GRAPPLE

GRAPPLE
Hint


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Semakin kau berlari untuk menggapainya\, maka akan semakin besar kemungkinan kau dapat meraihnya._


 


 


~•o•~


 


 


"Dia orangnya! Dia dalang dari semua ini!" Bentak Sven sembari menunjuk wajah Felix.


 


 


Givar terkejut dan menoleh pada Felix dengan ekspresi tidak percaya.


 


 


"Dia yang selama ini memata-matai kita. Dia yang menyuruh orang yang waktu itu masuk ke dalam rumah lo. Dia yang udah bikin mama kecelakaan! Dia!" Sven ingin memukul Felix lagi, namun Givar masih berusaha menahannya.


 


 


Felix berusaha bangun. Tangannya bertumpu pada meja. Darah segar mengalir dari hidungnya.


 


 


"Sven, gimana kalo lo salah orang? Dia bukan orang sembarangan, kita bisa dalam masalah kalo lo salah orang," Bisik Givar.


 


 


"Gua gak akan salah!" Bentak Sven.


 


 


Merasa diperhatikan oleh orang-orang di ruangan itu, Sven memperlihatkan tatapan tajam kepada mereka semua.


 


 


"Kalian keluar dari ruangan ini dalam hitungan ketiga, satu...." Sebelum Sven menyebut dua, semua orang berhamburan keluar.


 


 


Sven menutup pintu ruangan dengan membantingnya. Dia menunjuk kursi, Felix mengerti. Dia pun duduk sembari masih meringis memegangi hidungnya.


 


 


"Emm... Tuan Donovan, katakan saja... apa anda orangnya?" Tanya Givar yang masih setengah percaya dan setengah ragu.


 


 


Sven melemparkan sapu tangan ke wajah Felix, "Ambil ini, cepat bicara!".


 


 


Felix mengusap darahnya lalu berkata, "Kenapa tiba-tiba menuduhku? Aku tidak tahu apa pun."


 


 


Sven mendecih sembari membuang muka karena kesal. "Masih tidak mau mengaku?"


 


 


"Apa yang harus aku katakan? Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya pengusaha biasa. Aku mendengar kecelakaan itu kemarin ketika kami di restoran. Tapi, aku tidak terlibat dengan semua itu." Felix membela diri.


 


 


Givar melirik Sven dan Felix bergantian.


 


 


"Jadi, maksud lo... lo itu pengusaha yang bersih yang jauh dari kejahatan? Lo yakin? Mau gua buka di sini aja semua kejahatan lo?" Tanya Sven.


 


 


Felix tidak menjawab. Dia hanya menatap Sven.


 


 


"Setiap gua ada di Jakarta, lo pasti pergi ke New York. Setiap gua pergi ke New York, lo balik lagi ke Jakarta. Kenapa? Karena lo tahu, gua lagi nyelidikin lo. Kemaren gua mau pergi ke New York, lo tenang tinggal di Jakarta dan nyuruh orang untuk mencelakai mama. Karena itu, gua gak jadi ke New York, dan akhirnya kita ketemu di sini. Sekarang katakan iya!"


 


 


"Apanya yang iya? Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan," jawab Felix.


 


 


Sven akan memukul wajah Felix, namun Givar menarik bahu Sven.


 


 


"Sven!" Bentak Givar.


 


 


"Tuan Hardiswara, kita ke polisi saja. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Seharusnya anda bisa tegas di kantor anda sendiri. Dia hanya kakak iparmu, bukan bosmu, kan?" kata Felix sembari menatap Givar dengan tatapan kecewa.


 


 


Givar akan berbicara, namun....


 


 


"Gak ada acara pergi ke kantor polisi. Mereka pasti bakalan bela lo, karena lo udah ngasih uang ke mereka!" Sambar Sven.


 


 


Felix mendecih pelan, "Kalian akan menyesal! Aku akan mengurus ini ke pengadilan."


 


 


"Mengajukan ini ke pengadilan? Silakan, nanti kejahatan lo semuanya bakalan terbongkar. Tunggu, lo pasti bakalan bayar mereka lagi, kan? Ah, dasar tikus sialan." Sven menepuk dahinya sendiri.


 


 


"Kamu telah berurusan dengan orang yang salah," geram Felix yang benar-benar di ambang kesabarannya.


 


 


Sven melemparkan dokumen ke meja. Givar menoleh dan membukanya. Isinya tidak seperti dokumen pada umumnya, tapi informasi penyelidikan yang dilakukan orang-orang kepercayaan Sven.


 


 


"Tahun 2007, perusahaan Donovan mengalami kebangkrutan, begitupun dengan perusahaan keluarga Gustiar. Lo dan papa melakukan kerja sama. Semuanya berjalan lancar sampai tahun 2008 kedua perusahaan mulai maju. Tapi... lo mulai malas bekerja sama dengan perusahaan papa gua. Lo mau mengakhiri kerja sama. Setelah putus hubungan kerja sama, perusahaan Gustiar kembali bangkrut. Papa memohon sama lo untuk tidak menghentikan kerja sama itu." Sven menarik napas sejenak. Dia membelakangi Felix dan Givar yang sedang fokus membaca.


 


 


"Lo setuju menjalin kembali kerja sama... tapi, tanpa rasa malu, lo minta Shasha yang usianya baru 14 tahun buat dijadiin istri lo!" Bentak Sven seraya berbalik menatap tajam wajah Felix.


 


 


Givar terbelalak, dia tidak mengira Felix mengenali Shasha sebelumnya. Givar mulai mencurigai Felix seperti Sven. Apalagi mendengar... ingin menikahinya?


 


 


Itu artinya, Felix menyukai Shasha?


 


 


Jelas sekali perbedaan usia mereka. Mungkin terpaut 15 tahun.


 


 


Sven menendang dada Felix hingga dia jatuh bersamaan dengan kursinya.


 


 

__ADS_1


Givar terkejut, dia merasa sikap Sven telalu berlebihan. Givar membantu Felix berdiri, tapi Felix menepis tangannya. Pria itu bangkit sembari memegang dadanya yang terasa sesak.


 


 


Felix berkata, "Itu benar... tapi, itu dulu! Karena Adam Gustiar tidak memberikan adikmu, aku tidak melanjutkan kerja sama dengannya. Adam Gustiar memilih bekerja sama dengan perusahaan Mahali dan Danuarga saat itu. Tapi, apa hanya karena ini kamu mencurigai orang yang salah? Menganggap setiap insiden itu adalah perbuatanku? Masa laluku tidak perlu dikaitkan dengan ini, karena sama sekali tidak ada hubungannya!"


 


 


"Gua gak pernah salah! Insting gua selalu benar!"


 


 


Givar tidak memberikan reaksi apa pun. Dia hanya bisa mendengarkan dan menahan kakak iparnya untuk tidak bertindak gegabah.


 


 


Lagi-lagi Sven melemparkan dokumen ke meja. Dia kembali bicara layaknya seorang polisi yang tengah menginterogasi tersangka, "Tahun 2014, Nicholas Donovan meninggal, SMA yang dibangunnya menjadi hak milik Felix Donovan. Di tahun yang sama, Svender Adideva Gustiar mendaftar ke SMA khusus pengusaha itu. Selama tiga tahun, dia menjadi bulan-bulanan siswa lain, padahal anak itu berperilaku baik. Itu juga atas perintah lo, kan? Tahun 2015, tanpa perasaan, lo nyuruh orang untuk membunuh seorang gadis dari SMA yang samadengan cara memotong lidahnya karena hampir membocorkan kejahatan lo ke gua."


 


 


Hening.


 


 


Givar terdiam dengan ekspresi tidak terbaca.


 


 


Merasa tidak ada yang merespon, Sven kembali melemparkan dokumen lain ke meja. Dia berbicara lagi, "Di tahun 2016 itu, lo mulai mengeluarkan teror. Dimulai dari gua, papa, mama... lalu Shasha. Mawar merah, mawar hitam, surat, paket. Lo juga yang membuat kecelakaan itu terjadi, Refandi Glend terbunuh."


 


 


Givar tidak mengira, alasan dan tuduhan Sven terdengar sangat meyakinkan. Dia tidak menyangka dengan kemampuan Sven yang bisa mengumpulkan itu semua dengan bantuan orang-orang kepercayaannya.


 


 


Jika iya Felix seperti itu, Givar benar-benar tidak mengira. Yang diketahui, Felix itu adalah sosok seorang pengusaha yang baik dan ramah.


 


 


Lamunan Givar buyar ketika mendengar suara Sven, "Itu bukti terkuatnya. Sebenarnya masih banyak bukti lainnya. Sekarang gua mau tanya, kenapa lo neror gua sama Shasha? Padahal kita gak punya salah sama lo. Kita gak tahu apa-apa dan waktu itu kita masih kecil."


 


 


Felix menghela napas panjang.


 


 


Sven mendekatkan wajahnya ke wajah Felix. Dia menatap Felix penuh kecurigaan, "Gua rasa, tujuan lo neror kita supaya kita kehilangan akal dan gila. Kenapa lo sampai ngelakuin sejauh ini?"


 


 


Felix membuang muka karena kesal, "Aku sudah bilang, aku tidak terlibat dengan masalah keluarga kamu."


 


 


Sven menyeringai dingin. Dia tidak menyerah dan masih ingin memberondong Felix dengan semua pertanyaannya, "Lo suka banget mencukur rambut orang yang lo benci dan memotong leher mereka, kan? Lo juga pernah bilang, lo pengen ngelakuin itu ke gua."


 


 


Felix menautkan alisnya, "Apa yang kamu bicarakan?"


 


 


"Oh ya, ada lagi. Waktu itu, lo datang ke kantor polisi, kan? Menyuap mereka biar mereka gak melanjutkan penyelidikan. Lo juga yang membunuh orang itu agar kita gak bisa dapetin info apa pun!" Sven menggeleng sembari berdecak pelan.


 


 


Felix menggeleng, "Itu tidak benar. Aku tidak seperti itu, aku bukan orang yang seperti itu."


 


 


Sven mengambil sesuatu dari saku celananya. Secari kertas. Dia menunjukkannya pada Givar dan Felix.


 


 


Felix terbelalak.


 


 


 


 


"Masih mau membela diri?" Tanya Sven.


 


 


Givar menatap Felix sembari menggeleng tidak percaya.


 


 


Dari mana dia mendapatkan kertas itu?


 


 


Jadi, ketika di kantor polisi, Sven melihat potongan kertas kecil di tong sampah. Dia merasa itu adalah benda penting. Ketika Givar sibuk memaki dan menarik baju polisi, dia mengambil potongan kertas itu.


 


 


Di rumahnya, Sven menyusunnya potongan kertas itu dengan telaten sampai terbentuk seperti semula.


 


 


"Siap ke pengadilan?" Tanya Sven.


 


 


"Yang kamu bicarakan sedari tadi tidak lebih dari sebuah tuduhan. Kamu hanya mengira aku yang melakukanya. Memangnya bukti nyata apa yang kamu temukan? Sidik jari? CCTV? Saksi? DNA? Apa yang kamu temukan?"


 


 


Sven mendecih, "Bukti apa lagi? Yang gua jelasin barusan adalah buktinya."


 


 


"Kamu tidak punya bukti. Oke, kita ke pengadilan."


 


 


~


 


 


Di pengadilan, sidang dilaksanakan secara tertutup, karena permintaan kedua belah pihak. Mengingat keduanya adalah seseorang yang berasal dari keluarga besar yang memiliki status dan reputasi tinggi.


 


 


Semuanya hadir.


 


 


Di persidangan itu juga Sven bertemu langsung dengan kedua orang tuanya. Sarah ingin sekali memeluk putranya itu. Namun, Sven tidak bisa bertemu sebelum sidang itu selesai.


 


 


Ketika Adam dan Felix melakukan kontak mata, tersirat sesuatu dalam tatapan masing-masing.


 


 


Shasha dan Givar tampak tidak bisa duduk dengan tenang. Sven dan Givar merahasiakan tentang Felix yang pernah ingin menjadikan Shasha sebagai istrinya. Mereka tidak ingin Shasha semakin terbebani dan ketakutan.


 


 


Juan dan Yelma juga terlihat serius. Mereka hadir sebagai pihak dari keluarga Sven.


 


 


Sementara Amelia juga hadir. Dia masih belum percaya, jika Felix berbuat kejahatan selama ini. Pria yang dikenal ramah dan baik itu bahkan bisa menutupinya.


 


 


Ketika sidang berlangsung, pengacara Sven dan pengacara Felix beradu argumen.


 

__ADS_1


 


Pengacara Sven menunjukkan dokumen-dokumen hasil penyelidikan selama tiga tahun oleh Sven.


 


 


Sementara pengacara Felix tidak menerima itu. Dia menganggap dokumen itu palsu.


 


 


Keadaan menjadi semakin memanas.


 


 


Namun, hasil persidangan menyatakan Felix belum bisa dinyatakan bersalah. Apa yang diajukan pihak Sven berupa tuduhan tanpa ada bukti yang benar-benar nyata. Harus ada penyelidikan lanjutan.


 


 


Jadi, keputusan persidangan harus ditunda untuk sementara.


 


 


Setelah persidangan itu, perusahaan Donovan memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan Hardiswara. Hubungan keduanya menjadi kurang baik, namun itu tidak menjadi permasalahan bagi perusahaan besar seperti Hardiswara.


 


 


Tapi, karena itu pula, hubungan keluarga Gustiar menjadi agak canggung dengan keluarga Hardiswara.


 


 


Ada sisi positifnya meskipun sedikit. Keluarga Gustiar merasa bahagia, karena putra sulung mereka telah kembali. Apalagi setelah mengetahui jika Sven sangat peduli pada keluarganya bahkan menyelidiki semuanya sendirian.


 


 


Sarah tidak bisa berhenti menangis karena bahagia melihat putranya di rumah. Dia tidak ingin menutup matanya untuk tidur. Dia tidak ingin putranya pergi lagi ketika kedua matanya tertutup.


 


 


"Kamu marah sampai pergi selama tiga tahun?" Tanya Sarah sembari berkali-kali mengusap air matanya. Sven memeluk ibunya, "Aku tidak marah... aku hanya pergi dan ingin menyelidiki ini sampai selesai."


 


 


"Jangan pergi lagi. Kalo papa kamu marahin kamu lagi, Mama juga bakalan marahin papa kamu," gerutu Sarah.


 


 


Sven tertawa.


 


 


Adam meminta putranya itu untuk tinggal di rumah, namun Sven menolak.


 


 


"Aku gak akan tenang, kalo Felix masih berkeliaran bebas. Aku mau dia benar-benar mendapatkan hukumannya." Sven mengepalkan tangannya geram.


 


 


Adam menepuk bahu Sven, "Papa akan nyuruh orang untuk ngurus ini. Kamu perlu istirahat. Tiga tahun kamu menyelidiki ini sendirian. Kamu pasti lelah, Nak."


 


 


"Tiga tahun juga aku merasakan penderitaan. Tiga tahun yang kemarin tidak lebih mengerikan dari tiga tahun sebelumnya."


 


 


Tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Adam memilih diam dan melihat putranya pergi lagi dari rumah.


 


 


Namun, kali ini komunikasi Sven dengan keluarganya membaik. Dia selalu menghubungi dan memberikan kabar. Dia sudah lelah melihat kedua orang tuanya merasa khawatir.


 


 


Sven menyuruh Froy datang ke apartemennya. Mereka kembali berbicara tentang kasus yang sama.


 


 


"Felix Donovan memang orang yang disegani. Dia memiliki banyak koneksi, termasuk polisi dan pejabat tinggi negara." Froy menunjukkan layar laptopnya.


 


 


"Hell, dia benar-benar seperti seorang gangster."


 


 


"Gua rasa, tuduhan lo sedikit meleset. Bagaimana jika bukan dia orangnya? Bisa-bisa lo dalam masalah."


 


 


"Gua yakin dia orangnya, emang siapa lagi, coba? Gua udah yakin sepenuhnya," bantah Sven.


 


 


Froy mengedikkan kepalanya ke kiri, "Sebenarnya, kalo misalnya dia bukan dalang kasus keluarga lo, ada banyak kejahatan yang sudah dilakukannya sebelum dia mengganggu keluarga lo. Harusnya polisi dan pihak berwajib sudah mencium kejahatannya. Jadi, polisi bisa nangkap dia karena kejahatannya itu."


 


 


Sven menggumam pelan, "Seperti yang lo bilang tadi, koneksinya terlalu banyak."


 


 


Froy membenarkan, "Iya, selain itu, dia memiliki wajah berkharisma dan sikap yang baik di hadapan publik. Jadi, orang-orang tidak akan mencurigainya."


 


 


"Kedok busuknya harus dibuka."


 


 


Hening.


 


 


Yang terdengar di ruangan itu hanyalah suara ketikan pada keyboard laptop. Froy tampak serius.


 


 


"Semoga dugaan lo gak meleset, ya. Gua harus pulang, ini udah malem." Froy membereskan barang-barangnya.


 


 


"Hati-hati, lo tinggal sendirian, kan?" Tanya Froy sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


 


 


Sven mengangguk sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.


 


 


"Kenapa gak pulang besok aja? Rumah lo jauh, Froy," kata Sven


 


 


"Terus, gua harus nginep di sini?" Gerutu Froy. Sven menaikkan sebelah alisnya, "Emangnya kenapa?"


 


 


"Tetangga lo mikir gimana, coba? Cowok nginep di apartemen cowok, apalagi lo terkenal jomblo," gerutu Froy.


 


 


Sven mendengus kesal, "Ya udah sana, kalo mau pulang."


 


 


"Iya, iya."


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


21.07 : 27 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2