GRAPPLE

GRAPPLE
Tonight


__ADS_3

 


 


~•o•~


 


 


_Ceritakan masalah tersulitmu. Meskipun tidak membuat masalahnya membaik\, setidaknya kamu punya tempat berbagi._


 


 


~•o•~


 


 


Handuk putih itu melilit di tubuh Shasha. Wanita itu berjalan ke lemari. Dibukanya pintu lemari tersebut. Setelah menemukan pakaian yang pas, Shasha melepaskan handuknya dan memakai gaun tidur berwarna biru muda itu.


 


 


Shasha terperanjat ketika pintu kamar tiba-tiba dibuka. Ternyata suaminya. Givar terkejut melihat istrinya yang sedang memakai pakaian. Dia segera menutup kembali pintunya. Pria itu menyentuh dada, karena jantungnya seolah-olah ingin meloncat saat itu juga.


 


 


Apa yang dia lihat barusan itu membuat dirinya kesusahan menelan saliva. Bukan pertama kalinya Givar melihat tubuh polos perempuan, namun dia belum pernah melihat tubuh polos Shasha. Waktu itu hanya sebagian atas tubuhnya saja yang pernah dilihat olehnya.


 


 


Givar tersentak ketika pintu kamar terbuka. Ternyata istrinya yang membuka pintu. Wanita itu menatapnya. Givar memperhatikan Shasha yang sudah memakain gaun tidurnya.


 


 


"Ma-maaf, aku ngagetin kamu, ya?" Tanya Givar gugup. Shasha menggeleng sembari tersenyum, "Gapapa, lagian ini bukan kamar aku doang. Ini kamar kamu juga."


 


 


"Emm...." Givar kebingungan harus berkata apa.


 


 


"Masuk aja, Sayang."


 


 


Setelah mengatakan itu, Shasha kembali masuk ke kamar. Givar menyusulnya.


 


 


Pria itu melelapkan tubuhnya sembari memperhaikan istrinya. Shasha duduk di depan cermin. Dia memakai krim malam untuk wajahnya dan mengoleskan body lotion ke tubuhnya.


 


 


Wangi dari benda-benda itu menguak indra penciuman Givar. Pria itu memperhatikan apa yang dilakukan istrinya. Shasha menoleh pada Givar.


 


 


Pria itu tersenyum. Shasha juga. Dia menyodorkan krim malam miliknya pada Givar.


 


 


Pria itu mengernyit.


 


 


"Mau pakai juga? Ini bagus untuk kulit. Pas bangun pagi, wajah kamu akan terasa segar dan bersinar." Shasha berbicara seperti seorang model dalam iklan kecantikan.


 


 


Givar menggeleng, "Tidak, tidak, itu untuk perempuan."


 


 


Shasha melihat kemasannya, "Iya juga, ya. Kalo kamu mau, aku beliin khusus buat cowok."


 


 


Givar mengibaskan tangannya, "Gak perlu. Kamu beli buat kamu aja. Wajah aku tetep ganteng, kok, walaupun gak pake krim malam."


 


 


Shasha tertawa, "Iya, kamu udah ganteng banget."


 


 


"Iya, ganteng banget, tapi sayang... ganteng-ganteng cuma diliatin," gumam Givar pelan. Shasha menoleh lagi pada suaminya, "Kamu bilang apa?"


 


 


Givar melongo kemudian segera menggeleng sambil tersenyum geli. Shasha menatap suaminya dengan ekspresi curiga.


 


 


Setelah semua krim dioleskan, Shasha melelapkan tubuhnya ke tempat tidur membelakangi Givar. Baru saja Shasha akan menutup kedua matanya, tangan kekar itu bergerak memeluk perut rata miliknya. Shasha sedikit mendongkak melirik suaminya.


 


 


Pria itu menghirup aroma memabukkan yang berasal dari tengkuk istrinya.


 


 


"Kamu mau terus-terusan memunggungiku?" Tanya Givar dengan nada setengah menggerutu. Shasha tersenyum kemudian dia berbalik dan berhadapan dengan suaminya dalam posisi tidur menyamping.


 


 


Mereka saling menatap.


 


 


Ada sesuatu yang tersirat di mata mereka. Seolah mereka ingin mengatakan sesuatu, namun tidak kunjung diucapkan.


 


 


Keduanya merasa canggung di posisi seperti itu. Givar memilih untuk menghilangkan kecanggungan dengan bicara lebih dulu.


 


 


"Emmm... waktu itu... kita... pernah... bagaimana kalau kita... melanjutkan yang sempat tertunda?" Givar tampak gugup mengatakannya.


 


 


Shasha tampak berpikir, "Itu... aku...."


 


 


"Itu pun kalo kamu ngizinin aku melakukannya," potong Givar dengan cepat. Shasha mengusap pipi suaminya, "Sebenarnya... sejak kita menikah, aku emang udah ngizinin kamu, kok. Kita terikat dalam tali pernikahan, itu artinya kamu berhak atas diriku."


 


 


Givar tidak mengira, ternyata dari awal, Shasha memang menunggunya. Mereka saling berdiam agar tidak ada kecanggungan. Givar tidak ingin membuat Shasha merasa tidak nyaman ketika bersamanya, jika dia melampiaskan hasratnya pada istrinya itu. Padahal Shasha tidak pernah berpikir begitu. Ucapan Shasha membuat Givar merasa senang.


 


 


"Kamu serius? Kamu rela?" Tanya Givar dengan ekspresi harap-harap cemas.


 


 


Shasha mengangguk, "Iya, aku...."


 


 


Belum sempat Shasha menyelesaikan kalimatnya, Givar melumat bibir istrinya dengan penuh penuntutan. Pria itu mengusap punggung istrinya dengan lembut. Shasha sedikit terkejut.


 


 


Wanita itu memeluk leher suaminya. Kali ini mereka tidak merasa canggung sedikit pun. Sepertinya sentuhan itu membuat keduanya masuk ke dunia mereka sendiri. Benteng kecanggungan di antara mereka telah runtuh.


 


 


Givar mengubah posisi mereka. Pria itu berada di atas tubuh istrinya. Ciuman mereka masih berlangsung. Tangan pria itu bergerak membuka kancing depan gaun tidur yang dikenakan Shasha.


 


 


Shasha *** rambut Givar. Pria itu melepaskan ciumannya kemudian menatap wajah sayu Shasha yang berada di bawahnya. Begitu pun dengan Shasha yang menatap suaminya dengan ekspresi tertahan.


 


 


Napas keduanya terengah-engah.


 


 


Givar mendekatkan wajahnya. Dia mengecup leher istrinya dengan romantis. Shasha melenguh pelan sembari menarik kemeja Givar.


 


 


Tanda kemerahan tercetak jelas di leher putih Shasha. Pria itu tersenyum mesum melihat tanda kepemilikannya. Sementara Shasha sudah memerah kedua pipinya.


 


 


Givar menyentuh dada Shasha sembari memasang ekspresi seolah bertanya, 'Boleh?'.


 


 


Shasha mengalihkan pandangannya sembari mengangguk pelan. Pria itu menurunkan gaun tidur milik istrinya dan 'bermain' di sana.


 


 


"Sayang... eumh pelan-pelan." Shasha sedikit meringis sembari menyentuh tengkuk suaminya.


 


 


Ketika Givar akan membuka resleting celananya, Shasha menahan tangan pria itu.


 


 


"Kenapa, Sayang? Apa kamu belum siap?" Tanya Givar yang sudah tidak bisa menahan dirinya.


 


 


"Ta-tapi... aku sedang... sedang datang bulan."


 


 


~

__ADS_1


 


 


Sarapan pagi,


 


 


Givar memainkan garpu dan sendoknya di atas piring. Pria itu tampak malas. Shasha yang melihat ekspresi suaminya itu hanya tersenyum geli.


 


 


"Kamu seperti anak kecil, Sayang," ucap Shasha sembari mengusap rambut suaminya.


 


 


Givar menoleh pada istrinya sembari cemberut, "Kapan selesainya?"


 


 


"Biasanya seminggu."


 


 


Givar melelapkan wajahnya ke meja. Shasha terkekeh. Dia mengusap bahu pria itu.


 


 


"Seminggu tidak lama, kan?" Tanya Shasha. Givar malah menggelinjang seperti cacing.


 


 


Pria itu bangkit sembari menatap sedih pada istrinya, "Itu lama."


 


 


"Kalo kamu gak makan, nanti kamu lapar di kantor," kata Shasha. Givar memutar bola matanya, "Aku kelaparan sejak tiga bulan yang lalu."


 


 


Shasha hanya menggeleng pelan mendengar jawaban konyol suaminya.


 


 


"Jangan lupa makan siang, ya. Aku siapin buat makan siang." Setelah berkata demikian, Shasha memasukkan nasi dan lauknya ke dalam kotak bekal. Givar memperhatikan istrinya.


 


 


"Kalo kamu udah sampe di kantor dan masih sempat makan, makan aja, ya." Shasha berbicara tanpa menghentikan aktivitasnya.


 


 


Givar menatap istrinya yang membawa botol air dan mengisinya. Pria itu benar-benar merasa sangat bahagia memiliki istri seperti Shasha. Apalagi mereka saling mencintai satu sama lain, mereka juga saling menghargai.


 


 


Sepertinya aku semakin mencintaimu saja, Shaquellin. Aku benar-benar jatuh hati pada orang yang tepat. Terima kasih, ujar Givar dalam hati.


 


 


"Oh ya, waktu itu klien kamu dateng kesini. Dia nanyain kamu, tapi kamu lagi gak ada di rumah," kata Shasha yang membuat pria itu kembali dari dunia lamunan menuju ke dunia nyata.


 


 


"Siapa?" Tanya Givar.


 


 


"Tuan Felix Donovan."


 


 


Shasha menarik bahu Givar agar menoleh padanya. Givar mengikuti keinginan istrinya. Wanita itu memasangkan dasi dengan telaten.


 


 


"Oh iya, waktu itu kami sudah bertemu di apartemenku."


 


 


"Dia orang asing, ya?" Tanya Shasha. Givar mengangguk, "Dia seperti kita, punya darah campuran."


 


 


Shasha mengangguk mengerti. Wanita itu selesai memasangkan dasi, dia tersenyum puas melihat hasilnya yang rapi.


 


 


Givar tak kunjung bergerak dari tempatnya. Shasha mengernyit, "Kamu gak mau berangkat? Nanti papa marah."


 


 


"Kiss me."


 


 


Shasha membuang napas kemudian mengecup bibir pria itu sekilas. Givar tersenyum, dia bangkit lalu mengecup bibir istrinya lagi.


 


 


 


 


"Apa yang dia katakan," gumam Shasha pelan sembari melipat kedua tangan di depan dada.


 


 


Setelah mobil suaminya meninggalkan rumah, Shasha melihat kedua kelincinya. Bunny dan Snowy tampak berada dalam kandang mereka. Shasha mengeluarkan mereka kemudian memberikan wortel serta sayuran lainnya.


 


 


Berbeda dengan Snowy, Bunny tidak memakan sayuran segar itu. Shasha mengusap lembut tubuh berbulu itu, "Kamu gak mau makan juga kayak Givar? Kenapa? Nanti kamu sakit."


 


 


Amelia datang berkunjung. Dia melihat keberadaan Shasha di ruang tengah. Gadis itu datang menghampirinya sembari menyapa, "Pagi, Sha."


 


 


Shasha menoleh, "Mel? Sejak kapan dateng?"


 


 


"Baru aja, pintu depan gak ditutup, jadi aku masuk aja, hehe... maaf."


 


 


Shasha hanya tersenyum sembari menggeleng pelan.


 


 


Amelia melihat Bunny yang tidak banyak bergerak. Dia menyentuh kelinci berbulu coklat itu, "Kenapa dia gak makan wortelnya?"


 


 


"Aku gak tahu, kayaknya dia sakit, deh." Shasha tampak cemas. Amelia mengangkat tubuh Bunny, "Ya udah, ayo kita ke dokter hewan."


 


 


Shasha mengangguk setuju.


 


 


~


 


 


Dokter laki-laki yang sedang memeriksa Bunny, melirik pada Snowy yang berada di pangkuan Shasha. Amelia dan Shasha saling pandang.


 


 


"Apa kelinci itu juga sakit?" Tanya dokter.


 


 


Shasha menggeleng.


 


 


Dokter mengangguk, "Oh, aku kira... dia sakit, karena kalian membawanya juga."


 


 


"Mereka tidak boleh dipisahkan, mereka sudah menikah," sambar Shasha. Dokter tampak bingung.


 


 


Amelia segera menjelaskan, "Ah, itu... kami memang sengaja membeli kelinci sepasang, dan kami menyebut mereka pasangan menikah."


 


 


Dokter tersenyum, "Aku mengerti, para pecinta binatang memang seperti itu."


 


 


Amelia mengangguk sembari tersenyum.


 


 


"Setelah ini, kelinci coklat kalian akan membaik, dia harus tinggal di kandang yang lebih luas. Atau biarkan dia bebas di halaman belakang yang di benteng. Lalu buat rumah untuk tempat mereka tidur."


 


 


Amelia mengangguk mengerti, "Terima kasih, Dok."


 


 


Setelah Bunny mendapatkan penanganan, Shasha dan Amelia membawa kedua kelinci itu pulang.


 


 


Di perjalanan, mereka berdua terlibat percakapan.


 

__ADS_1


 


"Aku gak lihat kakak kamu di rumahnya, apa dia baik-baik saja?" Tanya Amelia.


 


 


Shasha tampak berpikir.


 


 


Shasha melemparkan makanan yang dia bawa ke lantai sampai-sampai isinya berhamburan keluar. Wanita itu mendorong dada Sven dengan penuh kemarahan.


 


 


"Kenapa lo lakuin ini ke gua! Lo marah sama gua cuma karena papa sama mama lebih sayang sama gua, iya?!" Shasha berteriak di depan wajah kakaknya.


 


 


"Bukan gua yang bunuh. Tapi, orang lain." Sven tidak terima jika adiknya menyalahkan dirinya.


 


 


"Psikopat gila! Papa sama mama benci sama lo, karena sikap lo sendiri! Kenapa lo malah hancurin masa depan gua dengan membunuh tunangan gua?!" Teriak Shasha sembari memukuli dada Sven.


 


 


Pria itu menahan kedua tangan adiknya, "Gua akan jelasin, tapi gak sekarang. Ini lagi mendesak! Pembunuhnya sedang bersembunyi!"


 


 


"Udah jelas pembunuhnya lo! Lo ngebunuh Refandi! Dia gak pernah berbuat salah sama lo! Harusnya lo bunuh gua, kalo lo benci sama gua!" Bentak Shasha.


 


 


"Shaque! Dengerin gua dulu!" Bentak Sven. Shasha terdiam di sela isak tangisnya.


 


 


"Gua gak bunuh Refandi. Sejahat apa pun gua, gak mungkin gua nyakitin adek gua sendiri sampe segitunya. Gua janji, gua akan menyeret pembunuh itu ke depan lo," kata Sven.


 


 


Shasha menangis. Sven mengusap rambut adiknya kemudian memberikan pelukan hangat.


 


 


Dalam dekapan Sven, Shasha masih menangis terisak, "Meskipun itu sudah berlalu, meskipun aku udah milik orang lain, Refandi gak harus mati. Dia cowok baik."


 


 


Sven mengangguk sembari meletakkan dagunya di kepala Shasha.


 


 


"Kamu pernah diteror seseorang, kan?"


 


 


Pertanyaan Sven membuat Shasha melepaskan pelukannya dan menatap sang kakak, "Kamu tahu darimana?"


 


 


"Itu gak penting. Kamu sering mendapatkan banyak bunga dan surat dari seseorang yang tidak dikenal. Gak tahu kenapa, tapi aku ngerasa orangnya sama."


 


 


"Orang yang membunuh Refandi dan orang yang mengirimkan banyak surat?" Tanya Shasha.


 


 


"Orang yang membuatku berada dalam masalah selama di SMA, orang yang menerormu, orang yang membunuh Refandi, orang yang membenci kita... tapi, aku tidak tahu alasannya apa. Aku tidak punya musuh, aku juga tidak pernah membuat masalah." Tampaknya Sven sedang berpikir keras.


 


 


Shasha juga memikirkan itu.


 


 


"Orang itu sepertinya menyukai kamu." Ucapan Sven membuatnya Shasha terkejut, "Kenapa berpikir begitu?"


 


 


"Mawar merah... itu cinta, kan?"


 


 


Shasha terdiam.


 


 


"Yang pasti, apa yang dilakukan orang itu adalah untuk membuat mental kita down. Tapi, kenapa, coba?" Sven memukul telapak tangannya sendiri, karena gemas.


 


 


"Mungkin dia membenci keluarga kita."


 


 


"Sha?" Shasha tersentak ketika Amelia menegurnya. Dia menoleh ke arah Amelia yang juga tengah menatapnya.


 


 


"Iya?" Shasha kelabakan.


 


 


"Kamu melamun?"


 


 


Shasha tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Enggak, kok."


 


 


Macet lagi, bunyi klakson kendaraan bersahutan di jalanan. Suasana siang itu sangat terik.


 


 


Amelia memperlambat laju mobilnya. Dia menutup kaca mobil dan menaikkan suhu AC mobil.


 


 


"Aku khawatir sama Svender."


 


 


Shasha menatap gadis itu itu, "Kenapa? Kalian dekat?"


 


 


"Ah? Ti-tidak... hanya saja... dia... sedikit suka berganti suasana hati dengan cepat. Jadi, aku cukup khawatir."


 


 


"Kamu gak inget, waktu itu dia mau melemparkan vas bunga?" Tanya Shasha. Amelia mengangguk, "Aku ingat, dan aku mengerti. Ya, suasana hatinya pasti sedang buruk saat itu. Aku bisa melihat ekspresi dan cara bebicaranya."


 


 


Shasha tersenyum, "Terima kasih."


 


 


Amelia mengerutkan keningnya, "Kenapa?"


 


 


"Kamu udah peduli sama kakak aku, ya... meskipun dia seperti itu... aku juga sayang sama dia. Aku seneng ada orang lain yang juga sayang sama dia."


 


 


Kedua pipi Amelia merona. Dia tersenyum, "Aku cuma sedikit penasaran aja sama dia."


 


 


"Penasaran kenapa?"


 


 


Amelia membayangkan wajah tampan Sven, "Penasaran dengan sifat aslinya seperti apa. Dia itu tidak bisa diprediksi. Baru kali ini aku menemukan orang seperti dia."


 


 


Shasha tampak berpikir.


 


 


"Dia juga ganteng," sambung Amelia.


 


 


Shasha tertawa, "Kalo kamu suka sama dia gimana? Sven gak pernah terbuka soal perasaannya. Dia pernah bilang, kalo dia cuma punya seorang mantan."


 


 


Amelia menggeleng, "Kalo aku terus-terusan deket sama dia, bisa-bisa aku yang jadi gila."


 


 


Shasha tertawa, "Tidak mungkin."


 


 


"Dia benar-benar...."


 


 


~•o•~


 


 


20.53 : 26 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2