
~•o•~
_Apakah kamu ingin melupakan masa lalu\, atau mengenangnya. Itu akan berpengaruh pada masa depanmu. Namun\, beberapa orang memilih melupakannya. Tapi\, ingatlah\, guru terbaik itu adalah pengalaman._
~•o•~
~•Felix Donovan•~
Di Indonesia,
Sekarang aku sudah 6 bulan tinggal di negara cantik ini. Rasanya nyaman dan tidak mau pulang.
Hari ini aku bersama tuan Ridan Mahali sedang berbicara masalah bisnis kami di restoran. Ya, aku memang suka dengan makanan, terutama makanan Indonesia yang banyak rasanya.
"Saya suka makan banyak, dan lebih menyenangkan jika rapat di tempat seperti ini." Ucapanku membuat Ridan tersenyum, "Iya, di mana pun, saya bersedia jika anda nyaman."
Ridan Mahali adalah orang yang baik dan sangat menghormati pengusaha lain, meskipun tidak bekerja sama dengannya. Itulah yang membuatku merasa nyaman bekerja sama dengannya.
"Saya senang sekali bekerja sama dengan pengusaha muda yang baik seperti anda." Ridan tersenyum sambil menyimpan sendok dan garpu ke atas tissu, menandakan dia selesai makan.
Aku hanya terkekeh, "Jangan berkata begitu, Tuan Mahali. Saya juga senang bekerja sama dengan pengusaha sukses dan baik seperti anda."
Ridan tersenyum, "Saya ingin mengundang anda makan malam di rumah saya, bagaimana, apa anda bersedia?"
Ya! Tentu saja!
"Waaah? Benarkah? Saya merasa terhormat. Tentu saja, saya mau." Aku menerima undangannya.
Malam telah tiba,
Aku datang ke rumah besar Mahali. Dua orang penjaga rumah itu membukakan gerbang memberikan jalan untuk mobilku.
Aku disambut baik oleh keluarga Mahali yang merupakan keturunan India-Jawa. Kabarnya, mereka memiliki nama yang panjang sesuai marga besar campuran yang mereka miliki.
Kami berbincang lalu menyantap hidangan makan malam yang sangat lezat. Ada Ratna, istrinya Ridan dan kedua anaknya, Regar dan Shica.
Terjadi sedikit perbincangan ketika kami makan. Hanya berbasa-basi.
Selesai makan, Shica beranjak dari kursinya. Kami menoleh padanya.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Ratna. Shica menoleh, "Shica mau ngerjain PR."
"Bilang dulu kalo mau pergi, jangan seperti itu," kata Ratna lagi.
Aku tersenyum mendengar itu. Jadi, mereka memiliki kebiasaan yang bagus.
Kulihat Shica yang menunjukan ekspresi merasa bersalah di wajah bulatnya. Dia mengangguk hormat.
"Shica selesai makannya, sekarang Shica mau ngerjain PR."
Setelah mengatakan itu, Shica berlalu.
Tak lama, Regar menyusul, "Regar udah selesai makan, Regar mau tidur."
"Putra dan putri kalian sangat manis dan baik." Ujarku.
Ridan tersenyum, "Sebenarnya mereka sedikit suka memberontak. Aku kadang dipanggil kepala sekolah karena sikap Regar, atau dipanggil petugas UKS karena Shica."
Aku mengangguk mengerti, "Namanya juga anak-anak. Aku jadi ingin punya anak juga."
Ratna dan Ridan tersenyum mendengar ucapanku yang mungkin terdengar konyol.
Selesai makan, aku permisi untuk mencuci tangan ke kamar mandi. Setelah mencuci bersih kedua tanganku, aku menoleh ke ruang keluarga.
Kulihat Shica sedang mengerjakan PR, sementara Regar membiarkan buku PR-nya terbuka di atas meja tanpa berniat mengerjakannya. Laki-laki yang beranjak remaja itu malah asyik memainkan ponselnya.
"Kak, Kak Regar, bantuin Shica, dong. Ini soalnya gak ngerti," ucap Shica sembari menoleh pada kakaknya.
Regar menoleh sesaat, "Ah, Kakak juga gak bisa, kerjakan aja yang bisa dulu. Yang gak bisa besok minta nyontek aja sama temen-temen kamu."
Shica cemberut kesal. Dia membenarkan kacamatanya. Aku terkekeh dan menghampiri mereka.
