
~•o•~
_Menginginkanmu adalah mustahil bagiku. Waktu itu sudah tepat\, namun sepertinya aku tidak beruntung._
~•o•~
Pagi-pagi....
Shasha sedang menyiram bunga di depan rumahnya. Wanita itu melihat ada salah satu bunga yang mencolok, warnanya hitam. Shasha mengernyit. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata itu bunga mawar yang berwarna hitam.
"Kenapa bunga mawarnya berwarna hitam, ya?" Gumam Shasha. Wanita itu mengambil bunga tersebut. Setelah dilihat lebih jelas lagi, ternyata warna hitamnya berasal dari tinta yang sepertinya sengaja ditumpahkan ke atas bunga mawar yang awalnya berwarna merah itu.
"Iseng banget, sih. Siapa yang meletakkannya di sini?" Shasha melemparkan bunga itu ke tanah. Namun, dia baru menyadari ada surat yang terselip di tangkainya.
Shasha kembali mengambil bunga tersebut dari tanah dan membuka surat tersebut.
Aku merindukanmu, Shaquellin Gustiar.
Pengagum rahasia.
Seketika bulu kuduk Shasha merinding, setelah membaca surat tersebut. Dia segera membuang mawar tersebut ke tong sampah. Wanita itu berlari masuk ke rumah.
Tidak ada siapa-siapa di rumahnya. Beberapa menit yang lalu, Givar sudah berangkat kerja.
Shasha menutup semua pintu dan jendela. Wanita itu mendengus pelan dan berlalu ke dapur. Dia membuka lemari es, diambilnya botol soda. Dengan satu tegukkan, ludes isinya. Shasha mengelap keringat yang mengalir di dahinya.
Sepertinya penguntit dari masa lalu telah kembali dan ingin mengganggunya. Padahal Shasha sudah melupakan itu. Dia sudah merasa cukup tenang setelah menikah dengan Givar. Namun, tampaknya penguntit itu tidak ingin dirinya hidup tenang dan bahagia.
Shasha membuang botol soda yang sudah kosong itu ke dalam tong sampah.
Tiba-tiba Shasha teringat sesuatu, pintu halaman belakang rumahnya belum ditutup. Dia segera ke halaman belakang.
Benar saja, pintu kaca itu masih terbuka lebar.
Terlihat Bunny dan Snowy yang sedang berada di atas rumput taman di halaman belakang. Keduanya sedang memakan sesuatu. Shasha bingung, padahal wortel yang dia berikan pagi ini sudah habis dimakan kedua kelinci itu.
Merasa janggal, Shasha mendekati kedua kelincinya. Ternyata mereka tengah memakan kelopak bunga mawar berwarna hitam, seperti yang ditemukan Shasha tadi. Shasha terbelalak. Segera dijauhkan kedua hewan kesayangannya dari kelopak-kelopak yang menumpuk di rumput taman.
Wanita itu tidak mengerti, adakah orang gila yang melompati benteng belakang rumahnya lalu menaburkan kelopak-kelopak bunga itu?
Terdengar sesuatu dari samping rumahnya. Seperti suara langkah kaki seseorang yang berjalan menuju ke arahnya.
Dia segera memasukkan kelincinya ke dalam kandang lalu membawanya ke dalam rumah dan mengunci pintu belakang. Wanita itu menelepon Amelia.
"Sha?"
"Mel... aku takut," suara Shasha bergetar, menandakan dirinya sedang dalam masalah. Sesekali wanita itu menoleh ke halaman belakang.
"Kenapa, Sha?!" Amelia yang sedang berhadapan dengan pasien tampak panik. Dia harus menunda dulu percakapannya.
"Ada orang yang ngirim bunga mawar hitam, aku takut... aku sendiri, Mel." Shasha mengigit ujung jarinya untuk menetralisir rasa takutnya.
"Sebentar, aku ke sana, ya. Sven ada di rumahnya? Kamu ke rumahnya dulu aja, Sha." Amelia memakai blazer abu-abu miliknya.
"Aku takut, aku gak mau keluar... cepetan ke sini," tangis Shasha.
Amelia berbicara dengan orang tua pasien, "Maafkan saya, ada urusan mendadak, ini benar-benar darurat. Nanti saya akan datang ke rumah Bapak dan Ibu untuk menemui putri anda."
