
Di kantor,
Givar sedang duduk dengan menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua kakinya bertumpang di atas meja.
Seseorang mengetuk pintu. Givar menoleh sesaat lalu dia duduk dengan posisi normal.
"Masuk."
Masuklah seorang pria kekar berpakaian serba hitam layaknya bodyguard dengan koper di tangannya.
"Selamat siang, Tuan Hardiswara," sapa pria itu.
"Siang, duduk."
Mereka duduk berhadapan.
"Kami sudah mengecek semuanya tentang Tuan Refandi Glend."
"Bagus, apa yang kamu dapatkan, Zed?" Tanya Givar.
Pria bernama Zed itu membuka kopernya dan menunjukkan beberapa foto serta artikel dan dokumen-dokumen rahasia pada Givar.
Merasa tertarik, Givar mencondongkan tubuhnya dan melihat semua benda itu dengan serius.
Foto-foto itu kurang lebih mirip dengan foto-foto yang dimiliki Sven. Givar pernah melihat foto-foto yang lumayan mirip di rumah Sven, ketika dirinya menyusul istrinya yang sedang mengantarkan makanan ke rumah kakak iparnya itu.
"Pengusaha yang memiliki sikap ramah dan baik ketika berhadapan dengan klien. Dia tidak memiliki musuh. Namun, karena dia seorang pengusaha, ada banyak sekali saingan. Ketika kecelakaan tiga tahun lalu itu, pihak keluarga Glend menginginkan polisi menyelidikinya. Mereka merasa, jika itu bukan kecelakaan, melainkan percobaan pembunuhan."
Givar mencerna ucapan Zed.
"Polisi tidak melakukan tindakkan apa-apa, dan menganggap ini kasus kecelakaan biasa. Pihak keluarga mencurigai keterlibatan polisi dengan si pelaku. Jadi, kurang lebih... ini artinya si pelaku memiliki adalah seseorang yang besar dan orang ini cukup di segani. Atau... mungkin dia punya banyak uang, sehingga bisa melakukan apa saja."
"Jadi... kalian menyelidiki ini tanpa bantuan polisi?" Tanya Givar.
Zed mengangguk, "Kami tidak bisa meminta bantuan pada siapa pun. Jadi, kami melakukannya dengan sebisa kami. Mungkin saja orang ini berbahaya, jadi tidak ada yang ingin berurusan dengannya."
"Apa mungkin orangnya... Svender Gustiar?" Tanya Givar.
"Sepertinya tidak mungkin, Tuan Sven Gustiar tidak memiliki cukup banyak masalah jika dikaitkan dengan Tuan Refandi, mereka berdua bahkan tidak saling mengenal."
Givar tampak berpikir, "Tapi, bisa saja Refandi kesal pada orang tuanya yang lebih menyayangi Shasha lalu dia ingin membalas dendam dengan membunuh tunangannya."
Zed mencerna ucapan bosnya. Tampaknya dia juga sedang berpikir keras.
"Emm... sebenarnya... saya mungkin sedikit lancang jika mengatakan ini," ujar Zed yang terlihat agak gugup.
"Kenapa? Katakan saja? Ini demi terbongkarnya insiden ini," kata Givar.
"Awalnya... kami juga mencurigai Tuan Sven, jadi kami menyelidikinya juga. Dia itu orang yang sangat hemat. Jadi, jika seandainya dia 'berbicara' dengan polisi sebanyak itu untuk menutupi kasus ini, rasanya mustahil."
Givar mengernyit, "Lalu... apa kamu mencurigai seseorang?"
"Sepertinya orang itu bermasalah dengan Tuan Adam Gustiar."
Givar terkejut mendengar nama mertuanya disebut, "Alasannya?"
Zed pun berbicara, "Maaf, aku lancang. Tapi, melalui penyelidikan... Tuan Gustiar itu kurang disukai klien dan saingannya. Mungkin pernah terjadi pertikaian dan membuatnya semakin dibenci. Namun, sasarannya menjadi ke anak-anaknya."
Givar menaikan kedua alisnya. Dia tidak terlalu dekat dengan keluarga Gustiar. Hanya saja, keluarga Hardiswara dan keluarga Gustiar memang sudah menjalin hubungan baik sejak lama, itu hanya berlaku bagi Juan dan Adam.
"Baiklah, aku harap, kalian bisa menemukan orangnya."
Hening.
Melihat anak buahnya yang tidak kunjung pergi, Givar mengerutkan dahinya.
"Ada hal lain?" Tanya pria itu.
Zed mengangguk, "Sebenarnya, Tuan Sven juga sedang menyelidiki ini. Sepertinya dia sudah melangkah lebih jauh dari kami."
Givar terkejut.
Sementara itu, Sven sedang berada di rumah temannya. Sven tampaknya tengah berbicara serius dengan temannya itu.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti, Froy," kata Sven. Pria bernama Froy itu menganggukkan kepalanya.
Sven bangkit dari tempat duduknya. Pria itu keluar dari rumah tersebut dan terkejut mendapati Givar dan Zed sudah berdiri di depan rumah.
"Ngapain disini?" Tanya Sven pada Givar.
Mendengar suara orang asing yang datang tiba-tiba ke rumahnya, Froy segera beranjak dari sofa dan melangkah keluar untuk menemui mereka.
Givar dan Zed menoleh pada tuan rumah.
"Kalian berdua siapa?" Tanya Froy heran.
~
Sven dan Froy duduk berhadapan dengan Givar dan Zed.
__ADS_1
"Jadi, lo udah tahu? Ya udah, lo nyelidikin dengan cara lo sendiri, dan gua nyelidikin dengan cara gua sendiri," ujar Sven.
Givar mendengus, "Gua juga berhak tahu, gua suaminya Shasha. Gimana kalo orang itu datang lagi?"
Sven tampak berpikir, "Dia memang sudah kembali."
Givar terkejut, "Lo tahu orangnya?"
Sven menghela napas berat, "Belum, tapi baru-baru ini... gua mendapatkan teror."
Sven mencunci kotak bekal Shasha dengan telaten. Malam itu tampak sunyi, apalagi tidak ada makhluk hidup lain di rumah Sven.
"Kenapa juga kotak bekalnya warna merah muda? Ah, dasar anak perempuan."
Sven menyimpan kotak bekal yang sudah bersih itu ke rak piring. Dia membasuh kedua tangannya dan menggunakan sabun tangan. Kran wastafel di matikan.
Pria itu berlalu sambil mengelakkan tangannya yang basah ke pakaian yang dia kenakan. Pria itu mendengar suara truk pengangkut sampah datang. Dia tidak terlalu memperdulikannya dan memilih untuk tidur.
Keesokan harinya, Sven keluar dari dalam rumah. Dia berdiri di depan rumahnya sambil meregangkan tubuh dan menghirup udara di pagi hari.
Pandangannya tertuju pada kantong plastik besar berwarna hitam di dekat tong sampah.
Pria itu mengernyit dan melihatnya. Tong sampahnya kosong, lalu kenapa dengan kantong plastik ini? Apa petugas kebersihan melewatkannya semalam?
Selain itu, kantong tersebut bukan sampahnya. Sven mengangkat kantong tersebut untuk dimasukkan ke dalam tong sampah, namun dia terkejut melihat beberapa lembar rambut berjatuhan dari lubang kantong tersebut.
Setelah berdiam beberapa saat, Sven memilih membuka isinya. Kedua matanya membelalak melihat isi dari kantong tersebut. Dia mual.
Ada tumpukan rambut dan darah yang sebagian sudah mengering menempel pada rambut tersebut.
Pria itu melihat ada surat di dalamnya. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, Sven membawa masuk kantong tersebut.
Dia mengeluarkan semua rambut itu ke lantai. Rambut dan darah menodai lantai yang berwarna putih mengkilap itu.
Sven mengambil kertas berwarna putih kekuningan kemudian membacanya.
Halo, orang gila. Bagaimana setelah melihat potongan rambut dan darah? Jiwa psikopatmu pasti berteriak, kan?
Hemm... darah dan rambut ini adalah milik orang-orang yang telah membuatku marah. Apa selanjutnya giliranmu? Aku akan mencukur habis rambutmu kemudian memotong lehermu dan menuangkan darahnya. Itu bagus, kan?
Sven menautkan alisnya. Dia membawa kantong itu keluar dan melihat keberadaan Amelia yang baru saja datang untuk mengunjungi adiknya.
Givar tampak masih mendengarkan dengan serius. Zed dan Froy juga melakukan hal yang sama.
"Aku langsung menemui orang itu keesokan harinya," lanjut Sven.
Sore ini, dia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Bagaimana jika kita bertemu? Kamu penasaran sama aku, kan?
Datanglah ke Pantai Bahana.
Ada gedung terbengkalai di sana. Masuk dan kamu akan menemukan keberadaanku.
Sven memperhatikan ke sekeliling. Dia tidak melihat keberadaan siapa pun di tempat itu. Pandangannya tertuju pada kotak berukuran sedang di sudut ruangan.
Pria itu melangkah dan melihatnya. Isinya adalah alat perekam suara. Sven menyalakannya.
"Toloooong!"
Sven terbelalak. Dia tidak mengenali suara pria dari alat perekam itu. Namun, dia cukup merinding mendengarnya.
"Ini adalah orang yang aku benci, selanjutnya giliran kamu."
Sven menggertak giginya geram, "Siapa lo! Keluar!"
Sven berdiri sembari melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di ruangan itu.
Sven yakin, orangnya sedang bersembunyi di sekitar sana untuk mengawasi dirinya.
Tanpa disadarinya, ada banyak CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan. Lewat CCTV tersebut, seseorang mengawasinya. Ponsel Sven bergetar. Pria itu melihat nomor tak dikenal menelponnya. Dia segera mengangkatnya.
"Mau melihatku, ya?" Suara itu yang terdengar.
Sven mengedarkan pandangannya. Dia keluar dari gedung dan melihat ada banyak orang di pantai. Mereka tengah menikmati sore dengan melihat tenggelamnya matahari.
"Aku melihatmu keluar dari gedung itu, kamu mau kemana?" Tanya orang itu.
"Shit, diam kau." Sven mencoba mencari seseorang yang sedang menelepon. Kemungkinan itu orang yang dia cari.
"Jangan mengumpat padaku."
Seseorang tengah berada di dalam bilik telepon. Padangan Sven terpusat pada pria itu. Dia memperhatikan gerak mulut orang itu.
"Melihat sesuatu? Itulah aku,"
Sven terbelalak. Tidak salah lagi,
orang yang ada di dalam bilik telepon itu adalah orang yang sama yang juga sedang meneleponnya.
Panggilannya berakhir secara sepihak. Sven melihat ponselnya.
__ADS_1
Orang dari bilik telepon itu keluar. Sven berusaha melihat wajahnya.
Ya!
Sven sudah melihat wajah pria itu yang kini sedang menatapnya dengan senyuman sinis. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Sven segera berlari ke arah pria itu.
Bukannya lari, pria itu malah tertawa mengejek. Pukulan keras diterima oleh pria itu. Tentu saja Sven yang melakukannya.
"Apa maksud lo?! Ngapain lo ganggu keluarga gua sampe sekarang?!" Bentak Sven di depan wajah pria yang kini tertawa semakin keras.
Sven memukuli pria itu tanpa memperdulikan darah yang membasahi tangannya. Beberapa orang di sana juga memperhatikan dengan ekspresi ketakutan.
Beberapa petugas keamanan datang dan berusaha menjauhkan Sven dari pria itu. Sven melawan dan menendang serta menginjak pria yang sudah tak sadarkan diri itu.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat ke arah lain. Matahari itu tenggelam. Ada siluet tubuh di sana. Sven tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, karena pria itu membelakangi sunset.
Namun, tampaknya pria itu sedang tersenyum mengejek. Sven membelalak.
Dia yakin, orang itu adalah orang yang selama ini dia cari. Bukan orang yang baru saja dipukulnya.
Pandangan Sven tertuju pada pria yang sudah terkapar lemah dan kembali tertuju pada pria yang berdiri di depan sunset.
Sven berusaha melepaskan diri dari para petugas yang meringkusnya. Dia ingin menghampiri pria itu dan menghajarnya sampai mati.
"Lepasin gua! Gua harus bunuh dia!" Teriak Sven. Dia berhasil melepaskan diri dari para petugas keamanan. Sven berlari ke arah pria itu, namun benda tumpul menghantam kepalanya.
Givar mengusap kasar wajahnya. Dia mulai memahami kesulitan yang dirasakan oleh Sven.
"Kalo lo kesusahan sendiri, kenapa lo gak minta bantuan ke gua, coba? Kita bisa berusaha bersama."
"Kita harus bicara di tempat lain," kata Sven.
~
Givar dan Sven memasuki sebuah apartemen. Tidak lain itu adalah apartemen yang ditinggali oleh Sven. Givar merasa takjub melihat kemewahan apartemen itu. Ada banyak foto tertempel di dinding dan terpajang di meja.
Foto keluarga, foto Sven, dan foto kebersamaan Sven dengan keluarganya, termasuk Shasha. Barang-barang antik dan mewah juga terpajang dengan baik.
Penampakan apartemen itu berbeda dengan rumah Sven yang bertetangga dengannya.
Pandangan Givar berhenti di depan foto Sven yang memakai setelan jas rapi, seperti seorang pengusaha. Dalam foto itu, terpampang nyata senyuman tampan seorang Svender Adideva Gustiar yang menawan.
Melihat fotonya diperhatikan seperti itu oleh Givar, Sven mengernyit.
"Ngapain diliatin begitu?" Gerutu Sven. Givar menoleh padanya.
"Lo punya apartemen mewah, tapi tinggal di rumah itu, kenapa? Bukankah apartemen ini lebih nyaman?" Tanya Givar.
"Ini apartemen mendiang nenek. Kalo gua tinggal di sini, gua biasanya mau banyak. Sementara gua harus menjaga keuangan." Sven menghempaskan bokongnya ke sofa.
"Lo inget rumah gua yang di samping lo itu? Kemaren gua bersihin pake jasa orang, terus gua tempelin benda-benda baru buat ngisi ruang kosong, perlu berapa juta gua keluar duit."
Ternyata Zed benar, dia memang hidup irit, batin Givar.
Sven menoleh pada Givar yang masih berdiri, "Lo gak mau duduk?"
Givar pun duduk bersebelahan dengan kakak iparnya. Sven mengeluarkan banyak dokumen dan foto dari dalam koper. Givar memperhatikan foto-foto itu.
"Ini kerjaan paparazzi?" Tanya Givar. Sven mengangguk, "Polisi melarang mereka menyebarkan foto-foto ini. Dan gua yang beli semuanya."
"Hasilnya sangat tajam," gumam Givar yang sedang melihat sebuah gubuk terbungkus api besar dalam foto tersebut.
"Gua perlu membayar seharga 4 mobil sport untuk mendapatkan semua foto ini," kata Sven. Givar terkejut, dia bergumam sendiri, "Pantesan lo gak punya mobil sport."
"Lo bilang apa?" Gerutu Sven. Givar terkekeh kemudian menggeleng sembari mengibaskan kedua tangannya.
"Ngapain lo ikut nyelidikin masalah keluarga gua?" Tanya Sven. Tanpa menoleh, Givar menjawab, "Awalnya, sih... gua nyelidikin tentang Refandi... cuma... akhirnya ya... gua tahu semua."
"Ngapain nyelidikin Refandi? Udah gak ada ngaruhnya. Lo hidup nyaman aja sama Shaque. Biarin gua yang ngurus ini," ujar Sven.
"Gua pengen tahu aja, seperti apa, sih, cowok yang jadi cinta pertamanya Shasha." Givar menjawab sekenanya.
"Lo cemburu? Ngapain cemburu sama orang yang udah gak ada? Biarin orang itu tenang di alam sana. Lagian lo juga udah nikah sama Shaque."
Kedua pipi Givar memerah, karena Sven bisa tahu isi hatinya.
"Gua gak nyangka, lo sebaik ini. Gua kira... lo cuma diem aja." Givar berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mendengar ucapan adik iparnya, Sven mengernyit, "Lo lagi muji, apa ngeledek gua?"
"Gua denger... lo gak akrab sama Refandi. Gua, kan, sekarang udah jadi adek ipar lo, masa lo gak mau akrab sama gua."
"Kok, gua merinding, ya...."
~•o•~
_Entah dua atau lebih jumlahnya\, apabila dihitung\, hasilnya tetap sama\, anak emas pasti selalu ada_
(Ramadiaz Mahali)
~•o•~
__ADS_1
03.00 : 27 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah