
~•Shaquellin Hardiswara•~
Namaku Shaquellin Adisilla Gustiar. Aku adalah putri bungsu dari keluarga Gustiar. Seorang gadis yang malang dan sekarang nama belakangku disematkan nama besar suamiku, Hardiswara.
Semua orang mengkhawatirkanku. Mereka mengira aku orang gila.
Aku tidak gila!
Aku tidak gila!
Kalian tidak mengerti. Aku hanya mengalami syok berat. Aku kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Tidak mungkin aku melupakannya begitu saja. Meskipun 3 tahun sudah berlalu. Tapi, semakin lama waktu berlalu, hati ini rasanya semakin sakit.
Tidak ada yang mengerti. Papa dan mama tidak mengerti. Apalagi kakakku, ah lupakan dia. Aku tidak mau membahasnya.
Hanya satu orang yang mengerti, Givarel, sahabat kecilku. Hanya dia yang mengerti padaku. Dia selalu mendukungku dan memanjakan diriku. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti dia.
Entah apa yang membuatnya memilihku untuk menjadi pendamping hidupnya. Padahal jelas, aku ini dianggap 'gila' oleh beberapa orang, bahkan keluargaku sendiri. Dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.
Tapi, aku paham. Mungkin dia mau bersamaku karena dia merasa kasihan padaku, sahabat kecilnya. Mungkin dia juga menganggapku 'gila', tapi setidaknya dia tidak pernah menunjukkannya.
Dia mengenalkanku pada Amelia, sepupunya. Namun, aku tahu... Amelia itu bukan hanya sepupunya Givar, gadis itu adalah seorang psikolog. Secara tidak langsung, Givar juga menganggapku seperti orang gila, kan?
Pada akhirnya tidak ada yang mengerti.
Aku tidak tahu, apakah hubungan kami akan berjalan baik, atau tidak. Aku tidak mencintai Givarel, namun aku menyayanginya sebagai sahabatku. Aku juga tahu, dia tidak mencintaiku.
Tapi, ciuman di dapur itu membuatku melihat sisi pria dalam diri Givar. Dia memperlakukanku seperti seorang wanita. Sungguh aku sangat bahagia. Aku merasa dia mengakuiku sebagai istrinya.
Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Iya, kau harus membuktikan jika kau tidak gila, Shasha!
Sore ini, aku berbagi makanan lebih pada para tetangga. Givar menemaniku dan membawa kotak-kotak makanan.
Ada salah satu tetangga yang menarik perhatianku. Dia memiliki anak perempuan yang manis. Ditambah lagi, tetanggaku itu sedang mengandung anak kedua.
Aku sungguh turut bahagia untuk mereka. Timbul keinginan dalam hatiku untuk memiliki bayi. Aku sangat menyukai anak kecil.
Malam harinya, aku memberitahu Givar tentang keinginanku untuk memiliki bayi kecil. Namun, dia malah terkejut mendengar permintaanku.
Apa aku salah bicara?
Memangnya salah kalau aku ingin punya anak?
"I-iya," jawabnya pelan.
Tapi, setelah dipikir-pikir, bagaimana caranya membuat anak?
"Gimana caranya, ya? Kamu tahu, gak?" Aku bertanya padanya.
Bukannya menjawab, Givar malah terdiam seperti kebingungan. Tampaknya dia memang tidak ingin menjawab pertanyaanku.
"Aku cari di google dulu, deh." Aku putuskan untuk mencari tahu sendiri. Kusandarkan tubuhku ke kepala ranjang. Tanganku bergerak meraih ponsel dari nakas dan mulai searching.
Tapi, yang aku baca ini sepertinya salah alamat. Kenapa isinya sesuatu hal yang... tidak bisa aku katakan.
Aku kira, membuat anak itu mudah. Hanya cukup berciuman lalu tidur dan menunggu malaikat bayi akan datang kemudian menitipkan calon bayi dalam perutku.
Namun, dalam artikel ini... ribet sekali caranya. Di judulnya tertulis, only for 19+, padahal usiaku sudah dua puluhan lebih. Tapi, aku baru tahu tentang ini.
Jadi, selain berciuman, ada proses lainnya agar memiliki bayi?
Dulu, ketika kekasihku menciumku untuk pertama kalinya, aku menangis karena mengira dia sudah mengambil keperawananku. Ternyata itu disebut ciuman pertama.
