GRAPPLE

GRAPPLE
Asylum


__ADS_3

 


 


~•o•~


 


 


_Maafkan mereka. Tuhan saja Maha Pengampun.


 


 


Iya, aku tahu... tapi, aku bukan Tuhan. Aku memiliki perasaan dan aku telah terluka._


(Dendam)


 


 


~•o•~


 


 


Kedua petugas RSJ yang sama datang lagi, setelah tiga hari sebelumnya mereka datang. Sven tidak kunjung membawa Shasha ke RSJ. Jadi, mereka lagi yang harus membawa Shasha.


 


 


Kebetulan ada Sven dan Amelia. Seperti biasa, Givar di kantornya.


 


 


"Aku sudah memastikan... Shaquellin tidak apa-apa," kata Amelia.


 


 


"Kami membawa psikiater."


 


 


Amelia dan Sven saling pandang, sementara Shasha tidak menunjukkan reaksi apa pun. Psikiater perempuan itu melakukan beberapa tes.


 


 


Amelia dan Sven memperhatikan di kejauhan.


 


 


Sven berbisik pada Amelia, "Apa yang dilakukan orang itu? Waktu di New York, psikiater yang menanganiku tidak melakukan itu."


 


 


"Aku juga tidak tahu. Ini bukan bidangku," jawab Amelia dengan berbisik pula.


 


 


Setelah melewati beberapa tes,  psikiater itu mengatakan pada Sven dan Amelia tanpa sepengetahuan Shasha. Dia bilang, Shasha mengalami gangguan jiwa.


 


 


Sven menoleh pada Amelia lalu menoleh pada Shasha yang berada di ruang tengah. Adiknya itu tampak menatap kosong.


 


 


"Seharusnya anda tahu ini. Kenapa psikolog seperti anda berbohong? Meskipun dia keluarga anda, anda tidak bisa seperti ini," ucap psikiater itu pada Amelia.


 


 


Amelia tertunduk.


 


 


"Tampaknya anda terlalu muda untuk menjadi seorang psikolog. Berapa usia anda?"


 


 


Dengan sedikit gugup, Amelia menjawab, "Emm.. 24 tahun."


 


 


Hening.


 


 


"Anda sedang berbohong, ya? Saya juga pernah kuliah di bidang psikologi. Jadi, saya tahu, anda sedang berbohong," kata psikiater itu sembari tersenyum.


 


 


Merasa kesal karena Amelia dipojokkan oleh psikiater itu, Sven bersuara, "Tolong, jaga batasan anda. Meskipun anda psikolog ataupun psikiater, anda tidak berhak menjadi hakim di sini."


 


 


Psikiater itu menarik bibirnya lalu mengangguk malas.


 


 


"Kami harus membawanya ke RSJ Larissa. Kalian tidak perlu khawatir."


 


 


Shasha bingung ketika psikiater itu membawanya.


 


 


"Sven, Amelia... aku gapapa, kan? Kenapa aku dibawa pergi?" Tangis Shasha.


 


 


Sven dan Amelia tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya memandangnya dengan ekspresi sedih.


 


 


Ketika mobil itu pergi, Sven menarik tangan Amelia, "Sebenarnya kamu psikolog, bukan?"


 


 


Amelia terdiam.


 


 


"Kenapa kamu begini?" Tanya Sven. Amelia segera menjawab, "Aku bisa jelasin, tapi gak sekarang."


 


 


Sven mengusap kasar wajahnya sendiri, untung ada rencana B. Maafin aku, Sha. Aku akan bawa kamu keluar dari tempat sialan itu. Aku ingat pas aku masuk RSJ dulu. Aku gak mau kamu mengalaminya.


 


 


"Sven, maafin aku." Amelia menyentuh tangan Sven. Pria itu menghela napas berat.


 


 


"Aku bakalan maafin kamu, kalo kamu mau jujur sama aku. Sekarang ceritakan semuanya."


 


 


"Sven, aku mohon... jangan sekarang."


 


 


Mendengar kabar buruk, Givar segera kembali dari kantor. Dia menemui Amelia dan Sven yang kebetulan masih berada di rumahnya.


 


 


"Sial, siapa yang melaporkan surat keterangan palsu itu?" Gerutu Givar.


 


 


"Maksud lo?" Tanya Amelia.


 


 


"Bukankah kedua petugas RSJ itu bilang, mereka mendapatkan surat keterangan palsu dari Papa Adam tentang kejiwaan Shasha? Jadi, aku penasaran siapa yang udah ngelaporin itu?" Ujar Givar.


 


 


Sven mencerna ucapan Givar. Ada beberapa kemungkinan yang muncul di kepalanya.


 


 


"Apa mungkin... orang yang selama ini mengganggu kalian itu berada di RSJ?" Tanya Amelia.


 


 


Kepala Sven terangkat dan menatap Amelia.


 


 


Amelia melanjutkan kalimatnya, "Teror yang dilakukan oleh orang itu tidak lain ingin membuat kalian gila, kan? Bisa saja dia itu juga gila, namun masih lebih besar dendamnya dibandingkan kejiwaannya. Jadi, dia melakukan teror itu. Agar bisa bertemu Shasha, dia menginginkan Shasha berada di tempat yang sama."


 


 


"Iya, mungkin saja itu benar!" Givar segera berlalu dan menelpon seseorang.


 


 


Hanya ada Sven dan Amelia di ruangan itu.


 


 


"Aku harus melakukan sesuatu secepatnya," ucap Sven kemudian berlalu. Amelia menggengam tangan Sven, "Kamu mau kemana?"


 


 


"Aku harus pergi."


 


 


Amelia menatap punggung Sven yang kian menjauh. Givar yang selesai menelepon kembali menghampiri Amelia.


 


 


Tidak melihat keberadaan Sven, Givar bertanya, "Kemana Sven?"


 


 


"Pergi."


 


 


Givar melihat Amelia yang melamun, "Sven udah tahu tentang itu?"


 


 


Amelia menggeleng, "Setelah dia tahu, dia pasti gak mau deket lagi sama gua. Dia pasti jijik sama gua. Gua gak mau dia pergi. Gua nyaman sama dia."


 

__ADS_1


 


Givar menghela napas berat. Dia mengusap rambut sepupunya, "Sven bukan cowok seperti itu. Dia pasti ngerti sama lo."


 


 


Sementara itu, Sven sedang di rumahnya. Ketika tengah serius menatap layar laptopnya, ada seseorang yang mengetuk pintu. Sven mendengus kesal.


 


 


"Siapa lagi, sih?! Ngapain juga dateng di saat kayak gini?" Gerutu Sven.


 


 


Dengan rasa kesal, Sven menuruni tangga menuju pintu depan.


 


 


Ketika pintu terbuka, tamu itu mendorong kasar dada Sven.


 


 


Adam berdiri di depannya dengan raut marah, "Kenapa kamu membiarkan Shasha masuk RSJ!"


 


 


"Kenapa nyalahin aku? Bukankah itu kesalahan Papa sendiri? Papa yang udah bikin surat keterangan palsu itu, kan?" Tanya Sven setengah menggerutu.


 


 


Adam mendengus, "Lalu siapa yang memberitahu pihak RSJ? Hanya kamu yang tahu soal ini."


 


 


Sven mendengus, "Aku gak tahu."


 


 


Adam tampak berpikir, "Seharusnya pihak RSJ tidak memaksa memasukkan pasien ke RSJ, jika pihak keluarga tidak merelakannya. Ada yang janggal."


 


 


"Aku punya rencana, Pa. Aku yakin, kali ini akan berhasil. Aku akan mendapatkan *** itu."


 


 


~


 


 


Di RSJ, Shasha mendapatkan kamar khusus. Adam dan Sven yang meminta pihak RSJ Larissa untuk memberikan perlakuan khusus pada Shasha.


 


 


Saat ini, Shasha sedang duduk di luar kamarnya. Bersandar pada dinding sembari memeluk lututnya.


 


 


Melihat banyak pasien di RSJ, membuat Shasha merenung. Dia tidak merasa jika dirinya gila. Kenapa dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa seperti ini?


 


 


Tercium aroma maskulin ketika seorang pria melewatinya. Sesuatu jatuh di dekatnya. Sebuah kertas yang terlipat, milik pria itu.


 


 


Shasha segera mengambilnya dan akan mengejar pria itu, namun tanpa berbalik, pria itu memberikan kode dengan tangannya membentuk centang.


 


 


Shasha membuka lipatan kertas tersebut. Ternyata sebuah surat. Apakah pria itu sengaja menjatuhkan surat untuknya?


 


 


Sayang sekali, Shasha tidak sempat melihat wajahnya.


 


 


Akhirnya aku bisa melihatmu di jarak yang dekat.


 


 


Itu isi dari surat yang dibacanya.


 


 


Shasha menautkan alisnya. Jadi, pria barusan adalah orang yang selama ini mengganggunya?


 


 


Baiklah, aku akan melihat kamu di jarak dekat seperti ini.


 


 


Shasha melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku. Shasha menarik napas sejenak dan menghembuskannya dengan perlahan.


 


 


Orang seperti ini tidak jelas statusnya. Ah, tidak! Bukan begitu. Orang ini statusnya jelas. Hanya saja dia bisa keluar masuk sebuah tempat dengan sesukanya.


 


 


~


 


 


 


 


Givar dan Yelma datang mengunjungi Shasha. Kadang Adam dan Sarah yang menemuinya secara bergantian. Amelia juga sering datang, bahkan sehari lebih dari dua kali mengunjungi.


 


 


Lalu bagaimana dengan Sven?


 


 


Shasha belum melihat kedatangan kakaknya. Mungkin pria itu sedang sibuk. Atau mungkin Sven memang sedang merencanakan sesuatu untuk ke depannya.


 


 


Orang misterius itu sering menyelipkan surat melalui celah di bawah pintu kamar Shasha. Itu terjadi hampir setiap hari. Jadi, Shasha akan menemukan surat di bawah celah pintu setiap harinya.


 


 


Shasha tidak merasa takut lagi. Seolah dia sudah kebal. Dia sudah terbiasa dengan teror seperti itu.


 


 


Selain itu, selama di tempat tersebut, Shasha tidak mendapatkan teror berlebihan seperti waktu di rumah.


 


 


Ingin sekali Shasha memergoki orang itu. Terlalu banyak pasien, jadi dia sulit menemukan siapa orangnya.


 


 


Hari ini Shasha bangun pagi dan mencari surat ke bawah celah pintu. Namun, tidak ada surat kali ini.


 


 


Apa orangnya sedang tidak ada di tempat tersebut?


 


 


Sementara itu,


 


 


Adam memarkirkan mobilnya di depan gedung perusahaan miliknya. Dia keluar dan berjalan dengan gontai.


 


 


Seorang pria bertopi dengan pakaian serba hitam, berjalan gontai berlawanan arah dengan Adam. Ketika berpapasan, tiba-tiba orang itu berhenti dan menusuk perutnya.


 


 


Adam terkejut sekaligus merasakan perutnya koyak. Dia mendongkak menatap siapa yang telah menusuknya.


 


 


Bukannya berteriak, Adam menatap orang di depannya dengan ekspresi terkejut. Dia tercekat.


 


 


Tidak hanya sekali, berkali-kali dia menusuk perut Adam. Tindakan santai orang itu tidak membuat orang yang lewat di sekitar sana curiga.


 


 


"Bersyukurlah, aku membuatmu mati cepat. Kesalahanmu akan dibayar oleh kedua anakmu."


 


 


Setelah itu, orang tersebut berlalu pergi meninggalkan Adam yang terluka. Darah segar mengalir ke pelapis tanah pelataran kantor.


 


 


Adam jatuh tertekuk. Beberapa orang yang lewat terkejut melihat darah di sekitar Adam. Mereka segera menghampirinya dan membantu pria paruh baya itu untuk berdiri dan membawanya ke rumah sakit.


 


 


~


 


 


Sven mengambil jaket abu-abu miliknya. Dia akan keluar dari rumah tersebut, namun ada telepon masuk. Pria itu mengurungkan niatnya untuk keluar rumah. Sven mengangkat gagang telepon.


 


 


"Halo?"


 


 


"..."


 


 


"Iya, saya Svender Gustiar."


 


 


"..."


 

__ADS_1


 


Kedua mata Sven membuat. Dia segera melempar gagang telepon dengan sembarangan lalu berlalu keluar.


 


 


Di dalam taksi, Sven tampak khawatir. Dia mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit, kalau ayahnya terluka dan masuk rumah sakit.


 


 


Meskipun Adam kadang-kadang suka bersikap kejam padanya, Adam tetaplah ayah kandung Sven. Dia menyayagi Adam. Apa yang dilakukan Adam selama ini juga bukti kasih sayangnya pada Sven dan Shasha.


 


 


Sesampainya di rumah sakit, Sven mencari ruangan di mana ayahnya berada. Setelah ketemu, dia melihat ibunya dan beberapa anggota keluarga Gustiar berada di depan ruangan tersebut dengan tangisan di wajah mereka.


 


 


Dibukanya pintu ruangan tersebut dengan paksa.


 


 


Sven terbelalak melihat para perawat menutup wajah Adam yang sudah pucat dengan kain putih.


 


 


Sven menggeleng. Dia mendorong para perawat itu.


 


 


"Papa!" Sven menyingkap kembali kain putih tersebut sampai jatuh ke lantai. Kedua matanya membeliak melihat ada beberapa luka tusukan di perut jenazah ayahnya itu.


 


 


Orang sialan itu....


 


 


Para perawat kembali menutup wajah Adam dengan kain putih yang tadi dijatuhkan oleh Sven.


 


 


Tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya.


 


 


Sven keluar dari ruangan itu sembari mengusap air matanya. Dia melihat keadaan sang ibu.


 


 


Sarah berada dalam pelukan adiknya, dia menangis histeris.


 


 


"Tante," panggil Sven. Tantenya Sven mendongkak menatap Sven. Pria itu merengkuh ibunya.


 


 


Sarah menangis dalam pelukan putranya.


 


 


Aku akan membalasnya, Pa. Dia akan menderita. Harus lebih dari ini.


 


 


Sementara itu, tidak ada yang memberitahu Shasha. Dia tidak tahu apa pun. Tidak tahu, kalau ayahnya sudah tiada.


 


 


Di hari itu, tidak ada yang mengunjunginya. Karena semua orang sedang berduka dengan kepergian Tuan besar Gustiar.


 


 


Entah kenapa, hari ini Shasha merasa cemas. Seperti ada sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba khawatir begitu.


 


 


Ketika semua orang di luar sana berada di pemakaman, Shasha yang sendirian memilih duduk di kamarnya. Dia menekuk lutut sembari melamun.


 


 


Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Ada seseorang di luar. Shasha melangkah untuk menemui orang itu. Dibukanya pintu tersebut, ternyata seorang pasien wanita dengan rambut acak-acakan memberikan sebuah surat pada Shasha.


 


 


"Siapa yang memberikannya padamu?" Tanya Shasha.


 


 


"Orang tampan." Setelah mengucapkan itu, pasien tersebut berlalu.


 


 


Shasha membuka surat tersebut.


 


 


Shaquellin, aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Salah seorang anggota keluargamu telah pergi...


 


 


Sejenak Shasha berhenti membaca surat itu. Dia menatap lurus ke depan. Perasaannya mulai tidak enak. Apakah itu alasan, kenapa tidak ada orang yang datang menjenguknya hari ini?


 


 


Jantungnya mulai berdegup kencang, dia tidak ingin melanjutkan membaca surat yang cukup panjang itu. Tampaknya isinya adalah hal yang buruk.


 


 


Dengan sedikit keberanian dan segunung rasa penasaran, Shasha kembali membacanya.


 


 


Ayahmu, Adam Hermano Gustiar telah pergi hari ini.


 


 


Shasha menyentuh dadanya ketika merasa ada godam yang menghantam jantungnya. Tidak ada yang bisa menghentikan buliran bening dari pelupuk matanya. Shasha menangis dengan napas tertahan. Air mata itu terus berjatuhan membasahi kertas yang dipegangnya.


 


 


Jangan menyalahkan aku. Haha, tidak perlu sedih. Dia sudah tua dan memang pantas mati. Aku hanya mempercepat waktunya saja.


 


 


Kedua tangan Shasha gemetar ketika memegang kertas itu. Dia jatuh tertekuk ke lantai.


 


 


Apa kamu marah padaku?


Terserah...


Oh ya, secepatnya ku aku akan menemui kamu. Kita akan bertemu, Shaque. Hanya menunggu waktu yang tepat.


 


 


Aku akan menunjukkan wajahku dan mengakui perbuatanku padamu.


 


 


Someone


 


 


 


 


Shasha merobek kertas itu dan membuangnya ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya. Kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahunya?


 


 


Dia putri dari ayahnya. Kenapa dia tidak diberitahu? Dia juga harus hadir di pemakaman ayahnya.


 


 


Shasha berkali-kali memukul lantai tanpa memperdulikan rasa sakit akibat kelakuannya sendiri.


 


 


Shasha bergumam sendiri, "Papa... maafin Shasha, Pa."


 


 


Merasakan kehadiran seseorang, Shasha menoleh. Ada orang yang berlalu dari balik pintu. Shasha segera bangkit dan mencari orang itu.


 


 


Sembari mengusap air matanya, Shasha mengejar pria yang dicurigainya. Merasa dalam masalah, pria itu mempercepat larinya.


 


 


Ada banyak pasien di sana. Pria itu menubruk mereka semua. Dia sampai di lantai dua di mana kamarnya berada.


 


 


Ketika akan membuka pintu kamar, tangan putih dan lembut itu menyentuh bahunya.


 


 


Sedikit terhenyak, dia berbalik. Kedua matanya membulat sempurna melihat Shasha di depannya.


 


 


"Se-sejak kapan lo di sini?!" Teriak pria itu panik.


 


 


"Kamu orangnya?"


 


 


"A-apa maksud lo, hah?"


 


 


"Mengaku, atau kamu akan tahu... seperti apa orang gila memperlihatkan sifat aslinya yang tersembunyi."


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


11.15 : 29 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2