GRAPPLE

GRAPPLE
Flashback


__ADS_3

 


 


~•o•~


 


 


_Bagi beberapa orang\, cemburu itu adalah bentuk dari rasa takut kehilangan._


 


 


~•o•~


 


 


Shasha tengah duduk di kursi kebesarannya. Dia menyandarkan punggungnya sembari menutup kedua mata. Pendingin ruangan terasa begitu menyejukkan di hari yang panas di New York.


 


 


Musim panas di New York.


 


 


Shasha bergeming. Gadis itu menatap cincin indah pemberian Refandi di tangannya. Dia tersenyum.


 


 


Hari pernikahannya akan segera tiba, tinggal beberapa minggu lagi. Shasha menghela napas panjang dan kembali menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


Ponselnya bergetar, Shasha segera melihat benda berbentuk persegi berwarna putih itu.


 


 


Ternyata ada pesan yang masuk. Shasha mengambilnya dan membaca isi pesan tersebut.


 


 


Ada sesuatu di bawah meja. Ambillah, itu untuk kamu, Sha.


 


 


Shasha mencondongkan tubuhnya dan melihat ke bawah meja. Gadis itu terkejut, ternyata sebuket bunga mawar berwarna merah yang masih segar. Shasha mencium aromanya.


 


 


"Eemmhhh... ini pasti dari Refandi." Gadis itu memanggil nomor yang baru saja mengirimi pesan. Namun, nomor tersebut tidak bisa dihubungi, karena nomor tidak tersedia.


 


 


Shasha mengernyit bingung. Dia memutuskan untuk menghubungi kekasihnya melalui nomor yang biasa digunakan Refandi.


 


 


"Sayang?"


 


 


"Fan, makasih bunganya, ya. Aku suka," kata Shasha yang tiada hentinya menghirup aroma dari bunga tersebut.


 


 


"Bunga?" Dari nada bicaranya, tampaknya Refandi bingung.


 


 


Shasha juga bingung, mana mungkin kekasihnya itu sedang bercanda.


 


 


"Kamu ngirim sebuket bunga mawar merah ke kantorku, kan?" Tanya Shasha memastikan.


 


 


"Aku gak ngirim bunga, Sayang."


 


 


Serasa ada godam yang menghantam jantungnya. Shasha meletakkan bunga itu ke meja. Dia terlihat cemas. Apa mungkin ada seseorang yang menguntit dirinya?


 


 


"Kamu mau bunga mawar, ya, Sayang? Oke, nanti kita ketemu di Malvena. Aku bakalan ngasih kejutan buat kamu."


 


 


"Sayang, jangan bercanda, lalu bunga ini dari siapa?" Tanya Shasha panik dengan tatapan tertuju pada buket tersebut di meja.


 


 


"Sayang, aku serius, aku gak ngirim bunga."


 


 


Shasha melihat ke sekelilingnya. Dia bangkit dan berlalu ke jendela, memastikan adakah seseorang yang tengah mengawasinya di kejauhan.


 


 


"Sayang?"


 


 


"Iya, kita ketemu di Malvena."


 


 


"Nanti aku jemput kamu, ya."


 


 


Shasha menyimpan ponselnya ke meja. Gadis itu mengambil bunga tersebut dan merobek buketnya. Ada kartu berwarna merah muda di dalam sana.


 


 


Shasha membaca pesan dari kartu tersebut.


 


 


Mawar merah yang cantik, seperti kamu, Shaquellin Adisilla Gustiar.


 


 


Shasha membuang buket tersebut ke tong sampah. Dia berlalu keluar dan menemui security yang biasa berjaga di depan dan menerima paket dan surat dari pos.


 


 


"Mr. Han, siapa yang mengantarkan bunga mawar ke ruanganku?" Tanya Shasha. Pria tua itu tampak berpikir, "Hari ini tidak ada paket yang datang, Nona."


 


 


Ini pasti kerjaan orang dalam, batin Shasha. Dia mengumpulkan semua karyawan dan orang-orang yang bekerja di kantor tersebut. Gadis itu menanyai satu per satu dari mereka. Namun, tidak ada yang tahu.


 


 


Adam yang baru saja datang, tampak bingung melihat kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah Shasha.


 


 


"Ada apa dengan Shaque?" Gumam Adam.


 


 


Shasha menghela napas sambil mengusap keringat yang mengalir dari dahinya, menandakan jika gadis itu sedang dalam masalah.


 


 


Adam menegurnya, "Shaque?"


 


 


Gadis itu terhenyak dan menoleh, "Eh, Papa? Maaf, aku gak lihat Papa dateng."


 


 


Adam tersenyum bijak, "Kamu kenapa? Kok, kayak cemas gitu."


 


 


"Gak, kok, Pa. Aku baik-baik aja."


 


 


Pandangan Adam tertuju pada tong sampah, perhatiannya terfokus pada bunga mawar di dalamnya.


 


 


"Dari Refandi? Kenapa kamu buang?" Tanya Adam. Shasha menggeleng, "Seseorang yang... aku juga gak tahu siapa."


 


 


Adam mengernyit, "Maksud kamu?"


 


 


"Ada orang yang mengirim bunga itu buat aku, tapi... pengirim itu tidak menuliskan namanya."


 


 


Adam tercengang.


 


 


"Aku jadi takut," gumam Shasha. Adam mengusap bahu putrinya, "Kamu gak perlu khawatir. Orang-orang Papa bakalan urus ini."


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Sesuai janji, Refandi menjemput Shasha. Mereka menikmati hidangan makan malam di restoran Malvena.


 


 


"Aku punya sesuatu buat kamu," kata Refandi. Pria itu membawa sesuatu dari bawah meja. Shasha tampak menunggu.


 


 


Pria itu memberikan setangkai bunga mawar dan sekotak coklat. Shasha tersenyum simpul.

__ADS_1


 


 


"Makasih, aku ngerasa lagi valentine day," kata Shasha. Refandi tersenyum. Namun, Shasha merasa tidak enak pada Refandi, karena tadi dia menelpon kekasihnya itu dan mempertanyakan bunga misterius yang sama sekali bukan darinya.


 


 


"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Refandi. Shasha tampak sedih, "Maafin aku... tadi aku marah-marah sama kamu di telpon. Soalnya aku takut."


 


 


Refandi mengusap rambut Shasha dengan lembut, "Gapapa, Sayang. Aku ngerti, kok."


 


 


Refandi tampak berpikir, "Tapi... siapa yang ngirim bunga itu, ya?"


 


 


Shasha menggeleng, gadis itu juga tidak tahu. Sebelumnya tidak pernah ada yang mengirimkan sesuatu tanpa ada pengirimnya.


 


 


"Mungkin kamu punya penggemar rahasia."


 


 


Shasha mengernyit, "Gak mungkin."


 


 


Bukannya merasa tenang, Shasha makin merasa khawatir.


 


 


"Mungkin dari mantan pacar kamu," kata Refandi. Shasha menggeleng, "Aku gak pernah pacaran."


 


 


Refandi tersenyum, "Jadi, aku pacar pertama kamu?"


 


 


"Iya, pacar pertama dan terakhir." Shasha tersenyum geli.


 


 


Refandi terkekeh. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela, "Kayaknya bakalan hujan, deh."


 


 


"Aahhh, jangan mulai lagi. Kenapa feeling kamu selalu benar?" Gerutu Shasha.


 


 


Refandi tertawa, "Itu cuma kebetulan."


 


 


"Lagian langitnya cerah, tuh. Bintang ada di mana-mana. Gak ada awan sama sekali," kata Shasha. Padahal dia menenangkan dirinya sendiri.


 


 


Refandi tersenyum.


 


 


Benar saja, beberapa menit kemudian, hujan turun. Shasha menghela napas berat. Refandi tersenyum.


 


 


"Kamu gak buru-buru, kan?" Tanya Refandi. Shasha mengangguk, "Enggak, sih. Tapi, Mama aku pasti cemas kalo aku gak pulang cepet."


 


 


"Mama gak bakalan cemas kalo kamu sama aku. Tadi siang, aku udah nelpon mama. Aku bilang, kita bakalan pulang telat."


 


 


Shasha melongo, "Kamu antisipasi banget."


 


 


Refandi tertawa.


 


 


Jam menunjukkan pukul 9 malam. Air di langit New York telah berhenti meneteskan air.


 


 


Refandi sedang menyetir, dia mengantarkan Shasha pulang ke rumah.


 


 


"Kamu punya firasat lain?" Tanya Shasha. Refandi tampak berpikir, "Aku rasa... kita gak akan lama."


 


 


Shasha mengernyit. Refandi masih fokus menyetir.


 


 


 


 


Shasha menoleh pada kekasihnya. Kedua alis gadis itu terangkat, dia tidak mengira, pria itu akan mengatakan hal tersebut.


 


 


"Kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Shasha.


 


 


Refandi menepikan mobilnya. Dia menatap calon istrinya dengan penuh makna.


 


 


"Semoga kali ini firasatku meleset. Jika tidak, jangan khawatir... kamu akan memiliki pendamping hidup yang baik."


 


 


Shasha tampak sedih, "Fan, jika kamu lagi bercanda, tolong hentikan. Aku gak suka."


 


 


Refandi memeluk kekasihnya, "Jika nantinya ada seseorang yang ingin menikahimu, terima dia. Kemungkinan dia adalah takdir kamu."


 


 


"Stop!" Tangis Shasha sembari memukul dada Refandi. Pria itu mengeratkan pelukannya.


 


 


~


 


 


Mobil Refandi telah tiba di pelataran rumah besar milik keluarga Gustiar. Shasha keluar dari dalam mobil. Dia melambaikan tangannya.


 


 


Namun, suara Adam membuat Refandi tidak jadi melajukan mobilnya.


 


 


Adam mengajak calon menantunya berbicang hangat di ruang tamu.


 


 


"Maaf, aku memintamu untuk mampir dulu malam-malam begini." Adam membuka pembicaraan.


 


 


"Oh, tidak apa-apa, Tuan Gustiar."


 


 


Adam menepuk bahu pria itu, "Kamu adalah calon menantuku... panggil aku Papa, seperti Shaque."


 


 


Refandi tersenyum, "Iya, Papa."


 


 


Adam mengangguk, "Aku ingin mengatakan sesuatu... ini menyangkut Shaque."


 


 


Refandi mendengarkan dengan serius.


 


 


"Ada seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Aku ingin pernikahan kalian dipercepat. Kamu tenang saja, Papa yang akan bicara pada keluarga kamu."


 


 


Refandi mencerna ucapan calon mertuanya, "Siapa yang ingin melukai Shasha?"


 


 


Adam tampak berpikir, "Aku tidak tahu. Aku juga mendapatkan informasi dari orang-orangku."


 


 


Refandi menganggukkan kepalanya.


 


 


~


 


 


Shasha dan Refandi sedang dalam perjalanan menuju tempat fitting baju pengantin. Mereka tampak begitu bahagia, sebentar lagi mereka akan menikah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


 


 


"Kamu mau baju warna apa?" Tanya Refandi. Shasha tampak berpikir, "Warna apa aja, aku suka."


 

__ADS_1


 


"Merah muda dan biru muda." Shasha terpikir untuk memilih warna itu. Refandi tampak berpikir, "Apakah itu kolaborasi warna yang cocok?"


 


 


"Iya, itu bagus, kan?" Tanya Shasha semangat. Refandi tersenyum sembari mengangguk.


 


 


Mobil yang mereka tumpangi melewati jurang yang cukup terjal. Entah kenapa, Shasha merasa perasaannya tidak enak. Dia melihat ada sebuah gubuk di tepi jalan.


 


 


"Kemarin aku lewat sini, gak ada gubuk di sebelah sana," gumam Refandi. Shasha menepuk paha pacarnya, "Kita putar balik aja. Aku ngerasa ada yang janggal sama gubuk itu."


 


 


"Gak ada jalan lain, Sha. Kalo puter balik, kita bakalan terjebak macet."


 


 


Shasha terdiam.


 


 


Ketika mobil itu melewati gubuk di tepi jalan, tiba-tiba gubuk tersebut meledak.


 


 


Bruaaarrssgghhh!


 


 


Ledakkan tersebut membuat mobil itu terlempar dan berguling-guling ke jurang.


Separuh dari badan mobil terbakar, yaitu bagian kemudi.


 


 


Pintu mobil terbuka. Tubuh lunglai itu jatuh ke bawah. Gadis yang tidak lain adalah Shasha itu meringis pelan. Dia memegangi perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah karena terdapat luka cukup besar di sana. Shasha panik melihat luka itu. Dia berusaha menutupi lukanya dengan tangan agar darahnya tidak terus-menerus mengalir.


 


 


Gadis itu melihat ke dalam mobil. Ada Refandi di dalam sana sedang menutup kedua matanya rapat-rapat menahan rasa sakit.


 


 


Pria itu meringis kesakitan. Shasha menggeleng, dia mendekat dan menggenggam tangan pria itu.


 


 


"Kita akan keluar dari sini! Kita akan selamat! Aku mohon, bertahanlah." Shasha menangis tersedu-sedu. Dia menarik tangan Refandi agar keluar dari mobil itu, namun tubuhnya tersangkut. Setiap Shasha berusaha menarik tubuh Refandi, pria itu akan berteriak kesakitan.


 


 


Terlihat darah yang terus-menerus mengalir dari paha Refandi membasahi kursi mobil. Kedua mata Shasha bergetar melihat itu. Darah tersebut berasal dari luka di paha kekasihnya karena tertancap akar pohon.


 


 


Shasha menangis karena cemas. Dia menutup luka di paha Refandi dengan tangannya. Namun, bukannya berhenti mengalir, darah yang terasa hangat itu semakin banyak membasahi tangan Shasha.


 


 


"Kamu berdarah, Refandi," kata Shasha panik. Refandi menutup matanya tanpa bisa berkata apa pun.


 


 


Shasha menggapai tasnya dan mengambil ponsel. Tangannya yang gemetar menelpon polisi.


 


 


Refandi menoleh ke arahnya, "Sha, aku gak akan lama lagi."


 


 


Mendengar ucapan calon suaminya, Shasha menoleh dengan ekspresi terkejut. Gadis itu menggeleng sembari menangis tertahan.


 


 


"Enggak, kita harus selamat."


 


 


Refandi berusaha menggerakkan kakinya yang tertancap akar. Pria itu berhasil dan dia bisa keluar dari dalam mobil mendekati Shasha.


 


 


Mereka berpelukan dengan darah di mana-mana.


 


 


"Halo?" Suara polisi dari ponsel Shasha. Gadis itu segera menjawabnya, "Pak polisi, tolong kami.... kami mengalami kecelakaan..."


 


 


Shasha tidak melanjutkan kata-katanya, karena mendengar suara dari mobil mereka.


 


 


"Halo? Kami akan melacak lokasi kalian. Kami akan segera ke sana."


 


 


Refandi dan Shasha menoleh ke arah mobil mereka.


 


 


Refandi segera mendorong tubuh Shasha. Gadis itu tersungkur dan jatuh berguling-guling ke bawah. Shasha melihat Refandi yang tersenyum sendu. Mobil itu meledak keras. Shasha terbelalak. Dia tidak bisa melihat Refandi, karena api mengelilinginya.


 


 


Shasha berteriak, "Tidaaaak!"


 


 


Tubuh gadis itu terbentur pohon. Shasha merasakan badannya melemah. Sementara darah mengalir dari kepalanya mengalir ke wajah dan matanya. Aroma khas dari besi berkarat itu menguak merasuki indra penciumannya.


 


 


Shasha menutup mata serapat mungkin.


 


 


Antara sadar dan tidak, meskipun kedua matanya tertutup, Shasha mendengar suara sirine di kejauhan. Gadis itu ingin melihat keadaan Refandi. Namun, kelopak matanya terasa sangat berat, bahkan untuk sekedar digerakkan.


 


 


Lalu semuanya menjadi sunyi dan dingin. Shasha hanya melihat kegelapan. Dia sendirian dan ketakutan.


 


 


Muncullah suara ibunya, Sarah Gustiar. Wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu terdengar seperti sedang menangis.


 


 


Ingin sekali Shasha melihatnya dan memberikan dekapan pada ibunya. Namun, dirinya bahkan tidak tahu sedang berada di mana.


 


 


Perlahan gadis itu membuka matanya. Yang pertama dilihatnya adalah ruangan bercat putih. Dia melihat ibunya sedang menangis sembari memeluk tangannya. Lalu ayahnya berdiri sembari mengusap punggung sang istri. Mereka belum menyadari Shasha sudah bangun.


 


 


Semua ingatan itu terbesit dalam ingatan Shasha, berputar seperti CD film dan bergerak seperti alur waktu.


 


 


Dalam hitungan detik, air mata Shasha mengalir jatuh ke sudut matanya. Adam baru menyadari putrinya sudah bangun. Dia mengusap rambut Shasha.


 


 


Shasha melihat kedua orang tuanya mengatakan sesuatu, namun semuanya mendadak hening. Gadis itu tidak bisa mendengar apa pun. Suara berdenging membuatnya menutup kedua telinga.


 


 


Gadis itu berteriak dan menangis. Suster dan dokter datang untuk menanganinya. Namun, Shasha mengamuk dan menghancurkan seisi ruangan. Wanita itu keluar dari kamar rawat dan mencari Refandi.


 


 


Telinganya masih berdenging. Sembari menutupi sebelah telinga, Shasha mencari Refandi melalui firasatnya.


 


 


Dia menemukan kamar rawat Refandi. Shasha melihat wajah tampan Refandi yang memiliki luka bakar. Shasha menangis, dia masuk untuk menemui pria itu. Namun, suster menaikkan selimutnya menutupi wajah Refandi.


 


 


Shasha menggeleng tidak percaya.


 


 


Suara berdenging itu perlahan menghilang. Shasha menyerobot dan menubruk para suster.


 


 


"Apa yang kalian lakukan! Calon suamiku masih hidup!" Teriak Shasha sambil membuka kembali selimut putih yang menutupi wajah Refandi.


 


 


Shasha menangis tersedu-sedu. Dia memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.


 


 


Pandangannya memudar karena buliran bening yang menumpuk di pelupuk matanya. Pandangan Shasha tertuju pada pria yang berdiri di pintu. Tatapan yang penuh arti terlukis di wajahnya.


 


 


Pria itu adalah Sven.


 


 


Sven bergumam pelan, "Seseorang harus bertanggung jawab untuk ini. Apakah orangnya sama?"


 


 


~•o•~


 


 


21.13 : 25 Oktober 2019

__ADS_1


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2