Dan disini tertulis hubungan pertama akan terasa sakit dan berdarah. Kenapa bisa separah itu? Aku sangat takut dengan darah.
Aku membacanya sampai habis. Ini tidak lebih buruk dari cerita kekerasan. Apa mungkin semua pasangan suami istri di dunia ini melakukannya?
Kulihat suamiku menyelesaikan tugasnya di laptop dia menoleh padaku.
Aku juga menoleh padanya kemudian menoleh ke arah lain. Aku jadi bingung, karena tadi terlanjur mengatakannya. Setelah tahu caranya seperti ini, aku jadi ragu.
Kusimpan ponselku ke tempat semula. Kemudian aku berkata, "Setelah dipikir-pikir, kayaknya gak jadi, deh."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku merebahkan tubuhku membelakanginya. Kurasakan pergerakan dari sampingku. Ternyata Givar juga berbaring. Tangannya bergerak melingkar ke tubuhku.
"Kamu takut?" Tanyanya.
Tentu saja!
Perlahan kuanggukkan kepalaku.
"Kalau begitu, lain kali saja membuat anaknya, ya," ucapnya lembut. Aku ingin memiliki bayi kecil, kamu harus berani, Sha!
"Sayang," aku menatapnya. Givar juga menatapku.
"Apa, Sayang?" Tanyanya.
"Kamu ngantuk?" Tanyaku lagu. Dia menggeleng, "Memangnya kenapa?"
"Emm, sepertinya aku berubah pikiran. Bagaimana kalau kita membuatnya sekarang?"
Kulihat kedua pipinya memerah. Apa aku salah bicara lagi? Suamiku ini wajahnya bisa berubah warna. Aku baru menyadarinya.
"Kamu siap?" Tanya Givar serius. Ekspresinya membuatku ragu.
"Apa tidak ada cara lain?" Tanyaku pelan sambil menatapnya dengan serius pula.
"Tidak ada," jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku. Hidung kami bergesekan. Kurasakan terpaan napasnya di bibirku.
Oh tidak, jantungku!
"Sayang, jantungku ketakutan," kataku gemetar.
Givar tersenyum lalu mengusap rambutku dengan lembut, "Tidurlah."
Setelah mendengar instruksi darinya, kupejamkan mataku dan mengeratkan pelukanku padanya.
Aku hanya pura-pura tidur. Cerita itu membuatku takut. Tapi, dalam artikel itu juga tertulis, kalau itu adalah tugas seorang istri. Seharusnya aku melakukannya. Bukankah aku sudah berjanji ingin menjadi istri yang baik?
Kulihat Givar sudah tertidur. Malam ini aku tidur paling akhir. Aku mengeratkan pelukanku.
Keesokan paginya, aku bangun lebih dulu. Kulihat suamiku masih tertidur dan memeluk tanganku. Dia pasti lelah, kemarin pulang sore dan langsung membantuku membagi makanan ke tetangga.
Kuambil bantal dan dijadikan pengganti tanganku. Givar memeluk batal tersebut dengan eratnya. Aku tersenyum geli.
Di dapur, aku mulai memikirkan masakan apa yang cocok untuk dijadikan sarapan. Aku belajar banyak dari Amelia. Dia mengajariku memasak dan melakukan segala hal. Meskipun dia belum menikah, dia jauh lebih baik dalam pekerjaan rumah tangga.
Aku mulai memasak. Aku terkejut dengan keberadaan suamiku yang tiba-tiba membantuku memasak. Kulihat dasinya hanya menggantung begitu saja di lehernya.
Aku mengikatkan dasi dengan baik sembari berjinjit. Tubuhnya menjulang tinggi. Dia terlalu tinggi untuk gadis pendek sepertiku. Melihatku yang kesusahan, Givar sedikit mencondongkan tubuhnya.
Setelah dasinya rapi, kami pun sarapan bersama. Kebetulan Amelia datang. Dia juga ikut sarapan.
Tidak lupa, aku memberikan wortel segar pada Snowy dan Bunny.
Givar pergi ke kantor. Kini hanya ada aku bersama Amelia. Kami membicarakan banyak hal, termasuk Givar.
"Apa dia pernah berpacaran?" Aku bertanya hal konyol itu padanya. Amelia tampak berpikir.
"Emm, iya. Tapi, dia bersikap seenaknya pada semua wanita yang pernah menjadi pacarnya. Dia bukan sosok pria yang hangat. Namun, ada saja wanita yang mau padanya."
