GRAPPLE

GRAPPLE
Svender Adideva Gustiar


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Jangan coba-coba membangunkan monster yang sedang tertidur. Sekali dia terbangun\, dia tidak akan bisa tidur lagi._


 


 


~•o•~


 


 


Svender, pria tampan dengan rambut berombak berwarna gelap. Dia memiliki tatapan tajam, dingin, dan menjatuhkan lewat iris matanya yang berwarna coklat bening. Hidungnya mancung tegas dipadukan dengan bibir merah gelap yang sesekali tertarik ke samping untuk beberapa momen.


 


 


Sikapnya sering berubah-ubah. Dia bisa sangat hangat, menyebalkan, dan kejam. Putra sulung keluarga Gustiar yang sulit dimengerti.


Namun, percayalah itu hanya akting semata. Tidak ada yang tahu, seperti apa sifat dia yang sebenarnya. Dia sangat mahir mengubah ekspresinya sesuai keinginan tanpa merasa gugup.


 


 


Aktor yang hebat.


 


 


Sejak masuk SMA, Sven selalu mendapatkan perlakuan kurang baik oleh teman-teman dan gurunya. Dia sering menjadi sasaran utama semua orang di sekolah itu. Seakan-akan semua orang membencinya dan ingin merusak mentalnya.


 


 


Seolah hanya dia yang bersalah.


 


 


Sven tidak mengerti, dia merasa jika semua orang di sekolah itu sedang fokus padanya dan ingin membuatnya selalu berada dalam masalah. Padahal, dia tidak pernah berbuat salah.


 


 


Sekolah itu juga merupakan tempat yang sangat menghormati anak-anak dari kalangan pengusaha dari dalam, maupun luar negeri. Dalam kata lain, ada perlakuan khusus untuk anak pengusaha. Svender juga putra dari Adam Gustiar, pengusaha sukses asal Indonesia.


 


 


Namun, perlakuan spesial yang dia dapatkan adalah bullying.  Tidak ada yang menyukai Sven satu orang pun di tempat itu. Ada saja orang yang mengganggunya, dia tidak melawan. Diam adalah pilihannya. Jika dia melawan, mereka akan lebih mengerikan.


 


 


Sven sering dilempari batu atau kaleng ketika dia berjalan. Ada juga yang memukulnya jika dia tidak mau menurut diperintah untuk melakukan sesuatu.


 


 


Padahal dia bisa melawan mereka, namun dia tidak ingin nama baik ayahnya tercoreng. Sven tahu, para guru juga mendukung anak-anak itu.


 


 


Dia tidak tahu, siapa yang menjadi otak utama dari semua itu.


 


 


Sven tidak berani mengatakan masalahnya di sekolah pada keluarganya. Ada salah seorang temannya yang mengancam.


 


 


"Kalau kau bicara pada keluargamu, maka bukan hanya kau yang mendapat masalah, mereka juga. Jangan berpikir, hanya karena kau anak pengusaha kaya seperti kami, kau juga bisa memiliki tempat yang sama dengan kami."


 


 


Sven tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


 


 


Sven mulai berada di ambang kesabaran. Dia meminta ayahnya untuk dipindahkan saja dari sekolah itu, dengan alasan tidak nyaman. Namun, Adam tidak ingin anaknya pindah dari sekolah tersebut.


 


 


Tidak ada yang bisa dilakukan Sven. Dia hanya menuruti keinginan ayahnya.


 


 


Namun....


 


 


Sikap Sven semakin lama semakin berubah. Dia tidak banyak bicara. Svender berubah jadi anak pendiam. Kadang dia marah kalau ada yang menegurnya, seolah tidak boleh ada yang berbicara padanya.


 


 


Orang yang pertama kali menyadari perubahan pada Sven adalah Sarah Gustiar, ibunya.


 


 


Perubahan sikap Sven disalah artikan oleh keluarganya. Mereka mengira, Sven telah salah bergaul.


 


 


Laki-laki itu sering pulang dalam keadaan mabuk. Adam pernah marah dan menghukumnya. Pria itu mengguyur tubuh anaknya dengan air es dan menuncinya di kamar mandi. Padahal yang sebenarnya, Sven dicekoki oleh teman-temannya. Namun, Sven tidak bilang pada keluarganya.


 


 


Setiap pulang ke rumah, ada saja tingkah Sven yang membuat Adam marah.


 


 


Nilai Sven mulai anjlok. Sven tidak mengerti, padahal dia belajar dengan baik, meskipun banyak masalah yang muncul satu per satu menghampirinya.


 


 


Laki-laki itu sering berkelahi dan membuat keributan di negara orang. Padahal teman-temannya yang memaksanya berkelahi dengan temannya yang lain. Jika dia berhasil memukul lawannya, dia akan dipukul, jika dia tidak berhasil, maka dia akan dipukul dua kali.


 


 


Wali kelas dan kepala sekolah sering memberikan surat panggilan, karena ulah Sven.


 


 


Anehnya, guru dan kepala sekolah menyalahkan dirinya. Mereka memanggil Adam Gustiar untuk datang. Mereka menyalahkan Sven, bahkan menyebutkan, kalau laki-laki berusia 17 tahun itu sudah mengalami gangguan jiwa, karena selalu membuat masalah di sekolah, dan ulahnya itu sudah melebihi batas.


 


 


Ketika dibawa ke psikiater, memang benar, Svender memiliki gejala-gejala gangguan jiwa. Tidak ada yang mengerti, apa yang membuatnya jadi seperti itu. Hanya Sven yang tahu. Dia menyimpannya sendirian.


 


 


Sven tidak terima, dia sangat marah. Dia tidak mengakui dirinya gila, "Kalian mau tahu, gila itu seperti apa? Akan aku tunjukkan seperti apa itu gila."


 


 


Semua itu membuat Sven depresi dan semakin tertutup. Dia tidak ingin mendekati siapa pun. Orang lain juga tidak ada yang mendekatinya.


 


 


Pria itu mulai mengeluarkan sisi tergelapnya. Dia membalasa semua orang yang telah membuatnya terpuruk. Pria itu bergerak cepat dan menghabisi mereka tanpa ampun.


 


 


Tidak ada jejak.


 


 


Dia sangat profesional.


 

__ADS_1


 


Tentu saja, cita-cita pria itu sejak kecil adalah ingin menjadi seorang polisi. Jadi, sedikit banyak, dia mengenal baik seperti apa itu polisi, seperti apa itu penjahat. Dia bisa menjadi penjahat berotak polisi.


 


 


Menakutkan.


 


 


Itu juga merupakan salah satu tanda protesnya pada sang ayah yang menginginkan putranya menjadi seorang pengusaha seperti dirinya. Sehingga dia disekolahkan di sekolah khusus.


 


 


Ketika Sven berada di titik tersulitnya, ada seseorang yang datang padanya, teman SMA-nya sendiri. Perempuan itu berbincang dengannya.


 


 


Seorang gadis cantik dengan rambut coklat dan warna mata biru gelap. Dia sangat menawan dan menyukai Svender. Gadis yang selalu memperhatikan Sven selama di SMA.


 


 


"Sebenarnya... aku sangat sedih melihatmu diperlakukan seperti itu oleh mereka. Tapi, aku perempuan. Aku juga tidak bisa apa-apa. Maafkan aku."


 


 


Sven cukup terkejut sekaligus merasa senang. Setidaknya ada seseorang yang mengakui keberadaannya di SMA. Di antara ratusan orang, mungkin hanya satu orang yang memperhatikannya di kejauhan, gadis itu.


 


 


Sven sering melihat ekspresi sedih dari wajah gadis itu ketika dirinya di perlakukan dengan kurang baik oleh teman-temannya, mungkin beberapa gadis di SMA itu juga kasihan terhadapnya, tapi gadis yang ini berbeda. Sven baru menyadari, jika gadis itu memang memperhatikannya.


 


 


Mereka berdua pun dekat dan menjalin hubungan. Perempuan itu mengetahui sisi gelap Svender. Dia ingin pria itu berhenti menyakiti orang lain. Itu tidak akan mengubah apa pun.


 


 


Namun, Sven tidak mau berhenti. Dia tetap membunuh mereka tanpa ada yang tersisa. Semua yang telah membuatnya menjadi gila telah menemui ajal mereka dengan cepat.


 


 


"Sven, ada seseorang yang ingin menghancurkan keluargamu. Dia tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Makanya di sekolah itu... mereka membulimu." Kata gadis itu.


 


 


"Siapa?" Tanya Sven, "Kamu tahu sesuatu?"


 


 


Gadis itu tampak berpikir. Ada raut ketakutan di wajahnya. Sven mengusap rambut kekasihnya, ingin memberikan ketenangan lewat tangan kekarnya.


 


 


"Katakan saja," kata Sven.


 


 


Gadis itu menggeleng pelan, "Maafkan aku, aku tidak bisa menyebut namanya. Dia akan membunuhku. Semua orang takut padanya. Semua orang tahu seperti apa dirinya. Orang-orang yang kamu bunuh juga tahu, mereka disuruh orang itu."


 


 


Sven mencerna ucapan kekasihnya. Ada rasa curiga yang timbul di hatinya. Dia merasa mengenal orang yang dimaksud. Namun, dia belum mau mengambil kesimpulan.


 


 


Sven menatap wajah kekasihnya, "Bagaimana pun juga, aku akan menemukan penjahat itu. Nasibnya akan sama seperti mereka. Kau tidak perlu khawatir, aku juga akan melindungimu."


 


 


Gadis itu menatap Sven dengan serius, "Orang itu sangat menakutkan. Dia seperti iblis yang terjebak dalam tubuh manusia."


 


 


 


 


Sven tersenyum menyeringai, "Salah mereka sendiri. Mereka telah membangkitkan monster dalam diriku. Mereka bilang aku gangguan jiwa, maka aku akan memperlihatkan, orang yang gangguan jiwa itu seperti apa. Jangan meremehkan orang yang punya gangguan jiwa."


 


 


Gadis itu mendengus pelan, "Tuhan akan menghukum mereka."


 


 


"Tuhan terlalu baik, aku akan membawa karma lebih cepat bagi mereka."


 


 


~


 


 


Keesokan harinya, ketika Sven datang ke rumah gadis itu, dia menemukan kekasihnya sudah tak bernyawa dengan lidah terpotong. Ada gunting di tangan gadis itu. Seolah dirinya yang memotong lidahnya sendiri.


 


 


Pria itu merasa sangat terpukul dan menangisi kepergian kekasihnya. Kemarin dia berjanji akan melindungi gadis itu, namun sebelum dia berkedip, penjahat itu telah menghabisinya.


 


 


Penjahat kejam itu sengaja membuat keadaan kekasihnya seperti itu, seolah dia bunuh diri dengan menggunting lidahnya sendiri.


 


 


Namun, itu adalah kode bagi Sven, gadis itu hampir membocorkan identitas si penjahat. Lidahnya dipotong.


 


 


Sven mengepalkan tangan geram. Dia mencari petunjuk di kamar kekasihnya. Dia menemukan kelopak bunga mawar berwarna hitam.


 


 


Kelopak bunga mawar tersebut dibasahi tinta, oleh karena itu warnanya menjadi hitam.


 


 


Sven memikirkan sesuatu.


 


 


Ada banyak hal yang bergelut dalam kepalanya.


 


 


Sven kembali ke rumahnya. Dia berpapasan dengan Shasha. Gadis itu menyapa Sven.


 


 


"Kakak?"


 


 


Tidak mendapatkan respon, Shasha menyusulnya. Kakaknya tampak sedih sekaligus marah. Itu membuat Shasha cemas.


 


 


"Kak, Kakak kenapa? Kakak baik-baik saja?"


 


 


Sven yang sedang dalam masa sulit itu kesal. Dia mendorong adiknya hingga kepala gadis itu terbentur meja.


 


 


Adam marah. Dia berteriak, "Svender! Kamu adalah anak gagal yang terlahir memiliki gangguan jiwa! Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seperti ini!"

__ADS_1


 


 


Kalimat itu melukai Sven. Hingga pria itu kabur dari rumah. Namun, dia juga kembali dengan diam-diam, lalu kabur lagi.


 


 


Dia pernah melukai dua orang security yang menjaga rumahnya. Itu karena ada barang miliknya yang tertinggal di rumah orang tuanya. Dia gengsi jika harus lewat depan, pada akhirnya dia memilih jalan belakang. Dua security memergokinya dan mengira jika pria itu adalah maling. Terjadi baku hantam, Sven memilih untuk kembali daripada melanjutkan masuk dan mengambil barangnya.


 


 


Dia sangat... sulit dipahami.


 


 


Sven menolak ikut kembali ke Indonesia. Padahal, dia juga diam-diam pulang ke Jakarta dan tinggal di suatu tempat. Dia tidak tahu, sekejam apa pun ayahnya, Adam sangat mengkhawatirkan keadaannya.


 


 


Keluarga Gustiar sudah kewalahan dengan sikapnya yang tidak bisa dimengerti.


 


 


Sven tidak pernah menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Dia sudah mengganti nomor telepon. Pria itu memilih menjalani hidup tanpa terhubung dengan siapa pun.


 


 


Bahkan pria itu tidak hadir ke pernikahan Shasha, padahal Adam sudah susah payah mencarinya lewat orang-orang suruhannya demi memberikan surat undangan.


 


 


Ketika bertemu dengan orang suruhan ayahnya, Sven menanggapi dengan mengatakan sebuah kalimat 'lumrah', "Selamat."


 


 


Cukup, itu saja.


 


 


Beberapa tahun terakhir, Adam dan Sarah tidak bertemu putranya. Mereka sering mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya, kalau pria itu kadang terlihat berada di Indonesia.


 


 


Ada rasa tenang di hati Adam dan Sarah, ketika mengetahui putra mereka baik-baik saja. Itu artinya Svender bisa menjaga dirinya dengan baik, meskipun pria itu terlihat seperti berandalan.


 


 


Sven tidak menunjukkan dirinya di depan Adam dan Sarah. Namun, sesekali pria itu menunjukkan dirinya di depan adiknya, Shasha. Pria itu ingin memastikan, apakah adiknya  bisa mengendalikan emosi dengan baik?


 


 


Sven tahu, kecelakaan itu menjadi awal keruntuhan benteng hidup milik Shasha. Namun, pria itu yakin... Shasha tidak gila. Hanya saja, Shasha berubah dan menjadi sedikit... berbeda.


 


 


Shasha sering menelepon orang tuanya, dia mengatakan kepada kedua orang tuanya setiap habis bertemu dengan Sven. Adam dan Sarah kadang merasa khawatir, mereka takut Sven akan melukai Shasha lagi.


 


 


Namun, Shasha menjelaskannya, kakaknya tidak melakukan apa-apa. Hanya menggertak dan bicara menyebalkan, lalu pergi entah kemana.


 


 


Tanpa diketahui siapa pun, Svender tinggal di sebuah apartemen milik mendiang neneknya. Pria itu sangat dekat dengan sang nenek. Sehingga pria itu tidak kesuliatan hidup selama tinggal sendirian di Indonesia.


 


 


Pria Gustiar yang beruntung, bukan?


 


 


Sampai saat ini, dia masih menyelidiki semuanya sendirian. Tidak ada yang bisa dipercayainya. Tidak ada yang bisa membantunya. Dia akan melakukannya sendirian.


 


 


"Aku akan membukanya."


 


 


Pria itu bolak-balik New York-Jakarta untuk memecahkan kasus ini.


 


 


Muncullah pertanyaan, seperti;


 


 


Darimana dia punya uang? Padahal dia tidak bekerja.


 


 


Ingat neneknya?


 


 


Keluarga Gustiar memiliki kekayaan cukup banyak, apalagi nyonya besar Gustiar. Tidak perlu diragukan lagi.


 


 


Svender adalah orang yang hemat dan tidak pernah menyukai banyak hal. Jadi, dia tidak pernah membeli apa pun, selain perlengkapan mandi dan sesekali untuk makan.


 


 


Ingat ketika dia numpang makan, dan nonton TV di rumah Givar dan Shasha?


 


 


Ya, itulah dia.


 


 


Lalu bagaimana dengan perasaannya?


 


 


Dia hanya mencintai kekasihnya yang sudah meninggal ketika masih bersekolah di SMA. Dia tidak mencintai siapa pun lagi. Tidak ada yang bisa membuka pintu hatinya yang sudah tertutup.


 


 


Meskipun semua orang tahu, kalau dia memiliki gangguan jiwa, buka berarti tidak ada yang menyukainya.


 


 


Banyak sekali wanita yang mengagumi ketampanan pria itu. Namun, Svender bukan pria yang suka bermain wanita. Dia tidak meladeni mereka.


 


 


Sven membeli rumah Barra dan Divya untuk suatu hal. Dia tidak berniat mengganggu rumah tangga adiknya. Pria itu memiliki tujuan tersendiri.


 


 


Amelia yang penasaran sering menanyakan kabar pria itu. Sven menjawabnya dengan santai. Pria itu mengakui kecantikan dan kebaikan Amelia, namun bukan berarti dia juga menyukainya.


 


 


Sven tetap fokus pada tujuan awalnya. Dia juga tahu, Amelia adalah seorang psikolog yang mungkin saja bisa membaca bahasa tubuh. Sven tidak takut. Dia membiarkan gadis itu memperhatikannya.


 


 


~•o•~


 


 


08.58 : 26 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2