GRAPPLE

GRAPPLE
Someone


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Apa aku terlalu bahagia atau terlalu sedih?


Kenapa aku sering tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan?_


 


 


~•o•~


 


 


Setelah Amelia pulang, Givar duduk di samping istrinya. Pandangan pria itu tertuju pada layar TV yang mempertontonkan film kartun.


 


 


Sven dan Amelia memang suka menularkan keanehan mereka pada istriku, batin Givar.


 


 


Pria itu membuka dasi dan kancing kemejanya. Shasha menoleh memperhatikan apa yang sedang dilakukan suaminya.


 


 


"Geraaahh," desah Givar. Shasha kembali menoleh ke TV. Merasa tidak diperhatikan, Givar cemberut.


 


 


Pria itu membisikkan sesuatu pada istrinya, "Kamu mau merhatiin TV terus?"


 


 


Shasha menoleh pada suaminya.


 


 


"Apa kamu gak mau nemenin aku tidur?" Tanya Givar dengan ekspresi seperti anak kecil.


 


 


Shasha mengerti maksud pembicaraan Givar. Dia menghela napas panjang, "Ini masih siang, malu kedengaran tetangga."


 


 


"Kenapa harus malu? Lagian kita gak berisik, kan?"


 


 


"Nanti aja, kalo udah malem."


 


 


"Ya... kalo malem, ya... tidur, dong."


 


 


Shasha menatap Givar. Pria itu juga menatap istrinya.


 


 


"Aku mau nyiapin buat makan malam," kata Shasha kemudian berlalu. Givar mendesah frustasi sembari mengibaskan kemejanya.


 


 


Shasha mulai memasak. Dia mendengar langkah suaminya mendekat. Pria itu duduk di kursi dan memperhatikan istrinya dari belakang.


 


 


"Kamu mau makan apa? Ada banyak daging. Mau sop ayam?" Tanya Shasha.


 


 


Aku mau makan kamu. Itu lebih menyehatkan, batin Givar berteriak.


 


 


Karena tidak ada jawaban, Shasha menoleh sesaat pada Givar yang masih menatap dirinya.


 


 


Wanita itu memutar bola matanya dan kembali fokus ke daging yang sedang dipotongnya.


 


 


"Kamu marah? Mau diemin aku?" Tanya Shasha. Givar menekuk wajahnya.


 


 


Pelit, gerutu Givar dalam hati.


 


 


"Mau gak mau, kamu harus makan sop ayamnya. Aku udah nanya tadi, tapi kamu gak jawab," kata Shasha.


 


 


Pokoknya, aku mau makan kamu.


 


 


Shasha memasukkan semua ayam itu ke dalam panci kemudian menutupnya. Ketika berbalik, Givar sudah berada di depannya. Wanita itu sedikit tersentak.


 


 


"Sayang, kamu ngagetin, tahu." Shasha menyentuh dadanya sendiri menetralisir keterkejutannya.


 


 


Givar menarik dagu Shasha dengan telunjuknya. Dia mencium bibir merah itu dengan penuh penuntutan. Shasha tidak bisa menolak lagi. Dia memeluk tengkuk suaminya.


 


 


Ciuman itu terus berlangsung.


 


 


Givar melepaskan ciumannya kemudian mendorong Shasha ke meja makan. Wanita itu terkejut ketika suaminya melepaskan kemeja yang sudah terbuka semua kancingnya sedari tadi.


 


 


Pria itu mendekat mengungkung tubuh istrinya yang terlentang di meja dengan kedua kaki masih berselonjor ke lantai.


 


 


"Sayang, Sayang, kamu mau melakukannya disini?" Tanya Shasha setengah menggerutu.


 


 


Bukannya menjawab, Givar malah meneruskan ciuman yang tadi. Desahan napas Shasha lolos ketika ciuman suaminya semakin turun. Givar tersenyum menyeringai mendengarnya.


 


 


"Sayang, jangan di sini... oke... kita lanjutkan, tapi... hhhh... jangan di sini!" Gerutu Shasha sembari memukul punggung suaminya karena kesal.


 


 


Givar berhenti. Dia menatap istrinya yang sudah menyerah karena ulahnya. Pria itu menyeringai puas dengan hasil kerjanya.


 


 


"Big Bunny... jangan melihatku seperti itu," gerutu Shasha pelan. Givar tersenyum, "Memangnya kenapa? Aku sedang melihat istriku sendiri."


 


 


Pria itu menarik baju istrinya membuat kancing-kancing itu lepas dan bertebaran ke lantai. Shasha terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.


 


 


"Jangan protes, aku lagi marah," ucap Givar.


 


 


"Givar... kamu..." Shasha berhenti bicara saat pria itu mengecup dan bermain dengan dadanya.


 


 


"Givar, jangan di dapur!" Shasha *** rambut suaminya sambil menggelinjang.


 


 


Givar berhenti, dia tersenyum penuh kemenangan. Dengan segera, dimatikan kompor itu. Givar menarik Shasha dan mengangkat tubuh itu ke kamar.


 


 


~


 


 


Makan malam,


 


 


Givar dan Shasha tengah menyantap hidangan makan malam mereka, sop ayam.


 


 


Givar tampak menikmati makan malamnya, berbanding terbalik dengan Shasha yang sama sekali tidak bernafsu ketika makan.


 


 


"Sop ayamnya tidak enak. Ini gara-gara kamu tadi maksa terus... jadinya aku ninggalin masakan." Shasha menggerutu pelan.


 


 


Givar menoleh sambil terkekeh, "Sop ayamnya enak, kok."


 

__ADS_1


 


"Lidah kamu mati rasa, ya?" Gerutu Shasha. Givar tertawa, "Ini karena aku sering memakan hidangan yang lebih lezat."


 


 


Shasha memutar bola matanya.


 


 


"Udah lama Sven gak kesini, apa dia baik-baik aja? Gimana kalo kita nganterin makanan ke rumah dia?" Tanya Givar.


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Setelah memasukkan makanan ke dalam kotak bekal, Shasha bersama Givar pergi ke rumah Sven.


 


 


Givar mengetuk pintu kokoh bercat coklat gelap itu. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Sven yang membuka pintu. Pandangan pasangan Hardiswara itu tertuju pada tangan Sven yang tengah membawa buku.


 


 


"Aku mengantarkan makanan," kata Shasha sambil memberikan kotak bekal pada Sven. Pria itu menerimanya, "Makasih, kalian mau masuk?"


 


 


Shasha dan Givar saling pandang.


 


 


Di dalam rumah,


 


 


Sven memakan masakan Shasha. Dia makan sembari membaca buku.


 


 


Givar membaca buku lain yang menumpuk di meja. Semua bukunya berisi tentang psikologi dan pelajaran hidup. Bagi Givar, Sven terlihat seperti sedang mencoba mengubah haluan hidupnya.


 


 


Sementara Shasha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Dia merasa pangling melihat keadaan rumah Sven yang bersih dan lebih rapi. Sangat jauh berbeda dengan waktu pertama kali datang.


 


 


Terlihat dan terasa seperti rumah yang nyaman. Shasha tersenyum dan tidak ingin berhenti memandangi ruangan tersebut.


 


 


Semua benda berada pada tempatnya. Aroma jeruk segar memenuhi ruangan, itu berkat pewangi ruangan.


 


 


Terima kasih, pewangi ruangan.


 


 


Di dinding juga terpasang hiasan-hiasan antik. Namun, tidak ada satu pun foto yang tertempel atau terpajang.


 


 


Sepertinya Sven menyimpan foto memang bukan untuk dipajang.


 


 


Kini pandangan Shasha tertuju pada buku-buku di meja. Dia mengerti dengan keadaan kakaknya. Shasha tersenyum tipis.


 


 


"Kemaren-kemaren kamu kemana?" Tanya Shasha sembari menatap kakaknya.


 


 


Sven menoleh sesaat pada adiknya. Seperti menjawab Amelia tadi siang, "Ada urusan di luar."


 


 


Givar menoleh pada Shasha dan kakak iparnya bergantian kemudian kembali membaca buku.


 


 


"Mama sama papa tahu kalo kamu tinggal di rumah ini," kata Shasha. Sven menyimpan bukunya ke meja sambil melahap suapan terakhirnya.


 


 


"Mereka pasti tahu dari orang-orang suruhan papa." Sven menyimpan kotak bekal yang sudah kosong itu ke bawah meja. "Nanti kalo udah dicuci, aku balikin ke kamu."


 


 


Mendengar perkataan Sven, Shasha mengangguk, "Tadi mama nelepon, nanyain kabar kita."


 


 


 


 


Sven dan Shasha mendongkak menatap pria itu.


 


 


"Ahhh, aku ke depan dulu, ya."


 


 


Pria itu berlalu keluar, membiarkan adik kakak itu berbicara dengan leluasa. Sven melihat punggung adik iparnya yang semakin menjauh.


 


 


"Mama kangen sama kamu. Dia pengen ketemu sama kamu. Kenapa kamu gak menemui mereka?" Tanya Shasha membuat perhatian Sven teralihkan pada adiknya.


 


 


"Belum saatnya," kata Sven.


 


 


"Kamu nunggu apa? Kamu gak lagi ngelakuin kejahatan, kan?" Tanya Shasha dengan ekspresi penuh kecurigaan.


 


 


"Kejahatan apa? Kamu tahu, kan, aku lagi nyelidikin orang yang ganggu kita?" Sven menjawab dengan nada setengah membentak.


 


 


Shasha mendengus dingin, "Lupakan saja... kamu udah tenang dengan kehidupan yang sekarang. Aku juga udah ngelupain insiden itu."


 


 


Mendengar ucapan adiknya, Sven tidak memberikan tanggapan. Dia menyimpan bukunya ke meja dengan sedikit melemparnya.


 


 


"Waktu itu kamu pernah bilang, keluarga Gustiar memang sudah ditakdirkan menjadi gila. Sekarang saatnya kita sembuh. Menjadi orang yang memiliki gangguan jiwa dan berbeda dengan orang lain itu tidaklah menyenangkan," ucapan Shasha tidak membuat kakaknya bergeming. Pria itu masih pada posisi.


 


 


Hening.


 


 


Sven bergumul dengan pikirannya sendiri. Lalu dia menyandarkan punggungnya ke sofa.


 


 


Shasha kembali bersuara, "Lagian... orang itu udah berhenti gangguin kita, kan? Semuanya sudah berlalu sejak lama."


 


 


Sven langsung menyahut, "Tidak, dia tidak akan pernah berhenti mengganggu kita. Saat ini, dia tidak sedang berhenti... tapi sedang menunggu waktu."


 


 


Mendengar itu, Shasha cukup merinding, "Kamu tahu dari mana? Apa kamu sudah tahu orangnya?"


 


 


Sven menggeleng, "Aku belum tahu, tapi... sepertinya aku mendekati petunjuk."


 


 


Shasha mengernyit, "Apa dia orang dekat?"


 


 


Sven menggeleng, "Orang-orang suruhanku sedang mencari tahu lebih dalam lagi."


 


 


Shasha mengangguk mengerti, "Tidak perlu berpikir keras. Kamu harus menjaga kesehatan."


 


 


Setelah berkata demikian, Shasha berlalu.


 


 


Sven tersenyum sembari mendecih, "Bagaimana aku bisa menjaga kesehatan? Aku sudah gila total."


 


 


Shasha keluar dari rumah Sven. Dia melihat suaminya yang tengah duduk di kursi di depan rumah.


 


 


Pria itu menoleh pada istrinya, "Udah selesai ngomongnya?"


 


 


Shasha mengangguk. Mereka berdua kembali ke rumah. Shasha memikirkan ucapan Sven. Namun, sepertinya rasa kantuk sudah merasuki wanita itu. Dia melelapkan tubuhnya ke ranjang. Kedua matanya mulai terpejam.

__ADS_1


 


 


Givar masuk kamar dengan memakai jubah tidurnya yang berwarna biru gelap. Pria itu membaringkan tubuhnya di samping Shasha. Givar memposisikan tubuhnya menyamping agar bisa melihat wajah istrinya yang terlelap.


 


 


Pria itu tersenyum. Dia mendekat dan mengecup leher Shasha. Tidak kunjung bagun, Givar menyesap leher istrinya. Shasha sedikit bergerak, namun kembali tenang.


 


 


Givar cemberut, dia menyentuh dada istrinya membuat kedua mata itu kembali terbuka. Shasha menoleh pada suaminya.


 


 


"Sayang, kamu bilang tadi kalo waktunya tidur, ya tidur. Kenapa malah menggodaku?" Tanya Shasha sambil menepuk-nepuk pipi Givar.


 


 


Pria itu menatap Shasha dengan penuh intimidasi. Rasa kantuk yang tadi sempat singgah mendadak hilang, karena melihat ekspresi Givar. Shasha tidak berani menatap mata itu terlalu lama. Sehingga dia mengalihkan pandangannya.


 


 


"Aku menginginkanmu lagi, Sayang." Givar mendesah di telinga Shasha. Wanita itu merasa geli dengan ulah suaminya.


 


 


"Aku menginginkan tubuh kamu... kamu udah bikin aku menginginkannya terus dan terus... aku gak bisa berhenti."


 


 


Jujur saja, Shasha merasa sedikit takut dengan ekspresi Givar yang tidak seperti biasanya. Wanita itu hanya bisa mengangguk.


 


 


Givar mendekat dan mencium bibir Shasha. Wanita itu membalas ciuman suaminya.


 


 


Shasha merasakan pahanya menyentuh sesuatu. Kedua matanya terbuka.


 


 


Pandangan suami istri itu bertemu.


 


 


"Kamu merasakannya? Dia membutuhkan kamu, dia ingin memasukimu."


 


 


~


 


 


Sinar matahari pagi dengan malu-malu mengintip lewat celah ventilasi kamar, seolah ingin melihat apa yang sedang terjadi di ruangan itu.


 


 


Givar masih tertidur telungkup di atas tubuh Shasha dengan tubuh polos tertutupi selimut. Wajah pria itu terlelap ke ceruk leher istrinya. Sementara Shasha berada di bawah suaminya dengan sebelah tangan merangkul punggung kekar itu.


