
~•o•~
_Aku terpaksa\, karena tidak ada pilihan lain. Apa kamu pernah berada dalam posisi tersulit\, sehingga tidak mampu memilih satu di antara kedua pilihan?_
(Dilema)
~•o•~
Shasha menatap tajam pria itu. Mendapatkan tatapan tajam dari Shasha, pria itu sedikit merinding.
"Jangan melihatku seperti itu!" Dia mendorong Shasha. Namun, Shasha mencengkram bagian depan baju pria itu.
"Kamu orang yang selama ini ganggu keluarga aku, kan?!" Bentak Shasha. Dia ingin meminta jawaban dari pria itu.
"Bukan! Bukan aku!" Bantah pria itu sambil mengibaskan kedua tangannya.
"Lalu siapa? Orang lain yang menyuruh kamu?!" Bentak Shasha sembari mendorong pria itu sampai punggungnya membentur dinding.
Sedikit meringis dengan perlakuan kasar Shasha. Bukan tanpa alasan, Shasha sudah lelah. Dia benar-benar kehilangan rasa kasihan pada siapa pun yang terlibat dengan penjahat itu.
Pria itu menepis tangan Shasha darinya, "Bukan aku... i-iya... aku hanya disuruh orang untuk memberikan surat itu padamu."
"Siapa yang menyuruh kamu? Katakan! Pertemukan aku dengannya!" Ancam Shasha.
"Ti-tidak... dia akan menghabisiku jika aku membawamu padanya." Pria itu menggeleng ketakutan.
"Mau mati ditangannya, atau mati di sini?" Gertak Shasha yang sudah kehabisan kesabaran.
"O-oke."
Dia melangkah diikuti Shasha yang tidak berniat melepaskan tangannya dari bagian belakang baju pria itu.
Shasha membatin, Sepertinya orang ini memang bukan 'dia'... mana orang ini pengecut. Sedangkan lewat surat itu, aku yakin, 'dia' orang yang tidak mengenal rasa takut. Orang yang tidak takut membunuh siapa pun, termasuk papa.
Pria itu membawa Shasha ke depan sebuah ruangan. Namun, ketika pintu dibuka, tidak ada siapa pun di ruangan itu.
Shasha mencium aroma maskulin yang dikenalnya. Seseorang yang menjatuhkan surat itu ketika pertama kali dirinya tiba di tempat tersebut.
Jadi orang ini tidak berbohong dan membawa Shasha langsung ke tempat 'dia'. Hanya saja, sayang sekali... 'dia' tidak ada.
"Kemana orangnya?" Tanya Shasha.
Pria itu menggeleng, "Aku gak tahu. Sekarang lepaskan aku, aku sudah jujur."
Shasha menghela napas kemudian berlalu. Baru saja dia menuruni tangga, dia mendengar suara teriakan pria itu. Lewat jendela besar, Shasha melihat tubuh pria itu jatuh meluncur ke bawah.
Kedua mata Shasha membelalak lebar. Dia membuka jendela dan melihat tubuh tak bernyawa itu terkapar di pelataran RSJ. Pria itu tewas seketika. Darah segar mulai mengalir dan menggenang di sekitarnya.
Beberapa orang di bawah sana berlarian menghampiri pria malang itu.
Shasha menutup mulutnya karena mual melihat kejadian tersebut secara langsung. Ada rasa kasihan di hatinya melihat pria itu meninggal.
Ada rasa bersalah karena tadi di membentak dan memperlakukannya dengan kasar. Padahal pria itu sudah berkata jujur padanya
Tanpa mau berlama-lama terlarut dalam keadaan, dia kembali menaiki tangga untuk melihat apa yang terjadi di atas.
Shasha memasuki ruangan tadi. Dia terkejut melihat keberadaan seorang pria yang berdiri di depan jendela. Dia membelakangi Shasha.
Sepertinya dia yang sudah mendorong orang tadi hingga jatuh ke bawah dan meninggal seketika.
"Kamu!" Teriak Shasha.
Orang itu menoleh. Kedua mata Shasha terbelalak. Pria itu mendekat sambil tertawa gila.
Sementara itu,
Sven yang mengemudikan mobil mendiang ayahnya telah tiba di RSJ di mana Shasha dirawat. Dia menemui dua orang petugas yang sama yang waktu itu membawa Shasha ke tempat tersebut.
Keduanya tampak sedang mengobrol sambil meminum kopi.
Melihat kedatangan Sven, dua orang itu terlihat bingung.
"Apa aku bisa masuk ke rumah sakit ini?" Tanya Sven tanpa mau berbasa-basi atau sekedar menyapa.
"Tentu saja, bukankah anda mau mengunjungi adik anda?"
"Tidak, maksudku, aku ingin menjadi pasien di RSJ ini."
Kedua petugas itu terkejut mendengar ucapan konyol Sven. Namun, pria itu tidak menunjukkan ekspresi bercanda. Dia tampak serius.
"Tapi, bukankah anda sudah sembuh setelah keluar dari rumah sakit jiwa yang lain?"
"Jangan malah nanya, cepetan masukin aku jadi pasien di sini," gerutu Sven.
"Tapi, kami tidak bisa mendaftarkan orang yang sehat menjadi pasien di sini. Itu melanggar aturan."
Tiba-tiba terdengar suara gedebuk yang keras. Kedua petugas itu sedikit tersentak. Mereka saling pandang kemudian keduanya segera berlari ke sumber suara.
Sven merasa penasaran dia pun menyusul mereka.
Beberapa orang berkerumun. Ternyata ada salah seorang pasien yang jatuh dari lantai atas.
Para petugas laki-laki berdatangan. Mereka semua segera memberikan penanganan.
Sven melihat darah menggenang di sekitar badan jenazah itu. Kemudian dia mendongkak menatap ke atas. Ada seorang pria di sana.
Dia yang mendorong orang ini, ya? Dasar orang gila!
Sven mendengar bisik-bisik dari sekitarnya.
"Lihat orang itu. Dia orang yang masuk RSJ ini karena mendapati istrinya selingkuh dengan bosnya, kan?"
"Iya, dia jadi sering mengamuk dan memukul pada laki-laki. Semua laki-laki dikira bosnya yang telah bermain dibelakangnya dengan istrinya."
Sven menautkan alisnya ketika pria di lantai dua itu berlalu, seperti ada seseorang yang memanggilnya.
__ADS_1
Sven segera berlalu.
~
Shasha mundur ketika pria yang baru saja membunuh temannya itu mendekat.
"Kenapa kamu mendorong orang itu ke bawah? Kamu gak kasihan sama dia? Dia teman kamu!" Ucap Shasha.
"Aku cuma disuruh, kenapa kamu nyalahin aku? Atau... dia selingkuhan kamu, ya?!" Bentak pria gila itu sambil mencengkram lengan Shasha.
"Lepaskan aku! Siapa orang yang udah nyuruh kamu?!" Bentak Shasha sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu.
"Kamu selingkuh sama dia! Dan kamu gak mau ngaku?! Istri macam apa kamu! Aku bekerja keras untuk menafkahi kamu, dan kamu malah selingkuh!" Teriak pria itu.
"Apa-apaan orang gila ini? Lepasin, gak!" Bentak Shasha.
"Aku gak akan maafin kamu!"
Tanpa diduga, pria itu menampar wajah Shasha.
Shasha terkejut dia menatap tajam pria yang baru saja menamparnya, "Sialan! Beraninya memukul putri dari keluarga Gustiar!"
Dengan rasa kesal, Shasha menendang selangkangan pasien tersebut dengan cukup keras. Pria itu jatuh terkapar sambil meringis memegangi 'barang' pentingnya. Dia berguling-guling di lantai.
Shasha memegangi pipinya yang memerah dan terasa perih, "Dasar orang gila!"
Shasha melihat Sven datang dan berjalan ke arahnya. Shasha membuang muka, tidak ingin melihat wajah kakaknya.
"Sha?" Sven memanggil Shasha sembari menoleh pada pria yang terkapar itu walaupun sekilas.
"Ngapain ke sini?! Kalian, kan, lagi sibuk sama upacara pemakaman Papa." Shasha berkata dengan nada ketus.
Sven terkejut, dari mana dia tahu?
Shasha membelakangi kakaknya. Dia melipat kedua tangan di depan dada. Kedua matanya sudah berlinangan air mata.
"Sha, kita gak mau kamu sedih dan makin down kalo kita bilang sekarang," ujar Sven berusaha menjelaskan. Dia menyentuh bahu Shasha.
Shasha berbalik, "Tapi, aku juga anaknya papa. Kalo kalian gak ngasih tahu sekarang, mau kapan? Tetep aja menyakitkan. Aku gak bisa nemenin papa di saat terakhirnya."
Shasha mulai menangis. Sven memeluk adiknya, "Maaf."
Shasha menangis dalam pelukan Sven. Dia *** bagian depan kemeja kakaknya.
Pria tadi kembali bangun dan menarik Sven. Shasha dan Sven terkejut, otomatis pelukan Sven juga terlepas dari Shasha.
"Jangan sentuh istriku!" Bentak pria itu sambil melayangkan kepalan tangannya. Namun, Sven mendorong dada orang itu hingga jatuh terduduk.
"Orang gila!" Sven mengumpat kesal.
"Aku rasa, orang itu ada di sini. Dia udah bikin papa pergi selamanya. Apa kamu gak ada keinginan untuk membuatnya bertanggung jawab?" Ucap Shasha diakhiri dengan pertanyaan.
Shasha mengusap air matanya.
Shasha terbelalak mendengar ucapan polos kakaknya.
"Apa kamu bilang? Kamu udah gila?!" Gerutu Shasha dengan ada tinggi.
Sven tampak berpikir, "Emm, enggak. Aku cuma mau pura-pura gila biar aku bisa di sini nemuin orang itu. Ini adalah rencana B."
Orang tadi kembali berdiri dan menghampiri Shasha, "Kamu selingkuh lagi?! Aku sedang marah sekarang!"
Shasha mendorong orang itu dan dia kembali tertuduk di lantai. Kedua kakinya meronta-ronta lalu menangis seperti anak kecil.
Tanpa mau peduli, kedua adik kakak itu kembali melanjutkan percakapan mereka.
"Kamu yakin? Kamu udah susah payah keluar dari rumah sakit jiwa yang dulu, malah mau masuk ke tempat ini," kata Shasha setengah bertanya.
Sven mengangguk, "Aku yakin."
Sven memberikan kunci mobil milik ayah mereka pada Shasha. Diterimanya benda tersebut.
"Ini kunci mobil papa. Aku nyimpen mobil di depan buat jaga-jaga. Kamu simpen dulu kunci ini. Aku harus ke bawah meminta orang-orang itu untuk memasukkanku menjadi pasien di sini."
Shasha mengangguk. Sven berlalu.
"Kamu mau ke mana lagi, Sven?" Tanya Shasha.
"Mau mendaftar jadi orang gila."
Shasha menggeleng pelan.
Pria yang masih terduduk di lantai kembali bangun. Namun, Shasha mendorongnya lagi, sehingga pria itu lagi-lagi jatuh terduduk.
"Ya udah! Aku tidur di sini!" Dia melelapkan tubuhnya di atas lantai.
Beberapa petugas datang dan membawa orang tersebut.
"Kalian mau ngapain?!"
"Kamu harus diisolasi berdasarkan saksi mata."
Tanpa diketahui siapa pun, pria tinggi berjas biru gelap itu berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tidak boleh ada yang tersisa."
~
Sven menuruni tangga. Dengan sebelah tangan, diacak-acak rambutnya dan dirobek pakaiannya.
Beberapa wanita yang melihat ketampanan putra Gustiar itu tidak ingin mengalihkan pandangan mereka barang sedetik pun. Bukan hanya pasien wanita, beberapa petugas wanita juga terpesona.
Sven menghampiri dua petugas tadi. Kedua orang itu menoleh padanya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Apalagi yang dia mau?"
Sven mengambil cangkir kopi itu dan menyiramkannya ke tubuh dua petugas itu. Keduanya berteriak kepanasan.
Belum sampai di sana, Sven **** mereka dan bergulat di tanah.
"Cepat! Jadikan aku pasien rumah sakit jiwa ini! Aku gila! Iya, aku gila! Aku psikopat! Rajanya gangguan jiwa! Cepat masukkan aku!"
"Sialan!"
"Jangan begini! Kamu bisa memintanya dengan baik-baik!"
"Tadi aku sudah memintanya dengan baik-baik!" Sven tidak mau berhenti mengerjai kedua petugas itu.
"Dasar gila!"
Shasha yang melihat itu mengusap kasar wajahnya, "Sepertinya dia gila sungguhan."
Setelah itu....
Kedua petugas berdiri di depan dua orang psikiater yang sedang menanyai Sven. Satu psikiater laki-laki, dan yang satunya lagi psikiater perempuan yang pernah memeriksa Shasha.
"Kami harus berduka karena ada pasien meninggal, lalu entah dari mana anda datang. Apa anda benar-benar gila?"
"Iya," jawab Sven.
Kedua psikiater itu saling pandang.
Mana ada orang gila ngaku. Ada apa dengan orang yang satu ini?
"Kami harus melakukan tes."
Setelah melakukan tes, Sven dinyatakan baik-baik saja.
"Sepertinya anda memang sengaja melakukan ini. Karena telah melukai petugas kami, anda harus dilaporkan kepada polisi."
Seketika Sven menarik bagian depan baju psikiater laki-laki dengan rasa kesal, "Aku minta dimasukkan ke RSJ ini! Bukan ke kantor polisi!"
Psikiater perempuan berusaha melepaskan cengkraman Sven dari rekannya. Namun, Sven memperingatkannya melalui raut wajahnya.
"Kalau kalian tidak menjadikanku pasien, aku akan membakar rumah sakit jiwa ini!" Ancam Sven.
"Oke, oke. Kamu dinyatakan memiliki gangguan jiwa!"
~
Shasha melihat satu per satu surat yang dia dapatkan selama berada di RSJ. Pintu kamarnya dibuka, membuat Shasha menoleh ke arah sana.
Ternyata Sven yang datang dengan baju khusus pasien RSJ Larissa.
Shasha melihat dari atas ke bawah dan sebaliknya, "Kamu gila sekarang? Ah, maksudku udah dinyatakan gila?"
Sven memutar bola matanya sembari menganggukkan kepala.
Sven menghampiri adiknya. Dia melihat apa yang sedang dibaca oleh adiknya.
"Surat dari orang itu?" Tanya Sven. Anggukan Shasha adalah jawabannya.
"Selama di sini orang yang tidak pernah kulihat wajahnya itu selalu mengirimkan surat."
Sven membaca satu persatu isi surat-surat itu. Dan salah satunya ada yang cukup panjang yaitu surat yang memberitahu kalau Adam Gustiar telah meninggal.
Jadi... orang sialan ini yang lagi-lagi membunuh orang. Dasar sialan. Dia juga yang memberitahu Shasha? Harusnya aku bisa menduga ini sejak awal.
Terdengar pintu diketuk. Kedua kakak beradik itu menoleh. Ada dua petugas wanita.
Salah satu dari mereka memanggil Sven dan berbicara seolah pada anak kecil, "Sven, kamu harus masuk ke kamar kamu yang baru, ayo."
Shasha menahan tawa mendengar itu.
Sven menoleh pada adiknya. "Nanti aku ke sana, tidak apa-apa aku di sini, kan? Dia adik kandungku," jelasnya.
Kedua petugas itu saling pandang lalu mengangguk dan berlalu.
"Hahaha, mereka bisa curiga kalo kamu bicara dan berpikir seperti orang normal," gerutu Shasha sambil tertawa.
Sven tertawa, "Biarin aja."
Shasha berhenti tertawa. Dia kembali memperlihatkan ekspresi sedih.
"Kenapa, Sha?"
"Aku masih belum bisa menerima kenyataan, kalo papa udah pergi."
Sven mengusap rambut adiknya.
Sore harinya, Givar dan Amelia datang berkunjung untuk melihat keadaan Shasha. Namun, mereka terkejut melihat keberadaan Sven yang juga memakai pakaian pasien.
Sven tidak memberitahukan rencananya pada Givar mau pun Amelia. Jadi, wajar saja kedua orang itu terkejut.
"Ini rencana gua, kalian diem aja, deh!" Itu jawaban Sven.
Givar dan Amelia saling pandang.
"Ada bagusnya Shasha masuk RSJ. Ini membuat orang sialan itu semakin dekat dengan kita. Bukankan ini sesuai keinginan?" Ujar Sven di akhiri dengan pertanyaan.
"Apa rencana kamu?" Tanya Amelia.
"Baiklah, saatnya aku memberitahu kalian."
~•o•~
13.41 : 29 Oktober 2019
__ADS_1
By Ucu Irna Marhamah