang, jangan marah."


 


 

__ADS_1


Givar memeluk perut Shasha dari belakang. Pria itu melelapkan dagunya di ceruk leher Shasha.


 


 


Givar berbisik lirih, "Emangnya kamu mau aku serius soal barusan? Kamu mau aku ngelakuin kayak yang di dapur waktu itu?"


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


"Kamu diam ini... artinya iya, atau tidak?"


 


 


"Aku mau tidur," gerutu Shasha sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Givar terkekeh, dia juga melakukan hal yang sama.


 


 


Keesokan harinya, Shasha dan Givar sudah akur. Mereka menuruni tangga dan melihat Sven bersama Amelia tertidur di sofa. TV masih menyala sedang menyiarkan berita langsung di pagi hari.


 


 


Givar mematikan TV.


 


 


Shasha tidak berniat mengganggu kedua orang itu. Dia bersama Givar memasak.


 


 


"Aku gak berangkat kerja hari ini," kata Givar sembari memotong sayuran. Shasha menoleh pada suaminya, "Kenapa?"


 


 


Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia pasti datang lagi ke kantor untuk menemuiku, jawaban yang terlontar dalam hati Givar.


 


 


"Aku udah bilang ke Papa. Aku mau di rumah hari ini," jawaban itu yang terucap oleh Givar.


 


 


Shasha mengangguk tanpa mau banyak bertanya lagi.


 


 


"Jadi, kapan mereka akan bangun?" Tanya Givar. Yang dia maksud adalah Sven dan Amelia.


 


 


Shasha mengedikkan bahunya.


 


 


Sementara itu, tanpa mereka tahu, Sven dan Amelia sudah bangun. Kedua orang itu sedang menatap layar kaca dengan eskpresi bosan.


 


 


"Kenapa semuanya berita?" Gerutu Sven. Amelia mendengus, "Mungkin pagi-pagi begini isinya berita semua."


 


 


Waktu terus berjalan....


 


 


Semuanya baik-baik saja....


 


 


Namun, ada orang lain yang terluka.


 


 


Aarletha, wanita itu mencintai Givarel. Dia sangat tulus mencintai pria itu. Dia sangat terluka, karena kekasihnya itu telah memutuskan hubungan mereka dengan mudahnya tanpa alasan.


 


 


Padahal selama bersama, mereka tidak pernah sekali pun bertengkar.


 


 


Itu aneh dan tidak bisa diterima begitu saja oleh Aarletha.


 


 


Lalu dia mendapatkan kabar, kalau mantan kekasihnya itu telah menikah dengan gadis lain. Aarletha semakin terpuruk.


 


 


Wanita itu mencoba menghubungi Givar, namun tidak ada respon apa pun dari pria itu.


 


 


Teringat akan sesuatu, ayahnya bekerja sama dengan perusahaan Givar. Dia meminta agar ayahnya mengizinkan dirinya rapat untuk mewakili sang ayah.


 


 


Akhirnya dia bertemu dengan Givar, pria yang sangat dia rindukan. Namun, tampaknya pria itu sama sekali tidak merindukannya.


 


 


 


 


Hari ini, dia datang lagi menemui Givar. Pria itu tidak mungkin mengusir Aarletha dari kantornya. Dia tidak mau mempermalukan wanita itu.


 


 


"Hai lagi," sapa Aarletha. Givar mengangguk, "Hai."


 


 


Merasa sedikit tenang mendengar Givar menjawab sapaannya.


 


 


"Kamu marah sama aku?" Tanya Aarletha. Givar terluka mendengar wanita di depannya bertanya begitu.


 


 


Sungguh, wanita itu tidak pernah melukainya. Namun, dengan tega, Givar meninggalkannya.


 


 


"Enggak," jawab Givar pendek.


 


 


Aarletha tersenyum, "Aku seneng kamu udah bahagia sama istri kamu. Tenang aja, aku gak bakalan gangguin kamu, kok."


 


 


Aarly, batin Givar.


 


 


"Tapi, jangan buang aku, ya. Kita tetap teman, janji." Aarletha menunjukkan jari kelingkingnya. Givar menerimanya.