Amelia manggut kemudian berlalu.
"Kenapa dia meninggalkan tugasnya, seharusnya dia bertanggung jawab," gerutu si Ibu.
Amelia menyetir dengan kecepatan sedang, karena jalanan sedang sedikit macet.
"Jam segini udah macet aja," gerutu Amelia sembari melihat jam tangannya.
Sesampainya di rumah sepupunya, Amelia segera menutup pintu mobil dan bergegas mengetuk pintu rumah.
"Shasha? Sha?" Amelia mengetuk dengan cukup keras saking khawatirnya. Dia mencoba memutar knop pintu, namun terkunci.
Amelia mengacak rambutnya frustasi karena tidak kunjung mendapatkan respon dari Shasha yang tengah berada di dalam.
Mendengar suara gedoran dari rumah adiknya, Sven keluar dari dalam rumahnya. Dia melihat Amelia di depan pintu rumah Givar dan Shasha. Pria itu segera menghampirinya.
Melihat kedatangan Sven, Amelia menarik tangan pria itu. Sven sedikit terkejut, karena Amelia memegang tangannya.
"Shasha di dalam, tadi dia nelepon aku... sepertinya dia sedang dalam masalah. Cepat dobrak pintunya," ucap Amelia sembari mengguncangkan lengan Sven.
Pria itu mendobrak pintu dengan sekuat tenaga, tidak berhasil. Kedua kalinya, tidak berhasil juga. Lalu dia menendangnya dengan keras, akhirnya pintu pun terbuka lebar. Kedua orang itu segera masuk dan mencari Shasha di dalam.
"Shaque?!" Panggil Sven. Pria itu naik ke lantai dua. Amelia mencari Shasha ke dapur, "Sha?!"
"Suuutsss," mendengar suara mendesis, Amelia menoleh ke bawah meja makan. Wanita itu terkejut melihat keberadaan Shasha di bawah sana dengan ekspresi syok.
"Shasha, ngapain kamu..."
__ADS_1
"Suuttsss." Shasha menunjuk ke pintu kaca yang tertutup gorden putih. Ada siluet tubuh di luar sana. Amelia terbelalak. Sepertinya ada seseorang di halaman belakang yang sedang berdiri melihat ke dalam dapur.
Amelia menelan saliva menahan rasa takut yang mulai menghampirinya.
Sven masuk ke dapur, "Shaque?!"
"Suuuttsss!"
Sven terdiam sesaat ketika Shasha dan Amelia mendesis padanya. Pria itu mengernyit heran melihat tingkah kedua perempuan itu.
"Kenapa?" Tanya Sven.
Shasha dan Amelia menunjuk ke pintu kaca yang tertutup gorden putih, di mana siluet itu berdiri. Sven mengerutkan keningnya.
Siluet itu sama sekali tidak bergerak. Sven mendekat.
"Hati-hati, Sven." Shasha berbisik. Amelia juga menimpali, "Bawa benda untuk melindungi diri, Sven."
Pria itu mengambil wajan gagang satu. Dia perlahan melangkah dan memegang gagang pintu. Ada kunci yang menggantung di sana. Perlahan, pria itu memutar kunci dan dengan cepat, dia membuka pintu membuat siluet itu jatuh ke tanah. Sven terkejut, ternyata hanya papan berbentuk tubuh manusia yang sengaja di simpan di depan pintu.
Jadi, ada orang iseng yang ingi menakut-nakuti adiknya.
Sven berbalik untuk menghampiri Shasha dan Amelia. Namun, tiba-tiba ada orang yang muncul dari belakang membawa kayu siap memukul Sven.
Shasha dan Amelia terbelalak.
"Awas! Sven!" Teriak Amelia.
Sven terkejut, dia menoleh, hantaman keras mendarat di pelipisnya. Pria itu terpundur. Sven meringis sembari memegangi pelipisnya. Dia merasakan darah mengalir dari sana.
"Svender!" Teriak Amelia yang panik.
Pria tidak dikenal itu kembali melayangkan kayu yang dia pegang. Sepertinya dia belum puas menyakiti Sven. Tidak tinggal diam, kali ini Sven melawan dengan memukul tulang kering orang itu menggunakan wajan gagang satu yang dipegangnya.
Pria itu meringis kesakitan sembari terpundur. Sven memukul orang itu.
Amelia menggeleng panik, karena melihat perkelahian secara langsung di depan matanya. Dia melihat ada nampan di rak piring. Segera diambilnya benda itu. Dia mendekat kemudian memukul kepala pria itu dengan keras.
Plendraaangggssk
Suara nyaring itu menggema di ruangan tersebut. Shasha melongo sembari menutup mulutnya.
Pria itu jatuh tersungkur dan lantai dengan keadaan tak sadarkan diri.
Amelia menangkup wajah Sven.
"Gak sakit?" Tanya Amelia sembari menghentikan kegiatannya. Sven memegang tangan Amelia dan menggerakkannya untuk meneruskan mengelap darahnya.
Tidak sakit, karena blazer milik Amelia berbahan lembut dan halus.
Melihat itu, Shasha merasa canggung. Dia mengusap tengkuknya lalu melenggang pergi dan kembali membawa obat-obatan.
"Kamu gapapa?" Tanya Sven.
Shasha menghela napas berat sembari menoleh pada pria yang pingsan itu, "Sebenarnya aku sedikit takut, tapi... setelah kalian datang, aku merasa lebih tenang."
Amelia mengusap punggung Shasha sembari tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih, Sven... Mel...."
"Harusnya tadi kamu ke rumah aku aja, kalo kamu sendirian," kata Sven.
Shasha menunduk, "Aku terlalu takut untuk keluar."
~
Givar memarkirkan mobilnya dengan asal-asalan di depan rumahnya. Pria itu panik mendapatkan kabar dari Amelia. Dia bilang, ada seseorang menyelinap masuk ke rumah dan melukai Sven.
Givar segera memasuki rumahnya dan melihat Shasha dan Amelia sedang menutup luka di pelipis Sven dengan hati-hati. Dia juga melihat seorang pria yang sama sekali tidak dikenalinya terikat dalam keadaan duduk dan pingsan di sudut ruangan.
Shasha menoleh padanya.
"Sayang, kamu gapapa?" Tanya Givar. Shasha berdiri untuk menghampiri suaminya. Dia memeluk Givar.
Sven dan Amelia memperhatikan pasangan suami istri itu.
Givar melepaskan pelukannya lalu melihat sekujur tubuh istrinya, "Mana yang sakit?"
Shasha menggeleng, Givar menangkup wajahnya kemudian mengecup bibir istrinya di depan sepupu dan juga kakak iparnya.
Melihat itu, Sven dan Amelia jadi canggung. Mereka segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
Merasa malu karena ciumannya ditonton Sven dan Amelia, Shasha mendorong dada suaminya.
"Aku gapapa, tapi... orang itu mukul Sven," ucap Shasha sambil menoleh pada kakaknya.
__ADS_1
Givar menghampiri Sven dan menarik dagu pria itu, "Kenapa gak ke rumah sakit? Ayo, gua anter lo, Sven."
Sven menepis tangan adik iparnya, "Apaan, sih, lo."
"Gimana kalo tulang tengkorak lu kenapa-napa?" Gerutu Givar.
"Gak, kok."
Givar dan Amelia mengecek ke halaman belakang. Mereka melihat banyak sekali kelopak bunga mawar berwarna hitam. Bahkan ada sebagian yang membasahi kolam renang dan kolam ikan.
"Warna hitamnya berasal dari tinta, sepertinya bunga ini di celupkan ke dalam tinta lalu menunggunya sampai kering, dan menaburkannya di sini," ujar Amelia.
Givar melihat ke benteng rumahnya. Ada bekas kaki di tembok itu. Sepertinya orang tadi memanjat dan turun lewat sana. Ditambah lagi ada pohon yang dekat dengan benteng rumahnya. Itu semakin mempermudah penyusup untuk masuk.
Shasha juga menunjukkan mawar hitam yang ditemukannya pada Givar beserta suratnya. Amelia ikut membaca isinya.
Sven mengernyit, dia jadi teringat pada kekasihnya yang meninggal karena ada seseorang yang memotong lidahnya dengan gunting. Dan pembunuhnya meninggalkan jejak berupa mawar hitam.
Mawar merah yang dibasahi tinta hitam, seperti waktu itu... orang yang sama... tidak salah lagi, batin Sven sembari mengepalkan tangannya geram.
"Mawar hitam artinya kematian, kesedihan yang mendalam, bisa juga kebencian dan dendam," ujar Amelia.
Givar dan Sven saling pandang. Keempat orang itu menoleh pada orang yang pingsan di sudut ruangan. Dia bergulir, menandakan jika sebentar lagi, dia akan sadar.
Givar dan Sven membawa pria itu ke polisi, sebelum orang itu benar-benar sadar total.
Di kantor polisi, pria itu mengamuk seperti orang gila. Beberapa polisi kewalahan menghadapinya.
Givar tidak berniat membantu, apalagi Sven. Mereka hanya menonton dengan ekspresi malas.
Dengan sedikit 'paksaan', akhirnya orang itu bisa 'dijinakkan'.
Setelah diselidiki, ternyata pria itu tidak bisa bicara. Dia tidak seperti orang normal. Tidak bisa menulis juga. Jadi, tidak ada informasi yang bisa mereka dapatkan darinya.
Tidak ada yang tahu, siapa dalang di balik semua ini. Para polisi benar-benar kesulitan mengorek keterangan lebih dalam lagi.
"Sepertinya orang itu telah dicuci otaknya, kami tidak bisa menanyakan apa pun," kata polisi.
Givar dan Sven menghela napas berat.
"Namun, kami akan menahannya dan berusaha sebaik mungkin untuk mencari tahu. Mungkin, dia bisa diinterogasi setelah sedikit tenang."
Givar mengangguk mengerti.
"Akan lebih baik, jika anda memasang CCTV dan menempatkan beberapa bodyguard di rumah anda."
Setelah mendapatkan jawaban, kedua pria itu kembali ke rumah. Di perjalanan, keduanya terjebak macet. Givar harus memperlambat laju mobilnya.
"Pokoknya orang itu harus ditangkap, gua gak peduli gimana pun caranya," gerutu Sven.
Givar menoleh, "Gua harus masang CCTV di rumah. Gua khawatir sama Shasha. Soal bodyguard... gua gak mau ada bodyguard di rumah gua. Papa sengaja nyuruh kita tinggal berdua, biar kita bebas di rumah itu."
Sven menghela napas panjang. Dia mengerti dengan Givar.
"Gua ada di rumah, kok. Lo bisa nyuruh dia ke rumah gua kalo lo gak ada di rumah," ujar Sven.
"Bukannya gua gak percaya sama lo, tapi lo juga lagi sakit," ujar Givar dengan tatapan tertuju pada pelipis Sven. Ada plester yang menempel di sana.
Sven menghela napas berat.
"Lo jadi deket sama Amelia, ya? Kok, bisa?" Tanya Givar. Sven menoleh, "Emm, belakangan ini gua emang sering ngehubungin dia. Gua minta bantuan sama dia."
"Bantuan apa?" Tanya Givar.
"Gua mau kayak dulu lagi, gua mau normal kayak Shasha. Ngerti, lah...."
Givar memilih diam, tidak ingin menanggapi. Dia melajukan mobilnya sedikit menyusul kendaraan di depannya.
Masih macet.
"Kayaknya Amelia suka sama lo, deh," kata Givar tiba-tiba. Sven mengerutkan dahinya, "Kenapa lo mikirnya gitu?"
Givar mengedikkan kepalanya ke kiri, "Ini menurut gua, sih. Soalnya dia peduli banget sama lo, aslinya dia itu jutek kalo sama orang yang baru dikenalnya, apalagi cowok. Ya, secara lo ganteng, jomblo lagi."
Sven cemberut kesal. Dia menepis pemikiran Givar, "Mungkin dia cuma kasihan sama gua, karena sekarang gua pasiennya."
"Bisa juga iya, sih. Padahal dia juga butuh sandaran. Lo bisa jaga dia, kan?" Pertanyaan Givar sedikit sensitif menurut Sven.
Givar menoleh meminta jawaban, "Gak mau, ya? Coba lo tanya dia, kenapa dia memilih jadi psikolog."
Sven tampak bingung, "Dia punya masa lalu yang buruk?"
Givar mengedikkan bahunya, "Tanya saja."
Sven terdiam.
~•o•~
__ADS_1
18.03 : 27 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah