
~•o•~
_Mengatakan\, 'aku baik-baik saja\, kok.' itu seperti\, 'sebenarnya aku berbohong.'_
~•o•~
Setelah menemui Sven dan Shasha, Givar bersama Amelia kembali.
Di perjalanan,
Amelia yang menyetir. Sementara Givar di sampingnya sedang mengotak-atik ponselnya.
"Kapan lo mau bilang suka sama Sven?" Tanya Givar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Amelia menoleh sesaat, "Ah? Kenapa?"
Givar menyimpan ponselnya lalu menoleh pada Amelia, "Kayaknya Sven juga suka sama lo, tapi dia emang bukan tipe orang yang suka ngomong gitu aja. Dia memperlihatkan lewat sikapnya ke lo."
"Cewek macam apa gua kalo ngungkapin perasaan sama cowok duluan? Malu, tahu!" Gerutu Amelia.
"Gimana kalo Sven tiba-tiba suka sama cewek lain? Percuma kalo udah sama cewek lain. Nanti lo depresi lagi," kata Givar.
Amelia tersenyum sendu, "Meskipun usia gua lebih muda dari lo, tapi gua lebih tahu rasanya penderitaan."
Givar mengusap rambut Amelia, "Ceritanya lo, kan, kakak sepupu gua. Jangan bilang lo lebih muda. Nanti orang lain curiga."
"Lagian di sini cuma ada kita berdua, siapa yang denger?" Geritu Amelia.
Gua.
"Kalo lo gak mau bilang suka sama Sven, gua yang bakalan bilang ke dia," ucap Givar yang terdengar seperti nada ancaman.
Amelia segera bersuara, "Jangan, jangan."
"Pokoknya gua mau bilang ke dia. Lagian siapa yang bisa bikin lo beneran move on dari si *** Maxwern?" Gerutu Givar.
Amelia mendengus, "Lagian gua udah lupa sama dia, kok. Aku gak mau menjalin hubungan sama cowok lagi."
Givar menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, "Terus lo mau jomblo seumur hidup? Sven, kan, ada."
Amelia menghela napas pelan, "Dia gak pantes dapetin cewek kayak gua. Dia harus punya cewek yang jauh lebih baik dari gua."
"Come on, Mel. Semua orang punya masa lalu. Anggap aja itu gak pernah terjadi," ujar Givar.
"Iya, lain kali gua bakalan bilang sama Sven... kalo gua suka sama dia."
Hening.
Amelia melambatkan laju mobil ketika lampu merah menyala.
"Besok siang, gua bakalan balik lagi ke RSJ dan bilang ke Sven, kalo gua suka sama dia. Semoga dia gak jijik sama gua," gumam Amelia sambil mengenakan kacamata hitam miliknya. Matahari sedang tenggelam di barat, tepat di depannya.
Givar menatap Amelia, "Enggak mungkin, lah."
~
Sarah sedang duduk termenung di sofa. Pandangannya tertuju pada foto Adam, suaminya.
Lagi-lagi air matanya menetes. Itu tidak menandakan dirinya cengeng, melainkan rasa kehilangan karena ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
"Kenapa tidak aku duluan? Kenapa harus aku yang menyaksikanmu pergi lebih dulu?"
Sarah tidak berniat mengusap air matanya. Dia membiarkan tetesan itu mengalir membasahi pipinya.
"Seharunya kamu jangan pergi. Anak-anak membutuhkan perlindungan dari kamu."
"Kenapa aku harus menyaksikan anak-anakku mendapatkan teror seperti ini? Aku tidak sanggup melihat mereka dalam kesengsaraan karena ulah pria itu. Aku tidak bisa membantu mereka."
Dua orang pelayan menghampiri nyonya Gustiar.
"Nyonya, makanan sudah tersedia."
Tanpa menoleh, Sarah menjawab, "Aku tidak lapar. Nanti saja."
Kedua pelayan itu saling pandang kemudian sedikit membungkuk hormat dan berlalu pergi.
"Seharusnya kamu tidak melakukannya waktu itu. Ini bukan salah anak-anak. Ini salah kamu."
~
Juan sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia sedang membaca dokumen laporan mingguan.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa menoleh, Juan mengambilnya. Sesaat dilihatnya nama di layar sentuh itu.
Anak buahnya yang menelepon. Juan mengangkat panggilan tersebut.
"Iya?"
"Tuan, seperti biasa. Di jam sore ini, dia tidak ada di sini. Dia pergi untuk menemui Nyonya Shaquellin."
Juan tampak berpikir, "Bagus, ikuti dia dengan hati-hati. Jangan sampai kamu tertangkap anak buahnya. Aku tidak mau nasib kamu sama seperti Zed dan Froy."
"Baik, Tuan."
Juan menutup map berwarna merah itu ke meja. Disandarkan punggungnya ke kursi. Dia menghela napas panjang sambil menutup kedua matanya.
"Kamu sudah membunuh Adam. Svender tidak mungkin membiarkanmu hidup bebas."
~
Sementara itu, di Rumah Sakit Jiwa Larissa.
Para perawat perempuan sedang menemani pasien tua yang ingin berjalan-jalan di halaman depan.
Sebuah mobil terheti di sana. Seseorang dengan jas biru keluar dari mobil tersebut. Aroma maskulin dari tubuhnya dapat tercium oleh para perawat yang berada di sana.
Pandangan mereka teralihkan pada orang itu.
Beberapa bodyguard berjalan di depan, belakang dan sampingnya untuk melindungi bos besar mereka.
__ADS_1
Ketika pria berjas berjalan melewati mereka, dia mendapatkan anggukkan hormat dari para perawat.
Salah satu pasien, yaitu seorang pria tua berlari ke arahnya dan memeluk pria itu.
Para bodyguard berupaya menjauhkannya dari tubuh tuan mereka.
"Anakku! Kamu pulang? Kamu kemana saja, nak? Ayah khawatir sama kamu. Ayo pulang dan kita makan bersama ibu."
Pria berjas itu memberikan kode pada para bodyguard-nya agar tidak perlu melepaskannya.
Pria itu membalas pelukan pria tua. Suara bariton itu keluar, "Aku pulang Ayah. Aku akan pulang bersama Ayah. Jadi, Ayah harus banyak makan, ya."
"Iya, iya, nak. Ayah akan pulang sama kamu, nak."
"Aku harus menyelesaikan sesuatu, nanti aku akan menemui Ayah lagi."
Pria tua itu melepaskan pelukannya dan membiarkan tuan itu lewat.
Setelah memasuki bangunan besar itu, para perawat pun berbicara.
"Tuan kita sangat baik, ya. Kalau orang lain, mungkin sudah menyakiti pak tua itu."
"Iya, dia sangat rendah hati dan peduli."
"Jika dia peduli dan baik, dia tidak akan memasukkan orang yang normal dan sembuh ke rumah sakit jiwa ini."
Sementara itu, para bodyguard mengetuk pintu ruangan khusus untuk para psikiater.
Seseorang di dalam menyahut, "Silakan masuk."
Bodyguard itu membukakan pintu. Pria itu pun masuk dan melihat beberapa psikiater sedang sibuk membaca laporan dari para perawat.
Melihat kedatangan bos mereka, langsung saja semuanya menghentikan aktivitas masing-masing dan mendekat kemudian membungkuk hormat.
"Tuan."
"Bagus, kalian bekerja dengan baik, tolong tinggalkan aku bertiga."
Para psikiater dan bodyguard keluar dari ruangan tersebut. Kini hanya ada pria itu dengan seorang psikiater pria dan wanita yang didatangi Sven agar dirinya dinyatakan gila.
Kedua psikiater itu duduk berhadapan dengan tuan mereka.
Pria itu mulai berbicara, "Aku membangun rumah sakit jiwa ini sekitar 10 tahun yang lalu. Awalnya tujuanku hanya satu, ingin melihat Shaquellin berada di sini..." pria itu menghentikan kalimatnya.
Jadi, Shasha memang tidak gila. Tapi, pria itu yang membuat Shasha dimasukkan ke RSJ lewat psikiater perempuan di depannya.
Pria itu melanjutkan kalimatnya, "... namun, setelah tiga tahun bangunan ini berdiri, ada banyak pasien di sini. Aku memperbesar tempat ini, agar semua orang yang memiliki gangguan jiwa bisa nyaman tinggal di sini. Tujuanku menjadi dua, aku juga ingin pasien lain bisa sembuh, atau setidaknya membaik. Itulah sebabnya aku meminta bantuan para psikiater untuk menjaga pasien di sini. Memangnya ada RSJ di Indonesia yang mempekerjakan psikiater di RSJ sebanyak ini?"
Kedua psikiater itu tidak berani mengeluarkan suara mereka.
Merasa tidak ada respon, pria itu kembali berbicara, "Kalian tidak pernah mengecewakan aku. Kalian semua bisa merawat semua pasien dengan baik. Lalu... kenapa kalian memasukkan Svender ke RSJ ini?"
Masih belum ada yang berani menjawab. Mereka berdua menunduk dalam.
"Di New York aku juga memiliki RSJ, dan berhasil memasukkan Svender ke sana, ya... meskipun jelas dia tidak gila. Tapi, kali ini aku tidak ingin dia masuk RSJ, terutama di tempat ini."
Pria itu mendecih, "Sepertinya dia memang sudah menjadi orang gila sungguhan. Baiklah, tidak apa-apa."
Hening.
Kedua psikiater itu saling mendelik ketika mereka tertunduk seperti itu.
"Perlakukan pasien yang lebih tua dengan baik. Jika ada pasien yang melukai pasien lain, beritahu aku. Pasien jahat seperti itu harus disingkirkan setelah aku menyuruhnya melakukan tugas terakhir padanya."
Tidak ada anggukkan.
Itu membuat tuan pemilik RSJ kesal, "Kalian ini dengar tidak?"
"Oh, i-iya, Tuan."
"Iya, Tuan."
Pandangan pria itu tertuju pada layar di ruangan tersebut. Ternyata layar tersebut terpasang dengan CCTV yang diletakkan secara tersembunyi di kamar Shasha.
Terlihat Shasha dengan Sven sedang berbicara.
Senyuman tipis itu terpatri di bibirnya, "Kirimkan rekaman dari penyadap suara di ruangannya padaku malam ini. Besok aku akan datang lagi, tapi tidak akan memakai pakaian pasien lagi. Aku akan memakai pakaian ini saja."
"Baik, Tuan."
Setelah mendapatkan jawaban, pria itu berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Pandangannya tertuju pada dua orang petugas kebersihan yang sedang memasukkan kantong-kantong sampah ke dalam truk pengangkut.
Pria itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya sembari memperhatikan kedua orang yang bekerja keras itu.
Kedua orang itu menoleh padanya sambil mengangguk hormat. Pria itu tersenyum sembari mengangkat sebelah tangannya.
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Kamera tersembunyi di topi para petugas kebersihan itu berbunyi dan hanya didengar oleh kedua orang itu.
Pria itu berlalu ke mobilnya. Semua bodyguard-nya sudah menunggu di sana. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil. Dia pun memasuki mobilnya yang kemudian melaju meninggalkan tempat itu.
Kedua petugas itu menoleh pada mobil yang sudah tak berada di tempat semula. Merka berdua saling pandang. Salah satu dari mereka menyentuh cuping telinga, ada alat komunikasi di sana.
"Tuan, kami sudah mendapatkan wajah pria itu. Tidak salah lagi, kecurigaan itu benar. Tebakannya tepat, sama sekali tidak meleset."
Di seberang sana, Juan tersenyum, "Bagus, rencana B yang dimaksud akan dijalankan."
~
__ADS_1
Di kamar,
Shasha masih tertidur lelap di atas tempat tidur. Sementara Sven tertidur di sofa di ruangan yang sama dengan adiknya.
Kemarin sore, dia menolak tidur di kamar yang sudah disediakan untuknya. Dia beralasan tidak ingin jauh dengan adiknya.
Ada suara langkah kaki mendekati kamar tersebut. Perlahan Shasha membuka matanya. Ternyata dia sedang berpura-pura tertidur.
Benar saja. Langkah itu terhenti di depan kamarnya. Bagian bawah pintu ada sedikit celah, sebuah surat masuk lewat sana.
Shasha bangkit. Dia menoleh pada Sven yang juga sedang berpura-pura tidur.
Sven memberikan kode.
Shasha mengangguk. Dia bangkit dari ranjang. Kedua kakinya melangkah menghampiri pintu. Diambilnya surat tersebut.
Aku ingin bertemu denganmu. Sebenarnya aku ingin bertemu di lain waktu, tapi besok aku harus pergi ke tempat lain.
Temui aku di atap.
Jangan membawa kakakmu.
Aku tahu kalian berpura-pura tidur.
Shasha terkejut. Bagaimana bisa orang itu tahu?
Kamu mau ketemu aku, kan? Maka hanya akan ada kita berdua.
Perlu kamu ketahui, biasanya aku menyuruh orang untuk menyimpan surat-surat di bawah pintu kamar kamu.
Dan hari ini... aku sendiri yang mengantarkannya.
Shasa terkejut. Dia segera membuka pintu. Aroma maskulin yang pernah diingatnya itu masih tertinggal di sana. Padahal orangnya sudah tidak ada.
Sven bangkit, "Kenapa, Sha? Apa yang barusan mengirim surat itu dia?"
Shasha mengangguk, "Aku harus mencarinya. Kamu jangan pakai rencana B. Ini tidak akan berhasil. Sepertinya dia tahu."
Sven mengernyit, "Sepertinya ada CCTV atau alat penyadap suara di ruangan ini. Harusnya aku tahu."
Shasha melenggang pergi.
"Tunggu! Kamu mau ke mana?" Tanya Sven. Shasha menjawab, "Jangan ikuti aku, nanti dia menghilang."
Sven mengambil ponselnya yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Dia menekan salah satu nomor di kontaknya. Diletakkan ponselnya tersebut di telinga.
"Halo, Tuan Juan."
"Kamu pasti mau bilang, dia sudah tahu dengan rencana B milik kamu, iya, kan?"
Sven terkejut, "Dari mana Tuan tahu?"
"Aku menyuruh dua orang untuk menyamar jadi tukang listrik dan memasang perekam suara di ruangan psikiater. Aku mendengar percakapan mereka kemarin."
"Ah, baiklah. Lalu... bagaimana rencana kita sekarang?"
"Gunakan improvisasi saja."
"Ah? Tapi...."
"Jangan khawatir, nak. Aku akan melindungi kalian semua."
Sven terdiam. Mendengar Juan menyebutnya, 'nak', dia jadi ingat pada ayahnya.
"Nak? Apa kamu masih di sana?"
"E-eh... i-iya, Tuan."
"Kenapa memanggil Tuan? Aku bukan bos kamu. Kalo kamu mau, panggil saja Papa, seperti Givarel. Kamu kakaknya Shasha, berarti kamu putraku juga."
Sven tersenyum sendu, "Terima kasih, Papa."
Sementara itu,
Shasha berlalu mencari pria itu mengikuti aroma maskulin yang tercium di seluruh koridor rumah sakit jiwa.
Shasha berjalan sambil melanjutkan membaca surat tadi.
Tidak sabar bertemu denganku?
Tenang saja. Kali ini aku tidak akan kemana-mana.
Aku menunggumu.
Someone
Shasha memutar bola matanya. Dipercepat langkahnya menuju ke atap yang dimaksud.
Aroma parfum pria itu semakin tercium kuat ketika Shasha sampai di atap RSJ tersebut.
Diedarkan pandangannya ke sekeliling. Angin di tempat itu terasa begitu kencang dan menerpa rambut panjang Shasha. Pakaian pasien yang dia pakai pun bergerak-gerak tertiup angin.
Shasha tidak melihat keberadaan siapa pun di sana.
Apa mungkin orang itu sedang mempermainkannya?
Shasha mengepalkan tangannya.
Tanpa dia sadari, pria itu sedari tadi berdiri di belakangnya. Ditatapnya punggung Shasha dengan penuh makna. Jas berwarna biru gelap yang terbuka kancingnya itu berkibar karena diterpa angin, begitupun dengan dasinya.
Merasakan kehadiran seseorang, Shasha terdiam. Kedua matanya bergulir. Aroma maskulin itu tercium lebih jelas.
Shasha berbalik dan kini dia melihat wajah itu. Wajah yang sebenarnya sudah dikenal olehnya sejak lama. Wajah yang sudah pastinya sebuah kepastian.
Iya.
Tidak meleset sedikit pun tebakanmu, nak.
~•o•~
14.49 : 29 Oktober 2019
__ADS_1
By Ucu Irna Marhamah