 


 


Mereka tersenyum.


 


 


Tapi, aku merasa... kamu gak bahagia sama dia. Aku tahu lewat pancaran mata kamu. Ada apa ini? Kalo kamu gak bahagia, kenapa kamu nikah sama dia? Batin Aarletha bertanya-tanya.


 


 


Di perjalanan,


 


 


Givar tengah menyetir mobil menuju rumahnya. Dia menatap jari kelingkingnya. Teringat pada Aarletha siang ini.


 


 


Senyuman kecil terukir di bibir pria itu. Dia merasa senang melihat Aarletha lagi. Meskipun hatinya selalu sakit melihat siratan luka dari sorot matanya. Aarletha memang tidak menunjukkan luka itu, namun Givar menyadarinya.


 


 


Hubungan yang terjalin selama 2 tahun itu membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Mereka sudah melakukan banyak hal selama dua tahun.


 


 


Ngerti, kan?


 


 


Givar sampai di rumah. Dia melihat istrinya sedang menonton TV bersama Amelia dan Sven. Pria itu sedikit merasa lega melihat Shasha tidak kesepian lagi.


 


 


Setidaknya dua orang konyol itu bisa membuat mood-nya sedikit bagus.


 


 


Shasha menyambut suaminya. Dia membawakan tas Givar. Pria itu menatap Shasha dengan intens.


 


 


Sven dan Amelia melihat tatapan 'lapar' dari Givar untuk Shasha. Mereka berdua saling pandang.


 


 


"Aku pulang," kata Amelia kemudian berlalu. Sven mematikan TV-nya dan pergi juga.


 


 


Shasha menoleh melihat kedua orang itu berlalu. Sementara Givar sama sekali tidak menoleh. Dia tetap memusatkan perhatiannya pada Shasha.


 


 


Wanita itu juga menatap ke arahnya.


 

__ADS_1


 


"Ke-kenapa? La-lapar?" Tanya Shasha gugup kemudian berlalu ke dapur. Givar tersenyum seksi. Dia melangkah menyusul istrinya.


 


 


Iya, aku lapar. Aku ingin dirimu.


 


 


Givar merasa berbeda ketika di dekat Shasha dan saat dia bersama Aarletha.


 


 


Bersama Aarletha, Givar merasa nyaman dan bahagia. Wanita itu memperlakukannya dengan baik. Aarletha mencintainya dengan tulus. Wanita itu tidak pernah membuatnya kecewa, Aarletha adalah sosok pasangan yang peka dan baik.


 


 


Sementara Shasha, wanita itu menghormati dirinya sebagai seorang suami. Shasha melakukan tugasnya dengan baik, walaupun dia tidak mencintainya. Kadang, Shasha juga nakal dan jahil kepadanya seperti anak kecil. Meskipun begitu, Givar juga merasa nyaman bersama Shasha.


 


 


Itu yang membedakan Shasha dengan Aarletha.


 


 


Lalu, Givar mencintai siapa?


 


 


Givar mencintai Aarletha, namun... cinta itu juga muncul untuk Shasha. Dia tidak tahu, apakah Shasha juga jatuh cinta padanya?


 


 


Melihat suaminya yang tidak kunjung menyentuh masakannya, Shasha bersuara, "Makanannya nanti dingin."


 


 


Givar tersenyum, "Aku sayang sama kamu."


 


 


Shasha terkejut. Dia menatap Givar. Apakah suami sekaligus sahabat kecilnya itu baru saja menyatakan perasaan?


 


 


Shasha bingung dengan perasaannya sendiri. Namun, jantungnya berdebar mendengar tiga kata dari suaminya itu. Ada rasa bahagia dalam hatinya.


 


 


Apa ini artinya... aku menyukai Givar? Tanya Shasha dalam hati.


 


 


"Terima kasih," ucap Shasha pelan. Givar menyentuh tangan Shasha, "Be mine."


 


 


Shasha menatap suaminya. Dia juga menyentuh tangan Givar sembari mengangguk.


