
π°β E P I L O G
γ
γ
Hari kelahiran sang buah hati pun telah tiba. Di rumah sakit, Shasha melahirkan bayi pertamanya.
γ
γ
Di depan ruang persalinan, Givar tampak cemas. Dia tidak ingin duduk, sebelum mengatahui kabar istrinya. Apalagi dia mendengar teriakan istrinya yang cukup keras.
γ
γ
Juan dan Yelma datang mereka menanyakan kabar Shasha pada Givar. Pria itu mengedikkan bahunya sambil menunjuk ke pintu ruang persalinan.
γ
γ
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Givar mengangkat wajahnya. Juan dan Yelma saling pandang dengan ekspesi bahagia.
γ
γ
Givar yang baru saja duduk sebentar, kembali berdiri dan menoleh ke pintu ketika melihat seorang dokter dengan masket dan pakaian lengkap keluar dari ruangan tersebut.
γ
γ
"Selamat, Tuan Hardiswara, istri anda melahirkan bayinya dengan selamat. Anda bisa menemui mereka," kata dokter.
γ
γ
Juan dan Yelma mengucap syukur berbarengan.
γ
γ
Givar segera memasuki ruangan tersebut. Terlihat Shasha sedang menggendong bayinya. Dia menoleh pada Givar.
γ
γ
Pria itu duduk di kursi di samping ranjang Shasha. Ditatapnya bayi yang baru lahir itu. Sangat lucu. Meskipun masih kecil, hidungnya sudah terlihat menonjol seperti orang tuanya. Bulu matanya juga lebat dan lentik seperti Givar.
γ
γ
"Hello, Baby." Givar menyapa bayinya.
γ
γ
Shasha tersenyum dan memberika bayi itu pada suaminya.
γ
γ
"He's baby boy."
γ
γ
"Really? Oh my hero."
γ
γ
Givar mengecup wajah tampan bayinya.
γ
γ
"Maaf, Tuan. Nyonya Hardiswara harus menyusui bayinya," ujar seorang perawat.
γ
γ
Dengan berat hati, Givar harus melepaskan bayinya dan berlalu keluar untuk memberikan privasi pada istrinya.
γ
γ
Ketika sampai di depan pintu, Juan dan Yelma mendadak menjelma jadi wartawan dan menanyai Givar.
γ
γ
"Shasha baik-baik saja. Bayiku laki-laki."
γ
γ
"Ah, aku senang sekali."
γ
γ
Givar tersenyum bahagia.
γ
γ
~
γ
γ
Shasha sudah diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah, Shasha menidurkan bayinya ke ayunan ranjang bayi yang lucu berwarna biru muda.
γ
γ
"Kamu udah mikirin nama buat anak kita belum?" Tanya Shasha.
γ
γ
Givar tampak berpikir.
γ
γ
"Jangan bilang, kamu lupa," kata Shasha setengah menggerutu.
γ
γ
"Ah, enggak, kok." Givar mengibaskan tangannya sembari kembali berpikir.
γ
γ
Shasha cemberut.
γ
γ
"Emm, aku pernah mikirin nama Gefarishix Hardiswara." Givar menatap bayinya.
γ
γ
"Kenapa pendek? Nama kamu sama nama aku aja panjang," kata Shasha.
γ
γ
"Sementara ini, namanya itu dulu. Yang lainnya nanti aku pikirin lagi," kata Givar lalu terkekeh.
γ
γ
Shasha tersenyum, "Baiklah, tidak apa-apa, kok. Kalo bisa, kamu bilang sama papa juga. Siapa tahu, papa punya request nama."
γ
γ
Givar balik bertanya, "Kamu punya nama yang bagus buat anak kita?"
γ
γ
"Karena ini anak pertama kita, aku mau nama Titan untuk nama tengahnya," jawab Shasha.
γ
γ
"Gefarishix Titan Hardiswara," gukam Givar sembari berkali-kali menyebutkan nama itu.
