GRAPPLE

GRAPPLE
Hate It


__ADS_3

~•o•~


 


 


_Membenci dan dibenci itu sama saja. Sama-sama membuat kalian dalam ketidaknyamanan._


 


 


~•o•~


 


 


Shasha terbangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya terlelap dalam pangkuan Yelma yang juga tertidur. TV menyala tanpa ada yang menonton. Shasha mengambil remote lalu mematikannya.


 


 


Ada bantal sofa. Shasha membawanya dan menidurkan kepala Yelma dengan hati-hati di sofa.


 


 


Tenggorokannya terasa kering. Dia ingin meminum sesuatu. Shasha berlalu ke dapur. Dibukanya lemari es. Sebotol soda adalah pilihannya. Diteguknya sampai tinggal setengah botol.


 


 


Ketika mau ke ruang tengah, Shasha mendengar suara seseorang memanggilnya.


 


 


"Shaquellin."


 


 


Langkah Shasha terhenti. Diedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dapur.


 


 


Siapa yang memanggilnya? Tidak ada siapa pun di rumah itu, kecuali Shasha dan Yelma.


 


 


"Si-siapa?" Tanya Shasha mencoba untuk memberanikan diri.


 


 


"Sha, kamu mau nikah sama aku, kan?"


 


 


Kedua mata Shasha membulat. Itu adalah suara Refandi. Pria itu pernah mengatakan kalimat tersebut tiga tahun yang lalu.


 


 


Shasha mengingatnya, dan sekarang dia mendengarnya lagi.


 


 


"Aku ingin kita menikah dan hidup bahagia."


 


 


Shasha mulai merinding. Keringat dingin mengalir dari dahinya.


 


 


"Iya, aku mau. Kita akan menikah dan hidup bahagia." Itu suara Shasha. Dia ingat pernah mengatakan itu.


 


 


Tiba-tiba suaranya Refandi berubah berat dan menyeramkan, "Lalu kenapa kamu menikah dengan pria lain?!!"


 


 


Shasha terlonjak. Dia mencari asal suara itu. Shasha yakin, suara tersebut berasal dari rekaman yang sengaja dipasang dan diputar oleh seseorang di dapur rumahnya.


 


 


"Kenapa kamu tidak ikut mati denganku waktu itu?!"


 


 


"Diam!" Shasha mulai berteriak. Dia tidak tahan mendengar suara itu. Semua barang di dapur di lempar dan obrak-abrik. Dia ingin menemukan rekaman sialan itu.


 


 


"Aku akan datang dan membawamu ke neraka! Kita akan hidup bersama di sana!"


 


 


"Tidak! Kamu sudah mati! Diam! Jangan ganggu aku!"


 


 


Beberapa cangkir dan mangkuk berjatuhan ke lantai dan pecah. Suara itu masih terdengar dan mengeluarkan kalimat bernada ancaman.


 


 


Shasha berteriak histeris, "Berhenti! diam!"


 


 


Mendengar suara keributan, Yelma mencari menantunya ke dapur. Dia terkejut melihat Shasha yang mengamuk.


 


 


"Sayang, sudah jangan di lemparkan..." Yelma berupaya menghentikan Shasha.


 


 


"Dia mau aku gila! Dia mau aku mati!" Shasha berusaha melepaskan diri dari Yelma. Tidak ada yang bisa dilakukan Yelma.


 


 


Shasha menendang kursi lantai hingga terlempar. Dia menemukan alat pemutar rekaman itu di sana. Shasha mengambilnya kemudian melempar dan menghancurkannya.


 


 


Melihat Shasha semakin mengamuk, Yelma menelepon putranya.


 


 


"Halo, Ma?"


 


 


"Givar! Shasha mengamuk!"


 


 


Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Yelma mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak.


 


 


Shasha lunglai lemas dan jatuh terduduk di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya. Yelma memeluk Shasha dengan penuh kehangatan.


 


 


"Shasha salah apa, Ma? Kenapa mereka ngelakuin ini ke Shasha?" Tangisan Shasha semakin pecah.


 


 


Yelma tidak tahu harus bilang apa. Dia mengusap rambut Shasha yang basah karena keringat.


 


 


Tak lama kemudian, Givar dan Juan datang. Mereka memasuki rumah dengan ekspresi penuh kecemasan.


 


 


Kedua pria itu melihat Shasha yang tenang dalam pelukan Yelma.


 


 


Juan menghela napas berat, "Kamu harus pindah rumah, sekarang juga. Ini demi keamanan kalian."


 


 


Givar terdiam sejenak kemudian mengangguk setuju.


 


 


Kemudian,


 


 


Givar dan Shasha pindah ke rumah yang lebih aman. Ada banyak bodyguard dan penjaga kompleks.


 


 


Setelah mengamuk, Shasha tidak banyak bicara. Dia terus melamun dan terkadang tiba-tiba menangis.


 


 


Givar menenangkan istrinya dengan penuh kesabaran. Dia sudah menghubungi Amelia, namun wanita itu masih di rumah pasiennya.


 


 


Amelia akan datang ke rumah baru Givar dan Shasha lusa nanti. Sementara Sven entah di mana. Pria itu tidak bilang mau kemana. Tahu-tahu dia sudah tidak ada.


 


 


"Aku benci ini," gumam Shasha. Givar menoleh pada istrinya, "Kenapa, Sayang?"


 


 


Shasha menatap suaminya dengan kedua mata yang sudah sembab karena terlalu lama menangis.


 


 


"Aku benci ini... aku sudah lelah."


 


 


Givar memeluk Shasha, "Ada aku."


 


 


"Aku lelah... aku benci mereka...."


 


 


"Mereka akan segera mendapatkan hukuman. Kamu hanya perlu bersabar, Sayang."


 


 


Givar menidurkan Shasha dan menyelimutinya.


 


 


"Tidur, ya." Givar mengecup kening Shasha dengan lembut.


 


 


"Aku gak bisa tidur."


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Tadi aku tidur siang."


 


 


Givar tersenyum dia memiliki ide, "Sekarang kamu tutup mata..."


 

__ADS_1


 


Shasha menurut,


 


 


"... kamu bayangin ada dua belas telur ayam. Kamu memasak semuanya berbarengan. Dimulai dengan memecahkan telur itu satu persatu dan meletakkannya ke dalam wadah kaca. Kamu mengaduknya lalu memasukkannya ke dalam minyak panas..."


 


 


Shasha menguap.


 


 


"... lalu kamu melihat ada koran. Kamu membaca tulisannya yang kecil... lalu kamu merasa lelah dan mengantuk, kamu akhirnya tertidur."


 


 


Givar melihat Shasha sudah tertidur dengan napas teratur.


 


 


Givar tersenyum dan membatin, ide Amelia memang bagus. Terima kasih telah mengajariku untuk menceritakan ini pada Shasha agar cepat tidur.


 


 


Ketika Givar akan berlalu, tangan lembut itu meraih tangan kekarnya. Givar menoleh pada Shasha yang ternyata belum sepenuhnya tertidur.


 


 


"Aku kira, kamu udah tidur tadi," kata Givar.


 


 


"Aku melupakan sesuatu," ujar Shasha dengan ekspresi panik.


 


 


Givar mengernyit dan menatap istrinya dengan serius, "Melupakan apa?"


 


 


"Telurnya belum diangkat, pasti gosong." Ucapan polos Shasha hampir membuat Givar tertawa. Namun, pria itu mati-matian menahan tawa.


 


 


"Emmhh, kalo gitu... kamu tutup mata lagi."


 


 


Seperti anak kecil, Shasha menurut, dia menutup kedua matanya sesuai perintah.


 


 


"Karena kamu lupa, kamu mengangkat telur yang sudah matang itu dan memakannya."


 


 


Tanpa sadar, Shasha mengunyah dengan kedua mata yang masih tertutup.


 


 


Givar terkekeh pelan, "Karena kekenyangan, kamu mengantuk dan mulai tidur."


 


 


Shasha sudah tidur.


 


 


Istri kecilku ini cepat sekali tertidur, ucap Givar dalam hati.


 


 


Dia berlalu keluar dari kamar dan menelepon seseorang.


 


 


"Zed, apa kamu sudah menemukan sesuatu di alat pemutar rekaman itu?" Tanya Givar.


 


 


Di seberang sana, Zed sedang memperhatikan anak buahnya yang tengah memeriksa rekaman yang sudah rusak itu karena di hancurkan Shasha.


 


 


Zed menjawab, "Sepertinya ini akan sedikit membutuhkan waktu, Tuan."


 


 


"Baiklah, jika menemukan sesuatu, kabari aku."


 


 


"Baik!"


 


 


Givar mengakhiri panggilannya.


 


 


Pria itu merasa heran, kenapa ada orang yang bisa masuk ke rumahnya? Siapa yang bisa menyusup tanpa ketahuan? Padahal dia tidak memiliki pembantu atau pun tukang kebun yang bisa dicurigai.


 


 


Tetangganya juga tidak ada yang mencurigakan.


 


 


Namun, Givar terlalu lelah memikirkan itu. Jadi, dia memilih berhenti memikirkannya sesaat saja.


 


 


~


 


 


 


 


"Ah, di rumah baru ini tidak ada bahan makanan lain. Hanya nasi goreng yang bisa aku masak untuk sarapan."


