GRAPPLE

GRAPPLE
Accident


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Memberikan luka padaku adalah awal dari bencana._


 


 


~•o•~


 


 


"Sekarang gua harus pergi, gua harus ngambil salah satu koneksinya," ujar Sven sembari memasukkan semua barangnya ke dalam ransel. Pria itu mengenakan jaket hitam dan topi hitam pula.


 


 


Givar yang mendengar itu tidak memberikan tanggapan. Sehari tadi dia memperhatikan apa yang dilakukan Sven.


 


 


"Orang-orang gua pasti bisa nangkep salah satu dari mereka. Lebih bagus, kalo mereka dapetin anak buahnya," sambung Sven.


 


 


Merasa tidak dihiraukan, Sven menoleh pada Givar, "Lo bawa aja Shasha kemana pun lo pergi, gua gak lama, kok."


 


 


Givar mengangguk.


 


 


Sven membuka plester di pelipisnya. Pria itu meringis tertahan kala plesternya terlepas.


 


 


Sven menepuk bahu Givar, "Gua pergi, jaga adek gua, ya."


 


 


Tanpa menunggu tanggapan Givar, Sven berlalu. Dia masuk ke mobil Froy yang kemudian melaju meningalkan kompleks yang tenang itu.


 


 


Di perjalanan, Sven menelepon Amelia. Sementara Froy fokus menyetir.


 


 


"Halo? Sven? Kamu baik-baik aja?" Tanya Amelia di seberang sana. Gadis itu sedang menulis di kamarnya.


 


 


Sven tersenyum, "Iya, aku baik-baik aja, kok."


 


 


Amelia mengapit ponselnya dengan bahu dan telinga, kedua tangannya sibuk menulis, "Kamu butuh bantuan?"


 


 


"Tidak, aku mau bilang sesuatu, jawab Sven.


 


 


Amelia terkejut, otomatis dia menghentikan aktivitasnya dan serius mendengarkan, "Bilang apa?"


 


 


"Aku mau pergi beberapa hari. Jadi, kamu gak perlu dateng ke rumah. Shasha juga gak bakalan ada di rumah," ucap Sven.


 


 


Amelia terbelalak kaget mendengar itu. Ponselnya jatuh ke meja. Amelia segera mengambil kembali ponselnya.


 


 


Sven terkejut mendengar suara gaduh dari seberang sana. Dia melihat ponselnya sekilas kemudian meletakkannya kembali ke telinga.


 


 


"Kenapa, Mel? Kamu baik-baik aja?"


 


 


Amelia menepuk dahinya, "Ah, i-iya... aku gapapa. Oke, kalo kamu sama Shasha gak di rumah, aku gak akan dateng, kok."


 


 


Sven mengangguk.


 


 


Hening.


 


 


Ketika berbicara lewat telepon pun, mereka tidak memiliki topik pembicaraan yang bagus.


 


 


"Aku...."


 


 


"Oh, ya...."


 


 


Sven mengeluarkan suaranya, begitupun dengan Amelia. Alhasil mereka bicara berbarengan.


 


 


Sven dan Amelia tertawa karena tingkah konyol sendiri.


 


 


"Kamu dulu," kata Sven yang menghentikan tawanya.


 


 


"Emmm... aku lupa mau bilang apa. Kamu aja yang ngomong."


 


 


"Ah, aku juga lupa."


 


 


Kembali sunyi.


 


 


Tiba-tiba mereka tertawa lagi.


 


 


"Aku tidak tahu, kenapa kita tidak punya sesuatu untuk dibicarakan." Sven menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


 


 


"Lain kali kita akan punya cerita."


 


 


Sven mengernyit, "Maksudnya?"


 


 


"Ah? Emm... Maksudku, lain kali kita akan punya sesuatu untuk diceritakan."


 


 


Sven mengangguk mengerti, "Terima kasih mau membantuku."


 


 


"Iya."


 


 


Sementara itu,


 


 


Givar mengajak Shasha ke kantor. Untuk pertama kalinya Shasha diajak suaminya ke pusat keuangan keluarga Hardiswara itu. Semua orang yang berpapasan menyapa dengan ramah.


 


 


Shasha tersenyum sembari menjawab sapaan mereka. Keduanya memasuki ruangan Givar.


 


 


"Aku harus ngapain di sini?" Tanya Shasha. Givar tampak berpikir, "Ngapain aja, deh."


 


 


Pria itu duduk di kursi kebesarannya. Sementara Shasha memilih duduk di sofa sembari membaca majalah yang ada di meja.


 


 


Rasa bosan mulai mengganggu. Shasha sudah berkali-kali mengganti posisi duduknya. Tanpa disadari, Givar memperhatikan Shasha walaupun hanya sekilas. Pria itu tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil.


 


 


"Sayaaaang," panggil Shasha. Pandangan Givar teralihkan pada istrinya.


 


 


"Mau cemilan." Shasha menunjuk perutnya yang kelaparan. Givar terkekeh. Tak lama kemudian, OB kantor masuk dan membawa beberapa cemilan untuk Shasha.


 


 


Wanita itu tampak semangat memakan cemilan itu.


 


 


Givar hanya menggelen pelan lalu kembali fokus ke layar.


 


 


"Sayaaaang." Shasha memanggilnya lagi. Givar lagi-lagi menoleh, "Apa lagi, Sayang?"


 


 


"Boleh aku ngemil banyak?" Tanya Shasha dengan ekspresi ragu.


 


 


"Iya boleh, memangnya kenapa kamu harus bertanya dulu?"


 


 


"Kalo aku gendut, gapapa, kan?" Tanya Shasha.


 


 


Givar membayangkan Shasha yang gemuk. Pria itu menoleh pada istrinya, "Gapapa, Sayang. Palingan kamu nambah imut."


 


 


"Beneran? Ye!" Shasha melanjutkan memakan cemilannya.


 


 

__ADS_1


Givar hanya menggeleng pelan lalu tersenyum mesum, dan empuk.


 


 


Tak lama kemudian, Shasha tertidur di sofa karena kekenyangan. Givar menghampiri istrinya. Pria itu menyelimuti tubuh Shasha dengan jasnya.


 


 


"Cepet banget tidurnya, nanti malam kamu gak bisa tidur lebih awal. Eh, tapi gapapa. Biar lebih lama," ucap Givar sembari tersenyum licik.


 


 


Pria itu mengusap rambut istrinya kemudian kembali duduk di kursi. Pintu ruangan diketuk. Givar menoleh, "Masuk."


 


 


Helieen masuk dengan beberapa map di tangannya. Wanita itu menoleh pada Shasha yang tertidur lelap di sofa.


 


 


"Emm, apa perlu saya bawakan selimut, Tuan?" Tanya Helieen. Givar menoleh pada Shasha sesaat, "Tidak perlu. Ada apa?"


 


 


"Dokumen laporannya." Helieen memberikan dokumen-dokumen itu pada Givar kemudian mengangguk hormat dan berlalu.


 


 


~


 


 


Makan siang,


 


 


Shasha yang masih mengantuk dibawa Givar ke restoran. Mereka berdua memesan makan siang.


 


 


Shasha melelapkan kepalanya ke bahu Givar sembari tertidur lagi. Givar memutar kedua bola matanya.


 


 


"Ah, putri tidur yang satu ini benar-benar tukang tidur. Tidak tahu tempat, bisa tidur di mana saja. Bahaya jika aku meninggalkannya di tempat umum." Givar menggerutu sendirian.


 


 


Seketika Shasha membuka matanya dan menatap Givar.


 


 


"Aku emang tidur, tapi telinga aku bisa denger kamu, tahu!" Gerutu Shasha sambil duduk tegak.


 


 


Givar tertawa, "Lagian kamu suka banget tidur di sembarangan tempat."


 


 


Shasha cemberut.


 


 


Makanan yang dipesan Givar telah tiba. Shasha menutup mulutnya yang sedang menguap.


 


 


Mereka pun menyantap makan siang dengan lahap.


 


 


Givar melihat Felix yang datang memasuki restoran. Dia melambaikan tangannya pada Felix. Pria itu menoleh.


 


 


"Tuan Hardiswara," sapa Felix.


 


 


Shasha menoleh pada pria yang baru saja datang itu.


 


 


"Duduklah, kita makan siang bersama," kata Givar. Felix menunjuk dadanya, "Aku? Ah, aku tidak mau mengganggu kalian."


 


 


"Apa yang anda bicarakan, kami senang jika anda bergabung," kata Givar. Akhirnya Felix duduk dengan pasangan itu.


 


 


"Kalian sudah lama?" Tanya Felix.


 


 


Givar menjawab, "Baru saja.... Pelayan."  Givar melambaikan tangannya. Salah seorang pelayan datang menghampiri.


 


 


Felix memesan makanan. Kemudian mereka berbincang. Shasha yang tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan dua pria itu memilih diam dan mengunyah makanannya.


 


 


Sementara itu,


 


 


Sarah sedang menyetir mobilnya. Wanita itu baru pulang dari kantor. Hari ini dia pulang lebih cepat dari biasanya.


 


 


Sebuah mobil melaju cepat dari belakang dan menabrak sudut bagian belakang mobilnya. Sarah tersentak ke depan. Wanita itu menepikan mobil sembari meringis dan menyentuh dahinya yang sedikit berdarah karena berbenturan dengan dashboard.


 


 


Mobil yang barusan menabraknya melaju pergi begitu saja seolah tidak terjadi sesuatu.


 


 


 


 


Ponsel Shasha bergetar. Dia berhenti makan dulu, kemudian mengangkat panggilan masuk dari nomor tak dikenal itu.


 


 


Givar dan Felix menoleh padanya.


 


 


"Halo? Iya, saya putrinya."


 


 


"..."


 


 


Shasha terbelalak kemudian menoleh pada suaminya, "Sayang... mama aku."


 


 


Givar terkejut.


 


 


~


 


 


Di rumah sakit, seorang perawat sedang mengobati luka di dahi Sarah.


 


 


Shasha dan Givar melihat dari luar. Mereka tampak khawatir. Setelah berbicara dengan perawat, keduanya diperbolehkan menemui Sarah.


 


 


Shasha memeluk ibunya.


 


 


Adam bersama Juan dan Yelma datang. Mereka tampak cemas mendengar kabar bahwa mobil Sarah di tabrak orang tak dikenal.


 


 


Juan mengajak putranya berbicara di luar.


 


 


"Aku mendengar dari orang-orangku, ada seseorang yang masuk ke rumah kamu dan hampir melukai Shaquellin. Apa yang terjadi?" Ucap Juan diakhiri dengan pertanyaan.


 


 


Givar menjawab, "Papa gak perlu khawatir, aku sudah mengurus semuanya dengan baik."


 


 


"Givar, kamu gak bisa menyembunyikan ini dari Papa. Kamu tidak tahu, betapa khawatirnya Papa sama mama," kata Juan.


 


 


Givar mengangguk.


 


 


"Ada masalah apa? Kenapa gak lapor polisi?" Tanya Juan.


 


 


"Aku udah lapor, tapi mereka tidak bergerak cepat. Aku udah nyuruh orang-orangku untuk melakukan penyelidikan biar lebih cepet." Givar berlalu menghindari ayahnya.


 


 


"Givar, Papa belum selesai bicara."


 


 


Pria itu tidak menghiraukan ayahnya. Sebenarnya dia hanya tidak ingin membuat ayah dan ibunya khawatir. Dia sudah besar dan tidak mau merepotkan mereka.


 


 


"Givar!"


 


 


"Bumantara!"


 


 


Langkah Givar terhenti. Jika Juan sudah memanggil nama depannya, itu artinya dia sedang marah.


 


 


Juan menghampiri putranya dan menarik bahu kekar itu agar menoleh padanya. "Papa akan ngurus ini. Papa akan lapor polisi."


 


 


Givar membuang muka ke arah lain lalu kembali menatap ayahnya, "Kalo Papa mau bantuin aku, jangan lapor polisi."


 


 


Juan mengernyit bingung, "Kalo gak lapor polisi, gimana? Nanti malah makin repot, Var."


 


 


"Aku udah ngurus ini dengan baik, Papa gak perlu khawatir. Papa percaya sama aku, kan?" Givar melirik ayahnya.


 

__ADS_1


 


"Enggak," jawab Juan sembari menggeleng.


 


 


Givar mengusap kasar wajahnya.


 


 


Yelma keluar dari ruangan. Kedua pria Hardiswara menoleh.


 


 


"Pa, Mama mau ngomong," kata Yelma. Juan mengangguk kemudian keduanya berlalu meninggalkan Givar.


 


 


Mengusap rambutnya ke belakang, itu yang dilakukan Givar. Dia melihat istrinya keluar dari ruangan dengan ekspresi sedih.


 


 


Givar membawa istrinya duduk di kursi. Shasha menangis ketika Givar merangkulnya.


 


 


"Kenapa keluargaku dalam masalah? Apa salah keluargaku? Apa salahku? Apa salah Mama?" Tangis Shasha.


 


 


Givar mengusap lembut lengan istrinya. Dia melelalkan kepala Shasha ke dadanya. Diciumnya rambut Shasha.


 


 


"Aku sama Sven bakalan menemukan pelakunya. Kita janji," kata Givar. Shasha mengangguk.


 


 


Sementara itu, Sven yang mau pergi ke suatu tempat harus kembali, karena mendengar dari Shasha, jika ibunya mengalami kecelakaan. Pria itu panik bukan main. Dia bertanya-tanya bagaimana keadaan ibunya.


 


 


Sven menemui Shasha di rumahnya. Dia ingin menanyakan keadaan ibunya.


 


 


Namun, Givar melarangnya, "Jangan tanya Shasha. Suasana hatinya kurang bagus. Lo bisa tanya gua."


 


 


Mereka berbicara di luar rumah, sementara Shasha sudah tertidur.


 


 


Givar memberikan saran, "Sebaiknya lo pergi aja langsung ke rumah lo, temui Mama."


 


 


Sven tampak ragu.


 


 


Setelah berpikir cukup lama, Sven memutuskan menyusup ke rumah orang tuanya. Pria itu kini berdiri di depan pintu kamar Sarah. Dengan hati-hati, dibukanya pintu kokoh itu.


 


 


Terlihat Sarah tengah tertidur. Ada perban di kepalanya. Ingin sekali pria itu memeluk sang ibu, namun dia tidak ingin ibunya sedih melihat keberadaan dirinya.


 


 


Sven melangkah pergi.


 


 


"Svender?"


 


 


Langkahnya terhenti kala sang ibu memanggil namanya. Di kamar, kedua mata Sarah terbuka dengan pandangan tertuju ke ambang pintu.


 


 


"Sven, kemarilah." Suara Sarah bergetar menandakan rasa rindu yang menumpuk di hatinya.


 


 


Langkah itu terdengar mendekat. Kedua mata Sarah membulat ketika melihat bayangan di lantai. Pria itu datang.


 


 


Raut kekecewaan seketika menghiasi wajah cantiknya yang sudah tak muda lagi. Pria yang dia lihat bukan Sven, melainkan suaminya.


 


 


Adam menghampiri istrinya. Dia duduk di tepi tempat tidur.


 


 


"Kamu kangen sama Sven?" Tanya Adam.


 


 


Sarah mengangguk seraya mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan air mata yang sudah berlinang.


 


 


Adam memeluk istrinya, "Dia akan kembali... dia baik-baik saja. Kamu tahu sikapnya, kan? Dia keras kepala. Jadi, kita hanya perlu menunggu."


 


 


~


 


 


Keesokan harinya, Givar meminta Amelia datang dan membawa Shasha ke rumah wanita itu. Setidaknya Shasha akan aman berada di rumah Amelia, karena di sana Amelia menyewa bodyguard untuk menjaga rumahnya.


 


 


Sebenarnya Givar juga sanggup menyewa bodyguard, tapi dia tidak terbiasa dengan kehadiran orang asing di rumahnya. Givar memiliki banyak bodyguard bukan untuk menjaga rumah, tapi disuruhnya untuk membantu orang-orang kepercayaannya untuk melakukan sesuatu.


 


 


Di rumah Amelia, Shasha menemukan banyak hal baru yang menarik perhatiannya.


 


 


Ada banyak buku jurnal, buku harian, buku-buku lainnya yang dibuat dengan tema-tema lucu, seperti tokoh kartun.


 


 


"Kamu ngumpulin ini dari mana?" Tanya Shasha semangat.


 


 


Amelia yang sedang menulis menoleh, "Aku bikin sendiri. Aku menggambar di tab, terus di cetak dan dibuat sampul. Aku juga bikin sketsa buat lembaran kertasnya."


 


 


"Waaahh, kamu kreatif bangeeet."


 


 


Mendengar pujian Shasha, Amelia hanya tersenyum, "Kamu mau coba bikin gambar? Nanti aku cetak terus bikin sampulnya buat kamu."


 


 


Shasha mengangguk semangat.


 


 


Amelia membawa tab miliknya. Dia menghampiri Shasha dan mengajarkan cara menggambar di tab tersebut.


 


 


Shasha mengangguk paham. Dia mulai mencoba. Amelia memperhatikannya.


 


 


Meskipun beberapa kali salah dan menghapusnya, Shasha bisa belajar cepat dari Amelia. Walaupun gambarnya tidak sebagus Amelia, Shasha merasa puas.


 


 


Sketsa bunga amaryllis yang diberikan sentuhan warna ungu.


 


 


"Gambarmu bagus, kamu suka bunga cantik ini?" Tanya Amelia. Shasha tersenyum, "Aku hanya mengagumi makna yang dimiliki bunga ini."


 


 


Amelia mengangguk mengerti.


 


 


Di kantor, Givar dan Felix sedang membahas proyek kerja sama mereka. Ada beberapa karyawan juga yang hadir di ruangan tersebut, termasuk sekretaris kedua pengusaha kaya itu.


 


 


Ketika serius memperhatikan Felix yang sedang berbicara, pandangan Givar teralihkan pada Sven yang datang membanting pintu. Semua orang di ruangan itu menoleh padanya, tak terkecuali Felix.


 


 


Dengan langkah gegas dan ekspresi penuh kemarahan, Sven menarik bagian depan kemeja Felix, sebelum pria itu mengatakan apa-apa, hantaman keras mengenai wajahnya.


 


 


Felix tersungkur ke lantai.


 


 


Semua orang yang menyaksikan itu tampak kaget.


 


 


Givar terbelalak dengan apa yang dilakukan kakak iparnya.


 


 


Belum merasa puas, Sven menarik jas Felix agar pria itu kembali bangun.


 


 


"Berdiri!" Hardik Sven.


 


 


Hantaman kedua mendarat di hidungnya yang mancung, kali ini lebih keras.


 


 


"Sven! Apa yang lo lakuin!" Givar menarik Sven agar menjauh dari kliennya.


 


 


Sementara Felix mencoba berdiri dengan tubuh terhuyung dibantu sekretaris dan karyawannya yang juga ikut hadir.


 


 


Sven akan memukulnya lagi, namun Givar masih berusaha menahannya. Tubuh mereka sama-sama kekar, namun tenaga Sven jauh lebih besar, apalagi dia sedang sangat marah.


 


 


"Dia orangnya! Dia dalang dari semua ini!"


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


16.33 : 27 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2