
~•o•~
_Jika mungkin\, aku ingin kembali ke masa di mana masalah semakin sulit dan menjadi beban di masa yang sekarang._
~•o•~
Pria paruh baya itu sedang mengecek laporan keuangan perusahaannya itu dengan sangat teliti.
"Jika ada yang keliru sekecil apa pun, aku akan menindaklanjuti ini."
Dua orang wanita yang berdiri di depannya itu mengangguk hormat.
Setelah itu, dia bertemu dengan seseorang di restoran. Pria yang merupakan teman lamanya, Rahadian Mahali, atau dikenal dengan sebutan Tuan Ridan Mahali.
Di restoran tersebut, mereka berbincang hangat.
"Putraku, Regar Mahali umurnya tidak jauh berbeda dengan putramu. Sedangkan putriku dua tahun lebih muda dari putrimu, namanya Shica Mahali," ucap Ridan.
Adam menanggapi, "Oh iya, kita sama-sama memiliki seorang putra dan seorang putri. Kenapa tidak mempertemukan mereka, bukankah mereka sebaya."
"Ide bagus, apalagi Shica tidak memiliki banyak teman. Dia sangat suka dengan novel," ucap Ridan sembari membayangkan wajah putrinya.
Adam mengangguk, "Itu bagus, menambah wawasan."
Ridan tersenyum, "Kudengar putrimu adalah gadis yang baik dan penurut. Aku iri padamu. Putraku dan putriku sedikit pemberontak. Mungkin mereka jarang diperhatikan. Aku dan istriku terlalu sibuk dengan pekerjaan."
"Ah, sama saja, putraku juga sedikit pemberontak setelah kami tinggal di New York. Aku rasa, dia salah bergaul," kata Adam sembari menghela napas berat.
"Mereka tidak mengerti, kita sedang bekerja keras untuk masa depan mereka," kata Ridan sembari menggelengkan kepalanya.
Adam terkekeh.
"Setelah lama kita bekerja sama, sepertinya baru kali ini kita membicarakan urusan di luar pekerjaan," kata Ridan.
Adam tersenyum, "Iya, kita terlalu bergelut dengan pekerjaan, sehingga jarang berbicara tentang masalah pribadi."
Ridan meminum jus berwarna hijau muda. Dia berucap, "Aku mendengar kabar, kalau perusahaan Donovan yang sempat bangkrut itu kini berdiri lagi, bahkan katanya jauh lebih maju."
Adam mengerutkan keningnya, "Benarkah?"
Ridan mengernyit, "Aku pikir kamu tahu, Dam. Kamu, kan, tinggal di sana."
"Emm, iya... tapi... bagaimanapun juga, aku lebih memperhatikan perusahaanku yang di sini. Di sana aku hanya membangun rumah kecil dan mementingkan pendidikan baik untuk anakku."
"Oh begitu, ya."
Kenapa perusahaan Donovan bisa semudah itu berdiri kembali, sementara waktu itu aku perlu satu tahun untuk mengembalikan kejayaan perusahaanku
Setelah satu minggu berada di Indonesia untuk kepentingan perusahaan cabang, Adam kembali ke New York.
Lambat laun, perusahaan Gustiar yang ada di New York mengalami kemunduran. Adam harus bolak-balik New York-Jakarta untuk memperbaiki perekonomiannya.
Dia mulai putus asa dan memikirkan bagaimana cara termudah untuk membangkitkan lagi perusahaannya.
Saat ini hanya ada perusahaan Donovan yang terkenal sukses di New York. Apa mungkin dia harus mengesampingkan rasa malu dan gengsinya sebentar dan memulai lagi kerja sama dengan perusahaan Donovan?
Setelah memikirkannya dengan matang, Adam memutuskan untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaan Donovan, kebetulan saat ini perusahaan tersebut sedang dipegang oleh putra tunggal Nicholas Donovan, yaitu Felix Donovan.
Adam memulai rencananya dengan mengundang Felix untuk makan malam bersama. Tanpa merasa keberatan, Felix menerima tawaran Adam dan malam itu dia datang ke rumah Adam.
Ada Sarah dan Svender. Saat itu, Sven masih remaja.
Mereka makan malam bersama.
Setelah itu, Adam mengajak Felix berbicara di ruang tamu. Mereka membicarakan banyak hal, dimulai dengan berbasa-basi dan menanyakan kabar masing-masing.
Cih, sikapnya 180° berbeda dengan waktu itu. Dasar serakah, dia pasti mau memintaku untuk membantu perusahaannya yang sedang sekarat, ucap Felix dalam hati.
Benar saja, Adam mengatakan tujuan utamanya.
Felix tersenyum sinis, sudah aku duga.
Adam menunggu jawaban Felix. Pria muda itu menoleh pada Adam.
"Saya tahu, anda memiliki seorang putri yang cantik. Kenapa tidak sekalian mengajaknya makan malam?" Pertanyaan Felix membuat Adam membulatkan matanya lebar.
Selain tidak nyambung dengan topik pembicaraan, perasaan Adam mulai tidak enak. Shasha adalah putri kesayangannya, kenapa Felix melibatkan Shasha ke dalam percakapan mereka?
"I-iya, dia sudah tidur."
Felix mengangguk, "Saya dengar, putri anda sangat cantik, seperti tokoh snow white yang memiliki kulit putih dan mulus."
Adam mulai kesal. Namun, dia masih berusaha menyembunyikan emosinya.
"Biasa saja, putri saya sama saja seperti anak perempuan yang lain." Adam meminum kopi untuk meredakan ketegangan dalam kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana jika... saya menikahi putri anda dan akan saya berikan salah satu perusahaan saya yang sedang maju pada anda, maka anda tidak perlu cemas dengan perusahaan anda yang sedang kritis itu." Felix menatap Adam dengan serius.
Adam meletakkan cangkir kopi dengan kasar ke meja. Sampai-sampai air kopi tersebut sedikit terciprat ke meja.
Tanpa disadari oleh kedua pria itu, Sven sedang menguping pembicaraan mereka. Laki-laki itu terkejut bukan main.
"Apa maksud anda! Saya memang sedang meminta bantuan pada anda, tapi bukan berarti saya mau melakukan segalanya, termasuk menjual putri kandung saya!" Bentak Adam yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Felix mengedikkan kepalanya ke kanan, "Saya tidak bilang ingin membeli putri anda, saya ingin menikahinya."
"Anda sudah kehilangan akal? Anda gila?" Adam berdiri dan menatap nyalang ke arah Felix.
Melihat Adam yang berdiri, Felix juga berdiri.
"Putri saya lebih cocok jadi keponakan anda, dan anda... apa anda pedofil? Bagaimana bisa pengusaha sukses seperti anda memiliki kelainan!" Ucap Adam.
Felix tidak berniat menjawab. Dia masih ingin memberikan kesempatan pada Adam untuk memaki-maki dan menghinanya.
"Meskipun anda tidak mau membantuku, tidak apa-apa. Sekarang pergi dari rumah ini!" Adam menunjuk pintu.
"Anda terlalu egois dan memikirkan diri anda sendiri. Ketika anda menderita, anda datangi ayah saya dan anda dibantu... lalu saya dalam keadaan susah datang pada anda yang bahkan tidak ingin membantu saya."
Tidak ada tanggapan dari Adam. Dengan begitu, Felix tidak punya alasan masih berada di sana. Dia memilih pergi.
Sven segera bersembunyi dan menyaksikan Felix berlalu keluar.
Di halaman depan, Felix melihat seorang gadis muda sedang duduk di teras depan rumahnya. Itu adalah Shasha yang sedang mengerjakan PR.
Jadi, Adam berbohong?
Shasha tidak sedang tidur.
Cukup lama Felix memperhatikan gadis itu. Pria itu mengagumi kecantikan gadis yang jauh lebih muda darinya itu. Ada rasa ingin memiliki yang tinggi dalam hatinya.
Merasa diperhatikan oleh seseorang, Shasha menoleh pada Felix.
Keadaan di halaman depan rumah Gustiar agak gelap, sehingga Shasha tidak bisa melihat jelas wajah Felix.
Karena tahu itu adalah tamu ayahnya, Shasha tersenyum santun pada Felix. Melihat senyuman gadis itu, Felix juga tersenyum dalam kegelapan. Dia menggerakkan tangannya sebagai jawaban lalu pergi memasuki mobil.
Adam menautkan alisnya karena melihat itu dari dalam rumah.
"Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu yang buruk pada putriku. Dia orang yang berbahaya dan suka menghalalkan segala cara."
~
Felix terkejut sekaligus bingung. Mereka bilang, Felix adalah salah satu pasien yang seharusnya sudah berada di RSJ sebelum Nicholas Donovan jatuh sakit.
Felix menggeleng tidak mengakui ucapan mereka. Dia sangat normal dan sehat. Dia tidak gila.
Felix mulai berpikir, kalau ada seseorang yang ingin menjatuhkannya, terutama para pengusaha yang merasa tersaingi oleh perusahaannya.
Sven dimasukkan ke RSJ yang bernama Danuarga HI.
Felix merasa tidak memiliki masalah apa pun dengan perusahaan Danuarga. Dia juga tidak memiliki masalah pribadi dengan keluarga yang aslinya berketurunan Indonesia itu.
Dia mencoba menghubungi orang-orang kepercayaannya, namun tidak ada yang bisa membuatnya keluar dari tempat mengerikan itu.
Seolah semuanya sudah direncanakan dengan matang agar dirinya membusuk di dalam sana.
Ini pasti ada campur tangan Adam Gustiar dan orang dari keluarga Danuarga yang memiliki hubungan dekat dengan *** itu. Apalagi jika rumah sakit jiwa ini milik keluarga Danuarga. Aku semakin yakin saja.
Di dalam rumah sakit jiwa, banyak hal buruk yang terjadi pada Felix.
Dimulai dengan kesehariannya melihat pasien-pasien yang mengerjainya. Para petugas RSJ yang juga bersikap buruk.
Felix mengira mereka itu tertular gila, begitupun dengan para perawat dan dokter yang ada di sana.
Felix berada dalam kesengsaraan yang luar biasa. Dia menjadi korban pelecehan seksual juga di tempat mengerikan itu.
Tidak bisa dibayangkan betapa terlukanya harga diri seorang pria dari keluarga Donovan.
Belum lagi perusahaannya yang semakin mundur dan di ambang kebangkrutan. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan orang yang punya penyakit jiwa seperti Felix.
Karena Felix dan Nicholas tidak bisa mengurus perusahaan itu, akhirnya semua perusahaan Donovan runtuh.
Mendengar kabar putranya yang masuk RSJ dan kabar buruk lainnya, keadaan Nicholas semakin buruk. Dia meminta orang kepercayaannya untuk mengeluarkan Felix.
Sempat berhasil, namun tidak lama. RSJ Danuarga mengambil kembali putranya dan memasukkan pria itu ke dalam RSJ.
Itu RSJ atau penjara?
Bahkan jauh lebih buruk penjara.
Ketika berada di dalam rumah sakit jiwa, Felix mendengar kabar ayahnya yang sudah meninggal. Dia bahkan tidak bisa melihat saat terakhir ayahnya.
__ADS_1
Tidak sebentar Felix tinggal dan tersiksa di RSJ Danuarga. Dia berada di sana selama 3 tahun. Rambut-rambut itu menghiasi dagu dan rahangnya. Ketampanan pria itu sudah terenggut paksa dengan penderitaannya.
Sampai datanglah seseorang yang bersedia membantunya. Seseorang yang entah datang dari mana yang membawa psikiater dan mengecek kejiwaan Felix dan menyatakan kalau Felix tidak gila.
Entah itu iya, atau tidak. Tapi, pria itu berhasil membuat Felix berada di zona aman.
Dia adalah, Aditya Adiwijaya.
Pria itu yang berhasil membawa Felix keluar dari neraka dunia yang berbentuk bangunan bertingkat itu.
Adi mengatakan, jika dia membenci keluarga Danuarga dan ingin sekali menghancurkan apa pun yang berhubungan dengan Danuarga.
"Mereka itu gila, tapi menutupinya dengan membangun rumah sakit dan apotik di mana-mana." Adi menyesap cerutu miliknya.
Felix mendengarkan dengan serius.
Mereka sedang berada di rumah Adi.
"Keluarga Danuarga memiliki kejiwaan yang buruk. Mereka keturunan psikopat dan penjahat kelamin. Keluarga kami (Adiwijaya) sudah lama bermusuhan dengan keluarga mereka. Jadi, siapa pun yang menjadi rekan Danuarga adalah musuh Adiwijaya dan yang menjadi musuh Danuarga adalah rekan Adiwijaya."
Felix mengangguk mengerti, "Terima kasih."
"Aku akan membantumu mengembalikan kejayaan perusahaan Donovan. Tapi, aku harus membujuk keluarga Mahali untuk membantu kita juga, sebelum mereka dicuci otak oleh Danuarga dan Gustiar." Adi mematikan cerutu yang masih panjang itu.
Merasa tidak ada respon, Adi melanjutkan berbicara, "Keluarga Mahali itu tidak pernah memihak siapa pun. Mereka selalu membantu dan mau bekerja sama dengan siapa pun. Jangan khawatir."
"Saya mengerti," ucap Felix pelan.
Hening.
Merasa canggung dengan keadaan hening seperti itu, Felix bersuara.
"Bagaimana cara anda mengeluarkan saya dengan mudahnya?" Tanya Felix sembari mendongkak menatap Adi.
"Selain membawa untuk pembuktian, aku juga punya orang di dalam RSJ itu. Sepertinya kamu perlu meniru kelicikanku," jawab Adi sambil tertawa.
Felix tersenyum mendengar itu.
"Di RSJ itu tidak hanya ada orang gila, pasien-pasien itu tidak semuanya gila. Ada beberapa yang merupakan suruhan Adam Gustiar agar membuatmu menderita. Petugasnya pun sama."
Felix mengepalkan tangannya geram, "Aku perlu membalas mereka."
Adi mengangguk, "Akan aku bantu. Tapi, mulailah dengan perusahaanmu. Kamu harus membayar orang untuk membalas mereka."
"Jika berhasil, apa yang harus saya lakukan untuk anda? Mana mungkin saya tidak membalas kebaikan anda," kata Felix.
"Kenapa memikirkan itu? Kamu harus fokus dulu dengan tujuan kamu. Soal balasan yang kamu maksud, aku tidak mempermasalahkan dengan apa caramu membalasnya."
"Terima kasih, terima kasih banyak."
"Jangan berterima kasih, sebenarnya aku sudah bekerja sama dengan ayahmu sejak lama. Hanya saja, kerja sama kami tidak dilanjutkan. Aku pindah ke Indonesia bersama keponakanku, Aryatama."
Felix mengangguk mengerti.
Adi menepuk bahu Felix, membuat pria itu agak takut. Ya, tentu saja Felix takut dan syok pada pria karena kejadian di RSJ.
Akhirnya, dengan bantuan perusahaan Adiwijaya dan Mahali, perusahaan Donovan mampu bangkit dan kembali berjaya.
Tuduhan tentang gangguan jiwa yang dialami Felix dinyatakan sebagai kesalahpahaman dan sebuah konspirasi dari pesaingnya. Karena psikiater sendiri yang bilang begitu, akhirnya semua orang percaya dan menjadi bersimpati pada Felix.
Tidak hanya bekerja sama dengan perusahaan Adiwijaya dan Mahali, Felix juga kembali bekerja sama lagi dengan perusahaan besar yang pernah bekerja sama sebelumnya, seperti perusahaan milik keluarga Rigaav, Smith, dan Davidson.
Itu membuat perusahaan Donovan menjadi perusahaan sukses dan lebih sukses dari sebelumnya.
Felix kembali membuka sekolah yang susah payah dibangun ayahnya dulu. Dan kemarin sempat ditutup, ketika dirinya masuk RSJ.
Felix juga membangun RSJ dengan para petugas yang baik dan suka bekerja keras. Tidak hanya di New York, Felix juga membangun RSJ di Indonesia, diberi nama Larissa. Larissa sendiri adalah nama mendiang ibunya, Larissa Donovan.
Pria itu mencukur sedikit rambut-rambut halus di rahangnya dan menyisakan sebagian membuat pria itu tampak lebih tampan dan berkharisma.
Felix Donovan adalah pria yang ramah dan baik hati. Semua orang menyukai sikap rendah hati darinya.
Ya, Felix memang baik. Dia tidak pernah mengganggu, apalagi menyakiti orang yang tidak punya masalah dengannya. Dia senang membantu dan sikapnya bahkan lebih baik yang sekarang dibandingkan sikapnya sebelum masuk RSJ dulu.
Aditya Adiwijaya yang memintanya untuk bersikap baik. Pria itu seperti seorang ayah ketika berbicara dengan Felix. Adi juga mengajak Felix ke Indonesia.
Akhirnya Felix memutuskan membangun perusahaan cabangnya di Jakarta.
Dia juga bekerja sama dengan perusahaan Hardiswara di Indonesia.
Felix mendengar kabar, kalau Sven mendaftar di SMA miliknya.
Apa Adam tidak tahu, kalau itu adalah sekolah miliknya?
Akhirnya pembalasan dimulai.
~•o•~
__ADS_1
08.29 : 29 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah