GRAPPLE

GRAPPLE
Marriage


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Hal yang lucu dalam hidupku adalah ketika semua orang berusaha mendorongku\, namun mereka yang jatuh lebih dulu._


 


 


~•o•~


 


 


Amelia dan Shasha telah kembali. Mereka memasuki rumah sembari membiarkan Bunny dan Snowy berkeliaran di halaman belakang. Amelia merebahkan tubuhnya ke sofa.


 


 


"Lelahnya..." desah Amelia.


 


 


Shasha mengambil dua botol minuman dari dalam kulkas kemudian duduk di samping Amelia sembari memberikan salah satu botol.


 


 


"Aaahh, makasih," Amelia mengambil minuman tersebut, "aaaahhh, segaaaarrrr."


 


 


Wanita itu hanya tertawa mendengar desahan Amelia. Shasha mengambil remote di meja. Dia akan menyalakan TV, namun suara mobil di depan rumahnya membuat niat wanita itu urung dilakukan. Dia menoleh ke jendela. Amelia juga.


 


 


"Siapa yang datang?" Tanya Amelia. Shasha melihat jam tangannya, "Jam 14.00, itu pasti bukan Givar. Kalo Givar pulang cepet, dia bakalan nelpon."


 


 


Kedua perempuan itu saling pandang ketika ada yang mengetuk pintu. Mereka memutuskan untuk menemui tamu itu.


 


 


Seorang wanita cantik dengan senyuman cerah, "Halo?"


 


 


Amelia menoleh pada Shasha dan wanita itu secara bergantian.


 


 


"Aku Aarletha, emm... maaf datang tanpa memberitahu."


 


 


Shasha terkejut dia menoleh pada Amelia yang juga tengah menatap dirinya.


 


 


"Masuk."


 


 


~


 


 


Amelia menaikkan volume TV. Dia menyandarkan punggungnya dan berusaha duduk senyaman mungkin. Sementara Shasha bersama Aarletha berada di ruang tengah. Mereka menoleh ke ruang keluarga di mana Amelia berada.


 


 


"Emm...." Aarletha bergumam membuat Shasha menoleh padanya, "aku mau minta maaf."


 


 


Shasha menggeleng, "Tidak perlu meminta maaf, kamu gak salah, kan?"


 


 


"Tapi, aku merasa bersalah," kata Aarletha sembari menggenggam tangan Shasha.


 


 


"Aku juga mau minta maaf, aku tidak tahu... Givar punya hubungan sebelumnya. Dia mengakhiri hubungan kalian dan..." Shasha tidak ingin melanjutkan kalimatnya.


 


 


"Tidak, jangan katakan itu. Aku mengerti, kamu jauh lebih membutuhkan Givar."


 


 


"Tapi, aku merasa telah mengganggu hubungan kalian," ucap Shasha. Aarletha menghela napas berat, "Kalau begitu, artinya kita sudah saling memaafkan."


 


 


Shasha mengangguk semangat.


 


 


"Kalau begitu, kita berteman!" Seru Aarletha sembari menunjukkan jari kelingkingnya. Shasha mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Aarletha.


 


 


"Berteman."


 


 


Ternyata sedari tadi Amelia memperhatikan kedua wanita cantik itu di ambang pintu. Aarletha dan Shasha menoleh padanya. Amelia sedang tersenyum gemas melihat tingkah kedua wanita yang tengah melihat padanya.


 


 


Aarletha menunjukkan kelingking satunya lagi pada Amelia, "Mau berteman juga?"


 


 


Tawa pun meledak di ruangan itu.


 


 


Aarletha menunjukkan surat undangan pernikahannya pada Shasha dan Amelia.


 


 


"Aku belum bilang sama Givar, aku ingin kalian semua hadir, Sha, Mel." Aarletha mengusap lengan Amelia dan Shasha yang kemudian dibalas anggukan oleh kedua perempuan itu.


 


 


Setelah sedikit berbincang ringan, Aarletha pulang.


 


 


"Kenapa Givar meninggalkan wanita sebaik dia?" Gumam Shasha. Amelia mengusap rambut Shasha seperti seorang kakak, "Itu artinya, kamu jauh lebih berarti bagi Givar."


 


 


Shasha tampak sedih, "Dia menikahi wanita malang sepertiku dan meninggalkan wanita sesempurna Aarletha. "


 


 


"Tidak ada manusia yang sempurna, itu hanya sudut pandangmu saja. Percayalah, Givar tahu yang terbaik untuk semua pihak," ucap Amelia.


 


 


~


 


 


Givar telah kembali dari kantor. Dia melihat istrinya yang sedang berdiri memperhatikan kedua kelinci yang sedang bermain di halaman belakang. Wanita itu belum menyadari keberadaan suaminya.


 


 


Givar memeluk tubuh Shasha dari belakang. Shasha sedikit terhenyak dan mendongkak menatap suaminya.


 


 


"Kamu udah pulang?" Tanya Shasha. Givar mengangguk, "Iya."


 


 


Givar menggerakkan tubuh mereka seperti sedang menari ke kanan ke kiri tanpa mau melepaskan pelukannya.


 


 


"Aku dengar dari Amelia, Bunny sakit, ya?" Bisik Givar di telinga Shasha, membuat wanita itu merinding geli.


 


 


Shasha mengangguk, "Tadi udah dibawa ke dokter hewan."


 


 


Givar mengangguk sembari sedikit membungkukkan badan dan meletakkan dagunya di bahu Shasha.


 


 


"Emm... tadi... Aarletha dateng kesini."


 

__ADS_1


 


Mendengar ucapan istrinya, Givar berhenti bergerak. Dia menegakkan tubuhnya.


 


 


"Apa yang dia katakan?" Tanya Givar yang mulai serius.


 


 


"Dia wanita yang baik, dia hanya memberikan surat undangan pernikahan," ujar Shasha.


 


 


Givar tampak berpikir.


 


 


"Kenapa kamu rela ninggalin perempuan sebaik dan secantik dia demi perempuan gangguang jiwa seperti aku?" Tanya Shasha.


 


 


Givar mengecup puncak kepala istrinya, "Itu karena kamu sahabat aku. Rasa sayangku jauh lebih besar untuk kamu, jika dibandingkan rasa cintaku buat Aarly."


 


 


"Aku ikut bahagia untuknya, karena dia telah memiliki pasangan yang baik dan akan segera menikah."


 


 


Givar tersenyum.


 


 


"Mereka pasti akan segera memiliki anak," gumam Shasha sembari membayangkan wajah-wajah lucu bayi kecil dalam benaknya.


 


 


Givar berbisik lirih, "Kalau begitu, kita harus segera membuat anak. Jangan sampai mereka memiliki anak lebih dulu dari kita. Kita, kan, nikahnya juga duluan."


 


 


"Lagian kamu gak pernah serius, padahal aku gak ngelarang kamu. Masa aku duluan, sih," gerutu Shasha.


 


 


Givar membulatkan matanya kemudian tertawa, "Jadi, kamu nantangin aku, ya? Hati-hati... aku ini lebih menakutkan dari serigala kalo lagi di atas tempat tidur."


 


 


Kedua pipi Shasha memerah, "Kamu ngomong apa, sih, siang-siang begini?"


 


 


Givar mengeratkan pelukannya, "Jangan pura-pura tidak mengerti. Waktu itu kamu pernah baca cerita dewasa, kan? Aku yakin, kamu ngerti."


 


 


"Lupakan," gerutu Shasha.


 


 


Givar terkekeh, "Apa sekarang sudah selesai? Malam ini bisa, kan?"


 


 


"Dari tadi kamu nanya itu terus. Kalo udah selesai, aku pasti bilang, kok."


 


 


Givar menghela napas panjang. Shasha merasa geli ketika napas hangat Givar menerpa lehernya.


 


 


"Baiklah, aku akan menunggu."


 


 


Shasha mengangguk sembari tersenyum.


 


 


~


 


 


Hari pernikahan Aarletha Mallory dan sang kekasih telah tiba. Tema pantai dan warna putih-biru menjadi pilihan mereka.


 


 


Shasha dan Givar hadir di acara pernikahan itu. Shasha terlihat begitu cantik dengan gaun putih, begitupun den Givar yang mengenakan kemeja putih berbalut jas berwarna biru. Mereka berdua menghampiri pasangan yang sudah resmi menjadi suami istri itu.


 


 


 


 


"Kami harap, kalian menikmati jamuannya?" Kata suaminya Aarletha.


 


 


Hansen Beck, pria dengan ras campuran kulit hitam dan kulit putih itu tampak ramah dan bersahabat. Aarletha dan Hansen terlihat begitu serasi, pasangan yang menyenangkan.


 


 


"Halo, kalian semua begitu bahagia tanpa diriku," ucap seseorang yang membuat perhatian keempat orang itu teralihkan padanya.


 


 


Ternyata Felix Donovan.


 


 


"Ah, kau datang rupanya, kami sangat senang ada banyak yang datang," kata Hansen.


 


 


Felix menjabat tangan pasangan pengantin baru itu. Tidak lupa, dia juga berjabat tangan dengan Givar dan Shasha.


 


 


"Kalian juga di sini, sungguh hangat bukan," ujar Felix.


 


 


Mereka tersenyum.


 


 


Amelia yang juga datang mengucapkan selamat pada pasangan itu. Lalu dia memilih duduk dan menikmati jamuan.


 


 


Musik dansa berputar membuat suasana romantis semakin terasa di tempat itu.


 


 


Givar dan Shasha berdansa dengan semilir angin pantai di sore hari itu.


 


 


"Sebenarnya aku tidak bisa berdansa," bisik Shasha. Givar terkekeh, "Hanya ikuti alunan musiknya. Kamu perlu tenggelam dan menikmatinya."


 


 


"Aku tidak bisa," gerutu Shasha masih dengan nada berbisik. Givar menggeleng pelan, "Ikuti gerakanku saja."


 


 


Sementara itu, Amelia hanya tersenyum melihat sepupunya. Seseorang mengulurkan tangan padanya. Amelia menoleh, pria tampan itu tersenyum.


 


 


"Nona Hardiswara, apa anda mau duduk saja dan menolak tawaranku?" Tanya pria itu, dia adalah Felix.


 


 


Amelia tersenyum kemudian dia menerima uluran tangan Felix dan mulai berdansa.


 


 


"Aku sangat mengagumi psikolog muda sepertimu, Nona." Felix memuji Amelia. Gadis itu tersenyum, "Terima kasih, aku juga kagum pada anda, seorang pengusaha muda yang sukses."


 


 


"Aku tidak semuda itu, apa aku terlihat muda?" Tanya Felix dengan nada bercanda kemudian tertawa kecil.


 


 


Amelia tersenyum, "Iya, anda terlihat masih muda."


 


 


"Mungkin karena aku menyukai gadis yang jauh lebih muda dariku, jadi aku tertular muda juga."


 


 


Amelia hanya tersenyum menanggapi ucapan Felix.


 


 

__ADS_1


~


 


 


Givar dan Shasha telah kembali ke rumah. Shasha sedang mandi, sementara suaminya sedang duduk di depan cermin.


 


 


Selesai mandi, Shasha keluar dengan gaun tidur berwarna putih yang sedikit transparan. Namun, Givar belum menyadarinya.


 


 


Wanita itu memperhatikan suaminya yang sedang mengoleskan krim malam ke wajah tampannya. Shasha tersenyum geli, dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur dan memakai selimut lalu memperhatikan Givar.


 


 


"Tumben gak pake krim malam sama krim-krim lainnya?" Tanya Givar tanpa berhenti mengoles, atau bahkan menoleh sedikitpun.


 


 


"Emm, enggak, lagi males aja." Shasha menjawab sekenanya.


 


 


Givar menoleh pada istrinya yang memakai selimut seleher, "Apakah malam ini dingin?"


 


 


Shasha tampak berpikir, "Emm, tidak."


 


 


Selesai dengan krim malam, Givar merebahkan tubuhnya di samping Shasha.


 


 


"Selamat malam," ucap Givar lalu menutup matanya. Namun, pria itu tidak jadi tidur karena tangan Shasha bergerak melingkar di perutnya. Tidak biasanya wanita itu memeluknya lebih dulu.


 


 


Givar menoleh pada Shasha yang tengah menatapnya. Pria itu mengernyit, "Kamu takut aku tidur duluan?"


 


 


Shasha melelapkan kepalanya ke bahu Givar. Pria itu bisa merasakan deru napas Shasha di lehernya.


 


 


"Emm... sebenarnya aku mau bilang sesuatu."


 


 


Givar bergerak mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping seperti Shasha. Mereka saling menatap.


 


 


"Bilang aja, Sayang." Givar mengusap rambut Shasha.


 


 


Kedua pipi Shasha memerah, "Sebenarnya... tamu itu sudah pergi."


 


 


Kedua mata Givar membulat sempurna, "Serius?!"


 


 


Shasha mengangguk dan mengalihkan pandangannya untuk mengindari kontak mata dengan suaminya.


 


 


Shasha bergumam, "Tadi siang aku... Hhmmm." Belum sempat Shasha menyelesaikan kalimatnya, Givar melahap bibir Shasha yang begitu menggoda. Kedua mata mereka bertemu.


 


 


Shasha segera menyembunyikan rasa malu dengan menutup matanya. Givar tersenyum di sela ciuman itu. Pria itu menyingkap selimut yang menutupi tubuh Shasha. Givar melepaskan tautan bibirnya dan melihat pakaian yang dikenakan oleh istrinya itu.


 


 


"Kamu mulai nakal, ya?" Givar menyeringai tampan. Shasha menutup wajahnya. Givar tertawa, "Kamu terlalu sering membaca cerita dewasa, jadinya seperti ini. Tapi, tidak apa-apa, aku gak perlu mengajari kamu, kan?"


 


 


Pria itu kembali melumat bibir istrinya. Kali ini Shasha membalas ciuman Givar sebisanya. Pria itu memaklumi Shasha yang belum berpengalaman dalam hal bercinta, berbeda dengan dirinya yang sudah melakukan itu sebelumnya.


 


 


Givar menarik tubuh istrinya agar menindihnya,  jadi posisinya terlentang dibawah Shasha. Wanita itu duduk di atas perut kekar suaminya. Givar menarik tengkuk Shasha agar mendekat. Wanita itu menurut dan mengecup bibir suaminya. Givar menahan tubuh istrinya di posisi itu mereka melanjutkan ciuman.


 


 


Pria itu menyentuh tubuh Shasha dengan penuh kelembutan. Shasha melepaskan ciumannya. Givar menyentuh bibir merah Shasha yang sedikit membengkak. Pria itu tersenyum karena perbuatannya sendiri.


 


 


Givar membuka kancing kemejanya. Shasha melongo melihat perut Givar yang eight pack itu. Lagi-lagi aku wanita itu menutup matanya karena malu. Kedua pipinya sudah merah.


 


 


"Sayang, kenapa kamu nutupin mata kamu?" Tanya Givar. Shasha mengintip lewat sela jemarinya lalu kembali menutup matanya. Givar menoleh ke meja di samping tempat tidur. Dia meraih lampu dan mematikannya. Hanya satu lampu tidur yang menyala membuat ruangan kamar semakin redup dalam gairah sepasang suami istri itu.


 


 


Givar menarik kedua tangan Shasha agar menyentuh perutnya. Wanita itu merasakan betapa keras dan menonjolnya perut Givar. Shasha membuka matanya. Givar melepaskan tangan istrinya. Shasha menggerakkan tangannya mengusap roti sobek yang begitu menggoda. Givar menikmati sentuhan lembut istrinya.


 


 


Pria itu menurunkan gaun Shasha sampai jatuh ke perut. Givar menyentuh dada Shasha membuat wanita itu meringis tertahan sembari menggigit bagian bawah bibirnya.


 


 


"Aku menyukainya, mulai sekarang, mereka milikku. Tidak, bukan hanya mereka. Seluruh tubuh kamu adalah milikku, Nyonya Hardiswara adalah milikku." Givar berkata penuh penekanan.


 


 


Pria itu menarik tubuh istrinya dan memberikan serangan berupa kecupan lembut di sekitar leher dan dada Shasha. Pria itu memberikan banyak tanda kemerahan, menandakan jika itu adalah wilayahnya, miliknya, dan haknya.


 


 


Givar mengubah posisi menjadi di atas tubuh Shasha dengan kedua lutut bertumpu pada tempat tidur. Pria itu memberikan sentuhan-sentuhan sensitif yang membuat istrinya merasakan dunia baru.


 


 


Gaun Shasha lolos begitu saja. Wanita itu terlentang di bawah suaminya tanpa sehelai benang pun.


 


 


Givar membuka resleting celananya. Tidak akan ada yang menahannya lagi. Shasha memperhatikan apa yang dilakukan suaminya itu. Givar menatap istrinya. Pria itu mendekatkan wajahnya seraya berbisik, "Jangan melihat, kamu cukup tenang dan menikmatinya."


 


 


Seperti anak kecil yang penurut, Shasha menganggukkan kepalanya.


 


 


"Rasanya akan sedikit sakit, kamu bisa mencakar atau memukulku jika kamu tidak mampu menahannya," ucap Givar.


 


 


Shasha tampak sedikit takut, namun lagi-lagi dia menganggukkan kepalanya.


 


 


Shasha merasakan sesuatu di bawah sana yang berusaha memasuki tubuhnya. Givar menautkan bibir mereka untuk mengalihkan Shasha.


 


 


Namun, Givar sedikit terburu-buru dan mengejutkan Shasha. Wanita itu menggeliat kesakitan. Dia mencakar punggung dan tengkuk Givar. Tidak hanya itu, Shasha juga mengigit bibir suaminya. Givar menutup mata menahan sakit karena ulah istrinya, namun dia tahu, rasa sakitnya tidak lebih besar dari yang di rasakan Shasha.


 


 


Wanita itu menitikkan air mata ketika dirinya benar-benar telah menjadi wanita yang sesungguhnya.


 


 


"Hhh," lenguhan rasa sakit itu lolos dari bibir Shasha ketika Givar melepaskan tautan bibirnya.


 


 


Untuk pertama kalinya pria itu berhubungan dengan seorang wanita yang masih 'utuh'.  Dia harus hati-hati dan masih berusaha menyesuaikan diri dengan tubuh Shasha. Padahal dirinya ingin segera bergerak menuntaskan yang beberapa bulan lalu, namun pria itu mengesampingkan egonya.


 


 


Melihat darah di bibir Givar, Shasha mengusapnya, "Maaf," wanita itu berkata lirih. Givar menggeleng dan berucap, "Maaf."


 


 


Givar mulai bergerak. Shasha masih merasa sedikit sakit. Dia menahan dada suaminya.


 


 


"Eumhh... kenapa ini kecil sekali, Sha? Aku akan membuatnya membesar dan pas untukku!"


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


20.54 : 26 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2