GRAPPLE

GRAPPLE
Be Mine


__ADS_3

 


 


Tampak sepasang kekasih tengah saling menatap satu sama lain dibawah gemerlapnya bintang. Keduanya sedang berada di balkon hotel. Mereka adalah Givar dan Aarletha.


 


 


"Kamu cape? Pekerjaan hari ini menumpuk, ya?" Tanya Aarletha sembari mengusap lembut wajah kekasihnya itu. Givar tersenyum sembari menggeleng.


 


 


"Aku gak cape, kok."


 


 


Aarletha menatap bibir Givar. Menyadari tatapan nakal dari kekasihnya, Givar tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya. Aarletha menyentuh bahu pria itu. Mereka berciuman.


 


 


Langit Kyoto menjadi saksi bisu ciuman itu.


 


 


Angin berhembus masuk lewat pintu balkon yang terbuka, mengintip apa yang sedang dilakukan oleh dua manusia itu.


 


 


"Kalo kamu cape, gak usah diterusin," kata Aarletha.


 


 


"Sudah begini... pacarku nakal sekali."


 


 


Aarletha tertawa kecil.


 


 


"Aku tidak cape kalo begini."


 


 


"Mesum."


 


 


"Aarly, apa kau hanya mau menggodaku saja? Tidak mau melakukannya?"


 


 


"Emmmhhh."


 


 


Tiba-tiba Givar jatuh tersungkur dari tempat tidur. Shasha yang tidur di sampingnya mendadak terbangun, karena terkejut mendengar suara gaduh.


 


 


Wanita itu mengucek matanya sembari menoleh pada suaminya di lantai. Givar meringis sambil mengusap dahinya.


 


 


"Kamu kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Shasha sambil membantu suaminya bangun.


 


 


Pria itu menghela napas panjang. Dia teringat dengan mimpi barusan. Itu bukan hanya sekedar mimpi... yang barusan itu pernah terjadi di masa lalu.


 


 


Shasha menyentuh bahu Givar, "Kamu baik-baik aja?"


 


 


Pria itu menatap istrinya, "Aku..."


 


 


Shasha menunggu kelanjutan kalimat Givar yang terpotong. Namun, pria itu malah menatap bibir Shasha yang sedikit terbuka. Lagi-lagi istrinya itu mau menggoda dirinya.


 


 


Mimpi barusan membuat libido-nya meningkat. Pria itu menarik dagu Shasha dengan telunjuknya. Dia melumat bibir Shasha dengan penuh penuntutan.


 


 


Shasha menutup matanya karena tidak ingin bertatapan ketika berciuman seperti itu. Dia memeluk leher Givar.


 


 


Merasa mendapatkan kesempatan, Givar memperdalam ciumannya. Kini tangan pria itu tidak ragu lagi menyentuh titik sensitif di tubuh istrinya.


 


 


Shasha melenguh pelan karena sentuhan itu. Dia tidak pernah melakukannya, tubuhnya merinding mendapatkan sentuhan seperti itu.


 


 


Givar menjatuhkan tubuh Shasha agar terlentang di bawah kukungkungannya.


 


 


"Aku mencintaimu, Shaquellin. Aku sangat mencintaimu."


 


 


Shasha menatap Givar dengan ekspresi sendu, "Aku juga mencintaimu, Givarel."


 


 


Pria itu tersenyum bahagia. Dia memeluk Shasha.


 


 


"Be mine."


 


 


Wanita itu sedikit keberatan, karena Givar menindihnya. Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sayu Shasha yang berada di bawahnya.


 


 


Sial, ekspresi Shasha membuat Givar semakin gila dan semakin menginginkannya.


 


 


Pria itu menurunkan gaun tidur yang dipakai Shasha. Kedua pipi wanita itu memerah.


 


 


"Boleh aku melakukannya?" Tanya Givar. Shasha menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mengangguk pelan.


 


 


Givar tersenyum geli karena tingkah polos istrinya. Tangan Givar melanjutkan menurunkan gaun Shasha. Namun, sebelum Givar berhasil melepaskan gaun istrinya, ponsel miliknya bergetar di atas nakas.


 


 


Di posisi seperti itu, Givar dan Shasha menoleh ke sumber suara.


 


 


Pria itu terpaksa melepaskan Shasha kemudian melihat nama sekretarisnya di layar. Setengah menggerutu, pria itu mengangkat panggilannya.


 


 


Shasha memperhatikan suaminya.


 


 


"Kenapa menggangguku di saat seperti ini?" Gerutu Givar.


 


 


Helieen yang berada di seberang sana bersuara, "Maaf Tuan, tapi hari ini ada rapat dengan para klien."


 


 


Shasha membenarkan kembali pakaiannya. Namun, Givar memberikan kode, agar istrinya jangan membenarkan gaunnya.


 


 


Pria itu seolah berkata, 'Jangan dipakai dulu, kita akan melanjutkannya lagi.'


 


 


Shasha hanya memasang ekspresi polos.


 


 


"Tuan? Apa ini masih tersambung?" Tanya Helieen. Givar mendengus kesal, "Sebentar lagi."


 


 


"Tapi, Tuan... ini sudah jam 9."


 


 


"Apa?!"


 


 


Tanpa ba-bi-bu, Givar sudah sampai di kantornya. Dia memasang dasinya dengan asal-asalan. Helieen berjalan cepat menyusul langkah Givar yang panjang.


 


 


Pria itu menarik knop pintu dan memasuki ruang rapat. Ada beberapa orang di sana, mereka semua adalah klien. Aarletha dan Felix Donovan juga berada di sana.


 


 


"Selamat pagi. Maaf, sedikit terlambat..."


 


 

__ADS_1


Perhatian semua orang di ruangan itu terpusat pada dasi Givar.


 


 


Pria itu membenarkan kembali dasinya, walaupun itu tidak berpengaruh banyak.


 


 


Selesai rapat, Givar masih berusaha membenarkan dasinya. Aarletha yang melihat itu merasa kasihan. Dia mendekat dan melepaskan dasi dari kemeja Givar.


 


 


Pria itu terkejut dan menatap Aarletha.


 


 


"Dari dulu tidak bisa memasang dasi dengan benar, gimana cara kamu memegang perusahaan?" Tanya Aarletha lembut.


 


 


Givar melihat berbagai tatapan dari beberapa karyawannya yang lewat.


 


 


"Cepat Aarly, mereka akan berpikir yang bukan-bukan," gerutu Givar. Aarletha menatap Givar, "Ternyata kamu masih mengingat panggilan sayangmu padaku."


 


 


Aarletha selesai memasangkan dasinya, wanita itu menepuk dada Givar. Pria itu membenarkan jasnya.


 


 


"Terima kasih," ucap Givar kemudian berlalu. Aarletha menatap punggung Givar, "Hanya ucapan terima kasih? Bagaimana jika makan siang sebagai imbalan?"


 


 


Langkah Givar terhenti.


 


 


~


 


 


Di restoran,


 


 


Givar dan Aarletha duduk berhadapan. Mereka berdua tengah menikmati hidangan makan siang di tempat tersebut.


 


 


"Sekali-kali, pertemukan aku sama istri kamu," kata Aarletha. Givar meminum jusnya kemudian menoleh pada Aarletha, "Untuk apa?"


 


 


"Tentu saja berkenalan, memangnya apa lagi," gerutu wanita itu. Givar tampak berpikir, "Tidak perlu."


 


 


"Tenang aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain dia, kok. Lagian kamu juga tahu... aku bukan orang jahat."


 


 


"Lain kali saja," kata Givar. Aarletha mengangguk.


 


 


Di saat mereka asyik menyantap hidangan, seseorang menghampiri mereka berdua.


 


 


"Wah, halo."


 


 


Kedua orang itu menoleh. Ternyata Felix.


 


 


"Tuan Donovan?" Sapa Aarletha. Givar menoleh pada pria tinggi itu.


 


 


Felix tersenyum, "Kalian makan di luar tanpa aku? Nona Aarletha, anda pilih kasih. Kenapa tidak mengajakku juga? Tuan Hardiswara, anda tega meninggalkanku yang sedang kelaparan."


 


 


Givar hanya tersenyum menanggapi candaan Felix.


 


 


Aarletha terkekeh kecil, "Tadi aku tidak melihat anda. Jadi, aku mengajak Tuan Hardiswara saja. Silakan duduk, aku akan memesankan makanan."


 


 


Felix duduk sambil menggeleng, "Tidak, tidak. Aku akan memanggil pelayan."


 


 


 


 


Aarletha mengangguk, "Aku rasa itu benar. Rapat akan lebih santai dan tidak membuat sakit kepala."


 


 


Givar terkekeh sembari menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


Felix kembali bersuara, "Besok aku harus pulang ke New York untuk beberapa minggu. Ada banyak pekerjaan di kantor pusat. Padahal aku sudah nyaman tinggal di Indonesia."


 


 


"Wah, bukankah di Amerika juga nyaman?" Tanya Aarletha. Felix terkekeh, "Begitulah. Anda tidak pernah ke sana?"


 


 


Aarletha melirik Givar, "Seseorang pernah mengajakku ke sana, tapi itu tidak jadi... karena suatu alasan."


 


 


Felix melirik Givar yang tampak membeku.


 


 


"Ah, kalau anda mau, aku bisa mengajak anda." Felix menawarkan ajakan.


 


 


Aarletha tersenyum, "Dengan senang hati, tapi mungkin tidak sekarang."


 


 


Makanan pesanan Felix telah tiba, "Akhirnya."


 


 


"Oh ya, kudengar anda memiliki sekolah di sana," kata Aarletha. Felix mengangguk, "Ayah yang menyuruhku untuk mengurusnya. Itu adalah sekolah yang dibangun dengan kerja keras ayahku sebelum memiliki perusahaan properti."


 


 


Aarletha berdecak kagum, "Pasti sangat berharga bagi anda."


 


 


Givar merasa bosan dengan pembicaraan itu.


 


 


Selesai dengan makan siang, Givar kembali ke kantornya. Dia menghela napas panjang, "Untuk apa juga Aarly bicara seperti itu di depan Felix sambil melihatku. Pria itu pasti berpikir yang bukan-bukan tentangku."


 


 


Givar menyadarkan punggung dengan nyaman ke kursi kebesarannya. Kedua kakinya diletakkan di atas meja. Kedua matanya terpejam menikmati sejuknya pendingin ruangan.


 


 


Pria itu teringat pada istrinya. Pagi ini dia hampir mendapatkan Shasha. Jika saja Helieen, sekretaris andalan papanya itu tidak menelepon, mungkin semuanya terasa indah.


 


 


"Akan lebih bagus, jika aku tidak memiliki sekretaris."


 


 


Givar tersenyum mengingat ekspresi wajah Shasha. Dia merasa senang, karena Shasha telah mengizinkannya. Membiarkan dirinya menyentuh wanita itu, wanita yang merupakan haknya. Mulai sekarang, dia tidak akan merasa canggung lagi untuk melakukannya.


 


 


"****, kenapa aku memikirkannya terus? Aku ingin cepat-cepat pulang dan melanjutkan yang tadi." Givar melihat jam tangannya.


 


 


"Masih lama," gumamnya.


 


 


~


 


 


Jam menunjukkan pukul 5 sore. Shasha sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya.


 


 


Tepat waktu, Givar kembali. Pria itu memeluk Shasha dari belakang. Dia mengecup leher istrinya. Wanita itu tersenyum tanpa mau menghentikan aktivitasnya.


 


 


"Kamu seharian ini sendirian di rumah?" Tanya Givar. Shasha mengangguk, "Udah beberapa hari ini, Sven sama Amelia gak dateng. Aku gak tahu, mereka kemana."


 


 

__ADS_1


"Sven gak keliatan keluar dari rumahnya?" Tanya Givar.


 


 


Shasha menggeleng, "Kayaknya dia lagi punya masalah. Kalo dia gak nunjukin diri, itu artinya dia gak mau ketemu orang. Dia gak suka kalo ada orang yang ikut campur sama urusannya."


 


 


"Gimana kalo dia gak makan sejak beberapa hari yang lalu?" Tanya Givar. Shasha tampak berpikir, "Aku akan ngaterin makanan ke rumahnya."


 


 


Setelah menyajikan semua masakannya ke meja, Shasha langsung memisahkan sebagian makanan ke dalam wadah. Dia akan mengantarkan makanan itu ke rumah Sven.


 


 


"Kamu makan aja dulu," kata Givar sembari mengunyah makanannya. Shasha tersenyum, "Kamu lanjutin aja. Nanti aku balik lagi."


 


 


Wanita itu berlalu ke rumah Sven. Dia menekan bel pintu rumah tersebut. Tapi, belnya tidak berbunyi.


 


 


"Mungkin belnya sudah rusak," gumam Shasha. Dia mengetuk pintunya. Tapi, tidak ada jawaban.


 


 


Sekali lagi mengetuk pintu, tetap tidak ada jawaban. Wanita itu memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci.


 


 


Shasha melihat ke dalam. Ruangannya gelap. Cahaya lampu dari halaman depan menerobos masuk ke dalam. Shasha melangkah dan mencari stop kontak. Tangannya mengapai-gapai ke dinding.


 


 


Ketemu! Shasha menekannya.


 


 


Lampu di ruangan itu menyala. Merasa silau, Shasha menutup wajahnya.


 


 


Setelah menyesuaikan diri dengan cahaya di ruangan itu, Shasha mengernyit. Tampaklah ruangan kotor tak terawat. Terlihat seperti kapal pecah. Terakhir kali Shasha ke rumah itu waktu masih ditinggali Barra dan Divya. Tapi, waktu itu pemandangannya tidak seperti ini.


 


 


Divya orang yang telaten dan sensitif apabila melihat sedikit debu, dia selalu merawat rumahnya agar terlihat bersih dan rapi.


 


 


Sekarang, ini terlihat sebaliknya. Sven benar-benar jorok. Apa dia tidak pernah sekali pun membersihkan rumah tersebut?


 


 


Shasha mendongkak melihat ke lantai dua.


 


 


Mungkin Sven di sana, ucap Shasha dalam hati.


 


 


Wanita itu menaiki tangga dan mencari kakaknya ke setiap ruangan di lantai dua. Dia melihat salah satu pintu yang sedikit terbuka. Shasha melihat ke dalam ruangan yang gelap itu.


 


 


Tidak, bukan gelap, di dalam ruangan ada lampu belajar. Ada Sven di sana sedang duduk dan melakukan sesuatu. Pria itu membelakangi pintu. Shasha menyipitkan matanya untuk melihat jelas apa yang sedang dilakukan pria itu.


 


 


Shasha memilih untuk masuk. Dia melihat banyak foto bertebaran di lantai. Merasa penasaran, wanita itu mengambil salah satunya.


 


 


Kedua matanya terbelalak. Dalam foto tersebut terdapat tubuh lemah yang memiliki banyak sekali luka bakar. Itu adalah foto insiden kecelakaan 3 tahun lalu, yang membuat Refandi, kekasihnya, meninggal dunia.


 


 


Itu foto Refandi.


 


 


Tangan Shasha yang memegang foto itu gemetar. Air matanya menetes, wanita itu menangis dalam diam. Shasha menyalakan lampu di ruangan itu.


 


 


Sven terkejut, dia menoleh. Pria itu baru menyadari keberadaan adiknya di sana dengan wajah dipenuhi oleh air mata.


 


 


Shasha melihat foto-foto Refandi di meja dan sebagian lagi di tangan Sven.


 


 


"Ja-jadi... kamu yang membunuh Refandi?" Tanya Shasha dengan suara bergetar. Sven menggeleng, "Tidak, gua bisa jelasin yang sebenernya."


 


 


Shasha melemparkan makanan yang dia bawa ke lantai sampai-sampai isinya berhamburan keluar. Wanita itu mendorong dada Sven dengan penuh kemarahan.


 


 


"Kenapa lo lakuin ini ke gua! Lo marah sama gua cuma karena papa sama mama lebih sayang sama gua, iya?!" Shasha berteriak di depan wajah kakaknya.


 


 


"Bukan gua yang bunuh. Tapi, orang lain." Sven tidak terima jika adiknya menyalahkan dirinya.


 


 


"Psikopat gila! Papa sama mama benci sama lo, karena sikap lo sendiri! Kenapa lo malah hancurin masa depan gua dengan membunuh tunangan gua?!" Teriak Shasha sembari memukuli dada Sven.


 


 


Pria itu menahan kedua tangan adiknya, "Gua akan jelasin, tapi gak sekarang. Ini lagi mendesak! Pembunuhnya sedang bersembunyi!"


 


 


"Udah jelas pembunuhnya lo! Lo ngebunuh Refandi! Dia gak pernah berbuat salah sama lo! Harusnya lo bunuh gua, kalo lo benci sama gua!" Bentak Shasha.


 


 


"Shaque! Dengerin gua dulu!" Bentak Sven. Shasha terdiam di sela isak tangisnya.


 


 


"Gua gak bunuh Refandi. Sejahat apa pun gua, gak mungkin gua nyakitin adek gua sendiri sampe segitunya. Gua janji, gua akan menyeret pembunuh itu ke depan lo," kata Sven.


 


 


Shasha menangis. Sven mengusap rambut adiknya kemudian memberikan pelukan hangat.


 


 


Setelah sekian lama, Shasha bisa merasakan kembali pelukan hangat kakaknya. Tanpa mereka sadari, Givar berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang tidak terbaca.


 


 


Pria itu kembali ke rumah, dia berjalan melewati bingkai besar pernikahannya dengan Shasha.


 


 


Apa dia mendengar pembicaraan kedua orang itu?


 


 


Iya.


 


 


Lalu bagaimana perasaannya?Entahlah, yang pasti Givar kecewa, karena Shasha masih memikirkan tunangannya, meskipun pria itu sudah tidak ada di dunia ini.


 


 


Givar merasa cemburu.


 


 


Kenapa Shasha bisa jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria itu? Apa yang membuat pria itu begitu berharga bagi Shasha?


 


 


Bukankah Givar lebih berharga? Dia adalah sahabat Shasha sejak kecil. Shasha lebih dulu mengenal Givarel dibandingkan Refandi.


 


 


Ungkapan cinta Shasha dan Givarel pagi ini tidak ada artinya, jika hati Shasha masih untuk Refandi.


 


 


Givar membanting pintu kamar. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


 


 


"Seharusnya aku tidak memilih kamu, kalo kamu gak milih aku. I'm here for you... Just for you.."


 


 


~•o•~


 


 


_Apa kau akan memutuskan untuk menyerah? Sayang sekali jika iya._


 


 


~•o•~


 


 


12.20 : 25 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2