
~•o•~
_Tidak ada kehidupan tanpa perjuangan. Jika ingin berhenti berjuang\, ya berarti mati._
~•o•~
⚠⚠⚠🔞🔞🔞⚠⚠⚠
Givar dan Shasha telah kembali ke rumah mereka. Setelah makan malam di restoran bersama Sven dan Amelia, keduanya langsung pulang.
Shasha melepaskan blazer putih miliknya. Dia meletakkannya ke sofa. Karena merasa gerah, Shasha langsung mandi dan berganti pakaian.
Givar mengambil kopi botolan dari lemari es dan meminumnya, "Aaahhh, akhirnya... aku bisa bernapas lega juga."
Pria itu berlalu ke kamar dan mendengar suara aliran air dari kamar mandi, menandakan istrinya sedang mandi.
Givar membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. Dia duduk di tepi ranjang kemudian menyalakan laptop. Merasa masih gerah, Givar melepaskan tiga kancing teratasnya.
Shasha keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi melilit di tubuhnya. Melihat suaminya fokus pada layar laptop, Shasha cemberut. Dia duduk di depan cermin dan mengoleskan produk kecantikannya dengan telaten.
Ruangan itu dipenuhi aroma wewangian. Sekilas Givar menoleh pada istrinya. Kemudian dia kembali fokus ke laptop.
Shasha melompat ke tempat tidur membuat ranjangnya berguncang. Givar sedikit terkejut dan menoleh.
"Kamu kenapa?" Tanya Givar sembari menyentuh dadanya karena terkejut.
"Gapapa... aku mau ngagetin kamu ajaaa," ujar Shasha sembari tersenyum jahil.
Givar hanya memutar bola matanya kemudian kembali fokus ke laptop.
Shasha cemberut lagi. Dia memeluk Givar dari belakang dan menyimpan dagunya di bahu pria itu. Givar mengecup singkat pipi istrinya.
"Kamu ngapain, sih?" Shica bertanya dengan nada menggerutu.
"Ini pekerjaan kantor yang belum selesai."
"Ngapain, sih, pekerjaan kantor dibawa ke rumah. Waktu buat Shasha mana?" Tanya Shasha dengan manjanya.
Givar tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya, "Kamu lagi nakal, ya?"
"Biarin."
Sunyi.
Hanya ketikan pada keyboard yang terdengar di kamar itu.
"Aku dapet kabar dari Aarletha," ucap Shasha. Givar menjawab dengan bergumam, "Hemm?"
"Dia sedang mengandung anak pertamanya." Shasha mengguncangkan tubuh suaminya.
Givar tidak bergeming. Dia menjawab, "Ya, bagus."
"Kita kapan?" Tanya Shasha dengan polosnya.
Givar tertawa, "Maunya kapan?"
"Ya... maunya cepetan." Shasha menggerutu pelan.
"Aku juga," ujar Givar.
Shasha menggembungkan pipinya, aku juga, aku juga. Tapi, istri cantik gak dilirik. Fokus aja terus ke laptop, sekalian nikah sama laptop dan punya anak kalkulator. Aarrgghh!
Shasha tampak berpikir. Ide jahil muncul di kepalanya. Dia menarik wajah Givar dan mengecup bibir suaminya itu. Givar meresponnya sebentar.
Tidak sampai di situ, dengan nakal, Shasha menyentuh dada suaminya. Tangan lembut Shasha membuat Givar mulai kesulitan berkonsentrasi. Berkali-kali dia menelan saliva.
"Bikin anak sekarang juga," bisik Shasha yang terdengar seperti sebuah ancaman yang lembut.
Givar yang tidak punya pertahanan mulai on. Dia menyentuh tangan istrinya yang membelai dada bidang miliknya.
"Kamu pengen banget aku bangun, ya?"
Shasha berbisik lirih, "Aku pengen cepetan punya baby."
Givar berbalik dan memeluk istrinya dengan erat. Dia melahap bibir Shasha. Mereka berciuman dengan panasnya.
Desahan nakal lolos dari bibir masing-masing. Shasha memeluk tengkuk suaminya dengan erat. Givar memeluk pinggang ramping istrinya.
Tiba-tiba Givar melepaskan ciumannya yang membuat Shasha kecewa.
"Sebentar, aku harus mandi dulu. Aku bau," kata Givar.
Shasha menahan suaminya dan malah duduk di pangkuan pria itu agar tidak kemana-mana.
"Gak usah mandi, kelamaan." Shasha menarik kemeja suaminya yang sudah kusut.
"Tapi, aku ini bau. Memangnya kamu mau ciuman sama orang yang bau?" Tanya Givar sembari menyatukan hidung mancung mereka.
Shasha menangkup wajah Givar, "Biarin, yang penting ganteng."
Givar menyeringai lalu kembali melahap bibir istrinya. Pria itu menyentuh area sensitif di tubuh Shasha dengan lembut. Shasha menggelinjang dia melepaskan jubah mandinya membiarkan Givar leluasa merasakan tubuhnya.
Givar meloloskan jubah mandi Shasha. Dia bisa melihat dengan jelas tubuh polos Shasha dibawah sinar lampu kamar yang sangat terang.
Shasha mulai kehabisan oksigen. Dia ingin melepaskan tautan bibir mereka. Namun, Givar malah memperdalam ciumannya dan melepaskan kemejanya.
Merasa kasihan, akhirnya Givar melepaskan ciumannya dan memberikan waktu istrinya untuk bernapas.
Wajah Shasha memerah dengan napas tersengal-sengal. Givar memiringkan wajahnya dan kembali mendekat.
Namun, Shasha menahan dadanya. Dia belum siap dan belum puas menghirup udara. Givar tidak peduli. Dia mendekatkan wajahnya lagi.
Shasha menutup mulut Givar, "Eeuuhhh, sebentar...."
Givar menyingkirkan tangan istrinya, "Siapa suruh menggodaku. Dasar anak nakal."
Givar melumat bibir Shasha lagi. Kedua mata Shasha membulat. Dia harus melayani suaminya, itu karena keinginannya sendiri. Dia jadi terjebak dengan ulahnya sendiri.
__ADS_1
Kulit tubuh mereka bergesekan secara langsung, membuat tubuh segar Shasha yang baru saja diguyur air itu kembali memanas.
Kecupan Givar semakin turun ke leher Shasha. Dia menyesap leher Shasha seperti vampire yang kehausan darah. Dia membuat tanda miliknya di sana.
Shasha melenguh, "Sayang...."
Givar juga membuat tanda kepemilikannya di dada Shasha. Dia menghentikan aksinya sesaat. Givar menurunkan resleting celananya dan mengambil haknya.
Shasha meringis tertahan ketika mereka bersatu. Givar menyesuaikan dirinya sebentar. Meskipun itu bukan yang pertama, Shasha masih belum terbiasa menerimanya. Apalagi belakangan ini mereka tidak melakukannya mengingat banyak masalah yang datang.
Shasha menahan napas ketika perutnya terasa penuh. Givar mengusap rambut istrinya. Shasha menggigit bagian bawah bibirnya. Givar mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan pada wajah istrinya untuk memberikan ketenangan.
"Are you okay?" Tanya Givar. Shasha mengangguk pelan.
Givar memulai ritmenya setelah merasakan Shasha mulai tenang.
Perbuatan suaminya itu membuat Shasha merasa melayang dan membawa akal sehatnya berlari. Shasha *** sprei putih itu sampai berantakan.
"Eeummhh... Sayang... hhhh." Shasha mendesah tertahan.
"Panggil namaku, hheeeh..." ucap Givar di sela ciumannya.
"Eeumnhh... Givar..."
"Eemmhhh, panggil namaku lagi," desah Givar.
Shasha *** rambut Givar, "Bumantara Givarel... aku mencintaimu!"
Givar tertawa.
Shasha mendapatkan surganya, dia menggapai bantal. Namun, tangan Givar meraihnya dan meletakkan kedua tangan Shasha agar memeluk lehernya.
Givar mendekat membuat dahi mereka bersentuhan, "Aku mencintaimu Shaquellin Adisilla Hardiswara... Eeummhh kamu milikku!"
~
Paginya, Givar yang menyiapkan roti dan selai untuk sarapan. Pria itu tidak tega membangunkan istrinya yang kelelahan karena perbuatannya semalam. Dia tidak hanya melakukannya sekali. Beruntung Shasha tidak protes. Meskipun Shasha sempat mengeluh karena lelah.
Namun, Givar sangat pandai membuat Shasha kembali menginginkannya.
Shasha menuruni tangga menuju dapur. Givar menoleh padanya. Pria itu tersenyum melihat ada banyak tanda kemerahan di leher istrinya.
"Kenapa tersenyum?" Gerutu Shasha. Givar duduk lalu mengoleskan selai ke rotinya, "Lucu aja lihat kamu."
"Aku keliatan kayak korban penyiksaan, ya?" Tanya Shasha ketus. Givar tertawa kemudian menyantap rotinya.