 


 


Perlahan Shasha membuka matanya. Dia merasa sedikit sesak karena Givar yang tertidur sembari menindihnya, itu terjadi semalaman. Shasha tidak bisa bergerak dalam posisi seperti itu. Tangannya menyentuh rambut Givar yang sedikit berkeringat. Dia mengusapnya dengan lembut.


 


 


"Sayang, udah pagi. Bangun, Sayang." Shasha berbisik lirih ke telinga suaminya. Bisikan itu tidak membuat Givar bergeming sedikit pun.


 


 


Shasha mengusap punggung suaminya, "Sayang, Givar? Big Bunny?"


 


 


"Emmhh," desahan itu yang lolos dari bibir suaminya dan malah mengeratkan pelukannya membuat Shasha semakin sesak.


 


 


Suamiku ini mau membunuhku, batin Shasha setengah menggerutu.


 


 


"Sayang, aku belum masak buat sarapan," kata Shasha. Givar malah menggelinjang malas.


 


 


Tanpa pikir panjang, Shasha menggigit cuping telinga suaminya. Givar sedikit tersentak dan mencondongkan tubuhnya. Selimutnya melorot dari punggung Givar. Shasha segera menutupi dadanya yang terekspos dengan kedua tangan.


 


 


Givar mengusap telinganya yang malang. Dia membuka mata dan menatap Shasha yang berada di bawahnya.


 


 


"Kamu liar banget, sih. Telinga aku digigit... sakit ini," kata Givar dengan nada bicara seperti anak kecil sembari mengerucutkan bibirnya.


 


 


Shasha terkekeh kemudian mengusap telinga suaminya, "Maafin aku, lagian... kenapa kamu susah banget dibangunin."


 


 


"Sini gantian, aku mau gigit telinga kamu," gerutu Givar sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Shasha.


 


 


Wanita itu menahan dada Givar. Namun, tenaganya sama sekali tidak berarti untuk melawan Givar.


 


 


"Jangan, jangan... ih... aku udah minta maaf, kan!" Shasha menggerutu kesal.


 


 


Givar tidak peduli. Dia menyingkirkan tangan Shasha dan melumat cuping telinganya.


 


 


Shasha tertawa karena merasa kegelian. Dia memukul-mukul dada suaminya. Givar tertawa juga di sela kegiatannya.


 


 


"Berhenti! Ini geli! Aku mau pipis!" Teriak Shasha yang terus-menerus tertawa.


 


 


Givar tidak mau berhenti. Tangannya juga menggerayang kemana-mana membuat Shasha kewalahan.


 


 


"Givar! Shit!" Shasha mengumpat. Sementara Givar malah tertawa mendengar umpatan istrinya.


 


 


Shasha yang masih tertawa karena kegelian, mendorong kuat dada suaminya. Pria itu memang sedikit terjungkal, namun dia terjungkal sambil menarik tubuh istrinya, sehingga Shasha menindihnya.


 


 


Givar melepaskan lumatannya. Dia merasakan dada Shasha menekan dadanya di posisi panas seperti itu. Pria itu tertawa.


 


 


"Shit, kamu memang suka membuatku on pagi-pagi begini." Givar mengusap punggung polos istrinya. Shasha segera bangkit duduk di paha suaminya.


 


 


"Cukup main-mainnya, Givar." Shasha menggerutu sambil mencubit perut kotak-kotak milik Givar.


 


 


Sama sekali tidak merasa sakit, pandangan Givar tertuju pada dada istrinya. Melihat arah tatapan suaminya, Shasha segera menutupi dadanya.


 


 


Givar tertawa, "Come on, Baby." Pria itu menarik tangan Shasha agar tidak menghalangi pemandangannya.


 


 


"Kenapa ditutupi? Aku mau melihat benda favoritku."


 


 


Shasha mempertahankan kedua tangannya. Dia menggerutu, "Givar, kalo begini terus, kapan berakhir? Kamu kesiangan."


 


 


"Gapapa, aku rela setiap hari kesiangan untuk ini," kata Givar sambil bangkit duduk. Shasha yang berada di pangkuan Givar akan beranjak, namun pria itu menahannya.


 


 


"Please, do it." Givar mengecup leher istrinya untuk membuat wanita itu menginginkannya juga.


 


 


"Givar... aku mau pipis dulu... lepasin sebentar," ucap Shasha sembari menahan dada suaminya.


 


 


"Nanti malah kabur kayak kemaren," gerutu Givar. Shasha menggeleng, "Aku bakalan balik lagi. Udah gak kuat pengen ke kamar mandi."


 


 


"Disini aja pipisnya."


 


 


~•o•~


 


 


00.00 : 27 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2