 


 


Shasha menuruni tangga dan menghampiri Givar. Dia memeluk tubuh Givar dari belakang.


 


 


"Sini, biar aku aja." Shasha mengambil alih pekerjaan Givar.  Dia mengaduk nasi gorengnya.


 


 


"Sayang, aku jadi mau makan telur," ujar Shasha.


 


 


"Telur? Emm... ada gak, ya, di kulkas."


 


 


"Iya, gara-gara semalam kamu ceritain tentang telur, aku jadi mau telur."


 


 


Givar terkekeh. Dia berjalan menuju lemari es dan membukanya. Beruntung sekali, ada lima telur di sana.


 


 


"Lihat, Sayang. Kulkas kita isinya cuma telur sama minuman soda." Givar membuka lebar pintu lemari es tersebut.


 


 


Shasha menoleh kemudian tertawa, "Kita harus mengisinya."


 


 


Givar mengangguk. Dia merasa sedikit tenang melihat kembali senyuman Shasha yang sempat hilang kemarin.


 


 


Shasha memasak telur dadar. Hanya bermodalkan telur, tidak ada bawang atau rempah lainnya. Setidaknya garam dan penyedap rasa saja sudah cukup untuk merangsang lidah.


 


 


Givar dan Shasha sarapan bersama.


 


 


Baru beberapa suap, Shasha merasa mual. Dia bergegas ke kamar mandi. Givar merasa khawatir karena Shasha tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


 


 


Berkali-kali dia mengetuk pintu, jawaban Shasha selalu sama, "Sebentar... aku baik-baik aja, kok."


 


 


Setelah beberapa menit di kamar mandi, Shasha keluar. Givar mengusap rambut istrinya.


 


 


"Kamu gapapa?"


 


 


"Nasi gorengnya gak enak. Rasanya perutku tidak mau diisi dengan nasi goreng itu," gerutu Shasha.


 


 


Givar merasa bingung, padahal nasi gorengnya lumayan enak, ya meskipun tidak ada sayur dan rempah, namun masih terasa normal ketika di makan.


 


 


"Ya udah, aku pesen makanan aja, ya. Biar nanti mereka nganterin ke sini," kata Givar.


 


 


Shasha melihat Givar yang sedang menelpon. Kemudian dia duduk kembali di kursi.


 


 


"Sebentar lagi makanannya dateng," kata Givar kemudian duduk juga.


 


 


Tiba-tiba Givar teringat akan sesuatu, "Apa mungkin kamu lagi hamil?"


 


 


Shasha terkejut, namun dia juga terlihat mengharapkan itu benar-benar terjadi.


 


 


Ketika pengantar makanan tiba, keduanya langsung menyantapnya. Setelah itu, Givar membawa Shasha ke rumah sakit.


 


 


Shasha diperiksa oleh dokter kandungan.


 


 


Sementara Givar berdiri di ruang tunggu. Dia terus berdiri sejak awak datang. Tampaknya dia tidak ingin duduk.


 


 


Ada sepasang suami istri yang melewatinya. Terlihat si istri sedang mengandung, ditandai dengan perutnya yang buncit. Mereka terlihat begitu romantis.


 

__ADS_1


 


Givar tersenyum. Dia membayangkan Shasha dan dirinya juga seperti itu.


 


 


Ketika dokter kandungan yang memeriksa Shasha keluar dari ruangan, Givar segera menghampirinya.


 


 


"Bagaimana, Dokter?"


 


 


"Nyonya Hardiswara hanya kelelahan dan masuk angin."


 


 


Raut kekecewaan tercetak jelas di wajah Givar. Namun, dia berusaha tersenyum.


 


 


"Terima kasih, Dok."


 


 


Givar membawa Shasha kembali ke rumah.


 


 


"Maaf," kata Shasha. Givar yang menyetir menoleh sesaat pada istrinya.


 


 


"Kenapa minta maaf, Sayang?"


 


 


"Aku sedih lihat kamu udah seneng mengira aku hamil. Tapi...."


 


 


Givar menarik tubuh istrinya agar terlelap ke dadanya. Pria itu mengusap rambut Shasha dengan lembut.


 


 


"Sayang, aku gapapa, kok. Yang penting kamu baik-baik aja, aku udah seneng."


 


 


Shasha menghela napas berat, dia tahu... Givar kecewa, tapi pria itu menutupinya. Shasha juga kecewa, dia ingin sekali memiliki anak.


 


 


"Jadi, kita harus bekerja keras agar segera memiliki anak. Sehari empat kali, bagaimana?" Pertanyaan mesum Givar membuat Shasha mendongkak menatapnya.


 


 


"Kamu ini, ya... suka banget nyari kesempatan," gerutu Shasha sambil mencubit perut Givar.


 


 


"Eh, sakit... aku lagi nyetir, nih." Givar meringis kesakitan.


 


 


Shasha terkekeh.


 


 


Givar memilih tidak berangkat kerja. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Tidak ada yang menarik di rumah baru mereka. Rumah yang besar dan hanya ada sedikit barang-barang di setiap ruangannya. Jadi, Givar dan Shasha pergi untuk membeli barang-barang baru untuk rumah baru.


 


 


Sementara itu, sebuah taksi berhenti di depan rumah Sven. Pria itu kembali ke rumahnya dengan ransel.


 


 


Setelah membayar sopir, dia melangkah untuk masuk. Ketika melangkah, pandangannya tertuju pada rumah Givar dan Shasha yang gelap gulita. Menandakan tidak ada siapa pun di rumah itu.


 


 


Sven sudah mendapatkan kabar dari Givar, kalau mereka sudah pindah rumah.


 


 


Sven memasuki rumahnya dan menyalakan semua lampu. Tidak ada perubahan sedikit pun di rumahnya sejak dia pergi. Itu artinya, tidak ada seseorang yang masuk.


 


 


Sven juga tidak mencium jejak apa pun di rumahnya.


 


 


Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu mengambil ponselnya dan mengotak-atik benda persegi itu.


 


 


Namun, ketika asyik dengan ponselnya, Sven mendengar suara dari kolam di belakang rumah Shasha. Dia melepaskan jaketnya dan menyimpan ponselnya ke meja.


 


 


"Ada orang di rumah itu," gumam Sven.


 


 


Benar saja, ada beberapa orang di rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya siang kemarin. Sekitar 5 orang di dalam sana.


 


 


Mereka berbisik-bisik sembari meletakkan beberapa Mawar berwarna hitam ke berbagai tempat.


 


 


"Memangnya pemilik rumah akan datang kemari?"


 


 


"Tidak tahu, kita hanya perlu melakukan apa yang disuruh oleh Bos."


 


 


Salah seorang datang menghampiri lima orang itu, "Aku sudah mengurus kolamnya."


 


 


"Bagus, kita tinggal menunggu besok... mereka pasti akan kembali untuk membawa barang-barang yang belum diangkut."


 


 


Mendengar suara langkah kaki, orang-orang itu berlalu memasuki ruang rahasia di bawah foto besar pernikahan Givar dan Shasha.


 


 


Sven berdiri di ambang pintu, padahal sedari tadi dia memperhatikan mereka.


 


 


Ada ruangan rahasia, ya? Pantas saja mereka mudah sekali mengirim teror. Bagaimana bisa ada ruangan rahasia di bawah tanah? Berarti orang itu sudah merencanakannya sebelum rumah Givar dibangun.


 


 


Sven tersenyum dingin sembari memiringkan kepalanya, bagaimana bisa dia mengirimkan orang-orang bodoh ke kandang macan? Padahal orang terbaiknya banyak.


 


 


~


 


 


Hari mulai pagi....


 


 


Di dalam ruang bawah tanah, keenam orang itu sudah bangun.


 


 


"Semalam itu suara siapa, ya?" Bisik salah satu dari mereka.


 


 


"Aku tidak tahu."


 


 


"Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat."


 


 


"Aku juga."


 


 


"Apakah suami istri itu akan kembali?"


 


 


"Entahlah."


 


 


Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Mereka masih betah berada di ruangan itu selama 2 jam sejak mereka bangun.


 


 


"Sepertinya dua orang itu tidak akan datang. Kita keluar saja, aku sudah merasa pengap berada di ruangan ini."


 


 


Setelah mendapatkan anggukkan dari anggota lain, pria itu mengambil kunci dari saku celananya. Sebelum membuka pintu rahasia, dia mengintip lewat lubang kunci.


 


 


Kedua matanya terbelalak melihat keberadaan Sven di depan sana. Dia duduk di kursi dan menatap tajam ke arah ruangan rahasia. Belum lagi, dia memegang pisau berkarat yang di gerak-gerakkan di telapak tangannya.


 


 


Orang yang mengintip itu menelan saliva kemudian menoleh pada teman-temannya.


 


 


"Ada orang di luar," bisiknya.


 


 


"Siapa?"


 


 


"Anaknya Adam Gustiar. Dia membawa pisau."


 


 


Yang lainnya terkejut. Mereka mulai khawatir.


 


 


Sven tersenyum sembari bergumam pelan, "Oksigen di ruangan itu semakin menipis. Satu per satu dari kalian akan keluar dan aku akan memberikan kejutan."


 


 


~•o•~


 


 


18.26 : 28 Oktober 2019

__ADS_1


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2