 


 


"Bukankah aku sudah menikah sama kamu, itu artinya kita memang saling memiliki," ujar Shasha.


 


 


Givar mencerna ucapan istrinya.


 


 


Jadi, wanita itu tidak paham dengan maksud ucapannya. Namun, Givar memilih untuk mengangguk, daripada menjelaskannya.


 


 


Di depan rumah Sven, Amelia bersama pria itu duduk bersebelahan.


 


 


"Aku penasaran, apa yang sedang mereka lakukan sekarang, ya?" Gumam Sven. Amelia hanya memutar bola matanya mendengar ucapan konyol pria di sampingnya itu.


 


 


"Udah sore, lo gak pulang?" Tanya Sven.


 


 


Amelia menghela napas panjang, "Males gua... paling di rumah nanti gua ditanya dari mana. Mereka ngira gua ini minum buat ngilangin stress. Padahal gua udah move on, kok."


 


 


"Ya udah gua anterin," kata Sven sambil bangkit dari tempat duduknya. Pria itu membenarkan jaket hitam yang dia kenakan.


 


 


Amelia memperhatikan apa yang dilakukan Sven.


 


 


"Nganterin gua gimana, emang lo ada mobil?" Tanya Amelia.


 


 


"Taksi banyak," sahut Sven.


 


 


Pria itu menarik tangan Amelia. Mereka melangkah menyusuri kompleks. Memerlukan waktu beberapa menit untuk sampai di jalan raya.


 


 


Amelia menatap tangan Sven yang menggenggam tangannya. Sven menoleh padanya. Amelia segera mengalihkan perhatiannya.


 


 


"Emang lo mau nganterin sampe mana?" Tanya Amelia sambil mendelik pada Sven.


 


 


"Ya... sampe rumah, lah."


 


 


"Terus, siapa yang bayar taksi?" Tanya Amelia lagi. Sven mendengus kesal, "Gua, dong."


 


 


Amelia terkekeh. Namun, dia kembali bertanya, "Kalo keluarga gua nanya, siapa lo, gua harus jawab apa?"


 


 


"Bilang aja, gua pasien lo. Gampang, kan?"


 


 


Amelia memundurkan kepalanya, "Gak bisa, lagian mana ada orang gila seganteng lo."


 


 


Mendengar ucapan polos Amelia, Sven melirik pada gadis itu. Amelia segera menutup mulutnya dengan tangan.


 


 


Sven menggeleng pelan, "Jangan tertipu sama wajah, ganteng iya, jahat iya."


 


 


"Emang iya, lo jahat?" Tanya Amelia. Sven mengedikkan bahunya, "Cuma gua yang tahu... lo tahu psikopat, kan?"


 


 


Amelia menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangan Sven. Pria itu berhenti melangkah, Amelia menatap punggung Sven dengan ekspresi waspada.


 


 


"Jangan bilang, lo psikopat. Lagian... psikopat itu suka nyakitin orang... terus... ngebunuh orang juga." Amelia bergidik ngeri.


 


 


Sven berbalik sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


 


 


"Memangnya psikopat harus selalu membunuh?" Tanya Sven. Amelia mengangkat dagu menatap Sven, "Gua psikolog, jadi gua tahu... mana psikopat, dan mana orang normal."


 


 


Sven melangkah menghampiri Amelia. Wanita itu menjadi gugup.


 


 


"Tidak ada yang bisa membaca pikiran dan gerak-gerik psikopat. Mereka memiliki cara berpikir yang berbeda dengan manusia lainnya."


 


 


Amelia mengernyit, "Psikolog bisa memahami dan mengetahui gejala pada orang yang benar-benar seperti psikopat."


 


 


Sven memasang ekspresi seolah dia terkejut, "Benarkah? Perlu menjadi psikopat untuk memahami psikopat lainnya."


 


 


Amelia menelan saliva, "Lo bukan psikopat."


 


 


Sven mengibaskan tangannya kemudian berlalu. Amelia menyusulnya.


 


 


"Woy! Kok, lo ninggalin gua, sih!"


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


09.21 : 25 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2