Shasha duduk berhadapan dengan suaminya. Dia mengoleskan selai ke roti sambil menggerutu.
"Lagian mana ada aku nyiksa kamu, Sayang? Semalam kamu yang mulai duluan ngerjain aku," ucap Givar.
Shasha memutar bola matanya, "Heemmm...."
"Lagian bukan penyiksaan namanya kalo kamu menikmati perbuatan aku."
Mendengar ucapan suaminya, kedua pipi Shasha memanas dan langsung merah.
Melihat perubahan wajah Shasha, Givar tertawa lepas.
Shasha terkekeh.
"Oh ya, hari ini... kamu mau ikut ke kantor?" Tanya Givar.
"Males, ah. Lagian aku mau ngapain di sana. Aku bosen duduk teruuuss."
"Terus kamu mau di rumah? Sven gak di rumahnya, Amelia juga lagi si rumah pasiennya. Aku khawatir sama kamu."
"Gapapa, lagian ada banyak tetangga. Aku bisa main ke rumah Stella."
Givar mengangguk.
Sebelum pergi ke kantor, dia mengantarkan Shasha ke rumah Verald dan Gween.
Shasha bermain bersama Stella. Sepasang suami istri itu sedang memperhatikan Shasha yang sedang bermain dengan anak mereka.
"Keluarga mereka selalu dalam masalah, apa tidak apa-apa membiarkannya dekat dengan Stella?" Tanya Verald yang terdengar begitu khawatir.
Gween tersenyum, "Itu masalah keluarga mereka. Shasha hanya ingin bermain dengan Stella. Selain itu, tidak masalah jika mereka main di rumah kita."
Verald menghela napas panjang lalu mengangguk.
Setelah jam menunjukkan pukul 1 siang, Shasha kembali ke rumahnya. Dia merasa bosan dan memilih duduk di sofa untuk menonton TV.
Tapi, Shasha tidak kunjung menemukan remote. Dia mencari kesana kemari.
Tidak ada.
Pandangan Shasha tertuju pada amplop berwarna coklat pudar yang dia temukan di bawah meja. Karena penasaran, Shasha mengambilnya.
Dibuka amplop itu untuk melihat isinya. Shasha terbelalak dan melemparkan amplop yang berisikan foto-foto itu hingga berhamburan ke lantai.
Itu adalah foto kenangannya bersama Refandi. Foto tiga tahun lalu ketika Refandi masih hidup. Foto-foto itu menunjukkan senyuman bahagia dari wajah Shasha maupun Refandi.
Shasha menangis tertahan.
Dia sudah melupakan kenangan indah yang beruba menyedihkan itu. Dia sudah melupakan Refandi. Sekarang cintanya hanya untuk Givarel, suaminya.
Kenapa foto itu datang?
Siapa yang mengirimkannya?
Kenapa ada orang yang membencinya tanpa alasan? Kenapa orang itu ingin membuatnya menderita?
Ada ujung kertas berwarna putih yang menyembul dari dalam amplop itu. Shasha menyeka air matanya. Dia mengambil kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah surat.
Sha? Apa kabar?
Aku ingin menemuimu, aku merindukanmu. Apa kita bisa bertemu di tempat biasa?
Refandi
__ADS_1
Kedua mata Shasha membulat. Ini seperti prank yang tidak lucu sama sekali. Shasha benci mendapatkan surat palsu ini. Seseorang ingin memainkan perasaannya.
Namun, tulisannya terlihat asli. Seolah-olah itu sungguhan tulisan tangan Refandi. Shasha tahu betul tulisan kekasihnya itu.
Namun, bagaimana bisa Refandi menulis surat? Pria itu sudah meninggal.
Shasha melihat bayangan di lantai yang mendekat. Ada seseorang di belakangnya. Wanita itu membelalak dan berbalik, ternyata Givar.
Shasha menyentuh dadanya karena takut dan terkejut. Sementara Givar bingung melihat foto-foto itu di lantai.
Shasha segera bersuara dan menjelaskan, "Amplop itu ada di bawah meja. Aku beneran gak tahu."
Givar mengambil surat dari tangan istrinya. Dibaca surat tersebut dengan kedua alis bertautan. Shasha mulai cemas, dia takut... takut bila suaminya marah.
"Memangnya orang mati bisa hidup kembali dan menuliskan surat ini?" Gumam Givar setengah menggeram karena menahan marah.
Shasha menunduk takut. Melihat ekspresi ketakutan dari wajah istrinya, Givar segera mengubah ekspresinya dan mengusap rambut Shasha dengan lembut.
"Aku gak marah sama kamu, kok, Sayang."
Shasha memeluk Givar sembari menangis tersedu-sedu, "Aku takut... kenapa masih ada yang mengganggu? Bukankah Felix sudah di penjara?"
Aku juga ragu, sepertinya ini bukan perbuatan Felix. Lalu siapa, ya? Aarrgghh, Svender! Kau di mana? Batin Givar.
Keesokan harinya, Givar sedikit ragu jika harus meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
Dia menelepon ibunya untuk menemani Shasha. Tentu saja Yelma bersedia, meskipun harus meninggalkan tugasnya di kantor.
Shasha tidak merasa takut lagi. Dia merasa senang ada mama mertuanya di rumah. Mereka berbincang-bincang.
Yelma menceritakan banyak hal tentang Givar selama di Indonesia, ketika Shasha di New York waktu SMA.
Shasha sampai tertidur mendengar cerita Yelma. Yelma mengusap rambut Shasha yang melelapkan kepalanya di pangkuan Yelma.
"Kenapa kamu harus mengalami semua ini, nak? Apa salah kamu?" Gumam Yelma yang merasa sedih. Dia menyeka air matanya.
Yelma dan Juan sangat menyayangi Shasha, seolah dia adalah putri kandung mereka.
~
Sementara itu, di kantor.
Helieen sedang membacakan agenda harian. Givar yang duduk di kursi kebesarannya sama sekali tidak mendengarkan sekretarisnya. Dia tidak fokus dan terus-menerus memikirkan keadaan Shasha di rumah.
Givar benar-benar khawatir, padahal ada Yelma di rumahnya.
"Tuan? Tuan Hardiswara?" Tegur Helieen. Givar menoleh, "Heh?"
Helieen memutar bola matanya, "Saya sudah dua kali membacanya, lagi-lagi Tuan tidak mendengarkan."
Givar mengusap kasar rambutnya, "Maaf, agenda hari ini ditunda dulu aja. Saya sedang tidak ingin melakukan apa-apa."
Mulut Helieen menganga mendengar kata bosnya.
"Kamu boleh kembali."
Helieen menghela napas berat kemudian berlalu dengan ekspresi lelah.
Givar menelepon ibunya.
"Givar?"
"Kalian baik-baik aja?" Tanya Givar.
"Iya, memangnya kenapa, Var?"
"Aku khawatir aja. Shasha lagi apa?"
"Shasha tertidur, tadi abis ngomong-ngomong sama Mama."
"Makasih, Ma."
"Iya, Sayang. Kamu fokus kerja aja. Biar Mama yang jagain Shasha."
Givar bisa menghela napas lega. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
Pintu dibuka dari luar. Givar menoleh, ternyata Juan.
"Papa?" Givar membenarkan posisi duduknya. Juan duduk berhadapan dengan putranya.
"Padahal, Papa tinggal nelpon aku dan nyuruh aku ke kantor Papa, kalo ada urusan mendadak."
"Ini juga kantorku," kata Juan sarkas. Givar terkekeh, "Benar juga, ya."
"Papa udah dapetin beberapa informasi baru," kata Juan. Givar terkejut, "Beneran, Pa? Papa juga nyelidikin ini? Waaahhh, makin sayang sama Papa."
Mendengar ucapan manja putranya, Juan menggeleng malas.
"Gimana jadinya, Pa?"
"Banyak orang yang tidak suka sama Adam. Itu karena sikap Adam sendiri yang... selalu mengutamakan kepentingannya sendiri. Jadi, bukan hanya Felix Donovan yang punya masalah dengannya. Ada banyak orang di luar sana. Bisa saja salah satunya itu berniat menjatuhkan Adam dimulai dari anak-anaknya."
Givar mencerna ucapan Juan. Apa yang dikatakan Juan sangat mirip dengan apa yang diucapkan Zed. Namun, itu bertolak belakang dengan pendapat Sven.
Givar merasa kepalanya terbelah dua memikirkan itu semua. Memenjarakan Felix tidak mengubah apa pun. Mungkinkah itu bukan Felix, melainkan orang lain?
"Kamu pindah rumah aja. Papa akan mengurusnya."
Tidak ada pilihan lain.
Givar mengangguk.
Ponsel Givar bergetar, ada panggilan dari Yelma.
"Halo, Ma?"
"Givar! Shasha mengamuk!"
~•o•~
__ADS_1
18.14 : 27 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah