
~•o•~
_Semua manusia di dunia ini pernah melakukan kesalahan._
~•o•~
Shasha melangkah keluar dari rumah kakaknya. Dia berjalan sembari memperlihatkan ekspresi kosong. Wanita itu mengusap air mata yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya. Suasana hatinya menjadi campur aduk setelah melihat foto-foto insiden itu.
Rasa takut, marah, kesal, sedih, menyesal, semuanya bercampur menjadi satu.
Shasha memasuki rumahnya. Dia melihat meja makan, ada sepiring nasi dengan lauk. Wanita itu tersenyum. Givar yang menyedikan itu untuknya.
Namun, dia tidak ingin makan.
Wanita itu memasuki kamar. Yang pertama dia lihat adalah sosok pria tengah tertidur pulas. Givar tampak damai di atas bantalnya. Shasha mengerti, seharian berada di kantor pasti sangat melelahkan. Dirinya juga pernah memegang perusahaan cabang milik ayahnya.
Shasha melelapkan tubuhnya di samping suaminya. Wanita itu menatap punggung kekar milik suaminya. Dengan lembut, Shasha mengusapnya.
Sebenarnya Givar tidak benar-benar tidur, dia sedang pura-pura tidur. Kedua matanya terbuka merasakan tangan istrinya yang mengusapnya dengan lembut.
Keheningan malam membuat Shasha sedikit takut. Dia tidak terbiasa tidur lebih akhir. Dulu, ibunya akan menemani Shasha sampai tertidur, lalu pergi setelah memastikan putrinya itu sudah terlelap. Kebiasaan barunya itu dimulai sejak kecelakaan yang menewaskan Refandi.
Givar menyadari jika istrinya sedang cemas. Pria itu sangat mengetahui betul seperti apa Shasha. Ingin sekali rasanya dia memeluk tubuh Shasha dan memberikan rasa aman, namun dia masih merasa kesal karena Shasha masih menyesali kepergian tunangannya.
Pria itu tetap bertahan pada posisi. Dia akan berdiam dalam kepura-puraan. Seperti Shasha yang mungkin saja berpura-pura mencintainya.
Shasha *** selimut. Dia menutupi seluruh tubuhnya sembari menangis dalam diam. Dia takut dengan kesendirian.
Givar merasa kasihan juga. Pria itu berbalik dan membuka selimut yang membungkus tubuh Shasha. Ternyata istrinya itu sudah tertidur dengan wajah basah.
Givar mengusap pipi Shasha dengan lembut. Pria itu menatap wajah cantik istrinya.
"Dia sudah tidak ada, sekarang hanya ada aku. Apa kamu akan tetap memikirkannya?"
Givar mengecup bibir Shasha.
~
Ketika hari mulai pagi, Shasha membuka matanya. Wanita itu mendapati dirinya sendirian di kamar.
Kemana suaminya?
Wanita itu menuruni tangga menuju dapur. Di meja makan, sudah tersedia roti panggang dan selai coklat. Ada note kecil berwarna merah muda yang ditempel di pintu kulkas dengan magnet berbentuk wortel kecil.
Sarapan...
Hanya satu kata itu yang tertulis di note tersebut.
Sementara itu di kantor,
Givar sedang menatap kesal pada Helieen dan dua karyawan lain yang sedang berdiri di depannya. Tuan Hardiswara tampaknya sedang marah.
Tidak biasanya pria itu akan marah ketika karyawannya berbuat salah. Namun kali ini, hanya ada kesalahan kecil dan dia marah dengan mudah.
Ketiga orang itu hanya bisa menunduk dalam. Givar menyandarkan punggungnya ke kursi. Pria itu menghela napas gusar sembari memijit pelipisnya.
"Kembali sana," kata Givar dengan sarkas.
Mereka bertiga mengangguk hormat kemudian berlalu. Givar melempar map kuning itu ke meja.
Ponselnya bergetar. Pria itu melihat nama seseorang di layar. Givar mengangkat panggilan tersebut.
"Tuan Hardiswara."
"Hemm, aku mendengar."
"Tidak ada yang aneh tentang Tuan Glend. Dia seorang pengusaha seperti anda, dia juga memiliki sikap baik. Tidak ada catatan miring tentangnya."
"Cek juga apa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Kalau bisa, minta bantuan polisi dan cari data-data lainnya. Siapa saja yang terlibat dalam insiden itu."
"Baik, Tuan. Kami akan berusaha."
Givar melempar ponselnya ke meja. Dia menatap keluar jendela besar di ruangannya. Pria itu melangkah mendekati jendela tersebut.
Kesibukan kota Jakarta. Seperti biasa. Givar teringat pada Shasha.
Apa dia sudah sarapan? Semoga dia baik-baik saja.
Pintu ruangannya diketuk. Givar menoleh, "Masuk."
Aarletha yang datang. Wanita itu masuk tersenyum ceria. Dia bertanya, "Sedang apa berdiri di sana? Melihat bangunan-bangunan besar?"
Givar menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Aku mau bilang sama kamu, besok aku..." belum sempat Aarletha menyelesaikan kalimatnya, Givar menarik pinggang wanita itu. Aarletha sedikit terkejut. Wajah mereka begitu dekat.
"Kamu kenapa?" Tanya Aarletha bingung. Tiba-tiba Givar melumat bibir wanita itu.
Aarletha mengusap tengkuk Givar dan membalas ciuman pria itu. Hanya berlangsung beberapa detik. Aarletha yang melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Kamu, kan, udah nikah." Aarletha menahan dada Givar.
Namun, pria itu kembali mendekatkan wajahnya. Aarletha mengalihkan muka.
"Kamu gak boleh kayak gini, kamu gak sayang sama istri kamu?" gerutu Aarletha. Givar menautkan alisnya, "Dia juga menyayangi pria lain."
__ADS_1
Aarletha terkejut, dia menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan tidak percaya.
Givar kembali melumat bibir Aarletha. Wanita itu diam membiarkan Givar melakukannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Aarletha.
Merasa tak ada balasan, Givar melepaskan ciumannya dan menatap Aarletha dengan penuh tanya, "Kenapa?"
Aarletha menatap Givar dengan serius, "Gak mungkin istri kamu gak punya perasaan sama kamu. Dia pasti sangat mencintai kamu. Kalian menjalani hidup bersama selama ini. Mustahil tidak ada cinta yang tumbuh."
"Dia hanya mencintai cinta pertamanya," sanggah Givar.
"Lalu kamu akan mengkhianati pernikahan kalian? Kamu pikir, aku wanita apa yang berada di antara kalian. Aku memang bukan wanita baik, tapi aku tidak mau merusak hubungan orang lain," gerutu Aarletha sembari mendorong dada Givar.
Wanita itu membelakangi Givar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Meskipun aku mencintai kamu, bukan berarti aku buta hati."
Givar memiringkan kepalanya, "Aku tidak akan pulang malam ini. Apa kau mau bersamaku seperti waktu itu?"
Aarletha terkejut, dia berbalik dan menatap pria itu.
~
Shasha menunggu kedatangan suaminya. Namun, pria itu sama sekali belum terlihat batang hidungnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Shasha takut di rumah sendiri di jam itu.
Menunggu Givar, atau tidur sendiri, itu dua pilihan yang sama-sama menakutkan.
Shasha merasa mengantuk, wanita itu menguap sambil menutup mulutnya. Seseorang mengetuk pintu, Shasha segera berlalu ke depan.
Dibukanya pintu itu, "Sayang, kamu...." Shasha tidak melanjutkan kalimatnya.
Pria di depannya bukan Givar, melainkan pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Nyonya Hardiswara, aku kemari ingin menemui suamimu. Apa dia ada di dalam?" Tanya pria yang ternyata adalah Felix Donovan.
"Maaf, tapi suami saya belum pulang," jawab Shasha pelan sembari menunduk sedih. Felix tampak berpikir, "Tadi aku melihatnya keluar bersama nona Aarletha, aku pikir mereka datang kemari."
Shasha terkejut. Dia tampak berpikir, siapa nona Aarletha?
Felix membuang napas pelan, "Padahal ini penting, boleh aku masuk?"
Shasha menggeleng cepat, "Maaf, Tuan... tapi, saya tidak bisa menyuruh orang masuk, jika tidak ada suami saya."
"Begitu, ya? Oh ya, namaku Felix Donovan, klien Tuan Hardiswara." Felix mengulurkan tangannya. Shasha tampak ragu, namun dia menerima uluran tangan pria itu, "Shaquellin Adisilla Hardiswara."
Felix tersenyum, "Senang bertemu dengan anda."
Shasha menganggu hormat.
"Baiklah, aku harus pergi. Terima kasih atas waktunya."
Sembari memikirkan itu, Shasha kembali sendirian di rumah. Dia mencoba tidur di sofa sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Keesokan harinya, Shasha masih tidak melihat keberadaan Givar di rumah. Pria itu menghilang tanpa kabar.
Apa mungkin dia marah pada Shasha?
Tapi, marah kenapa?
Apa kesalahan yang sudah diperbuat olehnya?
Shasha sudah menelpon sejak kemarin, dan hasilnya sama. Nomornya tidak bisa dihubungi.
"Sebenarnya yang mati itu ponselnya, atau orangnya? Bikin orang panik aja," gerutu Shasha sambil kembali menelpon.
Wanita itu tampak kesal dan sedih. Dia bingung harus apa. Shasha ingat pada Resma, sepupu Givar yang bekerja di kantor suaminya itu.
Shasha berpikir, kemungkinan Resma akan tahu di mana Givar berada, karena mereka berada dalam satu bangunan yang sama.
"Halo, Sha?" Resma mengangkat panggilan dari Shasha. Shasha segera bertanya, "Kamu tahu, gak... Givar di mana?"
Resma yang mendengar pertanyaan itu tampak bingung, "Ah? Kok, kamu malah nanya ke aku? Kamu, kan, istrinya."
"Aku juga gak tahu... kemarin dia gak pulang. Apa dia marah, ya, sama aku?" Kata Shasha dengan diakhiri pertanyaan.
"Kalian gak berantem, kan?"
"Enggak."
"Aku coba nyari Helieen dulu, ya. Mungkin dia tahu."
Shasha mengernyit, "Helieen itu siapa?"
"Sekretarisnya."
Kesal sekali, mendengar nama-nama perempuan yang ada hubungannya dengan Givar. Jadi, selama di kantor, Givar bertemu dengan mereka?
"Aku udah nanya sama Helieen, katanya Givar kemaren sama Aarletha. Dan sekarang aku juga belum melihat dia."
Shasha mendengus, "Aarletha itu siapa, sih?!"
"Kamu gak tahu? Aarletha itu adalah mantan pacarnya Givar."
Shasha tercengang. Seketika wanita itu terdiam seribu bahasa.
Mantan pacar?
"Sha?"
__ADS_1
Shasha mematikan ponselnya. Wanita itu mengusap rambutnya ke belakang.
~
Mobil Givar terhenti di depan rumah. Pria itu keluar dari dalam mobil sembari membawa jasnya. Lengan kemejanya digulung sampai sikut, dua kancing teratasnya juga terbuka, membiarkan angin masuk menyejukkan dadanya yang terpahat sempurna.
Pria itu memasuki rumahnya sembari melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 19.25. Givar melihat keberadaan istrinya yang tengah tertidur di sofa. Pria itu menghampirinya lalu menyelimuti tubuh itu dengan jasnya.
Ketika pria itu akan berlalu, tangan Shasha lebih dulu meraihnya.
"Kamu kemana aja?" Tanya Shasha dengan suara bergetar. Givar merasa sedih melihat ekspresi cemas di wajah istrinya.
"Kalo kamu marah sama aku... aku minta maaf, ya."
Givar memeluk wanita itu dengan erat. Shasha tidak bersalah, dirinya yang bersalah. Namun, kenapa wanita itu yang meminta maaf?
Givar mengusap lembut rambut istrinya, "Kamu gak salah, Sayang."
Shasha membalas pelukan suaminya.
"Maafin aku." Givar berbisik lirih ke telinga istrinya. Shasha mengangguk kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Givar, "Kamu ngapain sama Aarletha?"
Givar kembali mengingat kilas balik kemarin di kantor.
Aarletha mengusap tengkuk Givar dan membalas ciuman pria itu. Hanya berlangsung beberapa detik. Aarletha yang melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Kamu, kan, udah nikah." Aarletha menahan dada Givar.
Namun, pria itu kembali mendekatkan wajahnya. Aarletha mengalihkan muka.
"Kamu gak boleh kayak gini, kamu gak sayang sama istri kamu?" gerutu Aarletha. Givar menautkan alisnya, "Dia juga menyayangi pria lain."
Aarletha terkejut, dia menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan tidak percaya.
Givar kembali melumat bibir Aarletha. Wanita itu diam membiarkan Givar melakukannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Aarletha.
Merasa tak ada balasan, Givar melepaskan ciumannya dan menatap Aarletha dengan penuh tanya, "Kenapa?"
Aarletha menatap Givar dengan serius, "Gak mungkin istri kamu gak punya perasaan sama kamu. Dia pasti sangat mencintai kamu. Kalian menjalani hidup bersama selama ini. Mustahil tidak ada cinta yang tumbuh."
"Dia hanya mencintai cinta pertamanya," sanggah Givar.
"Lalu kamu akan mengkhianati pernikahan kalian? Kamu pikir, aku wanita apa yang berada di antara kalian. Aku memang bukan wanita baik, tapi aku tidak mau merusak hubungan orang lain," gerutu Aarletha sembari mendorong dada Givar.
Wanita itu membelakangi Givar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Meskipun aku mencintai kamu, bukan berarti aku buta hati."
Givar memiringkan kepalanya, "Aku tidak akan pulang malam ini. Apa kau mau bersamaku seperti waktu itu?"
Aarletha terkejut, dia berbalik dan menatap pria itu.
Tamparan keras mendarat di wajah Givar, "Kamu gila?! Jika istri kamu masih mencintai pria lain, itu bukan masalah besar. Istri kamu hanya mencintainya, bukan seperti kamu yang mengajak wanita lain berselingkuh."
Givar menyentuh pipinya yang memanas karena tamparan mantan kekasihnya itu.
"Aku gak nyangka, kamu bisa sejahat ini. Aku nyesel pernah suka sama cowok brengsek kayak kamu. Aku juga bersyukur, karena tidak jadi istri kamu. Coba saja jika aku ada di posisi istri kamu sekarang, aku pasti akan menyesal dan memilih berpisah!" Setelah mengatakan itu, Aarletha berlalu dengan ekspresi kesal.
Shasha menatap suaminya yang malah melamun, "Kamu baik-baik aja?"
Givar menggeleng, "Dia cuma mantan pacar aku. Kita gak ngapa-ngapain, kok."
Shasha cemberut, "Aku cemburu, tahu!"
Givar terkejut mendengar ucapan istrinya. Dia tidak mengira Shasha akan berterus terang seperti itu. Rasa bersalahnya semakin menumpuk.
"Maafin aku," kata Givar. Shasha menoleh pada suaminya, "Kenapa minta maaf terus?"
"Aku cemburu pas denger kamu masih memikirkan mantan pacar kamu, aku pikir... kamu gak bahagia sama aku. Aku sempet mau berbuat hal buruk di belakang kamu."
Shasha mencerna ucapan suaminya. Dia mengangguk pelan.
"Jika tidak sampai terjadi, tidak apa-apa. Aku memahami kamu."
Mereka saling menatap satu sama lain.
Shasha menyentuh bibir suaminya, "Kamu sempat berciuman wanita lain. Tapi, aku juga sempat berciuman dengan pria lain, itu bukan masalah. Kita sekarang sudah terikat. Jika salah satu dari kita berpaling, maka yang satunya akan tersakiti."
Givar juga menyentuh bibir istrinya, "Aku akan membersihkannya. Mulai sekarang, ini milikmu, dan ini milikku."
Wajah mereka mendekat.
Lima cm... empat cm... tiga cm... dua cm... hidung mereka beradu.
Tiba-tiba perut Givar bersuara. Mereka berdua jadi gugup dan salah tingkah.
"Kamu belum makan?" Tanya Shasha tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya.
Givar menggeleng sembari tersenyum geli, "Dari kemarin aku gak makan."
"Semalam kamu tidur di mana?" Tanya Shasha curiga
Givar menjawab, "Di apartemen. Kalo kamu gak percaya, kamu bisa tanya tetangga apartemenku."
Shasha tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
~•o•~
__ADS_1
20.36 : 27 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah