GRAPPLE

GRAPPLE
Not for You


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Apa tidak merasa berat memikulnya sendirian?_


 


 


~•o•~


 


 


Shasha bangun sembari melepaskan semua kaos kakinya. Dia melihat suaminya yang masih terlelap tidur, padahal hari ini adalah hari pertamanya masuk kantor setelah satu bulan pernikahan mereka. Shasha menusuk-nusuk pipi Givar dengan jari telunjuknya.


 


 


"Bunny? Kamu gak jadi pergi ke kantor?" Tanya Shasha. Givar bergumam pelan, "Besok lagi aja."


 


 


"Papa gak bakalan marah sama kamu?" Tanya Shasha lagi. Givar membuka matanya sembari memegang jari telunjuk istrinya agar berhenti menggodanya.


 


 


"Aku udah ngingetin, ya. Kalo Papa marah, jangan salahin aku," kata Shasha kemudian berlalu ke kamar mandi. Givar hanya menatap punggung istrinya sejenak lalu kembali menutup matanya.


 


 


Setelah selesai mandi, wanita itu menelpon jasa pengantar makanan. Sembari menunggu, dia keluar menuju halaman depan.


 


 


Kedua tangannya direntangkan lalu dia menutup mata. Merasakan udara segar di tempat itu.


 


 


Tempatnya memang masih berlokasi di Jakarta, namun kompleks tersebut sedikit lebih sejuk dan asri. Hanya ada beberapa rumah disana.


 


 


Meskipun begitu, Juan membeli tanah tersebut dengan harga yang mahal. Givar yang memilih lokasi itu untuk dijadikan tempat tinggal, agar Shasha merasa lebih tenang.


 


 


Iris coklat gelap itu mengedarkan tatapannya. Ada banyak sekali bunga di halaman. Shasha melihat ada selang air. Dia memilih untuk menyiram tanaman-tanaman hias tersebut.


 


 


Shasha menoleh ke kiri, tepatnya ke sebuah rumah yang bertetanggaan dengannya. Ada sepasang suami istri yang sedang bercengkrama. Keduanya tampak seumuran dengan Shasha, jadi mereka juga pasangan muda.


 


 


Wanita yang bersama suaminya itu menoleh pada Shasha. Dia melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar.


 


 


Dengan senyuman ceria, Shasha juga melambaikan tangannya.


 


 


Tidak hanya tetangga yang berada di sebelah kiri, Shasha juga melihat ada sepasang suami istri di sebelah kanan rumahnya. Mereka tampak lebih dewasa darinya.


 


 


Suaminya akan berangkat kerja. Sang istri yang sedang hamil besar itu memberikan ciuman di bibir. Shasha segera mengalihkan pandangannya dengan pipi yang sudah memerah.


 


 


Meskipun dia sudah menikah dengan Givar, mereka tidak pernah melakukan apa pun. Padahal Givar dan Shasha tidak memiliki kecanggungan, mengingat mereka memang sudah bersahabat sejak masih kecil.


 


 


Namun, jika berciuman... mungkin itu akan menimbulkan kecanggungan.


 


 


Sebuah motor dengan kotak besar di bagian belakangnya, terhenti di depan rumah Shasha. Perhatian wanita itu teralihkan pada pengantar makanan yang telah tiba. Setelah membayar, Shasha masuk ke dalam lalu menyajikan makanan tersebut ke piring. Terdengar suara langkah menuruni tangga. Shasha menoleh.


 


 


Givar tampak sudah rapi dengan pakaian rumahan. Pria itu mengenakan kaos hitam berlengan panjang dengan jeans selutut.


 


 


Givar duduk di kursi sambil memperhatikan istrinya. Shasha tidak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan itu. Dia masih melanjutkan aktivitasnya.


 


 


Givar tersenyum tanpa mau mengalihkan pandangannya dari sang istri.


 


 


Dia menggodanya, "Kamu cantik banget hari ini."


 


 


Shasha mendelik sesaat ke arah Givar, "Makasih."


 


 


Mereka sarapan bersama.