Aku tersenyum, "Karena dia tampan."
Amelia tersenyum, "Iya, dan aku senang sekali dia bersamamu. Givar berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu."
Aku mengangguk, ternyata dia juga ingin melakukan yang terbaik untuk hubungan kami.
Terdengar suara ketukan pada pintu. Kami berdua menoleh ke sumber suara, lalu kami kembali saling pandang.
__ADS_1
Siapa yang datang bertamu?
Aku bangkit dan bergegas membuka pintu. Rasanya jantungku akan berhenti berdegup melihat wajah orang yang datang di pagi hari seperti ini.
Aku segera menutup pintu, namun dia menahannya.
"Begini cara lo menyambut kedatangan kakak lo?!" Bentaknya. Aku kembali melebarkan pintu dan menatap kesal padanya.
"Ngapain kesini?!" Bentakku. Dia tersenyum sinis, "Emangnya salah gua ngunjungin adek gua sendiri?"
Pria yang tak lain adalah kakaku itu menyentuh wajahku. Segera kutepis tangannya.
Svender Adideva Gustiar, putra sulung keluarga Gustiar. Dia punya sifat dan sikap yang aneh, jauh dari kata normal. Seolah apa yang dia lakukan itu hanya dirinyalah yang mengerti. Padahal dia sudah kabur dari rumah sejak aku mengalami kondisi buruk. Sven sering masuk keluar rumah seenaknya. Dia sering membuat kami khawatir. Namun, setelah tiga tahun terakhir, kami tidak tahu kabarnya. Kami juga sudah lelah dengan sikapnya.
Dan entah bagaimana caranya dia bisa datang ke rumahku.
"Gua mau masuk," katanya sambil mendorong tubuhku. Amelia yang berdiri tak jauh dariku melihat bingung ke arah kami.
"Siapa yang cantik ini?" Tanya Sven sambil mendekati Amelia. Gadis itu menatap waspada terhadap Sven.
"Aku sepupunya Givarel," jawab Amelia sambil melangkah menjauhi Sven. Pria itu tersenyum, "Shaque, kenapa gak bilang sama gua kalo di rumah lo ada cewek cantik? Gua pasti datang kemari tiap hari."
Tatapan Sven tertuju pada tubuh Amelia. Pria itu menunjukkan tatapan seolah dia sedang 'lapar'. Itu membuat Amelia takut.
"Jangan ganggu dia, Sven," aku memperingatkan. Sven menoleh padaku. Dia menatapku seolah aku ini barang kecil. Sejak SMA, Sven berubah. Kakak yang dulunya sangat baik, kemudian berubah menjadi jahat dan suka melakukan hal sesuai keinginannya.
Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Lo punya keberanian dari mana sampe berani nyuruh-nyuruh gua? Lo gak sehebat dulu. Lo yang sekarang gak lebih dari cewek gila yang ditinggal pergi sama calon suaminya. Lalu nikah sama cowok lain."
Aku benar-benar terluka dengan ucapannya. Tega sekali dia mengatakan itu. Aku adiknya, adik kandungnya. Dan dia dengan mudah melontarkan semua itu?
"Anak kesayangan papa yang cengeng. Haha, Papa, liat anak kesayangan Papa. Dulu, Papa bilang, aku adalah anak gagal yang terlahir dengan gangguan jiwa. Sekarang putri kesayanganmu juga gila!"
Aku akan menangis, namun kutahan air mata ini. Semakin aku terlihat rapuh di depannya, Sven semakin senang dan ingin lebih menyakitiku.
Amelia yang terlihat kesal dengan ucapan Sven, bergerak menghalangiku dari Sven.
Wanita itu menggerutu sebal, "Dia adik kamu, kenapa kamu bilang begitu? Seharusnya sebagai seorang kakak, kamu mendukungnya dan membuat keadaanya membaik."
Sven mendecih pelan sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia menatap tajam ke arah Amelia.
"Psikolog muda kayak lo dibayar berapa sama Givar? Wanita yang ada di belakang lo itu gak bakalan bisa sembuh. Dia sudah gila total. Gak akan ada yang bisa nyembuhin dia. Semua yang ada dalam kepalanya cuma kesedihan karena ditinggalkan pacarnya, menyedihkan!"
Aku mengepalkan tangan geram mendengar ocehannya. Dia benar-benar sudah kurang ajar.
"Aku rasa, bukan Shasha yang gila. Tapi, kamu." ucapan Amelia membuat Sven marah.
Ini bahaya, kemarahan Sven tidak bisa dianggap sepele. Pria itu pernah melukai dua security yang bertugas di rumahku ketika dia mencoba masuk lewat benteng di belakang rumah.
Sven menarik lengan Amelia. Aku berusaha melepaskan cengkraman Sven darinya. Namun, pria itu malah mendorongku.
"Oke, gua gila. Tugas lo nyembuhin orang gila, kan? Sekarang sembuhin gua! Dan gua bakalan nunjukkin, gila itu seperti apa!" Sven mendorong Amelia ke sofa.
Apa yang akan dilakukan Sven?! Dia benar-benar sudah gila!
"Tugasku bukan menyembuhkan orang gila! Tugasku adalah membantu mereka melewati masa-masa sulit ketika mereka merasa putus asa dan terjatuh!" Teriak Amelia.
Kulihat Sven membawa vas bunga. Aku terbelalak dan melihat Amelia menutup wajahnya ketakutan.
Pria itu melemparkannya. Sontak aku menutup kedua mata karena takut. Suara pecahan keramik menggema di ruangan ini.
Aku melihat vas yang sudah hancur itu di lantai. Aku bisa bernapas lega, karena Sven tidak melukai Amelia.
Gadis itu gemetar ketakutan. Sven bergerak akan mencengkram Amelia.
Sebelum Sven melakukan hal yang lebih jauh lagi, aku mendorongnya jatuh ke lantai. Aku menindihnya dan menarik bagian depan kemeja yang dia kenakan.
"Jangan macam-macam di rumahku, jangan sampai aku berubah jadi gila beneran, kamu tahu... kenapa kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu mau? Itu karena kamu tidak pantas," ucapku dengan nada geram.
Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam kepalaku. Sven menepis tanganku kemudian berlalu pergi tanpa permisi.
Amelia menatap cemas padaku. Mungkin dia takut dengan eskpresiku yang bisa berubah dengan tiba-tiba.
"Sha? Semuanya baik-baik saja, oke?" Amelia mendekatiku dengan hati-hati. Aku menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku terlihat berbahaya?" Tanyaku.
Amelia menggeleng cepat.
"Aku sudah bilang, jangan memperlakukanku seperti pasienmu. Aku tidak gila," ucapku kesal.
Amelia segera mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak, bukan begitu, Shasha."
"Kamu memang seorang psikolog, tapi bukan berarti kamu bisa nganggep aku orang gila juga!" Teriakku kemudian berlalu menaiki tangga.
"Shasha, jangan dengarkan kakakmu, dia hanya iri padamu."
Aku mengernyit tanpa mau berhenti menaiki tangga.
Iri? Dari mana dia tahu?
Givarel, pria itu pasti memberitahukan semuanya pada Amelia. Aku tidak suka jika ada seseorang yang kupercaya membagikan urusan pribadiku dengan orang lain.
"Berhenti menjadi psikolog, berhenti membantuku! Aku tidak gila!" Teriakku sambil berhenti menatapnya. Amelia menaiki tangga menghampiriku.
"Maaf, kalo perkataanku melukaimu. Aku melakukan ini demi kamu dan Givar. Aku udah nganggep kamu kakak aku sendiri."
Perasaanku campur aduk sekarang. Namun, aku masih kesal dan melanjutkan langkahku ke kamar.
Aku mengunci pintu dan melemparkan kuncinya ke sembarang arah. Pintu kamarku diketuk Amelia dari luar.
"Sha, kamu gak bisa gini terus. Aku bisa membantu kamu. Aku tidak menganggap kamu seperti itu."
Tidak kujawab. Aku menghempaskan pantatku ke tempat tidur.
Kudengar langkah Amelia semakin menjauh. Dia berlalu dari depan kamarku.
Menghela napas gusar, itu yang aku lakukan.
Aku berdiam diri dan memikirkan apa yang sudah terjadi. Semua ini membuat luka lamaku terkoyak kembali.
Aku ingin melupakannya, namun sulit sekali.
Shasha memasuki lift menuju ruang rapat klien. Gadis itu mengecek ponselnya.
Hari ini dia datang ke perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Gustiar.
Lift berhenti di lantai 15. Seorang pria tampan masuk. Shasha sama sekali tidak menoleh pada pria itu. Dia fokus dengan ponselnya. Tanpa dia sadari, pria itu memperhatikannya.
Cantik, batinnya.
Tiba-tiba lift berguncang. Shasha sedikit terkejut, sehingga ponselnya jatuh. Pria itu mengambilkan ponsel tersebut dan memberikannya kembali pada Shasha.
Gadis itu tersenyum santun, "Terima kasih."
Pria yang tidak lain adalah Refandi itu tersenyum juga, "Sama-sama."
Lift tiba-tiba berhenti di lantai 20. Pintu tidak terbuka dan terdengar suara gemuruh yang membuat Shasha khawatir.
"Tidak perlu cemas, sebentar lagi lift-nya akan bergerak normal," ucap Refandi. Shasha menoleh padanya, "Kamu tahu dari mana?"
"Hanya firasat."
Shasha tidak mempercayai pria itu. Dia membatin, lagian siapa yang bisa menggantungkan nasibnya dalam sebuah firasat?
Namun, sayang sekali tidak ada sinyal di dalam lift. Shasha menghela napas berat dan menyandarkan punggungnya ke dinding lift.
__ADS_1
Refandi hanya tersenyum sembari menggeleng pelan melihat tingkah Shasha.
Sudah selama setengah jam mereka berada di dalam lift. Shasha duduk di pegangan lift, sementara Givar duduk di bawah.
Tidak ada yang tahu, apa yang terjadi di luar sana? Apa ada seseorang yang menyadari lift tersebut rusak?
Shasha melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore. Dia menghela napas berat.
"Rapatnya sudah dimulai 20 menit yang lalu," gerutu Shasha. Refandi mendongkak menatap gadis cantik itu. Dia bangkit sambil membenarkan jasnya.
"Jadi, kamu datang untuk rapat juga?" Tanya Refandi. Shasha mengangguk, "Kamu juga?"
Refandi tampak berpikir kemudian mengangguk. Shasha menghela napas panjang.
"Kita tidak akan tertinggal rapat. Aku yakin, rapatnya belum dimulai," kata Refandi. Shasha mengernyit, "Dari mana kamu tahu?"
"Firasat," jawaban yang sama. Shasha mulai berpikir jika pria di sebelahnya itu aneh.
"Oh ya, namaku Refandi." Pria itu mengulurkan tangannya pada Shasha. Dengan ramah, Shasha menerima uluran tangan Refandi.
"Shaquellin."
"Senang berkenalan denganmu," kata Refandi.
Shasha tersenyum sembari mengangguk, "Senang berkenalan denganmu juga."
"Apa kita bisa keluar dari sini?" Tanya Shasha. Refandi menggeleng, "Gapapa, yang penting aku udah kenalan sama gadis cantik."
Mendengar itu, Shasha mengernyit, "Kamu bilang apa?"
Refandi terkejut kemudian menggeleng sambil tersenyum geli.
Padahal baru kenalan, tapi orang ini sudah menggombal, gerutu Shasha dalam hati.
Lift kembali bergerak naik. Kedua manusia di dalamnya sedikit terlonjak.
"Aku udah bilang, kan... lift-nya bakalan bergerak lagi. Firasatku gak pernah salah."
Shasha hanya menggeleng pelan. Sampailah mereka di lantai 27. Shasha dan Refandi memasuki ruangan rapat.
Shasha bingung, ternyata rapatnya belum dimulai. Refandi duduk begitupun dengan Shasha.
"Maafkan aku yang datang terlambat. Tadi lift-nya bermasalah," kata Refandi.
Semua orang mengangguk mengerti, termasuk Shasha yang baru tiba bersama Refandi.
"Baiklah, kita mulai rapatnya," kata Refandi. Shasha mengernyit, jadi pria tampan itu pemilik perusahaan tersebut, Refandi Glend.
Pantas saja dia tahu, rapatnya belum dimulai.
Shasha dan Refandi sering bertemu dalam rapat. Mereka jadi dekat.
Ketika makan malam di sebuah restoran, tiba-tiba hujan deras turun membasahi kota Jakarta.
Shasha menolehkan kepalanya keluar.
"Hujannya gak bakalan reda. Kita bakalan terjebak di dalam restoran ini," kata Refandi. Shasha mengernyit, "Apakah firasat lagi?"
Refandi mengangguk, "Iya, dan itu membuatku senang. Karena semalaman terjebak bersamamu di sini."
Shasha tertawa kecil, "Kita tetap bisa pulang, kamu membawa mobil, Tuan Glend."
"Aku tidak akan menyetir dan membawamu pulang. Aku akan tetap di sini bersamamu."
Shasha memutar bola matanya, "Aku bisa menyetir mobilmu dan pergi meninggalkanmu."
Refandi mengedikkan bahunya. Dia menunjukkan kunci mobil miliknya, "Bagaimana caramu mengambilnya dariku?"
"Aku akan merampoknya," jawab Shasha enteng. Refandi tertawa, "Perampok cantik, kalau begitu, coba lakukan."
Shasha berusaha meraih kunci tersebut. Namun, Refandi mempermainkannya sehingga Shasha kesulitan mendapatkannya.
Ketika wajah mereka dekat, Refandi mengecup bibir Shasha sekilas gadis itu tersentak dan menyentuh bibirnya. Itu adalah ciuman pertamanya.
"Kenapa kamu menciumku?! Aku telah kehilangan keperawananku," tangis Shasha.
Refandi mengerutkan dahinya, "Apa?"
Shasha mengusap air matanya yang terus-menerus mengalir membasahi kedua pipinya, "Karena kamu menciumku, keperawananku hilang."
Refandi menahan tawanya, gadis ini benar-benar polos.
"Jangan nangis, ya udah, nanti aku tanggung jawab."
Karena ciuman itu, Shasha tidak bisa tidur semalaman. Dia takut hamil karena ciuman Refandi.
Setelah ciuman di restoran itu, Refandi menyatakan perasaannya pada Shasha. Gadis itu juga mencintai Refandi. Akhirnya mereka menjalin hubungan yang baik.
Keluarga Glend dan keluarga Gustiar mendukung hubungan mereka, hingga Shasha dan Refandi bertunangan.
Aku tersenyum mengingat semua itu. Tidak seharusnya aku memikirkan pria lain, sementara aku sudah menjadi milik Givarel.
Kutatap cincin yang terselip di jariku. Ini adalah pengikat dari Givarel. Namun, sebelumnya pernah ada cincin lain di sini. Ikatan pertunangan milik Refandi pernah melingkari jariku.
Namun, meskipun begitu, Refandi adalah masa laluku yang tidak bisa diulang kembali. Aku hanya akan bersama Givarel sekarang dan selamanya. Tak peduli, apakah aku mencintainya atau tidak.
Aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan ini.
Aku akan membukakan hatiku dan mencoba menerimanya. Memberikan waktu padanya untuk mengisi hati ini.
Ponselku bergetar, ternyata ada pesan dari Amelia.
Sha? Kamu baik-baik aja? Jangan membuatku khawatir. Kalo kamu butuh sesuatu, aku ada di bawah.
Aku menyimpan kembali ponselku.
Kuakui diriku berubah, berbeda dengan aku yang dulu. Namun, bukan berarti aku yang sekarang ini gila.
Mereka tidak mengerti.
Aku tidak membutuhkan apa pun. Aku hanya ingin ketenangan untuk diriku sendiri.
Ponselku kembali bergetar, aku melihat nama suamiku di layar.
Sayang, hari ini aku pulang cepat. Bersiaplah, kita akan pergi jalan-jalan. Aku akan memberikan kejutan.
Tanpa sadar, aku tersenyum membaca pesan tersebut. Kembali teringat suatu hal. Mood-ku memburuk hari ini.
Kuputuskan untuk tidak membalasnya. Namun, tak berselang lama, ponselku kembali bergetar. Givar memberikanku pesan lagi.
Kenapa pesanku cuma dibaca? Aku punya kejutan yang pastinya bikin kamu seneng.
Baiklah, aku akan menjawabnya.
Iya, aku udah membacanya. Makasih.
Givar kembali mengirimkan balasan, aku lagi di jalan sekarang. Pokoknya, kalo aku udah nyampe rumah, kamu harus udah siap jalan, ya.
Tidak aku jawab, tidak aku buka juga pesannya. Cukup membacanya lewat notifikasi.
Aku menutup kedua mataku.
~•o•~
_Dia menyayangimu\, tapi dia tidak bisa menunjukkannya dengan benar._
~•o•~
23.12 : 20 Oktober 2019
__ADS_1
By Ucu Irna Marhamah