GRAPPLE

GRAPPLE
Baby


__ADS_3

 


 


 


 


~•Givarel Hardiswara•~


 


 


Namaku Bumantara Givarel Tri Hardiswara. Putra tunggal keluarga Hardiswara. Semua orang memanggilku Tuan muda Givar Hardiswara. Nama Bumantara terlalu tua untukku.


 


 


Aku sudah menikah dengan seorang gadis dari keluarga Gustiar, sahabat kecilku sendiri, Shaquellin.


 


 


Pagi ini, aku hampir kehilangan akal dan akan melakukannya di dapur. Tapi, semuanya berubah ketika sepupuku, Amelia, datang dan melihat adegan ciuman panas kami.


 


 


Selesai mandi dan bersiap dengan kemeja serta jas, aku menuruni tangga dengan setelan jas yang sudah rapi melekat di tubuhku.


 


 


Kulihat istriku sedang menyajikan makanan ke meja. Aku menghampirinya dan memberikan kode agar membantuku memasangkan dasi. Sejak kecil, aku tidak pandai memasang dasi. Ke sekolah pun, aku tidak memakai dasi dan sering ditegur serta diberi sanksi.


 


 


Kumatikan kompor yang masih menyala. Shasha memasangkan dasi ke sela kerah kemejaku. Namun, Shasha kesulitan menjangkauku.


 


 


Gadis mungil itu membuatku tertawa.


 


 


Kulihat ada bangku kecil di dekat meja dapur. Aku mengambilnya dan menyuruh istriku naik ke sana. Shasha menurut. Dia naik sehingga tinggi kami sejajar.


 


 


Istriku melanjutkan memasangkan dasi. Di jarak seperti ini, aku bisa melihat wajahnya. Aku tidak mengira sahabatku yang jarang mandi dan suka mengompol ini bisa tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


 


 


Aku tidak tahu, apakah aku bisa mencintaimu, atau tidak. Tapi, aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu, Snowy. Kita membangun hubungan tanpa cinta sebelumnya. Apakah cinta itu akan hadir nantinya?


 


 


Merasa diperhatikan, Shasha menatap ke arahku. Aku bisa melihat iris coklat gelap miliknya. Sangat indah dan menggoda.


 


 


Tatapanku menelisik turun dan berhenti di bibirnya yang sedikit terbuka. Aku benar-benar ingin menyentuhnya. Bagaimanapun juga, aku seorang pria yang membutuhkan wanita. Setelah menikah dengan Shasha, aku tidak melampiaskan hasratku pada wanita lain.


 


 


Itu karena aku sudah berjanji pada ayahku untuk berubah menjadi pria dan suami yang baik.


 


 


Namun, setelah menikah pun, aku tidak menuntut hakku darinya. Aku tidak mungkin melakukannya tanpa seizin Shasha. Aku tidak mau memperburuk kondisinya.


 


 


Namun, hari ini terlalu sulit menahan diriku sendiri. Satu bulan aku tidak melakukannya. Aku tersiksa.


 


 


Aku mencoba mendekatkan wajahku. Aku akan berusaha lembut dan tidak membuatnya takut. Ketika bibirku menyentuh bibirnya, Shasha tidak bergerak sama sekali.


 


 


Dia tidak menolak, ini seperti lampu hijau untukku.


 


 


Kami saling menatap di sela ciuman ini. Kedua pipiku rasanya terbakar. Mungkin sekarang terlihat memerah karena malu. Entah kenapa, aku merasa sangat malu ketika berciuman dengannya. Padahal ini buka kali pertamanya aku berciuman dengan wanita.


 


 


Namun, rasanya berbeda ketika berciuman dengan Shasha.


 


 


Terdengar suara degup jantung Shasha ketika dadaku dan dadanya bersentuhan. Aku yakin, sebelumnya Shasha pernah berciuman dengan kekasihnya.


 


 


Sejenak kulepaskan ciumanku. Kami saling menatap. Shasha menatap bingung ke arahku. Sejauh ini, hanya ciuman ini yang baru kami lakukan.


 


 


Aku kembali mencium bibirnya. Kuperdalam ciuman ini. Kurasakan kedua tangan Shasha bergerak memeluk leherku dengan kedua mata tertutup. Mungkin dia malu jika harus berciuman sambil bertatapan denganku.


 


 


Tidak akan ada kesempatan lain. Aku melepaskan dasi yang sudah terpasang rapi di leherku lalu kutarik kerah kemeja yang yang aku pakai, dua kancing tetatasnya terbuka.


 


 


Aku yang sudah tidak bisa mengontrol diriku sendiri langsung mendorong Shasha agar duduk di meja dapur. Shasha menyentuh dadaku yang terbuka. Tangan lembutnya membuatku semakin bergairah.


 


 


Gadis polos ini benar-benar menggoda iman.


 


 


Namun, ketukan pada pintu membuat kami menoleh. Di sana ada Amelia berdiri dengan tatapan membeku.


 


 


Sungguh memalukan. Tapi, itu salahnya, kenapa dia tidak mengetuk pintu dulu? Dia melihat kegiatan kami dulu kemudian baru mengetuk pintu.


 


 


Ah, lupakan.


 


 


Saat ini aku sedang menyetir mobil menuju kantor. Di perjalanan, aku tidak bisa melupakan bibir Shasha. Rasanya masih menempel di bibirku. Tak hentinya aku mengigit bagian bawah bibirku.


 


 


Setelah ciuman ini, Shasha pasti akan merasa canggung padaku. Ah, seharusnya kau bisa menahan dirimu, Givar.


 


 


Sesampainya di kantor, aku langsung masuk ke ruanganku. Tidak ada yang istimewa di hari pertamaku setelah sebulan pernikahan.


 


 


Aku melihat bingkai foto pernikahanku di meja. Tanganku bergerak menyentuhnya dan melihat wajah istriku.


 


 


Aku merindukannya. Padahal baru saja aku melihatnya pagi ini. Namun, aku merasa bersalah, karena rasa rindu ini tidak lebih dari napsuku saja. Aku tidak mencintainya. Tapi, aku menyayanginya.


 


 


Ah, shit!


 


 


Shasha yang sekarang sangat mirip anak kecil, itu membuatku tak berani berbuat lebih padanya. Dulu, Shasha adalah gadis yang berkharisma kuat, bahkan dirinya memiliki citra yang tidak dimiliki kakaknya.


 


 


Namun, perbedaan Shasha yang dulu dan yang sekarang tidak membuatku berubah pandangan terhadapnya. Dia tetap sahabatku, Shaquellin. Hanya saja, sikapku harus lebih lembut padanya.


 


 


Pintu ruanganku diketuk. Aku menoleh, "Masuk."


 


 


Sekretarisku yang datang, Alissa. Wanita itu memakai pakaian yang begitu minim di kantorku.


 


 


Dia pikir ini klub malam?


 


 


"Selamat pagi, Tuan Hardiswara. Saya harus membacakan jadwal hari ini," kata Alissa dengan suaranya yang lembut. Aku hanya mengangguk meresponnya.


 


 


Dia membacakan jadwal sembari sesekali melirikku. Apa dia ingin menggodaku?


 


 


Selesai dengan jadwal yang dibacanya, dia menghampiriku sambil memberikan sentuhan pada dadaku. Tatapannya menyiratkan gairah yang besar.


 


 


Ah, gila!


 


 


"Saya tahu... selama ini Tuan memperhatikanku. Kenapa Tuan hanya melihatku saja? Apa Tuan tidak ingin mencoba merasakannya?" Desah Alissa.


 


 


"Jangan macam-macam, ini kantorku." Aku masih mencoba menahan diriku.


 


 


Wanita itu menyentuh wajahku, "Jangan galak-galak, tapi... meskipun galak, kamu tetep keliatan ganteng, kok."


 


 


Dasiku ditariknya membuat wajahku mendekat dengannya. Dia mengecup bibirku dengan lembut. Aku sedikit terkejut. Namun, perasaan yang tadi sempat tertunda, kini memuncak lagi. Aku membalas ciumannya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke meja kerjaku.


 


 


Aku harus bangkit dan mencapainya. Di posisi seperti ini, aku merasa semakin terbakar. Alissa memeluk leherku dengan erat.


 


 


Namun, terlintas bayangan wajah Shasha. Aku segera menghentikan ini. Alissa menahan leherku dia menatapku dengan penuh gairah.


 


 


Pintu dibuka, aku tersentak dan menoleh. Alissa segera merapikan pakaiannya.


 


 


Pria paruh baya itu berdiri di sana. Sekarang rasanya aku tidak bisa menelan saliva.


 


 


Itu ayahku, Juan Hardiswara.


 


 


Setelah melihatku melakukan hal yang tidak pantas dengan sekretaris kantor, papa membawaku ke restoran dan memilih VIP sebagai ruangan tempat kami berbicara.


 


 


Hening.


 


 


Selama lima belas menit berada di sini, papa tidak mengucapkan sepatah kata pun. Botol minuman itu yang menjadi perhatiannya sekarang.


 


 


"Papa," aku memberanikah diri mengeluarkan suara. Papa menoleh padaku, "Apa?"


 


 


Aku tidak tahu harus bilang apa.


 


 


Papa mendecih pelan seraya berkata, "Seharusnya aku tahu, kamu memang tidak akan pernah berubah. Aku merasa bersalah pada Shaquellin."


 


 


Diletakkannya botol dan gelas itu ke meja. Tatapan pria yang merupakan tuan besar Hardiswara itu kini sepenuhnya tertuju padaku.


 


 


"Shaquellin gadis yang baik. Jangan membuatnya terluka. Bukankan kamu juga sudah berjanji untuk berubah, setelah menikah dengannya? Aku sangat menghargaimu yang rela mengorbankan perasaanmu demi kesembuhan Shaquellin. Lalu, baru sebulan... kau sudah begini lagi?" Papa menatapku dengan tatapan tidak percaya.


 


 


Meskipun papaku jarang marah, aku tidak berani mendebatnya, tidak berani mengeluarkan suaraku, bahkan menatap pun aku tidak berani.


 


 


"Memang tidak ada perasaan dalam hubungan kalian, tapi pernikahan adalah pengikat, dan kesetiaan adalah rantai. Jika kau melepaskan kesetiaan, rantai itu akan putus, begitu pun dengan pengikatnya. Seharusnya kamu bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu putuskan."


 


 


Aku mengangguk pelan, "Iya, aku akan memperbaikinya."


 


 


"Papa sudah memecat sekretaris itu. Dia akan terus mengganggu kamu kalo tetap berada di sana." Setelah mengatakan itu, Papa berlalu pergi.


 


 


Jadi, aku yang harus membayar ruangan dan minumannya. Baiklah, aku menyayangimu, Pa.


 


 


Selesai dengan hari sialku di kantor, aku kembali ke rumah sembari melepaskan jas yang membuatku gerah.


 


 

__ADS_1


Aku melihat istriku sedang bermain dengan dua ekor kelinci di dalam kandang yang menyerupai rumah. Entah dari mana datangnya hewan bermata bening itu.


 


 


Shasha menoleh ke arahku. Sejenak tatapannya agak berbeda. Namun, tak berselang lama, dia tersenyum padaku.


 


 


"Sudah pulang, Bunny?" Shasha mengambil jas yang aku pegang dan menarik tanganku ke dalam sembari mengayun-ayunkannya seperti anak kecil.


 


 


Shasha tidak berhenti berbicara, "Hari ini, aku belajar memasak dari Amel. Aku belajar masak ini, itu... semuanya. Amel mengajarkan semuanya. Jadi, mulai besok, kamu gak perlu masak lagi buat kita. Aku yang akan memasak."


 


 


Shasha menekan bahuku agar duduk. Di meja ada banyak sekali makanan yang terhidang sempurna.


 


 


Shasha menuangkan nasi dan beberapa lauk ke piringku. Dia menatap dan menungguku mencicipinya.


 


 


"Kamu memasak semua ini? Buat aku?"


 


 


Mendengar pertanyaanku, Shasha mengangguk, "Sebenarnya tidak semua. Yang itu, itu, dan itu, Amel yang masak. Yang ini, ini, dan ini, aku yang memasaknya."


 


 


Aku tersenyum dan mencicipi hasil masakannya. Rasanya cukup lezat. Shasha menatapku dengan ekspresi harap-harap cemas.


 


 


"Masakan kamu enak, Snowy."


 


 


Shasha bertepuk tangan semangat. Kami pun makan bersama.


 


 


"Kenapa masakan Amel gak dimakan?" Tanya Shasha dengan mulut penuh. Aku menggeleng, "Mulai saat ini, aku hanya akan memakan masakan istriku."


 


 


Shasha tersenyum dengan pipi merona, "Padahal masakan Amel lebih enak."


 


 


"Aku lebih menyukai masakan kamu, Sayang."


 


 


Mendengarku menyebutnya 'sayang', Shasha sedikit terkejut. Dia menatap ke arahku. Wajar saja dia terkejut, ini pertama kalinya aku memanggil Shasha dengan sebutan sayang.


 


 


"Gapapa, kan, aku manggil kamu sayang?" Tanyaku. Bukannya menjawab, istriku yang cantik ini malah memainkan jari telunjuknya.


 


 


"Jangan, ya?" Tanyaku lagi. Shasha menggeleng cepat, "Ga-gapapa, kok."


 


 


Aku tersenyum.


 


 


Hatiku dipenuhi rasa bersalah. Siang ini aku hampir melakukan hal buruk di belakang Shasha dengan sekretarisku. Namun, di sisi lain, Shasha sedang berusaha menjadi istri yang baik untukku.


 


 


Kamu ini suami macam apa, Var!


 


 


Kamu sudah sangat beruntung memiliki istri yang baik dan masih mampu menjaga kesuciannya sampai saat ini.


 


 


Ya, dilihat dari bentuk tubuhnya, Shasha memang tidak memiliki ciri-ciri pernah berhubungan intim dengan pria. Sangat sulit menemukan gadis perawan di zaman ini.


 


 


Ah, kenapa isi kepalaku selalu merujuk kesana?!


 


 


"Amel ngasih aku dua kelinci lucu yang di depan tadi. Kamu udah lihat?" Pertanyaan Shasha membuat lamunanku buyar. Aku mengangguk cepat.


 


 


"Aku ngasih nama ke mereka, little Bunny dan little Snowy."


 


 


"Nama yang bagus, tapi kedengarannya seperti aku dan kamu."


 


 


Shasha tertawa kecil, "Iya, karena mereka mirip kita. Amel juga bilang, mereka sudah menikah seperti kita."


 


 


Ah, apa-apaan gadis itu. Kenapa dia mengatakan hal konyol? Jika dia menginginkan kesembuhan untuk Shasha, bukan begini caranya.


 


 


"Sayang," panggil Shasha. Aku menoleh padanya. Dia memanggilku 'sayang' juga?


 


 


"Makanan yang dibuat Amel kita bagi ke tetangga, ya. Kan, sayang kalo dibuang. Mereka pasti suka," kata Shasha.


 


 


Aku mengangguk, "Kita anterin nanti, ya. Aku mau mandi dulu."


 


 


Setelah mendapat anggukkan, aku berlalu ke kamar mandi. Rintik air dari shower membasahi tubuhku. Sejuk rasanya.


 


 


Aku melihat ada jubah mandi berwarna merah muda di gantungan. Itu milik Shasha. Aku mengambilnya dan menghirup aroma dari pakaian itu. Aroma tubuh Shasha.


 


 


Seperti mawar merah yang baru merekah. Aku menyukainya. Tanpa sadar, aku memeluk jubah tersebut dan membuatnya basah.


 


 


Kau seperti pria gila, Var.


 


 


 


 


Aku memilih kaos berlengan panjang yang longgar warna hitam dan jeans selutut. Kulihat wajahku dari cermin.


 


 


Kau memang selalu tampan, Givarel.


 


 


Aku menuruni tangga dan melihat istriku sudah membuat beberapa kotak dalam wadah berukuran sedang. Dia menoleh ke arahku sembari tersenyum dan menunjukan makanan tersebut. Aku mengangguk dan tersenyum juga.


 


 


Kami berkunjung ke setiap rumah yang jaraknya lumayan berdekatan dengan rumah kami. Mereka menyambut kami dengan baik.


 


 


Shasha bilang, kita harus mengenal mereka biar akrab.


 


 


Kemarin ada tetangga dari rumah sebelah. Mereka datang mengunjungi kami sekedar mengakrabkan diri. Suami istri dari keluarga Ardeen itu menceritakan banyak hal bersama kami.


 


 


Hari ini kami juga mengunjungi mereka dan berbagi masakan pada mereka.


 


 


Sekarang kami menuju rumah bercat biru muda yang letaknya persis di sebelah kanan rumah kami.


 


 


Aku menekan bel pintu. Tak berselang lama, seorang gadis kecil membukakan pintu. Aku dan Shasha melihatnya. Dia malah bersembunyi di balik pintu. Mungkin dia takut bertemu dengan orang asing.


 


 


Shasha sedikit mencondongkan tubuhnya menyapa gadis imut itu, "Hai, mama sama papa kamu ada?"


 


 


Gadis manis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berlari ke dalam. Tak berselang lama, seorang wanita dengan perut besar menghampiri kami.


 


 


"Halo, kami adalah tetangga baru. Kami kelebihan memasak hari ini. Semoga menyukainya," kata Shasha sembari memberikan sekotak makanan pada wanita itu.


 


 


Aku tersenyum melihat keramahan istriku. Sikapnya mengingatkanku pada dirinya yang dulu.


 


 


Wanita itu menerimanya. Gadis kecil yang bersembunyi di belakang ibunya tampak berjinjit melihat apa yang dipegang oleh sang ibu. Tingkahnya membuat Shasha tersenyum gemas.


 


 


Wanita itu tersenyum santun, "Wah, terima kasih. Kami juga sedang menyajikan makan malam. Kami akan senang jika kalian bergabung."


 


 


Aku dan Shasha saling pandang. Setelah lama berpikir, kami menerima tawarannya dan masuk.


 


 


Kulihat suaminya sedang menyajikan makanan dibantu oleh sang istri. Gadis kecil bernama Stella duduk bersama Shasha. Mereka cepat sekali akrab.


 


 


"Kami senang sekali melihat ada tetangga baru yang masih muda. Kalian mengingatkanku pada Barra dan Divya Ardeen," kata Gween Javier, ibunya Stella. Wanita yang sedang mengandung itu memberikan kami piring, begitupun dengan Stella.


 


 


Suaminya, Verald Javier juga memberikan kami dan putri sendok dan garpu. Kami berdua merasa seperti anak kecil.


 


 


"Kemarin mereka juga mengunjungi kami, mereka sangat ramah," kata Shasha. Gween mengangguk, "Mereka sangat baik dan sering bermain kemari bersama Stella."


 


 


Stella mengangguk semangat, "Iya, iya... mereka bilang, mereka pengen punya dede bayi kayak Mama."


 


 


Verald tertawa, "Silakan dimakan."


 


 


Kami makan bersama. Sebenarnya aku merasa perutku sudah kembung. Makan dua kali di jam yang sama.


 


 


Setelah itu, kami pamit pulang. Shasha tidak berhenti membicarakan Stella. Gadis kecil itu membuatnya gemas dan ingin membawanya pulang, jika diperbolehkan orang tuanya.


 


 


Tentu tidak.


 


 


Aku duduk di tepi ranjang sembari memusatkan pandanganku ke layar laptop di meja. Tiba-tiba Shasha datang sembari melelapkan kepalanya ke bahuku. Aku menoleh padanya.


 


 


"Aku juga pengen punya dede bayi," kata Shasha sembari mengguncangkan lenganku.


 


 


Apa aku tidak salah dengar?


 


 


Atau... dia yang salah bicara?


 


 


Apakah ini saatnya... lupakan!


 


 


"Kak Gween punya Stella dan sekarang dia lagi hamil. Aku juga mau punya anak. Kamu mau punya anak juga, kan?" Shasha menatapku dengan serius.


 


 


Itu membuatku gugup. Sungguh, tidak biasanya aku merasa segugup ini dengan wanita lain sebelumnya. Shasha memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain. Dia istimewa dan bisa membuatku semakin menginginkannya.


 


 


Apa mungkin... perasaan ini mulai muncul?


 

__ADS_1


 


Apa aku mencintainya?


 


 


Shasha menatapku penuh tanya.


 


 


"I-iya," jawabku pelan.


 


 


Shasha tampak berpikir, "Gimana caranya, ya? Kamu tahu, gak?"


 


 


Kenapa bertanya begitu, Sayang?


 


 


Pertanyaan itu membuatku membeku. Tahu caranya? Tentu saja. Aku juga pernah... ah, apa yang kau pikirkan!


 


 


"Aku cari di google dulu, deh." Setelah mengatakan itu, Shasha menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Dia mengambil ponselnya dan mulai searching.


 


 


Aku memutar bola mataku. Apa yang akan dikatakan google nantinya? Aku menutup laptop dan menoleh pada Shasha. Kulihat matanya bergerak sesuai tulisan yang dibacanya dari ponsel.


 


 


Ekspresi Shasha menunjukkan ngeri dan takut. Aku tidak tahu, apa yang dia baca sebenarnya?


 


 


Cerita horor atau cara membuat anak?


 


 


Shasha menoleh padaku kemudian menoleh ke arah lain. Dia menyimpan ponselnya.


 


 


"Setelah dipikir-pikir, kayaknya gak jadi, deh." Setelah mengatakan itu, Shasha membaringkan tubuhnya membelakangiku.


 


 


Aku hanya tersenyum geli dengan tingkahnya. Kurebahkan tubuhku dan kupeluk dirinya.


 


 


"Kamu takut?" Tanyaku.


 


 


Shasha mengangguk dalam pelukanku.


 


 


"Kalau begitu, lain kali saja membuat anaknya, ya."


 


 


"Sayang," panggil Shasha sambil menatapku. Rupanya dia sudah terbiasa memanggilku dengan sebutan sayang. Aku senang sekali mendengarnya.


 


 


"Apa, Sayang?" Tanyaku.


 


 


"Kamu ngantuk?" Tanya Shasha. Aku menggeleng, "Memangnya kenapa?"


 


 


"Emm, sepertinya aku berubah pikiran. Bagaimana kalau kita membuatnya sekarang?"


 


 


Pertanyaan polos istriku membuat kedua pipiku memanas. Dia benar-benar polos. Aku... ah, lupakan.


 


 


"Kamu siap?" Tanyaku. Shasha bergulir menghadap padaku.


 


 


"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Shasha dengan kedua mata bulatnya menatapku penuh tanya. Ingin sekali kucubit pipinya.


 


 


"Tidak ada," kudekatkan wajahku padanya. Hidung kami bergesekan. Kurasakan terpaan napasnya di bibirku.


 


 


"Sayang, jantungku ketakutan," kata Shasha dengan suara bergetar. Dia menyentuh dadanya sendiri.


 


 


Aku tersenyum lalu mengusap rambutnya dengan lembut, "Tidurlah."


 


 


Setelah mendengar instruksi dariku, Shasha menutup matanya dan mengeratkan pelukannya padaku.


 


 


~


 


 


Ingin sekali kubuka mataku, namun rasanya berat. Aku masih mengantuk. Jika saja papa tidak menyuruhku mengurus perusahaan, lebih baik aku tidur dan tinggal di Kyoto bersama istriku.


 


 


Kueratkan pelukanku pada Shasha.


 


 


Eh?


 


 


Kok lembek?


 


 


Aku membuka mata dan ternyata bantal yang sedang kupeluk. Mana Shasha?


 


 


Aroma masakan menguak hidungku. Tampaknya Shasha sedang di dapur sedang menyiapkan sarapan. Rasa kantuk ini berganti dengan rasa lapar. Perutku berbunyi karena mencium aroma bumbu yang ditumis oleh istriku.


 


 


Selesai mandi dan berganti pakaian formal, aku menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Kulihat istriku sedang serius memasak. Dia tampak masih ketakutan dengan suara minyak goreng.


 


 


Ada beberapa makanan yang tersaji di meja makan.


 


 


Aku terkekeh kecil dan menghampirinya. Shasha terkejut dan menoleh ke arahku. Ada spatula yang menggantung. Aku mengambilnya dan membantu mengaduk masakannya.


 


 


Shasha meletakkan spatula ke meja lalu mengelapkan kedua telapak tangannya ke celemek biru muda yang dia pakai. Dengan lembut, Shasha membenarkan dasiku sembari berjinjit. Aku tersenyum lalu sedikit mencondongkan tubuhku.


 


 


Masakannya sudah matang. Aku mematikan kompornya. Shasha masih serius dengan dasiku.


 


 


"Waktu SMA, aku gak pernah pakai dasi," kataku. Dia mengernyit, "Tidak bisa pakai dasi?"


 


 


Aku mengangguk dan kembali berdiri tegak setelah dasiku rapi berkat istriku. Kami duduk dan sarapan.


 


 


"Anak nakal," gerutu Shasha. Aku terkekeh, "Aku dan Regar sering dihukum dan didenda. Dia juga tidak bisa pakai dasi."


 


 


Shasha menggeleng pelan. Ya, kami bersahabat sejak kecil sampai di bangku SD. Ketika masuk SMP, Shasha pindah ke new York. Aku di Jakarta sampai SMA dan melanjutkan kuliah di Kyoto lalu mengurus perusahaan cabang milik papa di sana.


 


 


Masakan Shasha terasa lezat, meskipun dia baru belajar memasak. Yang aku tahu, Shasha memang tipe orang yang mudah mengingat sesuatu. Dia pelajar yang cerdas sejak SD.


 


 


Ketika asyik makan berdua, pintu diketuk. Kami menoleh, ternyata Amelia. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan laparnya tertuju ke meja makan.


 


 


"Halo! Senangnya melihat makanan!" Tanpa disuruh masuk, gadis itu langsung bergabung bersama kami. Dia mengambil piring dan memborong semua makanan.


 


 


Aku dan Shasha saling pandang lalu melihatnya yang begitu lahap makan.


 


 


"Silakan dilanjutkan makannya," kata Amelia pada kami berdua.


 


 


Jadi, ini rumah siapa sebenarnya?


 


 


"Waaahh, masakan kamu enak banget, Sha. Bahkan lebih enak dari masakanku. Kamu belajar cepet banget," kata Amelia dengan mulut penuh.


 


 


Shasha hanya tersenyum kecil.


 


 


Hening.


 


 


Tidak ada lagi yang bebicara ketika makan. Yang terdengar hanyalah suara ketukan sedok dan piring.


 


 


Selesai sarapan, Shasha memberikan dua kelinci itu wortel. Aku memperhatikannya.


 


 


Amelia menghampiriku, "Gua seneng banget ngeliat keadaannya membaik setelah sama lo."


 


 


Aku mengangguk, "Hemm, gua juga seneng ngeliat dia semakin hari semakin ceria. Gua gak mau liat dia sedih terus kayak dulu."


 


 


"Kok, gua gak liat TV di ruang keluarga, ya?" Tanya Amelia. Aku menjawabnya, "TV-nya udah gua pindahin. "


 


 


Amelia mengangguk mengerti. Dia kembali bersuara, "Dipernikahan kalian, gua gak liat kakaknya. Apa kakaknya itu masih tinggal serumah sama keluarga Gustiar?"


 


 


Aku menggeleng, "Gua gak tahu."


 


 


Aku menoleh pada Amelia, "Jangan mengatakan hal konyol padanya. Dia tidak gila."


 


 


"Memangnya gua bilang apa?" Tanya Amelia dengan dahi mengernyit karena bingung.


 


 


Aku menggerutu kesal, "Lo bilang, dua kelinci itu menikah. Orang gila mana yang mau percaya."


 


 


Amelia menghela napas panjang, "Sebenarnya itu adalah salah satu cara gua menangani pasien."


 


 


"Terserah, tapi jangan bikin kondisinya makin buruk."


 


 


"Iya, lu tenang aja."


 


 


~•o•~


 


 


_Pernahkah kamu merindukan seseorang sampai ingin bertemu dengannya? Tapi\, orang itu sudah tiada._


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


13.02 : 12 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2