GRAPPLE

GRAPPLE
Surprise


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Ada banyak cara orang menunjukkan rasa sayangnya. Sekarang giliran kamu\, apa kamu peka?_


 


 


~•o•~


 


 


Givarel sudah pulang dari kantor. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Dia memasuki rumahnya dan melihat Amelia sedang duduk dengan ekspresi khawatir.


 


 


"Mel? Lo kenapa?" Tanya Givar. Melihat kedatangan sepupunya, Amelia bangkit dan menghampiri Givarel.


 


 


"Gua takut keadaan Shasha memburuk. Tadi... Sven datang ke sini."


 


 


Givar terbelalak kaget mendengarnya.


 


 


Amelia menunjukkan lantai yang sedikit lecet, karena tadi Sven melemparkan vas bunga hingga pecah. Gadis itu menceritakan semuanya pada Givar.


 


 


Pria itu mengepalkan tangannya geram. Dia menaiki tangga untuk mencari istrinya, memastikan wanita itu baik-baik saja.


 


 


Pintu kamar terkunci dari dalam. Givar mulai panik, dia mencemaskan keadaan Shasha di dalam. Dia harus mencari kunci cadangan dulu untuk bisa masuk.


 


 


Setelah ketemu, pria itu langsung membuka pintu dan melihat istrinya. Amelia juga ikut masuk.


 


 


Shasha tertidur dengan kepala terlelap ke sisi ranjang, sementara tubuhnya duduk di lantai.


 


 


Amelia menghela napas berat. Givar mengangkat tubuh Shasha dan menidurkannya ke ranjang. Shasha terbangun dan menatap suaminya. Namun, wanita itu kembali menutup matanya.


 


 


Givar terkekeh kecil melihat istrinya yang bisa tidur dengan cepat. Dia mengusap anak rambut yang menghalangi wajah cantik Shasha.


 


 


Givar menoleh pada Amelia, "Kita harus bicara."


 


 


Di ruang tengah, Givar dan Amelia tampak bicara dengan serius.


 


 


"Kayaknya, Shasha punya kepribadian ganda," kata Givar.


 


 


Amelia menggeleng, "Tidak, orang yang punya kepribadian ganda itu dua kepribadiannya tidak bisa bertemu."


 


 


Givar mengernyit, "Maksudnya?"


 


 


Amelia menjelaskannya dengan baik, "Misalnya seseorang memiliki dua kepribadian. Sebut saja kepribadian A dan kepribadian B dalam satu tubuh. Ketika si orang itu sedang dalam kepribadian A, dia tidak ingat kalau dia punya kepribadian B, begitupun sebaliknya. Sementara Shasha... itu lebih ke dia punya kepribadian yang tersembunyi. Dia menyembunyikan sisi lainnya."


 


 


Givar mencerna ucapan Amelia.


 


 


"Ah, kalo lo masih bingung, coba cari di google penjelasan yang lebih rincinya," ujar Amelia.


 


 


Givar menghela napas panjang, "Tadinya gua mau ngasih kejutan ke Shasha, tapi dia malah tidur."


 


 


"Mood-nya pasti kurang baik hari ini," ujar Amelia. Givar mengangguk.


 


 


"Apa yang terjadi sama kakaknya Shasha? Kenapa dia... emm..." Amelia tidak melanjutkan kata-katanya.


 


 


Givar menghela napas panjang, "Gua juga gak tahu, tapi... mereka bilang, Sven itu sudah gila. Bahkan... keluarganya sendiri menganggapnya psikopat. Pria itu tidak segan melukai orang, tanpa merasa bersalah sedikit pun."


 


 


Amelia bergidik ngeri, lalu bertanya, "Kenapa tidak dibawa ke psikiater?"


 


 


"Sama seperti Shasha, Sven suka mengamuk. Namun, menurut psikiater, Shasha masih bisa membaik melalui konsultasi dengan psikolog, makanya gua minta batuan sama lo," jawab Givar.


 


 


Amelia mengangguk mengerti.


 


 


"Keluarga Gustiar sudah berkali-kali membawa Sven ke psikiater, namun itu tidak membuatnya sembuh. Orang itu memang aneh," ujar Givar.


 


 


"Kayaknya harus tahu dulu, akar permasalahannya seperti apa. Contohnya... apa yang membuatnya berubah seperti itu, dan sejak kapan," gumam Amelia.


 


 


"Biarin, lah. Lagian Sven kayaknya gak mau sembuh, lo fokus ke Shasha aja."


 


 


Amelia mengangguk.


 


 


Hening.


 


 


Shasha menunjukkan sebuah foto dari ponselnya pada Givar. Pria itu melihatnya. Terlihat Amelia bersama seorang pria tampan. Dalam foto itu, mereka tampak bahagia.


 


 


"Var, minggu depan gua tunangan. Kalian berdua hadir, ya," ucap Amelia dengan ekspresi ceria.


 


 


Givar terkejut, "Serius?"


 


 


Amelia mengangguk cepat dengan kedua pipi merona merah. Givar tersenyum bahagia untuk sepupunya.


 


 


"Kenapa gak langsung nikah aja?" Tanya Givar. Amelia tampak berpikir, "Gua masih pengen bebas."


 


 


Givar mengangguk mengerti.


 


 


Amelia pamit pulang. Sementara Givar memasuki kamarnya melihat Shasha yang masih tertidur. Pria itu melepaskan dasi dan jasnya kemudian menyimpannya ke punggung kursi.


 


 


Givar merebahkan tubuhnya di samping Shasha dan tak lama kemudian, napasnya mulai teratur, menandakan dia sudah tertidur.


 


 


Perlahan kedua mata Shasha terbuka. Dia bangkit dan melihat suaminya yang tertidur cepat.


 


 


Dia pasti lelah, maaf tidak menyambutmu ketika pulang. Aku tidak mau kamu khawatir melihat mood-ku, batin Shasha.


 


 


Wanita itu berlalu dan mulai memasak. Dia menyajikan makanan ke meja.


 


 


"Bangunkan, jangan? Hemm... nanti dia juga bangun sendiri, kok."


 


 


Sementara itu, Givar yang sudah bangun terkejut tidak melihat keberadaan istrinya. Dia berlalu mencari istrinya sambil melepaskan tiga kancing teratasnya karena cuaca yang panas membuatnya cukup gerah.


 


 


"Sha? Snowy? Sayang?" Kedengarannya Givar seperti memanggil tiga orang perempuan.


 


 


Pria itu tidak kunjung menemukan istrinya di ruangan mana pun.


 


 


Memasuki dapur, pria itu melihat banyak makanan di meja.


 


 


Shasha baru masak, ini masih anget. Kayaknya dia belum lama pergi, batin Givar layaknya seorang detektif.


 


 


Pria itu melanjutkan mencari istrinya.


 


 


"Rumah ini kecil, tapi gua gak nemuin Shasha di mana pun. Sha?!" Givar terus-menerus memanggil istrinya.


 


 


Pria itu keluar lewat pintu belakang. Dia melihat Shasha sedang bermain dengan kedua kelincinya. Kelinci-kelinci itu tampak senang dan bebas berlarian di atas rerumputan hijau.


 


 


Mereka tidak akan bisa kabur, karena sekeliling halaman belakang dibenteng tinggi. Shasha belum menyadari keberadaan suaminya yang sedang melangkah mendekat.


 


 


"Sayang?" Panggil Givar. Shasha menoleh menatap suaminya. Tatapan Shasha tertuju pada dada Givar yang sedikit mengintip dari balik kemejanya.


 


 


Menyadari tatapan polos istrinya, Givar melihat ke dadanya sendiri. Bukannya menutupi, pria itu malah mengibaskan kemejanya.


 


 


"Aaahhh, geraaaahh." Pria itu mendesah pelan.


 


 


Shasha menaikkan sebelah alisnya kemudian memasukkan kedua kelincinya ke kandang.


 


 


Merasa tidak diperhatikan istrinya, Givar cemberut. Pria itu mendekati Shasha.


 


 


"Kamu udah makan?" Tanya Givar. Shasha menggeleng. Pria itu menggandeng tangan istrinya memasuki dapur.


 


 


"Kenapa kamu gak makan duluan aja?" Tanya Givar. Shasha menggeleng, "Kamu lagi tidur, aku gak mungkin makan sendirian."


 


 


Givar tersenyum, Shasha benar-benar seorang istri yang begitu menghormati dirinya sebagai suami.


 


 


Mereka pun makan bersama. Ada hal yang membuat Givar merasa janggal dengan sikap istrinya. Wanita itu tidak menunjukkan senyum dan wajah ceria seperti anak kecil lagi. Wanita itu tampak lebih dingin dan serius.


 


 


Itu mengingatkan Givar pada Shasha di masa lalu. Namun, sejujurnya Givar lebih menyukai Shasha yang penuh semangat dan seperti anak kecil.


 


 


Mungkin suasana hatinya memburuk karena Sven. Ngapain juga tuh orang datang ke sini, batin Givar.


 


 


"Sayang, aku mau ngajakin kamu makan malam di luar. Kamu mau, kan?" Tanya Givar mencoba memecah kecanggungan.


 


 


Shasha hanya mengangguk sambil menyuapkan makanannya.


 


 


Givar tersenyum sendu.


 


 


~


 


 

__ADS_1


Shasha memasuki kamar mandi. Wanita itu mengunci pintu kamar mandi kemudian menyalakan shower. Tubuhnya terasa lebih segar ketika air itu membasahinya.


 


 


Selesai mandi, wanita itu mengambil jubah mandinya, namun jubah berwarna merah muda itu basah. Shasha mengernyit heran, karena sebelumnya dia mengenakan handuk. Jadi, mana mungkin jubah mandinya bisa basah.


 


 


Apalagi basahnya seperti dicelupkan ke dalam bak air.


 


 


Tidak mau banyak berpikir, Shasha memilih mengambil handuk putih dan melilitkannya ke tubuh. Wanita itu keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sedang mengancingkan kemeja.


 


 


Shasha sedikit canggung, apalagi sekarang pria itu sedang melihat ke arahnya lewat pantulan cermin.


 


 


Shasha berjalan sambil merapatkan pahanya. Melihat tingkah istrinya, Givar hanya tersenyum sembari menggeleng pelan.


 


 


"Aku nunggu di mobil," ucap Givar sembari keluar dari kamar.


 


 


Shasha menghela napas panjang.


 


 


Jam menunjukkan pukul 6 malam,


 


 


Shasha sudah rapi dengan gaun putih yang cantik dan begitu pas di tubuhnya. Dia bersama Givar yang memakai kemeja putih serta jeans hitam memasuki sebuah restoran.


 


 


Mereka memesan makanan, Givar tidak melihat perubahan ekspresi dari wajah Shasha. Istrinya itu tetap dingin dan diam.


 


 


Givar ingin sekali bertanya, "Sha, kamu baik-baik aja?"


 


 


Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Tak lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang.


 


 


Keduanya menyantap makan malam tersebut.


 


 


Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil laki-laki menghampiri Shasha dan menarik-narik gaunnya.


 


 


Wanita itu menoleh pada anak laki-laki yang entah dari mana datangnya.


 


 


"Halo?" Tanya Shasha sembari tersenyum manis pada anak itu. Dengan lucunya, anak itu menentangkan kedua tangannya. Shasha mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukkannya ke pangkuan Shasha.


 


 


Givar tersenyum bahagia melihat senyuman Shasha yang sempat surut hari ini.


 


 


"Nama kamu siapa, Sayang?" Tanya Shasha. Dengan semangat, anak laki-laki itu menjawab, "Kyiev Antoniel Hardiswara."


 


 


Shasha menoleh pada Givar yang menganggukkan kepala. Shasha tersenyum semangat.


 


 


"Umur kamu berapa tahun, Sayang?" Tanya Shasha lagi.


 


 


"Lima," jawab Kyiev sambil menunjukkan lima jari tangan kanannya. Shasha terkekeh geli.


 


 


Di perjalanan pulang, Shasha tampak senang. Dia kembali ceria seperti semula.


 


 


"Kejutan kamu ini bikin aku seneeeeng banget." Kata Shasha yang duduk di samping Givar. Kyiev tertidur dalam pangkuan Shasha.


 


 


Givar tersenyum, "Tante Claraa pergi ke Kyoto sampai hari rabu. Jadi, aku ngajakin Kyiev biar nemenin kamu di rumah."


 


 


Shasha tersenyum, "Makasih, Sayang."


 


 


Givar mengangguk.


 


 


Sesampainya di rumah, Givar menggendong tubuh Kyiev dan menidurkannya di ranjang mereka.


 


 


Jadi, mereka bertiga tidur dalam satu ranjang.


 


 


Shasha dan Givar merebahkan tubuh mereka sambil memeluk Kyiev.


 


 


"Aku belum ngantuk," kata Shasha. Givar menoleh pada istrinya, "Aku bakalan nemenin kamu sampai kamu tidur duluan."


 


 


"Aku nyesel tadi tidur siang," kata Shasha. Givar terkekeh, "Aku juga tidur siang. Gak perlu takut. Aku juga susah tidur kalo siangnya tidur."


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Mereka berbisik-bisik menghilangkan kesunyian malam. Lama-lama, Shasha tertidur. Givar tersenyum sembari mengusap lembut kepala istrinya.


 


 


"Sweet dreams."


 


 


~


 


 


Keesokan harinya, Shasha menyiapkan sarapan pagi dengan ceria. Givar dan Kyiev menunggu masakan lezat buatan Shasha.


 


 


 


 


Ketika memperhatikan kedua anak yang sedang bermain dengan Bunny dan Snowy, Shasha teringat pada Amelia. Dia merasa bersalah karena kemarin mengabaikan wanita itu.


 


 


Shasha memutuskan untuk meneleponnya.


 


 


"Sha? Aaahhh... aku seneng banget, kamu nelpon aku!" Suara Amelia tampak semangat dari seberang sana.


 


 


Shasha tersenyum, "Maafin aku, ya. Kemaren aku udah bikin kamu gak nyaman."


 


 


"Aku juga minta maaf, karena udah bikin suasana hati kamu gak enak." Terdengar nada penyesalan yang terucap dari bibir Amelia.


 


 


Shasha menghela berat, "Aku juga mau minta maaf atas sikap Sven yang kurang baik kemarin."


 


 


"Iya, aku ngerti, kok."


 


 


"Aku udah denger dari Givar, minggu depan kamu tunangan sama pacar kamu. Aku seneng banget dengernya," kata Shasha.


 


 


"Hehe, iya."


 


 


"Selamat," ucap Shasha. Amelia tertawa, "Ucapan selamatnya nanti saja, acaranya belum terlaksana."


 


 


Shasha terkekeh, "Biar aku yang duluan ngucapin selamat."


 


 


Selesai berbincang, Shasha kembali melamun. Dia tidak memikirkan Refandi kali ini. Wanita itu memikirkan kakaknya, Svender.


 


 


"Kita akan pindah ke New York, kalian juga melanjutkan SMP di sana," kata Adam kepada kedua anaknya.


 


 


Shasha dan Sven terlihat masih remaja. Keduanya mengangguk paham. Sejak kecil, Sven dan Shasha memang akrab dan saling menyayangi satu sama lain. Mereka jarang, bahkan tidak pernah bertengkar, apalagi bermusuhan.


 


 


Di New York, Sven dan Shasha belajar dengan giat. Meskipun Adam adalah sosok ayah yang baik, namun dia sangat tegas ketika mendidik anak-anaknya.


 


 


Beruntung sekali, Sven dan Shasha adalah murid yang cerdas dan berbakat di sekolah mereka di New York.


 


 


"Kak Sven, aku gak bisa ngerjain soal ini," kata Shasha sambil menghampiri kakaknya. Sven melihat buku Shasha. Dia menjelaskannya dengan rinci.


 


 


"Makasih, Kak."


 


 


Sarah memperhatikan kedua anaknya dari pintu. Dia tersenyum kecil.


 


 


Sven berbicara, "Shaque, kalo kamu pengen menguasai pelajaran itu, kamu harus menyukai pelajarannya dan kamu juga harus mempelajarinya dengan senang hati."


 


 


Shasha menghela napas berat, "Hemm."


 


 


Sven menggeleng pelan melihat adiknya yang terus-menerus menggerutu dan mendesau malas.


 


 


Hari terus berlalu....


 


 


Sven masuk kelas 10 SMA. Dia sering pulang malam dan tidak banyak bicara. Laki-laki itu lambat laun mulai berubah dan membuat keluarganya khawatir, termasuk Shasha.


 


 


Laki-laki itu sering pulang dalam keadaan mabuk. Adam pernah marah dan menghukumnya. Shasha merasa sedih sekaligus jadi takut pada kakaknya sendiri.


 


 


Setiap pulang ke rumah, ada saja tingkah Sven yang membuat Adam marah. Kemarahan Adam tidak lain bentuk kasih sayangnya pada Sven.


 


 


Nilai Sven mulai anjlok. Wali kelas dan kepala sekolah sering memberikan surat panggilan, karena ulah Sven.


 


 


Laki-laki itu sering berkelahi dan membuat keributan di negara orang.


 


 


Sarah sering menangis karena perubahan sikap anak sulungnya itu. Sven semakin liar dan berandalan.


 


 


Bahkan, gurunya mengatakan kalau putra sulung Gustiar itu sudah gila.


 


 


Ketika dibawa ke psikiater, memang benar, Svender memiliki gejala-gejala gangguan jiwa. Tidak ada yang mengerti, apa yang membuatnya jadi seperti itu.


 


 


Sikap Sven benar-benar keterlaluan. Dia pernah melukai Shasha hanya karena ingin berbicara padanya.


 


 


Adam meluapkan amarahnya, "Svender! Kamu adalah anak gagal yang terlahir memiliki gangguan jiwa! Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seperti ini!"


 


 


Kalimat itu melukai Sven. Hingga pria itu kabur. Namun, dia juga kembali dengan diam-diam, lalu kabur lagi.


 

__ADS_1


 


Sven menolak ikut kembali ke Indonesia. Padahal, dia juga diam-diam pulang ke Jakarta dan tinggal di suatu tempat.


 


 


Keluarga Gustiar sudah kewalahan dengan sikapnya yang tidak bisa dimengerti.


 


 


Shasha menghela napas berat.


 


 


Sementara itu di kantor, Givar sedang rapat bersama para klien. Sekretarisnya sudah diganti dengan seorang wanita yang berpakaian lebih sopan, Helieen. Wanita berkacamata dengan sikap sopan dan tegas itu adalah kepercayaan Juan.


 


 


"Hel, jadwal apa lagi setelah ini?" Tanya Givar. Helieen menoleh pada bosnya, "Maaf Tuan Hardiswara, jangan memanggilku Hel, itu terdengar seperti hell."


 


 


Givar menahan tawa, "Lalu aku harus memanggilmu Heli? Itu terdengar seperti nama anjing."


 


 


Helieen menepuk dahinya sendiri. Lalu dia menjawab, "Kita akan ada pertemuan dengan klien dari Donovan Property."


 


 


Givar mengangguk.


 


 


Pertemuan selanjutnya, Helieen bilang, klien mereka ingin bertemu di restoran. Sesampainya di tempat yang ditentukan, Givar dan Heileen langsung bertemu dengan klien.


 


 


Terlihat seorang pria yang tampaknya lebih tua dari Givarel bersama sekretarisnya, seorang wanita.


 


 


"Halo, Tuan Hardiswara. Aku sengaja memilih tempat makan ini sebagai tempat pertemuan kita. Aku tidak ingin suasana kantor membuat kita menjadi kaku," kata pria yang merupakan pemilik Donovan Property, Felix Donovan.


 


 


Givar mengangguk paham, "Saya mengerti."


 


 


~


 


 


Stella dan Kyiev sedang duduk manis di depan rumah sembari memakan ice cream. Mereka berdua melihat mobil Givar memasuki pelataran rumah.


 


 


Pria itu keluar dari mobil dan menghampiri mereka berdua. Dia mengusap rambut Kyiev dan Stella.


 


 


"Di mana kak Shasha?" Tanya Givar.


 


 


"Di dalam."


 


 


Ketika memasuki rumah, Givar melihat Shasha terlelap di sofa. Pria itu mengusap rambut istrinya lalu mengecup keningnya dengan lembut.


 


 


Ketika dia akan berlalu, tangan Shasha lebih dulu menggenggam tangannya. Givar menoleh, kedua mata Shasha masih terpejam.


 


 


"Stay with me."


 


 


Givar terkejut dengan ucapan Shasha, kedua alisnya terangkat. Meskipun Shasha sedang mengigau, tapi itu membuatnya bahagia.


 


 


Entahlah, sepertinya Givar memang mulai merasakan keberadaan Shasha dalam hatinya.


 


 


Givar mengusap tangan istrinya kemudian berlalu.


 


 


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang. Di dalamnya ada sepasang kekasih.


 


 


Ketika mobil melewati gubuk di tepi jalan, tiba-tiba gubuk tersebut meledak.


 


 


Bruaaarrssgghhh!!


 


 


Ledakkan tersebut membuat mobil itu terlempar dan berguling-guling ke jurang. Separuh dari badan mobil terbakar, yaitu bagian kemudi.


 


 


Pintu mobil terbuka. Tubuh lunglai itu jatuh ke bawah. Wanita yang tidak lain adalah Shasha itu meringis pelan. Dia memegangi perutnya yang terus menerus mengeluarkan darah karena terdapat luka cukup besar di sana.


 


 


Dia melihat ke dalam mobil. Pria berambut gelap itu memegangi pahanya dengan ekspresi menahan rasa sakit.


 


 


Tidak, pria itu bukan Givar.


 


 


Itu adalah Refandi.


 


 


Pria itu meringis kesakitan. Shasha menggeleng, dia mendekat dan menggenggam tangan pria itu.


 


 


"Kita akan keluar dari sini! Kita akan selamat! Aku mohon, bertahanlah." Shasha menangis tersedu-sedu. Dia menarik tangan Refandi agar keluar dari mobil itu, namun tubuhnya tersangkut. Setiap Shasha berusaha menarik tubuh Refandi, pria itu akan berteriak kesakitan.


 


 


Terlihat darah yang terus-menerus mengalir dari paha Refandi membasahi kursi mobil. Kedua mata Shasha bergetar melihat itu. Darah tersebut berasal dari luka di paha kekasihnya karena tertancap akar pohon.


 


 


"Kamu berdarah, Refandi," kata Shasha panik. Refandi menutup matanya tanpa bisa berkata apa pun.


 


 


Shasha menggapai tasnya dan mengambil ponsel. Tangannya yang gemetar menelpon polisi.


 


 


Refandi menoleh ke arahnya, "Sha, aku gak akan lama lagi."


 


 


Mendengar ucapan calon suaminya, Shasha menoleh dengan ekspresi terkejut. Gadis itu menggeleng sembari menangis tertahan.


 


 


"Enggak, kita harus selamat."


 


 


Refandi berusaha menggerakkan kakinya yang tertancap akar. Pria itu berhasil dan dia bisa keluar dari dalam mobil mendekati Shasha.


 


 


Mereka berpelukan dengan darah di mana-mana.


 


 


"Halo?" Suara polisi dari ponsel Shasha. Gadis itu segera menjawabnya, "Pak polisi, tolong kami.... kami mengalami kecelakaan..."


 


 


Shasha tidak melanjutkan kata-katanya, karena mendengar suara dari mobil mereka.


 


 


"Halo? Kami akan melacak lokasi kalian. Kami akan segera ke sana."


 


 


Refandi dan Shasha menoleh ke arah mobil mereka.


 


 


Refandi segera mendorong tubuh Shasha. Wanita itu tersungkur dan jatuh berguling-guling ke bawah. Shasha melihat Refandi yang tersenyum sendu. Mobil itu meledak keras. Shasha terbelalak. Dia tidak bisa melihat Refandi, karena api mengelilinginya.


 


 


Shasha berteriak, "Tidaaaak!"


 


 


Tubuh gadis itu terbentur pohon. Shasha merasakan badannya melemah. Sementara darah mengalir dari kepalanya mengalir ke wajah dan matanya. Aroma khas dari besi berkarat itu menguak merasuki indra penciumannya.


 


 


Shasha menutup mata serapat mungkin.


 


 


Antara sadar dan tidak, meskipun kedua matanya tertutup, Shasha mendengar suara sirine di kejauhan. Gadis itu ingin melihat keadaan Refandi. Namun, kelopak matanya terasa sangat berat, bahkan untuk sekedar digerakkan.


 


 


Lalu semuanya menjadi sunyi dan dingin. Shasha hanya melihat kegelapan. Dia sendirian dan ketakutan.


 


 


Muncullah suara ibunya, Sarah Gustiar. Wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu terdengar seperti sedang menangis.


 


 


Ingin sekali Shasha melihatnya dan memberikan dekapan pada ibunya. Namun, dirinya bahkan tidak tahu sedang berada di mana.


 


 


Perlahan gadis itu membuka matanya. Yang pertama dilihatnya adalah ruangan bercat putih. Dia melihat ibunya sedang menangis sembari memeluk tangannya. Lalu ayahnya berdiri sembari mengusap punggung sang istri. Mereka belum menyadari Shasha sudah bangun.


 


 


Semua ingatan itu terbesit dalam ingatan Shasha, berputar seperti CD film dan bergerak seperti alur waktu.


 


 


Dalam hitungan detik, air mata Shasha mengalir jatuh ke sudut matanya. Adam baru menyadari putrinya sudah bangun. Dia mengusap rambut Shasha.


 


 


Shasha melihat kedua orang tuanya mengatakan sesuatu, namun semuanya mendadak hening. Gadis itu tidak bisa mendengar apa pun. Suara berdenging membuatnya menutup kedua telinga.


 


 


Gadis itu berteriak dan menangis. Suster dan dokter datang untuk menanganinya. Namun, Shasha mengamuk dan menghancurkan seisi ruangan. Wanita itu keluar dari kamar rawat dan mencari Refandi.


 


 


Telinganya masih berdenging. Sembari menutupi sebelah telinga, Shasha mencari Refandi melalui firasatnya.


 


 


Dia menemukan kamar rawat Refandi. Shasha melihat wajah tampan Refandi yang memiliki luka bakar. Shasha menangis, dia masuk untuk menemui pria itu. Namun, suster menaikkan selimutnya menutupi wajah Refandi.


 


 


Shasha menggeleng tidak percaya.


 


 


Suara berdenging itu perlahan menghilang. Shasha menyerobot dan menubruk para suster.


 


 


"Apa yang kalian lakukan! Calon suamiku masih hidup!" Teriak Shasha sambil membuka kembali selimut putih yang menutupi wajah Refandi.


 


 


Shasha menangis tersedu-sedu. Dia memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.


 


 


Pandangannya memudar karena buliran bening yang menumpuk di pelupik matanya. Pandangan Shasha tertuju pada pria yang berdiri di pintu. Tatapan yang penuh arti terlukis di wajahnya.


 


 


Pria itu adalah Sven.


 


 


"Eeeuummhhhh," dengus Shasha ketika dia tersentak bangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia menyentuh kepalanya yang terasa sakit.


 


 


Ingatan 3 tahun lalu itu kembali berputar. Shasha menghela napas berat.


 


 


Seandainya hari itu mereka tidak pergi untuk memilih pakaian pernikahan, seandainya mereka tidak melewati jalan berjurang itu, seandainya waktu bisa diputar kembali.


 


 


Shasha menggeleng, dia sudah berusaha melupakan itu demi hubungan rumah tangganya.


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


23.10 : 22 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2