 


 


Givar menyelipkan rambut Shasha ke belakang telinga, "Kamu bahagia sama aku?"


 


 


Shasha menatap Givar kemudian mengangguk cepat, "Kamu bahagia sama aku?"


 


 


Mendapatkan pertanyaan yang sama, Givar juga mengangguk sembari tersenyum.


 


 


"Besok aku pergi ke kantor, kalo kamu gak mau sendirian di rumah, aku bakalan nelpon Amel buat dateng kesini," kata Givar.


 


 


Shasha menggeleng, "Gapapa, aku sendiri aja. Lagian Amel juga pastinya sibuk."


 


 


"Yakin gapapa?"


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Keduanya duduk di sofa lalu menyalakan TV. Tidak ada acara yang menarik, Shasha berkali-kali memindahkan dari channel satu ke channel lainnya.


 


 


Givar menghela napas bosan sembari menopang dagunya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


 


 


Pria itu melihat ke layar sentuh miliknya. Tertera nama Papa Hardiswara. Dia menoleh pada Shasha.


 


 


"Papa nelpon," ucap Givar. Shasha tampak berpikir, "Jangan-jangan Papa marah, karena kamu gak masuk kantor."


 


 


Givar mengangkat panggilannya, "Halo, Pa?"


 


 


"Kamu gak masuk kantor? Kenapa gak bilang semalam? Kalo Papa tahu kamu gak dateng, Papa yang ke sana pagi ini."


 


 


"Maaf, Pa. Besok aku bakalan berangkat ke kantor, kok."


 


 


"Kamu bilang apa? Papa gak denger."


 


 


Shasha akan mematikan TV, namun Givar memberikan kode, kalau dia yang memilih pergi dari ruangan tersebut.


 


 


Shasha melanjutkan menonton TV. Acara memasak di channel tersebut sedang berlangsung. Shasha tampak serius memperhatikan.


 


 


Dia melelapkan punggungnya ke sofa.


 


 


Pandangan Shasha teralihkan sesaat pada punggung suaminya yang semakin menjauh dan berlalu dari ruangan tersebut.


 


 


Shasha tidak bisa memasak. Dia merasa beruntung Givar sangat mahir memasak dan suaminya itu tidak mempermasalahkannya.


 


 


Givar benar-benar pria yang sempurna di mata Shasha. Tapi, entah kenapa pria itu memilih menikahinya. Padahal masih banyak wanita yang lebih baik darinya di luar sana.


 


 


Aku hanya gadis malang yang memiliki masalah mental. Jika kamu menikahiku karena kasihan dan hanya karena aku ini sahabat masa kecilmu... kamu telah membuat penderitaan untuk dirimu sendiri.


 


 


Tapi, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Meskipun tidak ada perasaan apa pun di antara kita.


 


 


Acara memasak telah selesai, berganti dengan promosi trailer film. Dalam film tersebut, tampak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


 


 


Kedua mata Shasha bergetar dan melebar melihat itu.


 


 


Mobil tersebut terlempar dan meledak, lalu jatuh berguling-guling ke jurang.


 


 


Napasnya tercekat, keringat dingin menetes dari dahinya. Shasha tidak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya. Dia masih menatap ke layar kaca.


 


 


Dua orang pria merangkak keluar dari mobil tersebut. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan darah.


 


 


Shasha mulai menangis. Dia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak kencang.


 


 


Givar yang masih berbicara dengan ayahnya di telepon tersentak kaget mendengar suara teriakan istrinya.


 


 


"Itu suara Shasha? Ada apa? Kenapa dia berteriak?" Tanya Juan dari seberang sana.


 


 


"Aku tutup dulu teleponnya, Pa. Nanti aku hubungi lagi."


 


 


Setelah mengatakan itu, Givar bergegas ke ruang keluarga. Dia tidak menemukan istrinya. Pria itu melihat ke layar TV.


 


 


Ternyata ada promosi film action terbaru. Givar mengusap kasar rambutnya ke belakang.


 


 


Shasha phobia sama darah. Ah, seharusnya gua perhatiin apa yang dia tonton, batin Givar merutuki dirinya sendiri.


 


 


Pria itu segera mengambil remote dan mematikan TV. Melihat sesuatu di bawah meja, Givar mengernyit. Dia memiringkan kepalanya melihat ke bawah sana.


 


 


Ternyata Shasha bersembunyi di bawah sana dengan tubuh gemetar.


 


 


"Snowy?" Panggil Givar. Shasha terkejut dan sontak wanita itu mendongkak menatap suaminya. Namun naas, kepalanya membentur meja.


 


 


Shasha meringis menahan nyeri di kepalanya. Givar segera mengusap kepala Shasha dan membawanya keluar dari bawah meja.


 


 


"Kamu gapapa?" Tanya Givar sembari memeluk istrinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


 


 


Shasha menangis dalam pelukan suaminya.


 


 


"Aku gak mau nonton TV lagi. TV itu gak boleh di sana," gerutu Shasha di sela tangisannya. Givar mengangguk, "Iya, nanti aku pindahin TV-nya ke tempat lain."


 


 


Givar melepaskan pelukannya. Dia menyingkirkan anak rambut di wajah Shasha. Pria itu memasang ekspresi aneh membuat istrinya bingung.


 


 


"Kenapa?" Tanya Shasha dengan ketus. Givar masih memasang ekspresi aneh, dia menjawab, "Kamu jelek banget kalo lagi nangis gitu."


 


 


Shasha menatap kesal pada suaminya, "Tadi kamu bilang cantik! Sekarang jelek! Kamu itu matanya gimana, sih?!"


 


 


Givar tertawa, "Tadi pagi keliatannya cantik, tapi sekarang beda."


 


 


Shasha memukul lengan suaminya, "Kamu juga jelek! Dasar jelek! Jelek! Jelek!"


 


 

__ADS_1


Givar memegangi kedua tangan Shasha agar berhenti memukulnya.


 


 


~


 


 


Givar melihat TV yang sudah dipindahkan ke gudang di belakang rumah. Pria itu menggeleng pelan.


 


 


"Maaf, ya. Seperti hubungan kamu sama kita udahan aja."


 


 


Setelah mengatakan hal konyol itu, Givar berlalu. Dia menelepon Amelia.


 


 


"Apa?" Semprot Amelia dari seberang sana. Padahal Givar belum mengatakan sepatah kata pun.


 


 


"Tadi pagi dia syok karena liat darah di TV."


 


 


"Apa yang dia tonton, harus lo perhatiin, Var. Besok gua ke sana buat nemenin Shasha. Lo bisa pergi ke kantor."


 


 


"Hemm, iya."


 


 


"Sekarang Shasha lagi ngapain?"


 


 


"Dia lagi ngomong-ngomong sama tetangga baru," jawab Givar dengan pandangan tertuju ke ruang tamu. Shasha sedang berbincang dengan sepasang suami istri yang pagi ini dilihatnya.


 


 


"Gua seneng dengernya. Itu artinya, Shasha bisa berinteraksi dengan orang baru."


 


 


"Hemm, iya."


 


 


"Kenapa nada bicara lo datar-datar gitu? Ada masalah? Ceritain aja, siapa tahu, gua bisa bantu lo."


 


 


"Enggak ada, kok. Yang penting lo udah mau bantuin Shasha melewati masa sulitnya. Gua udah seneng banget, makasih."


 


 


"Ya iya. Gua, kan, dibayar sama lo, haha."


 


 


Givar menggeleng malas sambil menahan tawa, "Jadi, kalo gua gak bayar, lo gak mau nolongin?"


 


 


"Gua bercanda, kok. Gua udah nganggep Shasha kayak sodara gua sendiri. Ya, sama kayak lo, lah, gitu."


 


 


"Wah, gua ngerasa terhormat dianggep sodara sama lo."


 


 


Terdengar suara tawa Amelia. Wanita itu kembali berkata, "Ya, lo emang sepupu gua, lah."


 


 


"He'eh. Besok dateng pagi, ya. Lo sarapan di sini aja."


 


 


"Waaahhh, lo baik banget, sih! Sekarang aja gua siap dateng ke sana!"


 


 


"Tukang makan."


 


 


"Haha, eh, Var... anyway, Shasha itu phobia sama darah kenapa, ya? Soalnya waktu itu lo cuma bawa dia ke gua, tanpa penjelasan apa pun. Ya, gua jadi bingung juga."


 


 


"Nanti gua ceritain kalo ada waktu."


 


 


"Sori, gua nanyain ini."


 


 


"Gapapa kali, lagian lo, kan, psikolog. Harusnya gua bilang dari awal biar lo bisa menangani Shasha dengan baik, tapi..."


 


 


Amelia menunggu sambungan dari kalimat Givar.


 


 


"Ya udah, ya. Gua tutup teleponnya."


 


 


"Oh, ya udah."


 


 


Keesokan harinya, Givar memasak sementara Shasha menyajikan makanan ke meja.


 


 


"Kamu harus ke kantor, kan? Kamu siap-siap aja dulu. Aku beresin ini," kata Shasha. Givar menoleh, "Sedikit lagi."


 


 


"Biar aku aja," kata Shasha sambil mengambil spatula dari tangan Givar. Pria itu melihat kinerja istrinya yang masih kaku ketika memasak.


 


 


Shasha menoleh, "Kamu mau liatin aku terus?"


 


 


Givar terkekeh, "Hati-hati, ya."


 


 


Setelah mengatakan itu, Givar berlalu ke kamar untuk bersiap-siap.


 


 


Shasha menggelengkan kepalanya, "Emangnya aku ini lagi masak, atau lagi jalan, sih?"


 


 


Shasha sedikit menghindar ketika mendengar suara khas masakan yang sudah hampir matang.


 


 


 


 


Shasha melihat suaminya menuruni tangga dengan setelan jas yang sudah rapi melekat di tubuhnya.


 


 


Pria itu menghampiri istrinya. Dia mencolek bahu Shasha. Wanita itu menoleh. Givar menunjuk dasinya seperti anak kecil.


 


 


Shasha mengerti. Givar mematikan kompor yang masih menyala. Shasha memasangkan dasi ke kemeja suaminya. Namun, tubuh pria itu terlalu tinggi dan Shasha kesulitan menjangkaunya.


 


 


Givar tertawa. Dia mengambil bangku kecil dan menyuruh istrinya naik ke sana. Shasha menurut. Dia naik sehingga tingginya sejajar dengan Givar.


 


 


Shasha melanjutkan memasangkan dasi. Givar menatap Shasha dengan penuh makna.


 


 


Aku tidak tahu, apakah aku bisa mencintaimu, atau tidak. Tapi, aku merasa sangat nyaman kalo sama kamu, Snowy, ucap Givar dalam hati.


 


 


Shasha selesai memasangkan dasi. Kini kedua matanya bertemu dengan iris hitam kecoklatan milik Givar.


 


 


Mereka saling menatap cukup lama.


 


 


Shasha membatin, kamu bukan dia, Bunny. Tapi, meskipun begitu, aku menyayangimu, karena kamu sahabat aku. Satu-satunya orang yang mengerti.


 


 


Givar menatap bibir Shasha yang sedikit terbuka. Pria itu tergoda untuk menyentuhnya. Bagaimanapun juga, Givarel adalah seorang pria yang membutuhkan wanita. Dia sudah berjanji pada Juan untuk tidak bermain perempuan lagi setelah menikah dengan Shasha.


 


 


Namun, setelah menikah pun, Givar tidak menuntut haknya dari Shasha.


 


 


Pria itu mendekatkan wajahnya. Shasha tidak bergerak ketika bibir suaminya bersentuhan dengan bibirnya. Kedua pipi mereka memanas dan muncul semburat merah yang jelas.


 


 


Jantung Shasha berdegup kencang. Sebenarnya itu bukan ciuman pertama. Givar maupun Shasha pernah melakukannya dengan orang lain sebelumnya.


 


 


Namun, rasanya berbeda.


 


 


Givar melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya saling menatap. Shasha bisa melihat hasrat yang tertahan lewat tatapan suaminya. Setelah pernikahan, ciuman ini yang baru mereka lakukan.


 


 


Givar kembali mencium bibir Shasha. Pria itu menarik lembut tengkuk istrinya untuk memperdalam ciuman mereka. Shasha memeluk leher suaminya.


 


 


Givar melepaskan kembali dasinya dan menarik kerah kemeja yang dikenakannya, membuat dua kancing teratasnya terbuka.


 


 


Pria itu mendorong istrinya agar duduk di meja dapur. Shasha menyentuh dada Givar. Membuat tangannya menyentuh langsung kulit pria itu yang sedikit berkeringat.


 


 


Ciuman Givar semakin panas.


 


 


Namun, ketukan pada pintu membuat aktivitas keduanya terhenti dan menoleh. Seseorang berdiri di sana dengan ekspresi membeku. Givar dan Shasha segera berekspresi normal.


 


 


Givar mengancingkan kemejanya. Shasha membenarkan pakaiannya.


 


 


Gadis yang tidak lain adalah Amelia itu mengedipkan matanya beberapa kali, seolah dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita itu segera mengalihkan pandangannya.


 


 


Namun, percuma. Dia sudah melihatnya tadi.


 


 


"Emm, permisi."


 


 


Givar memutar bola matanya, "Terlambat, seharusnya mengatakan itu dari tadi."


 


 


Givar memasang dasinya dengan tidak rapi. Dia bahkan lupa tidak mengkancingkan kembali kemejanya.


 


 


Amelia melirik dengan kedua pipi yang sudah memerah, "Seharusnya pintu ditutup."


 


 


"Aku berangkat," kata Givar kemudian berlalu sambil membawa piring berisikan makanan yang sudah disiapkan Shasha untuknya.


 


 


Shasha hanya melihat punggung suaminya yang menjauh. Pria itu tampak konyol dengan dasi tidak rapi dan makanan di piring yang dibawanya.


 


 


"Maaf, aku ganggu kalian, ya?" Tanya Amelia dengan kedua pipi yang masih memerah. Shasha menoleh padanya dengan pipi yang memerah juga.


 


 


"Ti-tidak, kok."


 


 


Shasha mengajak Amelia sarapan. Mereka menikmati makanan tersebut.


 


 


Selesai sarapan, Amelia menunjukkan sesuatu yang dibawanya sebelum datang ke rumah sepupunya.


 


 


Gadis itu menunjukkan dua ekor kelinci pada Shasha. Yang satu berwarna putih, dan yang satunya lagi berwarna coklat.


 


 


Shasha tampak senang. Dia menyentuh hewan bercuping telinga panjang itu.


 


 


"Ini buat aku?" Tanya Shasha semangat. Amelia mengangguk cepat, "Iya."


 

__ADS_1


 


Shasha tersenyum senang.


 


 


Amelia mengusap kedua kelinci itu, "Yang putih ini ibaratnya kamu, dan yang coklat ini ibaratnya Givar."


 


 


Shasha meniru apa yang dilakukan Amelia. Dia mengusap kelinci berwarna coklat dan putih bergantian.


 


 


"Bunny and Snowy," ucapnya. Amelia mengangguk. Dia sudah mengetahui panggilan sayang Shasha untuk Givar. Semalam Givar sudah menceritakan semuanya pada Amelia lewat video call, tanpa ada sedikitpun yang terlewat.


 


 


Amelia bisa merasakan jika dia di posisi Shasha, maupun di posisi Givar. Sebagai seorang psikolog, Amelia tidak mau menunjukkan emosinya. Dia harus bersikap profesional, meskipun pasiennya adalah istri dari sepupunya sendiri.


 


 


Amelia sudah berjanji pada Givar akan membantu Shasha.


 


 


"Kamu mau ngasih mereka nama?" Tanya Amelia. Shasha menganggu semangat seperti anak kecil, "Little Bunny, dan Little Snowy."


 


 


Amelia tersenyum, "Kedua kelinci ini besar bersama, meskipun mereka bukan saudara. Keduanya saling menyayangi satu sama lain dan bersahabat."


 


 


Shasha menatap Amelia, "Seperti aku dan Bunny?"


 


 


Amelia mengangguk, "Iya, seperti kalian berdua."


 


 


Shasha mengangguk lalu mengangkat kedua kelinci itu ke pangkuannya.


 


 


"Mereka menikah," kata Amelia. Shasha mendongkak menatap Amelia.


 


 


Psikolog muda itu menunggu reaksi Shasha. Namun, ternyata Shasha tersenyum, "Mereka akan bahagia."


 


 


Amelia tampak sedih, dia memeluk Shasha. Padahal gadis itu mati-matian menahan perasaannya. Shasha jadi bingung, namun dia membalas pelukan Amelia.


 


 


"Kamu kenapa?" Tanya Shasha.


 


 


Amelia melepaskan pelukannya sembari menatap Shasha. Dia tersenyum lembut, "Hehe, aku cuma pengen meluk kamu aja."


 


 


Shasha tidak mempermasalahkannya. Dia kembali mengusap kelincinya. Shasha bangkit.


 


 


"Kamu mau kemana?" Tanya Amelia. Shasha menjawab dari dapur, "Ngambil wortel."


 


 


Wanita itu kembali dengan beberapa wortel di tangannya. Dia memberikannya pada little bunny dan little snowy.


 


 


Amelia memperhatikannya.


 


 


"Mereka tidak akan bahagia," ujar Amelia. Shasha mengernyit, "Kenapa?"


 


 


"Mereka tidak saling mencintai. Masing-masing dari mereka mencintai yang lain. Mereka bersama karena suatu alasan."


 


 


Shasha terlihat sedih, "Tapi, mereka saling menyayangi."


 


 


"Iya, mereka saling menyayangi. Mereka akan hidup bahagia bila melupakan masa lalu dan memutuskan membuat rencana untuk masa depan," ucapan Amelia membuat Shasha terdiam.


 


 


"Aku mencintai pria lain," kata Shasha tiba-tiba.


 


 


Amelia terkejut, kedua alisnya terangkat. Dia tidak mengira, Shasha akan mengerti maksud pembicaraannya.


 


 


Ada kemungkinan kondisi Shasha membaik, dia masih bisa kembali seperti Shasha yang dulu, batin Amelia.


 


 


"Tidak apa-apa, Shasha." Amelia tersenyum sendu.


 


 


Sementara itu, di kediaman Gustiar, Sarah sedang melihat album foto pernikahan putrinya. Dia tersenyum sembari mengusap wajah cantik dalam kertas tebal berbentuk persegi itu.


 


 


"Tidak ada keceriaanmu lagi. Bahkan jauh sebelum pernikahan kamu," gumam Sarah sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang merupakan kamar Shasha.


 


 


Sebuah foto yang bagian depannya menghadap ke bawah mengalihkan perhatian Sarah. Wanita itu menyentuh bingkai tersebut dan membenarkannya.


 


 


Kedua matanya membelalak lebar. Dalam foto itu ada putrinya dengan seorang pria tampan sedang tersenyum bahagia.


 


 


Pria itu bukan Givar.


 


 


Shasha sedang duduk di bangku ayunan taman. Dia terlihat lebih ceria waktu itu. Senyuman sumringah tercetak jelas di wajahnya.


 


 


Bangku ayunan terasa lebih berat. Shasha menoleh, ternyata pria yang ada di foto itu. Dia duduk di bangku ayunan bersama Shasha.


 


 


Pria itu menoleh sebentar pada Shasha kemudian mengalihkan pandangannya sambil tersenyum. Shasha menyikut lengan pria itu.


 


 


"Kamu kenapa ketawa gitu?" Tanya Shasha setengah menggerutu. Pria itu menoleh lagi kemudian menggeleng sambil tersenyum.


 


 


"Kamu cantik banget hari ini."


 


 


"Makasih."


 


 


Hening.


 


 


Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kecanggungan mulai menyelimuti. Padahal mereka sudah lama berpacaran. Sekitar 2 tahun yang lalu mereka menjalin hubungan.


 


 


"Kamu bahagia sama aku?" Tanya pria itu. Shasha menoleh kemudian mengangguk cepat. Pria itu tersenyum.


 


 


"Kamu bahagia sama aku?" Shasha melontarkan pertanyaan yang sama. Pria itu juga mengangguk.


 


 


"Aku bahagia banget sama kamu. Secepatnya aku akan datang ke rumah kamu dan melamar kamu," ucapan pria itu membuat Shasha bahagia. Dia menatap kekasihnya dengan tatapan penuh makna.


 


 


Pria itu mendekap tubuh kekasihnya dengan lembut, "Aku mencintaimu, Shaquellin."


 


 


"Aku juga mencintaimu, Refandi."


 


 


Hari terus berlalu.


 


 


Suatu pagi, Shasha menuruni tangga dengan ekspresi bahagia. Dia melihat ayah dan ibunya berada di meja makan.


 


 


"Selamat pagi!" Shasha menyapa keduanya dengan penuh keceriaan.


 


 


"Selamat pagi, Sayang." Kedua orang tuanya menjawab bersamaan.


 


 


Shasha mengecup pipi ayah dan ibunya bergantian kemudian duduk. Mereka bertiga makan bersama.


 


 


Pandangan Adam tertuju pada kursi kosong di samping Shasha.


 


 


"Kakak kamu belum bangun? Dia pasti lapar, tolong bangunkan dia," ucap Adam.


 


 


Mendengar itu, Shasha dan Sarah saling pandang dengan ekspresi tidak bisa diprediksi.


 


 


Sarah mengusap rambut putrinya, "Shasha harus pergi ke kantor, kan. Mama aja yang bangunin kakak."


 


 


Gadis itu mengangguk kemudian berlalu.


 


 


Sesampainya di kantor, Shasha mendapatkan banyak sapaan dari para karyawan. Gadis itu juga menjawab sapaan mereka dengan santun dan menyenangkan.


 


 


Semua orang sangat menyukai sosoknya yang baik, tegas, dan peduli. Shasha memiliki kharisma yang sangat kuat yang membuat semua orang menunduk hormat pada putri bungsu dari keluarga Gustiar itu.


 


 


Ketika duduk di ruangannya, Shasha mendapatkan paket dari seseorang yang tidak diketahui. Paket berupa benda berukuran sedang berbentuk persegi dengan dibungkus kertas berwarna merah muda.


 


 


"Gak ada nama pengirimnya," gumam Shasha sambil membuka isinya. Ternyata isinya coklat. Banyak sekali.


 


 


Shasha tersenyum. Dia melihat ada kertas di dalam dan membancanya.


 


 


Hai, terkejut?


Jangan terkejut dulu. Kamu akan lebih terkejut melihat hadiah di dalamnya.


 


 


Refandi


 


 


Shasha tersenyum membaca surat yang ternyata dari pengirim coklat tersebut, Refandi, kekasihnya.


 


 


Shasha memakan coklat itu dan dia terkejut melihat ada kotak yang lebih kecil di dalam sana. Shasha mengambilnya dan membuka isinya.


 


 


Cincin yang Indah dan ada kertas kecil yang terselip bertuliskan, Will you marry me? No! You must be my wife.


 


 


Shasha tertawa, "Kenapa kau memaksa? Memangnya aku bisa menolakmu?"


 


 


Hari mulai sore, Shasha kembali ke rumah. Dia terkejut melihat keberadaan Refandi di rumah itu. Pria itu duduk berhadapan dengan Sarah.


 


 


Pandangan pria itu tertuju pada jari manis Shasha. Ada cincin yang terselip di sana.


 


 


Refandi tersenyum bahagia.


 


 


Shasha memeluk tubuhnya sendiri. Dia menahan semua emosi dalam hatinya.


 


 


Menjadi diriku yang sekarang, membuatku takut melakukan apa pun. Aku takut segalanya. Aku tidak bisa seperti dulu. Maafkan aku, batin Shasha.


 


 


~•o•~


 


 


15.29 : 03 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2