
Di dalam ruang bawah tanah, keenam orang itu sudah bangun.
"Semalam itu suara siapa, ya?" Bisik salah satu dari mereka.
"Aku tidak tahu."
"Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat."
"Aku juga."
"Apakah suami istri itu akan kembali?"
"Entahlah."
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Mereka masih betah berada di ruangan itu selama 2 jam sejak mereka bangun.
"Sepertinya dua orang itu tidak akan datang. Kita keluar saja, aku sudah merasa pengap berada di ruangan ini."
Setelah mendapatkan anggukkan dari anggota lain, pria itu mengambil kunci dari saku celananya. Sebelum membuka pintu rahasia, dia mengintip lewat lubang kunci.
Kedua matanya terbelalak melihat keberadaan Sven di depan sana. Dia duduk di kursi dan menatap tajam ke arah ruangan rahasia. Belum lagi, dia memegang pisau berkarat yang di gerak-gerakkan di telapak tangannya.
Orang yang mengintip itu menelan saliva kemudian menoleh pada teman-temannya.
"Ada orang di luar," bisiknya.
"Siapa?"
"Anaknya Adam Gustiar. Dia membawa pisau."
Yang lainnya terkejut. Mereka mulai khawatir.
Sven tersenyum sembari bergumam pelan, "Oksigen di ruangan itu semakin menipis. Satu per satu dari kalian akan keluar dan aku akan memberikan kejutan."
Selama beberapa jam Sven duduk di depan ruangan itu. Tidak ada hal lain yang dilakukannya. Hanya menatap ke ruangan rahasia itu tanpa suara.
Itu membuat orang-orang di dalam sana semakin tertekan dan ketakutan. Benar saja, mereka sudah kehabisan stok oksigen. Hanya ada gas karbondioksida yang ada di sekitar mereka.
Sampai malam tiba, Sven tidak beranjak sedikit pun dari kursinya. Dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Mungkin mereka sudah mati, batin Sven.
Dia mengintip lewat lubang kunci, namun tidak ada yang terlihat. Tampaknya ada kunci yang menempel di sana. Dia menggunakan pisau itu untuk mendorong kunci tersebut.
Ternyata benar dugaan Sven. Orang-orang itu sudah meninggal dalam keadaan mata terbuka lebar karena ketakutan. Mereka kehabisan oksigen sekaligus mati dalam keadaan syok.
Sven tertawa, "Padahal kalian berenam, aku sendirian. Kenapa tidak memilih keluar dan membunuhku?"
Pisau berkarat itu diletakkannya di atas meja.
~~
Shasha dan Givar mendatangi tempat peristirahatan terakhir Adam Gustiar. Shasha menaburkan kelopak bunga yang berwarna-warni di atas makam tersebut.
"Shasha sama kak Sven sayang banget sama, Papa. Sekarang kita mau Papa pergi dengan damai. Kami bisa menjaga diri kami dengan baik."
Shasha meletakkan bunga sedap malam di nisan yang bertuliskan nama sang ayah.
Tidak hanya mengunjungi makam Adam, mereka juga mengunjungi makam Refandi.
"Seperti apa yang kamu katakan, sekarang aku memiliki seorang suami yang mencintai aku. Firasatmu memang bagus, Ref. Terima kasih... kamu sudah pernah ada. Semoga kamu tenang di alam sana."
Givar merangkul istrinya. Shasha mendongkak menatap suaminya.
Mereka saling memberikan senyuman.
Setelah mengunjungi pemakaman, mereka berdua kembali ke rumah.
Shasha membuka cardigan hitam miliknya dan diletakkan sembarangan di atas sofa.
Tiba-tiba Givar memeluknya dari belakang. Shasha menoleh.
"Belakangan ini masalah kita cukup berat. Aku tidak mungkin memintamu melakukannya. Sekarang semuanya sudah berakhir. Apa kamu siap malam ini?" Desah Givar di telinga Shasha membuat istrinya itu menggelinjang kegelian.
"Kenapa harus meminta izin, kamu suami aku."
Givar tersenyum. Dia membalikan tubuh Shasha agar menghadap padanya.
Pria itu langsung melahap bibir Shasha dengan penuh penuntutan. Sementara Shasha membalasnya dengan lembut.
Givar menarik tubuh Shasha dan menjatuhkan tubuh mereka ke sofa. Kini Shasha berada di atas tubuh Givar.
Ciuman mereka masih berlanjut.
Givar menyusupkan tangannya ke punggung Shasha. Shasha bisa merasakan telapak tangan pria itu membelai punggungnya.
Shasha melepaskan ciumannya dan menatap Givar yang berada di bawahnya.
"Di kamar saja," kata Shasha.
"Kenapa kamu gak mau di luar kamar? Sensasinya akan berbeda," goda Givar.
Shasha mengalihkan pandangannya, "Itu memalukan."
Givar tersenyum kemudian bangkit dan mengecup bibir Shasha yang duduk di pangkuannya itu. Ciumannya merambat ke bawah dan terhenti di leher jenjang istrinya. Kini tercetak jelas tanda kepemilikan di leher mulus itu.
"Emmhh, Sayang... kumohon di kamar," desah Shasha.
Akhirnya Givar menurut. Dia mengangkat tubuh istrinya dan menaiki tangga menuju kamar.
Ketika Givar kembali mencium Shasha, wanita itu malah mendorong dadanya dengan sedikit kasar membuat Givar terkejut dan bingung.
Shasha merasa mual dan berlari ke kamar mandi.
Givar tampak berpikir. Dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Sha? Kamu gapapa?"
Tidak ada jawaban yang terdengar hanyalah suara air yang mengalir.
__ADS_1
Givar membuka pintu, "Aku masuk, ya."
Dilihatnya Shasha yang sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandi. Wanita itu menggerakkan tangannya menandakan jika Givar tidak boleh mendekat.
Givar tidak memperdulikan kode istrinya. Dia mendekat dan menarik rambut panjang Shasha ke belakang agar tidak basah.
"Kamu tadi gak makan sebelum pergi ke pemakaman. Jadi, mungkin kamu masuk angin."
Shasha mencuci wajahnya. Dia menoleh pada Givar.
"Emm... kamu gak jijik melihat aku muntah-muntah?" Tanya Shasha sambil mengambil handuk putih dan mengeringkan wajahnya dengan handuk tersebut.
"Kenapa harus jijik? Justru aku khawatir sama kamu." Givar menatap Shasha dengan serius.
Shasha tersenyum, "Hehe."
Tiba-tiba Shasha terdiam dengan eksprsi serius. Givar mengernyit.
"Ada apa lagi? Kenapa?" Tanya Givar.
Shasha menatap suaminya dengan serius, "Aku udah 2 bulan ini gak ada tamu bulanan. Jangan-jangan...."
Kedua mata Givar membulat. Shasha mengambil test pack dari laci. Shasha memang selalu menyiapkannya. Dia kembali ke kamar mandi dan menoleh pada suaminya.
"Emm... aku...." Shasha tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku ngerti," kata Givar sambil berlalu keluar kemudian menutup kamar mandi.
Pria itu duduk di tepi ranjang. Ekspresinya menunjukkan harap-harap cemas.
"Aaaaa!!!"
Mendengar suara teriakan istrinya, Givar segera menerobos masuk ke kamar mandi.
Terlihat Shasha yang sedang melihat test pack di tangannya dengan ekspresi terkejut.
Givar mendekat, "Kenapa, kenapa?"
Pria itu melihat ada tiga garis di benda tersebut. Kedua alisnya terangkat. Dia menatap Shasha dengan tatapan bahagia. Pandangan pria itu tertuju pada perut Shasha. Ada kehidupan baru di dalam sana.
"Aku punya dedek bayi!" Shasha bersorak sambil melihat perutnya yang rata.
Givar memeluk istrinya, "Terima kasih, Sayang."
"Aku punya dedek bayi! Yuhu!" Shasha masih bersorak riang dalam pelukan suaminya.
Lama mereka berpelukan dalam kebahagiaan.
Givar melumat telinga istrinya, "Jangan lupakan niat awal kita."
Shasha menggelinjang kegelian, "Emmhh, iya... tapi... pelan-pelan, ya. Nanti dedek bayinya kenapa-napa."
~
Kabar kehamilan Shasha membuat keluarga besar Hardiswara dan Gustiar gembira. Sebentar lagi akan ada Hardiswara junior di rumah itu.
Tentu saja, akan jadi perbincangan jika orang-orang melihat Sven berkeliaran bebas di Indonesia, sementara semua orang tahu, dia sedang diisolasi.
Sarah merasa berat hati, namun akhirnya dia memberikan izin. Shasha dan Givar juga awalnya melarang Sven pergi, namun Sven mengatakan, kalau dia akan baik-baik saja.
Akhirnya Sven pergi ke bandara. Sambil menunggu panggilan keberangkatan, Sven mengambil foto dari saku jasnya.
Dalam foto tersebut ada dirinya dengan Amelia. Keduanya menunjukkan senyuman cerah.
"Sampai sekarang pun, kamu gak bilang sama aku. Kamu belum menceritakannya. Apa kita akan bertemu lagi?" Gumam Sven.
Kursi tunggu sedikit berguncang menandakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Sven menoleh, dia terkejut melihat wanita itu, ternyata Amelia.
"Kenapa bicara sendirian? Ada aku bicaralah padaku. Jangan sampai kamu benar-benar harus diisolasi."
Sven tidak menghiraukan perkataan Amelia. Pandangannya tertuju pada koper dan barang-barang yang dibawa oleh wanita itu.
Tidak ada respon, Amelia menoleh pada pria itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Sven.
Amelia tersenyum, "Kamu bilang, kita akan bersama. Jadi, kita akan pergi bersama."
Kedua mata Sven membulat sempurna berkat jawaban Amelia, "Kamu mau ikut sama aku?"
Amelia mengangguk semangat, "Kamu perlu bantuanku, bukan?"
Kali ini Sven yang mengangguk semangat.
Hening.
Mereka masih saling menatap.
"Orang tua kamu gapapa?" Tanya Sven. Amelia menggeleng, "Mereka udah pergi... selamanya. Tapi, tenang aja... om Juan sama tante Yelma udah ngizinin, kok."
Sven terdiam sejenak, "Ma-maaf."
"Kamu bisa gugup juga, ya?" Tanya Amelia sembari memiringkan kepalanya dan tersenyum geli.
Sven tersenyum, "Mungkin ini akibat dari kecelakaan itu. Aku jadi sedikit begini."
Amelia mengusap rambut berombak milik Sven, "Tidak, ini adalah sisi hangat kamu."
"Kamu suka aku yang mana? Aku yang dingin atau aku yang konyol?" Tanya Sven.
"Aku tidak memikirkan itu, aku suka sama kamu... bagaimanapun keadaan kamu."
Sven tersenyum dan mengecup bibir Amelia sekilas membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Kamu... ini di depan umum, tahu! Gimana kalo ada yang melihat," Amelia menggerutu kesal.
Sven tersenyum, "Katanya kamu suka sama aku dalam keadaan apa pun. Jadi, aku ini sekarang lagi mode mesum."
Amelia mendengus pelan.
__ADS_1
~
Selama masa ngidam, Shasha sering meminta yang aneh-aneh. Dia meminta Givar bermain layang-layang.
Tahu, lah, mana mungkin orang seperti Bumantara Givarel Tri Hardiswara mau melakukannya.
Namun, demi istri tercinta, dia mau bergabung dengan anak-anak di lapangan dan bermain layang-layang.
Shasha tertawa gembira.
Lalu Shasha ingin melihat Givar bernyanyi, sementara pria itu tidak bisa menyanyi. Tidak sekedar bernyanyi, Shasha meminta Givar menyanyikan lagu berbahasa Korea, China, dan Rusia.
Mungkin bila bernyanyi bahasa Jepang, Givar bisa, mengingat dia pernah lama tinggal di Kyoto. Dan hasilnya sangat jelek. Givar hanya bersuara dan kadang bergumam.
Tapi, Shasha suka dan bertepuk tangan. Entah apa yang disukainya.
Shasha juga pernah meminta Givar berpose seksi dengan kemeja putih yang longgar dan celana jeans yang ketat.
Emm, sepertinya itu bukan keinginan bayi dalam perut. Itu keinginan mamanya.
Untuk itu, Givar tidak keberatan. 😏😂
"Shasha ini ngidam atau gimana? Biasanya ibu hamil ngidamnya makanan atau barang. Kok, ini malah menjerumuskan suami ke tingkat malu yang luar biasa," curhatan Givar pada ibunya.
Yelma tertawa, "Jangan salahin ibu hamil. Jika tidak dituruti, nanti anaknya ngambek."
Givar tersenyum, "Iya, Givar gak nyalahin Shasha, kok, Ma."
"Dulu waktu Mama hamil kamu, kamu juga minta yang aneh-aneh. Mama pengen di gendong sama Papa kamu keliling kompleks."
Ucapan ibunya membuat Givar terkejut. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa ekspresi wajah dingin sang ayah ketika melakukannya?
Ketika usia kandungan Shasha menginjak bulan ke-7, Givar dan Shasha memutuskan pergi ke mall. Mereka membeli beberapa pakaian untuk calon bayi di perut Shasha.
Mereka tidak berniat mengecek jenis kelamin si calon bayi. Mereka ingin itu menjadi kejutan nantinya.
Jadi, mereka membeli baju yang bisa dipakai bayi laki-laki maupun bayi perempuan.
Ketika asyik memilih pakaian yang lucu-lucu itu, ada seseorang yang menegur Givar.
"Givarel!"
Givar dan Shasha sedikit terkejut kemudian menoleh, ternyata Regar bersama seorang wanita dan anak kecil perempuan.
"Regar!"
Kedua pria tampan itu berpelukan seperti saudara jauh.
Melihat anak perempuan yang manis, Shasha tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipinya.
"Halo, yang manis ini siapa namanya?" Tanya Shasha. Wanita yang merupakan istrinya Regar itu menjawab, "Namanya Megha Mahali."
Anak manis itu mencium tangan Shasha dan Givar seperti anak pada orang tuanya.
"Owwwhh gadis kecil yang sopan," Shasha merasa semakin gemas.
"Kalian membeli pakaian untuk bayi? Wah, selamat Var, Sha, kalian akan jadi orang tua juga?!" Regar tampak senang untuk sahabatnya itu.
Givar hanya terkekeh.
Regar memperkenalkan istri dan anaknya, "Oh iya, ini istriku Priyanka Mahali. Kami bertemu di New York dan menikah di sana, sehingga putri kami ini lahir."
"Ah, kenapa kalian tidak mengundang kami? Kami pasti datang meskipun harus ke New York," kata Givar.
Regar terkekeh, "Lain kali aku akan mengundangmu."
"Apa? Maksudnya kamu mau nikah lagi? Nyonya Mahali, lakukan sesuatu sebelum dia melakukannya," ucap Givar.
Priyanka dan Shasha tertawa mendengar kekonyolan Givar.
Mereka memutuskan untuk makan bersama di restoran terdekat. Mereka bercengkrama menceritakan masa-masa SMA yang menyenangkan.
Ketika kapten voli seperti Regar yang kadang galak dan kadang konyol. Saat Givar dan yang lainnya harus pontang-panting mencari PMR waktu kapten voli mereka mengalami cedera parah.
Priyanka dan Shasha yang kurang mengerti dengan bahasan suami mereka hanya tersenyum kecil.
Setelah itu, Givar dan Shasha pulang ke rumah. Di perjalanan, mereka bercakap-cakap.
"Kak Regar dateng ke acara nikahan kita waktu dia belum menikah, tapi beruntungnya dia bisa memiliki anak duluan," kata Shasha.
Givar tampak berpikir kemudian dia memilih menganggukkan kepalanya menanggapi Shasha.
"Kamu kenal Regar?" Tanya Givar. Shasha mengangguk, "Iya, papa pernah kerja sama dengan Tuan Ridan Mahali."
"Kamu kenal juga sama Shica?" Tanya Givar lagi. Shasha mengernyitkan dan menoleh pada suaminya, "Siapa dia?"
"Adiknya Regar, aku kira kamu kenal, karna aku lihat, umur kalian tidak beda jauh. Aku pikir, kalian saling kenal satu sama lain."
"Orang tua kami bekerja sama bukan berarti anak-anaknya dekat, kan?"
Givar tertawa, "Kamu jutek banget, sih."
Shasha cemberut.
"Jangan bilang, kamu cemburu. Lagian aku juga gak kenal deket-deket banget sama Shica. Aku deketnya sama Regar," kata Givar.
"Lagian ngapain kamu nanya-nanya soal dia ke aku. Ya, aku, kan, kesel."
"Hehe, maaf."
~•o•~
La Hora : Perputaran waktu jam hanya akan berjalan maju. Moment yang sudah terjadi sebelum jarum jam berputar tidak akan terjadi lagi di masa depan.
(Shica Mahali)
~•o•~
07.10 : 29 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1