"Soal apa, Shica?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya. Gadis berkacamata itu menoleh padaku.
"Ini, Om, soal matematika." Shica menunjukkannya padaku. Kulihat soal tersebut.
Regar menoleh, "Shica, kok, kamu malah ngerepotin Om Felix, sih?"
Aku menoleh pada Regar, "Lagian kamu gak mau bantuin adek kamu."
Regar malah terkekeh, "Masalahnya... aku juga gak bisa, Om."
Aku terkekeh, "Kalo gitu, kamu juga kesini, Om jelasin ke kalian."
Seperti anak kecil, Regar menurut dan duduk di sebelahku. Jadi, aku diapit oleh kedua anak Mahali ini.
Kujelaskan secara rinci soal tersebut. Keduanya tampak serius mendengarkan penjelasanku seolah aku ini guru mereka.
"Oh, iya... sekarang aku mengerti... makasih, Om." Shica mulai mengerjakan soal lainnya yang cara penyelesaiannya sama.
Aku menoleh pada Regar, "Kamu ngerti?"
Sembari tersenyum, Regar menggeleng.
Aku tertawa, "Kamu ada PR juga? Sini Om lihat."
Dengan segera, Regar mengambil bukunya dan menunjukkannya padaku. Ternyata pelajaran mengenai Pendidikan Agama. Ya, kalau ini... aku juga bingung harus bilang apa.
Tanpa aku sadari, ternyata Ridan memperhatikan kami sedari tadi.
"Regar, kalo soalnya sulit, kamu bisa berdiskusi sama teman kamu, nak. Papa harus bicara sama Om Felix."
Regar menghela napas berat, "Iya, Pa. Makasih Om."
__ADS_1
Aku mengangguk. Shica juga kembali mengucapkan terima kasih sebelum aku dan Ridan memasuki ruang tamu.
"Mereka mengganggumu, ya?" Tanya Ridan. Aku menggeleng, "Tidak, tidak, aku senang, kok."
Kami berbicara sampai pukul 11 malam. Ketika mau pulang, kulihat Regar dan Shica sudah tertidur di ruang keluarga.
Di perjalanan pulang, aku mendapatkan telepon dari orangku yang bekerja di SMA milik ayahku.
"Tuan Donovan, laki-laki ini sudah tidak berdaya dan hampir mati. Bagaimana ini?"
"Jangan membuatnya mati. Jika dia mati, penderitaannya hanya sebentar."
"Apa yang harus kami lakukan?"
"Terserah." Kumatikan ponselku dan kembali fokus ke jalanan.
Aku ingin membuat Adam menderita. Tidak dengan menyiksa Adam. Aku ingin menyiksa anaknya dan membuat Adam memohon padaku untuk menghentikan ini.
Ya, aku memang bukan orang yang baik. Aku jahat, aku tahu. Tapi, perbuatan Adam jauh lebih kejam.
Tidak seharusnya aku menumpahkan rasa dendamku pada anaknya yang tidak tahu apa-apa. Tapi, apakah Adam pernah berpikir, dengan memasukkanku ke dalam RSJ itu tidak membuat ayahku yang tidak tahu apa-apa itu menderita?
Aku ingin putranya mengalami hal yang sama seperti aku.
Tolonglah, dunia ini penuh dengan kemunafikan. Jangan menganggap dirimu suci dengan menganggapku seperti iblis.
Coba kamu hitung, ada berapa yang kamu sakiti tanpa kamu sadari?
Kamu tidak ingat?
Percayalah, ini pertama kalinya aku menyakiti orang lain.
Jadi, siapa yang paling jahat? Aku, atau kamu?
Benalu!
Parasit!
Lupakan!
Setelah urusanku di kantor cabang di Indonesia selesai, aku kembali ke New York dan melihat keadaan keluarga Gustiar.
Sikap Sven mulai seperti binatang. Ayahnya juga mulai membencinya.
Aku adalah orang yang menyuruh staf di SMA Larissa untuk membuat Sven menjadi seperti itu.
Sebenarnya aku tidak tahu, apa saja yang sudah mereka perbuat, namun hasilnya bagus. Sven jadi anak yang menderita dan dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri.
Aku belum merasa puas. Kusuruh psikiater untuk menyatakan kalau anak itu mengalami gangguan jiwa. Akhirnya Sven di masukkan ke RSJ.
Namun, tidak lama sepertiku. Setelah 6 bulan, dia bisa keluar dari RSJ itu berkat Adam. Ya, pria itu membuat surat keterangan palsu jika anaknya baik-baik saja dan tidak gila. Dia menyuap orang RSJ-ku untuk melepaskan anaknya.
Padahal, anaknya sudah menunjukkan gejala gangguan jiwa.
Tidak, ini serius!
Tapi, baiklah... aku melepaskan Sven dari RSJ dan membiarkan uang hasil menyogoknya itu mengalir di RSJ tersebut.
Tidak selesai di sana. Aku pikir, Sven tidak melakukan penyelidikan sialan!
Ternyata dia jauh lebih pintar dari yang aku bayangkan. Seperti seorang detektif, dia berkali-kali hampir mengetahui, kalau dalang di balik semua ini adalah aku.
Padahal dia masih SMA.
Selain itu, dia berani membunuh orang. Di antaranya adalah siswa-siswa yang pernah melakukan bullying padanya.
Dia benar-benar seperti seorang psikopat gila yang berdarah dingin.
Aku tidak berniat memberikan tindakan. Aku membiarkannya melakukan pembunuhan dengan bebas. Dia akan menjadikan dirinya monster.
Terserah.
Baru kusadari, dia sedang dekat dengan seorang gadis di SMA yang sama.
Gadis itu adalah anak dari salah seorang staf di sekolah. Ternyata dia tahu tentangku yang ingin menghancurkan keluarga Gustiar. Mungkin dia tidak sengaja mendengar percakapanku dengan orang tuanya.
Gadis bernama Claretta itu hampir mengatakan yang sesungguhnya tentangku pada Sven.
Tapi, mungkin dia memikirkan keselamatan kedua orang tuanya. Jadi, dia tidak mengatakan apa pun tentangku pada Sven.
Sebelum terlambat, aku menyuruh orang untuk memotong lidahnya sampai mati.
Kuletakkan mawar hitam sebagai penanda.
Bukannya takut, Sven malah gencar melakukan penyelidikan. Laki-laki yang memutuskan berhenti sekolah itu bahkan menyewa orang-orang berkemampuan untuk menyelidikiku.
Dapat uang dari mana dia?
Adam sudah tidak memperhatikannya lagi.
Ternyata dia memiliki banyak uang milik mendiang neneknya. Tentu saja, itu masuk akal.
Anak itu bahkan tinggal sendirian di apartemen mewah milik neneknya.
Aku merasa terorku terlalu ringan. Jadi, aku mengirimkan teror padanya.
Namun, Sven bisa mengatasi semuanya dengan mudah. Ini membuatku cukup kesal. Aku hampir menyerah darinya.
Waktu berlalu dan aku mulai jarang memberikan teror pada Sven.
Aku berbalik pada Shasha. Kuberikan teror padanya, hanya berupa bunga mawar dan surat biasa.
Melihat Shasha yang akan menikah, aku pikir akan lebih baik jika dua orang gila di dalam satu keluarga.
Aku menyuruh orang untuk membuat insiden kecelakaan agar menewaskan Refandi. Tapi, kalau misalnya Shasha meninggal pun aku tidak peduli.
__ADS_1
Aku masih menyukainya, tapi rasa dendamku lebih besar.
Kecelakaan itu terjadi dan Refandi memang mati. Sementara Shasha mengalami syok berat.
Saat itu, aku menyuruh psikiater untuk membuatnya masuk ke RSJ. Namun, sekali lagi Adam bertindak dengan membuat surat keterangan palsu.
Dasar kadal!
Aku membiarkannya.
Sampailah di mana Shasha menikah dengan Givarel.
Ada juga yang mau menikahi perempuan bermasalah seperti Shasha? Sepertinya aku pun mau, jika secantik dia.
Lalu, aku ingin kembali meneror Sven yang masih saja menyelidiki ini. Dia bolak-balik Jakarta-New York. Itu membuatku khawatir, sehingga aku juga harus menghindarinya dengan cara yang sama, bolak-balik New York-Jakarta.
Waktu di Jakarta, aku mengirimkan orang untuk mengerjai Sven. Aku meneleponnya dengan suara yang diubah menggunakan alat.
Aku menyuruhnya datang ke gedung terbengkalai di dekat pantai.
Waktu itu, kusuruh orang menggantikanku dan menelepon di bilik telepon yang ada di sana.
Sven menemukan orang itu dan memukulinya. Aku tertawa melihat emosi bodohnya.
Aku keluar dan menunjukkan diriku sembari membelakangi sunset.
Dia melihat ke arahku dan sepertinya dia memiliki firasat, kalau aku adalah orang yang selama ini dicarinya. Aku tersenyum.
Dia berlari ke arahku sembari melayangkan kepalan tangannya. Namun, para petugas keamanan langsung menyeretnya.
Tentu saja, mereka semua juga suruhanku. Aku yang membayar mereka.
Adam juga suka menyuap.
Kenapa aku tidak?
Tidak hanya pada Sven, aku juga meneror Sarah dengan menyuruh orang menabrak mobilnya, tapi jangan sampai mati. Aku hanya ingin wanita itu berada dalam ketakutan.
Aku juga kembali meneror Shasha melalui orang-orangku.
Seseorang yang kuracuni agar tidak bisa bicara itu disuruh masuk ke rumah Shasha dan membuat wanita itu takut.
Ternyata berjalan sesuai rencana. Pria itu dibawa ke kantor polisi.
Dan bodohnya, dia menuliskan namaku. Aku harus turun tangan dan mengajak para polisi itu 'berbicara'.
Untung saja mereka 'mengerti'.
Sialnya, Sven mulai mencurigaiku dan yakin, kalau aku pelakunya. Dia menyerangku ketika rapat bersama Givar.
Dia memukulku. Seandainya tidak ada Givar, aku akan menghabisinya.
Namun, aku harus berpura-pura menjadi korban.
Sven ingin mengurus masalah ini ke pengadilan. Lagi-lagi aku harus 'berbicara' dengan 'mereka'.
Di pengadilan, aku bertemu lagi dengan Adam. Kami saling memperlihatkan pandangan penuh rasa dendam.
Untung saja aku berhasil 'bebicara' dengan 'mereka'. Aku belum dinyatakan bersalah dan akan berlanjut pada sidang kedua.
Di sidang kedua, aku ingin dinyatakan bersalah dan pura-pura masuk penjara. Dengan begitu, akan mudah meneror tanpa mereka mencurigaiku.
Aku tidak benar-benar berada di penjara. Aku keluar masuk RSJ untuk melihat keadaan Shasha. Setiap hari aku memberikan surat padanya.
Dia menyimpan semua surat itu dengan baik.
Dari mana aku tahu?
Aku memasang CCTV dan perekam suara di kamarnya. Tentu saja, aku mau melihat, apa saja yang dilakukannya.
Yang terakhir, aku meneror Adam. Aku turun tangan ke lapangan. Aku sendiri yang akan memberikannya pelajaran.
Kupakai jaket dan topi hitam. Ketika dia keluar dari mobilnya, aku melangkah mendekat dengan pisau di tanganku. Ketika dia berpapasan denganku, kutusuk perutnya. Karena aku kalap dan dipenuhi dendam, tidak sadar aku berkali-kali menusuknya.
Aku berucap, "Bersyukurlah, aku membuatmu mati cepat. Kesalahanmu akan dibayar oleh kedua anakmu."
Kubiarkan dia tergeletak di jalanan dengan darah di mana-mana.
Aku mengurus orang-orang yang melihat ini secara langsung nanti.
Sialnya, Sven malah masuk ke RSJ itu dan memaksa psikiater di RSJ untuk menyatakan jika dirinya gila.
Ini akan menjadi sedikit masalah untukku.
Apalagi kudengar Juan Hardiswara juga mengerahkan orang-orang suruhannya untuk memata-matai aku.
Tapi, tidak masalah.
Hari ini aku akan menemui Shasha.
Aku akan mengakuinya.
Kuberikan surat ke bawah pintu kamarnya. Aku sendiri yang melakukannya. Sesuai rencana, aku berlalu ke atap.
Di sana kami akan bertemu dan berbicara.
Hanya berdua!
Shasha tiba di atap. Aku melihatnya dari belakang. Ketika berbalik menatapku, ekspresi terkejut dari wajahnya yang kulihat.
Sepertinya dia tidak mengira, aku bisa sejahat ini.
Air matanya mulai berlinang.
~•o•~
__ADS_1
10.48 : 29 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah