GRAPPLE

GRAPPLE
Mental Illness


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Jangan membandingkan masalah kamu dengan masalah orang lain. Pada dasarnya semua orang memiliki masalah yang berbeda-beda\, kecuali orang yang sudah mati._


 


 


~•o•~


 


 


Hari ini, Amelia datang mengunjungi rumah baru milik Givar dan Shasha. Dia sedang berbicara dengan Givar.


 


 


"Keadaan Shasha sekarang sedikit lebih baik," ujar Givar sembari menghela napas lega.


 


 


Amelia menoleh dan melihat Shasha yang sedang asyik memberikan wortel pada Bunny dan Snowy.


 


 


"Ya udah, lo boleh pergi. Gua bakalan jaga Shasha," ucap Amelia.


 


 


Givar mengangguk kemudian mengambil kunci mobilnya.


 


 


"Oh ya, Mel. Gua mau nanya sama lo. Lo tahu, gak... Sven lagi di mana?" Tanya Givar.


 


 


"Emangnya dia gak lagi di Jakarta?" Amelia balik bertanya.


 


 


"Yah, malah balik nanya." Givar mengusap wajahnya.


 


 


"Ya... mana gua tahu." Amelia mengedikkan bahunya.


 


 


Givar menyahut, "Kalian deket, kan? Gak mungkin Sven pergi tanpa bilang sama lo."


 


 


Amelia jadi teringat sesuatu. Waktu di rumahnya, Sven akan mencium Amelia. Kedua pipinya mendadak memerah jika terus-menerus mengingat itu.


 


 


"Malah tersipu lagi ini anak," goda Givar. Amelia terkekeh, "Apaan, sih. Sana pergi."


 


 


"Iya, iya, malah lo yang ngusir gua di rumah gua sendiri." Givar menggerutu sembari menghampiri Shasha.


 


 


Amelia terkekeh.


 


 


"Sayang, aku pergi, ya."


 


 


Shasha mengangguk. Kecupan hangat mendarat di kedua pipi wanita itu.


 


 


Amelia mengalihkan pandangannya seolah dia tidak melihat apa pun.


 


 


Givar pergi.


 


 


Kini tinggal Shasha dan Amelia. Mereka berdua hanya bercakap-cakap dan saling menanyakan kabar masing-masing ketika beberapa hari ini tidak bertemu.


 


 


Ketika asyik berbincang, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


 


 


Shasha dan Amelia menoleh ke jendela.


 


 


"Ada tamu?" Tanya Amelia.


 


 


Shasha mengedikkan bahunya.


 


 


Kedua wanita itu keluar untuk melihat siapa yang datang.


 


 


Ada mobil berwarna putih dengan box besar di belakangnya. Shasha mengernyit melihat dua orang pria berbaju serba putih keluar dan menghampiri mereka.


 


 


"Kalian siapa?" Tanya Amelia dengan nada yang kurang ramah.


 


 


"Kami dari RSJ Larissa, apa benar ini rumah Nona Shaquellin Gustiar?" Tanya salah satu dari mereka.


 


 


Shasha terbelalak, begitupun dengan Amelia.


 


 


"Apa maksud anda! Anda mau apa kemari!" Bentak Amelia yang tersulut emosinya.


 


 


"Nona Shaquellin dinyatakan sebagai pasien dari RSJ kami, sejak tahun satu tahun yang lalu, seharusnya dia sudah berada di RSJ sejak saat itu, namun ada kekeliruan."


 


 


Amelia mengepalkan tangannya, "Jangan cari masalah! Shaquellin tidak gila!"


 


 


"Maaf, kami punya bukti. Tuan Adam Gustiar telah membayar agar membuat surat keterangan palsu yang menyatakan jika Nyonya Shaquellin tidak mengalami gangguan jiwa." Mereka memberikan dokumen.


 


 


Shasha terkejut. Kedua lututnya terasa begitu lemas. Dia pun duduk tertekuk. Amelia menoleh, dia membantu Shasha agar berdiri.


 


 


"Mereka bohong! Itu tidak benar! Kamu gak kenapa-napa! Aku yang udah lama kenal sama kamu. Aku yang merawat kamu selama ini. Kamu baik-baik aja." Amelia berusaha menenangkan Shasha.


 


 


Wanita itu tampak menatap kosong. Amelia terlihat khawatir. Dia menghampiri kedua petugas itu.


 


 


"Kalian tidak bisa berbicara seenaknya, aku bisa melaporkan kalian ke pihak berwajib, karena telah melakukan pencemaran nama baik terhadap keluarga Gustiar dan Hardiswara!" Bentak Amelia. Gadis itu mengambil dokumen tersebut kemudian merobeknya.


 


 


Shasha mulai menangis.


 


 


"Kami hanya menjalankan tugas, anda tidak bisa seperti ini. Memangnya anda siapa?"


 


 


"Aku Amelia Hardiswara, psikolog yang membantu Shaquellin. Dan aku menjamin, jika wanita ini tidak gila, dia baik-baik saja."


 


 


"Maaf, tapi yang saya lihat, anda tidak seperti psikolog. Justru anda juga terlihat mengalami gangguan jiwa."


 


 


Amelia marah sekali, dia melayangkan tangannya ingin menampar wajah petugas itu. Shasha mendongkak menatap Amelia sembari menggelengkan kepalanya.


 


 


Namun, tangan kekar seseorang menahannya dengan menggenggam erat pergelangan tangan Amelia. Gadis itu mendongkak menatap pria pemilik tangan tersebut, ternyata Svender.


 


 


"Jangan membuat dirimu dalam masalah, Mel." Sven menghalangi Amelia dari dua orang itu. Gadis itu menatap punggung kekar Sven. Kedua matanya bergetar.


 


 


Ada banyak tetangga yang melihat keributan kecil itu. Amelia baru menyadari, jika suaranya membuat semua orang melihat mereka. Mereka tampak berbisik-bisik mengeluarkan berbagai pendapat.


 


 


Apalagi Givar dan Shasha adalah orang baru yang tinggal di tempat itu.


 


 


"Kalian tidak perlu datang kemari dan mencari masalah seperti ini. Jika Shasha terbukti mengalami gangguan jiwa, dalam waktu tiga hari, aku sendiri yang akan mengantarkan adikku ke RSJ yang kalian maksud," kata Sven dengan nada datar.


 


 


Amelia dan Shasha terkejut. Mereka menatap tidak percaya pada Sven. Amelia menarik bagian belakang baju Sven, membuat pria itu menoleh dan menatapnya.


 


 


"Apa yang kamu bicarakan! Kenapa kamu melakukan ini?!" Teriak Amelia.


 


 


Pria itu mendekatkan wajahnya membuat Amelia gugup. Ternyata pria itu hanya berbisik, "Aku akan mengurusnya. Kamu bawa adikku masuk ke dalam. Nanti aku menyusul."


 


 


Sesuai perintah, Amelia membopong tubuh Shasha dan membawanya masuk.


 


 

__ADS_1


"Anda juga pernah terdaftar di RSJ lain, bukan? Kenapa anda masih bisa bebas?" Tanya salah satu dari mereka.


 


 


"Aku sudah dinyatakan sembuh. Kalian bisa cek buktinya, jika kalian mau. Jadi, sekarang kalian boleh pergi."


 


 


Melihat tatapan tidak bersahabat dari Sven, kedua orang itu memilih pergi. Pria itu berlalu memasuki rumah adiknya. Dia melihat Shasha menangis dalam pelukan Amelia.


 


 


"Kenapa kamu bersikap seperti itu tadi? Kamu tidak terlihat seperti seorang psikolog," ucap Sven. Secara tidak langsung, dia sedang menyalahkan Amelia.


 


 


"Kenapa, kamu bilang? Aku tersinggung ketika keluargaku dianggap sakit oleh mereka. Aku memang psikolog, tapi aku juga manusia, memiliki emosi dan hati, apa aku tidak berhak marah?" Gerutu Amelia.


 


 


"Bagaimana caramu mengendalikan perasaan pasien kamu, kalo kamu gak bisa mengendalikan perasaan kamu sendiri?" Tanya Sven.


 


 


Amelia berdiri sembari menghampiri pria itu, "Aku belajar psikologi bukan untuk mengendalikan perasaan pasien, aku mendengarkan mereka dan memahami perasaan mereka. Camkan itu."


 


 


Sven memutar bola matanya, "Seharusnya kamu jadi pengacara, bukan psikolog."


 


 


"Aku kuliah pake uangku, bukan pake uang kamu. Jadi, terserah aku mau jadi apa juga!" Gerutu Amelia.


 


 


Sven mendecih, "Kamu itu keras kepala, ya."


 


 


"Kamu yang kepala batu, seharusnya kamu mengerti dengan kondisi Shasha!"


 


 


"Aku mengerti, aku kakaknya."


 


 


"Aku yang lebih mengerti, aku yang selama ini bersama dia dan mengenalnya dengan baik."


 


 


"Kalian hentikan!" Teriak Shasha. Kedua orang yang sedang bertengkar itu menoleh.


 


 


"Keluar dari rumahku!" Bentak Shasha yang sudah di ambang batas kesabarannya.


 


 


Sven dan Amelia keluar. Mereka berdua duduk di teras rumah.


 


 


"Hemmm, seharusnya kita mengerti dengan kondisinya. Sepertinya... aku emang gak ngerti." Amelia bergumam pelan.


 


 


Sven menoleh pada gadis itu, "Kita terlalu memaksakan diri untuk mengerti, padahal nyatanya kita juga tidak bisa mengerti."


 


 


Hening.


 


 


"Maafin aku... kamu benar, aku emang gak cocok jadi psikolog. Aku terlalu lemah untuk memahami orang lain," ucap Amelia. Dari nada bicaranya, dia tampak sedih.


 


 


Sven merasa bersalah mengatakan itu. Dia pun berkata, "Emm, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Tapi, aku cuma khawatir aja... kalo kamu tadi menampar mereka, bisa-bisa mereka juga menyeret kamu ke RSJ."


 


 


"Aku memang payah," gumam Amelia.


 


 


Sven menatap gadis itu. Amelia menoleh kemudian menepuk dahinya sendiri.


 


 


"Ah, aku lupa... kamu pasien aku. Kenapa aku ngomong ini di depan kamu... ah, bodohnya." Amelia menepuk-nepuk mulutnya.


 


 


"Jangan ditepuk-tepuk. Mendingan dicium aja bibirnya," ucap Sven dengan polosnya.


 


 


Amelia terbelalak.


 


 


Sven tertawa, "Kamu seperti anak remaja saja. Plin-plan."


 


 


Amelia terdiam.


 


 


 


 


Amelia tersenyum kaku.


 


 


"Kamu lagi dateng bulan, ya?"


 


 


Pertanyaan sensitif Sven membuat Amelia menoleh padanya.


 


 


"Memangnya kenapa?" Tanya Amelia waspada.


 


 


"Biasanya perempuan yang sedang datang bulan itu suka marah-marah," jawab Sven enteng.


 


 


"Kamu tahu dari mana? Kamu punya teman perempuan?" Tanya Amelia.


 


 


"Buku yang aku beli menjelaskannya."


 


 


Ngapain juga Svender beli buku yang isinya urusan pribadi perempuan? Tanya Amelia dalam hatinya.


 


 


"Kenapa diam? Aku salah bicara, ya?" Tanya Sven.


 


 


Amelia menggeleng, "Enggak, kok. Aneh aja ada cowok yang tahu soal itu."


 


 


Sven menyanggah, "Semua cowok juga tahu, ah."


 


 


Amelia terkekeh kecil, "Kamu pernah punya pacar, ya?"


 


 


Sve menoleh pada Amelia, "Kenapa memang?"


 


 


"Kamu sampai tahu tentang ini."


 


 


Sven tersenyum, "Iya, aku pernah punya pacar."


 


 


Entah kenapa,  Amelia terluka mendengarnya. Seolah dia cemburu dengan masa lalu gadis lain bersama Sven.


 


 


"Tapi... sekarang dia sudah tidak ada di dunia ini."


 


 


Kedua mata Amelia membulat. Dia semakin merasa bersalah, karena telah cemburu pada orang yang sudah meninggal.


 


 


Sunyi.


 


 


"Oh ya, bagaimana dengan Shasha? Gimana kalo mereka balik lagi dalam tiga hari dan ngambil Shasha?" Tanya Amelia.


 


 


Sven tampak berpikir, "Tadi kamu bilang Shasha gak gila, kan? Kamu bisa buktiin ke mereka."


 


 


Amelia merenung sejenak, "Iya, tapi... ada beberapa RSJ yang hanya ingin menerima surat keterangan dari Psikiater. Itu tergantung kebijakan RSJ-nya."


 


 


Sven memutar otaknya, "Tidak masalah, aku punya rencana lain."


 


 


~


 


 


Di kantor,


 


 


Helieen melirik Givar, "Sekarang Tuan sudah siap mendengarkan?"


 

__ADS_1


 


Givar mendelik pada sekretarisnya, "Kenapa bertanya? Dari tadi kamu gak baca agendanya."


 


 


"Soalnya... waktu itu... Tuan tidak mendengarkan."


 


 


"Itu beda lagi, sekarang aku mendengarkan."


 


 


Baru saja Helieen membuka mulutnya, pintu ruangan diketuk.


 


 


Givar menoleh, ternyata Zed yang berdiri di ambang pintu.


 


 


"Masuk."


 


 


Helieen menghela napas berat, ketika Givar menyuruhnya pergi.


 


 


"Bagaimana?" Tanya Givar.


 


 


"Kami tidak menemukan apa pun di pemutar rekaman suara itu, tapi kami memiliki informasi baru."


 


 


"Apa?" Tanya Givar cepat.


 


 


"Tuan Adam Gustiar bertanggung jawab atas bagkrutnya perusahaan Donovan di tahun 2013."


 


 


Givar terbelalak.


 


 


"Tuan Adam menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan perusahaan milik Tuan Felix Donovan."


 


 


"Zed, hati-hati ketika bicara. Yang kamu bicarakan itu ayah mertuaku."


 


 


Zed menunduk, "Maaf, Tuan. Tapi... memang itu yang sebenarnya. Kami memiliki buktinya."


 


 


"Lanjutkan," ucap Givar tanpa mau memperpanjang masalah sebelumnya.


 


 


"Perusahaan Donovan semakin mengalami kebangkrutan besar ketika Tuan Nicholas Donovan meninggal di tahun 2014. Untungnya Tuan Felix tidak tinggal diam. Dia menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Tuan Rider Smith di New York sebelum benar-benar bangkrut total."


 


 


Givar memijat pelipisnya yang mulai terasa nyeri, "Jadi?"


 


 


"Jadi, saya yakin, orang yang selama ini meneror keluarga anda adalah Tuan Felix Donovan. Apalagi setelah melihat semua laporan ini."


 


 


"Hemm... baiklah aku semakin merasa sakit kepala sekarang."


 


 


Sementara itu, Sven sedang menemui Adam di rumahnya. Dia mempertanyakan surat keterangan palsu dari RSJ Larissa.


 


 


Namun, yang terjadi adalah pertengkaran antara ayah dan anak.


 


 


"Papa gak mau ada satu pun anak Papa yang memiliki gangguan jiwa! Papa sudah kecewa ketika psikiater menyatakan kamu gila waktu itu! Jadi, Papa gak mau Shasha juga dianggap gila!" Bentak Adam.


 


 


Sven mendengus, "Bukan begini caranya, Pa. Harusnya...."


 


 


Adam meunjuk wajah putra sulungnya, "Jangan membantah, keluarga Gustiar bukan keluarga yang memiliki gangguan jiwa!"


 


 


Sven mendecih, "Tidak ada yang lebih gila dari Papa."


 


 


Adam menautkan alisnya, "Apa maksud kamu! Kurang ajar!"


 


 


Adam menampar wajah Sven yang sama sekali tidak menghindari tamparan itu.


 


 


Adam mendecih kesal, "Ini sebabnya Papa ngelarang kamu jadi polisi! Kamu itu tidak tahu tempat! Mana ayah kamu dan mana orang lain."


 


 


"Papa ngelarang aku jadi polisi biar kejahatan Papa selamanya ketutup, kan?"


 


 


Mendengar pertanyaan Sven, Adam mengepalkan tangannya geram.


 


 


"Kalo aku jadi polisi, Papa takut berhadapan sama aku. Papa takut aku menginterogasi Papa. Iya, kan?" Tanya Sven sambil memiringkan kepalanya.


 


 


"Jangan mengarang!" Bentak Adam.


 


 


"Aku udah tahu semuanya, Pa. Tapi, aku tetap diam. Itu karena aku sayang sama Papa. Walaupun Papa gak sayang sama aku. Papa terlalu mementingkan perusahaan dan nama baik keluarga. Itu membuat Papa buta hati."


 


 


Adam menutup matanya. Antara marah dan sedih, perasaannya campur aduk.


 


 


"Papa sayang sama kalian... jadi, ini yang Papa lakukan. Apa kamu tidak mengerti? Papa melakukan ini karena sayang sama kalian, sayang sama kamu."


 


 


Sven mengalihkan pandangannya.


 


 


~


 


 


Givar mendatangi kantor polisi. Dia ingin menemui Felix. Givar mendapati pria itu sedang duduk melamun di sel yang terpisah. Givar ingin berbicara dan berhadapan langsung dengan Felix.


 


 


Setelah berbicara dengan polisi, akhirnya Givar diperbolehkan bertemu dengan Felix.


 


 


Kedua pria itu duduk berhadapan.


 


 


"Sekarang akui saja perbuatanmu, Tuan Donovan. Sudah tidak ada gunanya lagi. Anda sudah di dalam penjara," kata Givar langsung pada inti pembicaraan.


 


 


"Apa yang harus aku katakan? Aku sudah mengakuinya, kan?" Felix menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


Givar mendengus kesal.


 


 


"Yang tidak menyukai keluarga Gustiar itu bukan hanya aku, ada banyak. Mungkin salah satu dari mereka yang melakukanya."


 


 


"Tapi, aku yakin itu anda."


 


 


Felix menggeleng, "Jika orang-orangmu itu benar-benar hebat, seharusnya mereka sudah menemukan siapa orangnya sejak lama."


 


 


"Jadi, tidak mau mengaku?"


 


 


"Kamu menuduhku terus karena kamu cemburu, kan? Karena aku pernah menyukai Shaquellin, iya, kan?"


 


 


"Pedofil," umpat Givar.


 


 


"Iya, aku memang pernah menyukainya. Tapi, itu dulu."


 


 


"Terserah, jika kamu tidak mau mengaku, maka hukuman penjaramu akan semakin lama."


 


 


"Tidak masalah, di dalam penjara aku bisa bebas, tidak perlu memikirkan pekerjaan kantor."


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


19.49 : 28 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2