γ
γ
Givar mengangguk.
γ
γ
Setelah dibicarakan dengan Juan dan Yelma, akhirnya nama yang diputuskan adalah Gefarishix Bimantara Titaneo Tri Hardiswara.
γ
γ
"Emang itu gak panjang banget, Pa?" Tanya Yelma.
γ
γ
"Enggak, itu bagus menurut Papa. Keluarga Mahali aja bisa punya nama sebanyak 8 atau 9 suku kata," ujar Juan dengan polosnya.
γ
γ
Givar dan Shasha terkekeh pelan.
γ
γ
Selama merawat Gefari, Shasha dibantu Yelma dan Sarah. Kedua ibunya itu mengajarkan banyak hal pada Shasha tentang mengurus bayi.
γ
γ
Shasha merawat Gefari dengan baik, sehingga bayi mungil itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat.
γ
γ
Ketika usia Gefari menginjak tahun ke-5, wajahnya mulai tampak menyerupai orang tuanya. Wajah campuran Shasha dan Givar terlukis jelas pada wajahnya.
γ
γ
Kedua mata berwarna coklat gelap dengan alis dan bulu mata yang lentik seperti ayahnya. Hidung mancung yang hanya dimiliki oleh dirinya, serta pahatan bibir tipis namun agak merekah berwarna merah muda seperti Shasha. Rambutnya juga berwarna hitam kecoklatan seperti ibunya.
__ADS_1
γ
γ
Anak laki-laki itu sedang duduk berlipat di teras depan rumahnya. Dia bermain dengan robot dan mobil mainannya. Gefari memainkan mobil mainan dengan suara kecilnya yang menirukan suara mobil sungguhan.
γ
γ
Shasha datang dengan semangkuk sayuran.
γ
γ
"Gefari, Sayang... saatnya makan, nak." Shasha duduk berlipat meniru putranya.
γ
γ
Gefari menoleh pada ibunya. Dia menggeleng sambil cemberut membuat wajah lucunya itu terlihat semakin menggemaskan.
γ
γ
"Gefari gak mau makan masakan Mommy?" Tanya Shasha dengan ekspresi sedih dan pura-pura akan menangis.
γ
γ
Gefari segera menyimpan mainannya. Dia mengguncangkan tangan ibunya agar tidak menangis.
γ
γ
"Gefa mau main, makannya nanti aja," ucap Gefari dengan suara menggemaskan.
γ
γ
Shasha malah memperlihatkan ekspresi akan menangis sungguhan, "Makanan Mommy gak enak, ya?"
γ
γ
Anak kecil itu tampak berpikir kemudian tersenyum manis sambil mengangguk. Shasha membulatkan matanya. Dia tidak mengira Gefari akan menjawab jujur.
γ
γ
"Gefa gak suka makanan hijau itu... pahit." Gefari menunjuk sayuran di mangkuk tersebut.
γ
γ
"Sayuran ini bisa bikin Gefa kuat dan cepet gede. Gefa mau cepetan gede dan lari-lari seperti anak lain, kan?" Bujuk Shasha lembut.
γ
γ
Gefari mengangguk semangat.
γ
γ
Shasha menyendok sayuran dari mangkuk tersebut lalu menyuapkannya pada Gefari.
γ
γ
Dengan ekspresi ragu, Gefari membuka mulutnya. Dia mengunyah dengan ekspresi aneh.
γ
γ
Shasha terkekeh, ingin sekali dia mencubit kedua pipi chubby putranya itu.
γ
γ
Shasha memasak sayuran setiap hari. Dia ingin putranya menyukai sayuran dan tumbuh sehat.
γ
γ
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Shasha dan Gefari menoleh. Ternyata Sven dan Amelia.
γ
γ
"Halo, Gefa Sayangku!" Amelia mengangkat tubuh mungil anak laki-laki itu.
γ
γ
Gefari tertawa senang.
γ
γ
Sven mengecup pipi Gefari, "Uncle miss you."
γ
γ
"Sha, apa kabar?" Tanya Sven
Shasha tersenyum, "Aku baik, kok. Kakak sama Amel gimana kabarnya?"
γ
γ
γ
γ
"Wah, Gefa lagi makan sayuran, ya? Ayo minta disuapin lagi sama Mommy," kata Amelia yang melihat sayuran di mangkuk yang dipegang Shasha.
γ
γ
Gefari menggeleng, "Pahit."
γ
γ
"Gefa gak suka sayuran? Pahit, ya? Coba Aunty cobain. Mommy Shasha suapin Aunty, dong." Amelia membuka mulutnya.
γ
γ
Shasha menyuapkan sayuran dari sendok ke mulut calon kakak iparnya itu. Sven hanya menggeleng sembari tersenyum kecil melihat tingkah calon istrinya.
γ
γ
Sementara Gefari memperhatikan aunty-nya yang sedang mengunyah sayuran.
γ
γ
"Mommy kamu pinter masak, Gefa," kata Amelia.
γ
γ
Melihat ekspresi Amelia, Gefa membuka mulutnya. Shasha terkekeh. Dia menyuapi putranya.
γ
γ
Namun, ekspresi Gefa masih sama, tidak suka.
γ
γ
Sven tertawa, "Ya sudah, kalau dia tidak mau sayuran, ya jangan dipaksa."
γ
γ
"Dia harus jadi vegetarian seperti aku dan Givar," kata Shasha ketus.
γ
γ
Sven tertawa, "Kamu menyindirku? Karena aku karnivora? Tapi, makan daging juga gak buruk, Sha. Aku aja pinter karena banyak makan daging."
γ
γ
"Gimana kalo nanti Gefa gak suka nasi juga kayak Kakak?" Gerutu Shasha.
γ
γ
"Roti, kan, ada." Sven menjawab dengan santainya.
γ
γ
"Kalian ini malah bertengkar," gerutu Amelia sambil menurunkan tubuh Gefari.
γ
γ
"Aunty, Aunty!" Gefari menarik tangan Amelia sambil menunjuk keranjang berukuran cukup besar yang dibawa oleh aunty-nya itu.
γ
γ
Sven dan Shasha menoleh.
γ
γ
"Oh iya, Sayang. Ini temen-temen kecil buat kamu," kata Amelia sambil membuka keranjang itu.
γ
γ
Ternyata isinya adalah beberapa ekor kelinci yang ukuran dan warnanya beragam. Shasha tersenyum melihatnya.
γ
γ
Kedua mata Gefari berbinar, "Cute! Cute! They all for me?!"
γ
γ
"Sure, for you Baby."
γ
γ
Gefari bermain dengan kelinci-kelinci itu. Sementara Shasha dan Sven berbicara.
γ
__ADS_1
γ
"Kami akan kembali ke New York. Sepertinya kami memang akan tinggal di sana dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia," kata Sven.
γ
γ
Shasha menghela napas berat, "Jadi, kalau aku merindukan kalian, aku dan Givar harus pergi ke New York?"
γ
γ
Sven mengangguk.
γ
γ
Givar telah kembali dari kantor. Dia melihat kedatangan Kakak ipar dan sepupunya.
γ
γ
"Gefari, kamu lagi apa?" Tanya Givar sambil mengangkat tubuh putranya yang sedang mengobrak-abrik barang-barang yang dibawa Sven dan Amelia.
γ
γ
"Uuuuhhhh." Gefari ingin turun dan mengacak-acak lagi kantong-kantong itu.
γ
γ
"Gapapa, Var. Lagian kami bawa ini semua buat kalian," kata Amelia.
γ
γ
Givar menurunkan putranya. Anak manis itu berjalan dan mengobrak-abrik lagi isi dari kantong-kantong besar itu.
γ
γ
"Kalian baru 1 minggu di sini, kalian mau balik lagi?" Tanya Givar yang melihat mobil Sven penuh dengan barang-barang.
γ
γ
"Iya, mau ikut?" Tanya Sven.
γ
γ
"Nanti kalo Gefari udah gede aja," jawab Givar.
γ
γ
"Mommy! Daddy!" Gefari menemukan sosis dari kantong makanan. Dia menunjukkannya pada ayah dan ibunya.
γ
γ
Kelucuan Gefari membuat Amelia tertawa gemas.
γ
γ
"Mau, mau, mau," kata Gefari.
γ
γ
Shasha menggendong Gefari yang tidak mau melepaskan dirinya dari sosisnya tersebut. Shasha membawa anak manis itu ke dalam.
γ
γ
"Kalo kalian nikah, kalian harus nikah di sini, dong." Givar mengeluarkan lagi pertanyaan.
γ
γ
"Di sana juga bisa," kata Sven.
γ
γ
"Ya udah, kalo kalian udah memutuskannya." Givar tidak berniat mempertanyakan hal lain lagi.
γ
γ
Gefari kembali dengan piring berisikan sosis yang sudah dipotong kecil dan matang. Dia memakannya dengan lahap.
γ
γ
Melihat tingkah keponakannya, Sven tertawa, "Gefari mengingatkanku dulu. Aku juga membenci sayuran dan lebih menyukai daging atau sosis."
γ
γ
Shasha kembali.
γ
γ
Gefari menyuapkan sosisnya pada sang ibu. Shasha menerimanya, "Makasih, Sayang."
γ
γ
Gefari juga menyuapkan sosis itu pada Amelia.
γ
γ
"Thank you, Baby."
γ
γ
Gefari mengangguk semangat. Dia mengganggu Sven dan Givar yang sedang berbicara dengan memaksa kedua pria itu melahap sosisnya.
γ
γ
Shasha dan Amelia hanya terkekeh melihat kelucuan Gefari.
γ
γ
Setelah lama berada di rumah Givar dan Shasha, Sven dan Amelia memutuskan untuk segera ke bandara.
γ
γ
Givar dan Shasha menyaksikan mobil Sven yang melaju meninggalkan rumah mereka.
γ
γ
Gefari tertidur di pangkuan ayahnya. Kepalanya dilelapkan ke bahu kekar Givar. Sementara bibirnya masih belepotan karena sosis yang habis dimakannya.
γ
γ
Shasha mengambil tisu dan mengusap bibir putra kecilnya dengan lembut sampai bersih.
γ
γ
"Putra kita akan menjadi pria yang baik suatu hari nanti," ucap Givar.
γ
γ
Shasha tersenyum, "Iya."
γ
γ
Givar kembali bersuara, "Aku ingin dia memiliki sifat dan sikap seperti kamu."
γ
γ
"Dia juga harus memiliki jiwa kepemimpinan yang baik seperti kamu," ujar Shasha.
γ
γ
"Cukup wajahnya saja yang ada akunya, yang lainnya jangan sama," kata Givar.
γ
γ
Shasha menangkup wajah suaminya, "Aku harap, kamu tidak mengingat masa lalu itu lagi. Aku juga sudah menganggapnya tidak pernah terjadi. Kamu yang sekarang adalah suami aku."
γ
γ
Givar mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Shasha. Mereka menutup kedua mata dan merasakan manisnya kecupan itu.
γ
γ
Pergerakan Gefari membuat ciuman keduanya terhenti.
γ
γ
Mereka berdua tersenyum geli.
γ
γ
~β’oβ’~
γ
γ
~β’G R A P P L Eβ’~
γ
γ
~β’ TΒ Β HΒ Β EΒ Β Β EΒ Β NΒ Β D β’~
γ
γ
~β’Ucu Irna Marhamahβ’~
γ
γ
__ADS_1