
~•o•~
_Aku adalah orang yang paling senang ketika waktu tidur tiba dengan cepat, kenapa?
Dunia mimpiku lebih indah daripada dunia nyata._
~•o•~
Ketika hari mulai pagi, Givar tidak bergerak sedikit pun dari tempat tidur. Pria itu sedang asyik memperhatikan istrinya yang masih tertidur. Tangan kekarnya tidak berhenti mengusap rambut istrinya yang sedikit basah karena berkeringat. Shasha tampak begitu cantik dan seksi semalam. Shasha yang polos dan manja berubah menjadi Shasha yang dewasa dan menggairahkan.
Pria itu melihat leher dan dada Shasha. Terdapat banyak tanda merah keunguan di sana. Itu adalah perbuatannya. Givar terkekeh.
Ketika tidur, bibir Shasha sedikit terbuka. Givar mengecupnya beberapa kali, namun itu sama sekali tidak berhasil membangunkannya. Sepertinya wanita itu sangat lelah, sampai-sampai tidak menyadari jika hari sudah pagi.
Namun, Givar senang sekali memperhatikan wajah cantik Shasha ketika tidur seperti itu.
Tak lama kemudian, Shasha bangun. Perlahan kedua matanya terbuka dan sosok pertama yang dilihatnya adalah Givar yang tersenyum tampan. Shasha juga tersenyum kecil lalu kembali menutup matanya.
Givar terkekeh pelan melihat Shasha yang mudah sekali tidur. Dia mengecup bibir mungil itu dengan lembut. Shasha membuka matanya lagi.
Tiba-tiba Shasha kembali membuka kedua matanya, "Aku terlambat bangun? Seharusnya aku nyiapin makanan buat sarapan kamu. Kamu harus ke kantor, kan?"
Shasha akan bangkit, namun Givar menahannya, "Gapapa, aku udah makan, kok. Jangan pergi."
"Makan apa? Kapan?" Shasha menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Makan kamu, semalam."
Shasha memutar bola matanya, "Papa Juan pasti marah, kalo kamu gak kerja."
Givar masih menahan istrinya agar tidak pergi, "Udah, gapapa. Aku gak berangkat kerja hari ini. Kamu tetep di sini, ya."
Dia melihat ada banyak luka cakaran di tubuh suaminya. Shasha mengusap luka-luka itu dengan lembut.
"Maaf... itu rasanya sakit sekali... aku tidak bisa menahannya dan malah mencakar kamu."
Givar mengangguk, "Maafkan aku yang kurang lembut sama kamu."
Shasha menyentuh bibir Givar yang juga sedikit terluka karena semalam dia menggigitnya.
"Sakit?" Tanya Shasha. Givar mengangguk, "Sakit sekali. Kamu harus mengobatinya."
Shasha akan bangkit, namun Givar menahan istrinya, "Jangan bergerak, kamu harus tetap di sini."
"Aku harus ngobatin luka di bibir kamu. Lihatlah, bibir kamu bengkak," ucap Shasha.
"Ngobatinnya dengan ciuman aja. Aku pasti cepet sembuh." Jawaban Givar membuat kedua pipi Shasha merona.
Mereka saling menatap satu sama lain. Kedua pipi Shasha semakin merah ketika kejadian semalam berputar lagi dalam ingatannya. Wanita itu mengalihkan pandangannya.
Givar menarik dagu istrinya dengan lembut, "Kenapa?"
"Aku malu."
Givar terkekeh, "Kenapa malu?"
"Emm... ya... karena... aku... malu."
Givar hanya menggeleng pelan. Dia mendekat dan mengecup bibir istrinya dengan lembut. Shasha memejamkan mata merasakan kelembutan suaminya. Pria itu menatap Shasha di sela ciumannya.
Givar melepasan ciumannya. Kedua mata Shasha terbuka dan kini menatapnya.
"Aku mau ke kamar mandi," kata Shasha kemudian bangun, namun wanita itu sedikit meringis sembari memegang perutnya. Dia kembali duduk di tepi tempat tidur.
Givar bangkit dan menyentuh punggung istrinya, "Aku bilang, jangan pergi. Sekarang jangan banyak bergerak."
"Aku mau pipis," gerutu Shasha kemudian mengambil jubah tidurnya dan bangkit. Namun, wanita itu melihat sedikit darah di sprei putih itu. Dia tebelalak kaget.
Givar segera menutupinya dengan selimut. Pria itu menggeleng, "Jangan dilihat. Itu normal bagi perempuan yang berhubungan pertama kali."
Tidak merespon, Shasha memilih berlalu ke kamar mandi sembari bergumam sendiri, "Pantas saja rasanya sakit."
Givar bangkit sambil memakai jubah mandinya. Pria tampan itu meregangkan tubuhnya.
Mendengar suara gemericik air, Givar menoleh ke kamar mandi.
"Katanya mau pipis, kenapa malah mandi? Aku, kan, masih mau main-main sama Shasha," gerutu Givar.
Pria itu mengetuk pintu kamar mandi, "Sayang, buka pintunya."
"Bentar, aku masih mandi," ucap Shasha dari dalam. Givar memutar knop pintu, namun terkunci. Pria itu mendengus kesal.
Sebuah ide muncul di dalam benak pria itu. Dia kembali mengetuk pintu kamar mandi, "Sayang, buka pintunya, Sayang. Aku gak kuat pengen pipis."
Terdengar suara Shasha yang membuka kunci. Tanpa mau menunggu, pria itu mendorong pintu dan masuk. Shasha yang mengenakan jubah mandi tampak bingung.
Givar hanya tersenyum sambil masuk. Pria itu menuju ke toilet. Shasha menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Dia baru menyadari ada banyak kiss mark di leher dan dadanya. Kedua pipinya memerah seperti tomat.
Namun, dia tidak mengabaikan itu.
Shasha mengambil sikat gigi dan mulai menggosok giginya.
Terdengar suara khas pria yang sedang buang air kecil dari dalam toilet. Shasha menghentikan aktivitasnya dan menoleh, karena suaranya begitu nyaring dan menarik perhatian. Wanita itu kembali melanjutkan menyikat gigi.
__ADS_1
Givar keluar dari dalam toilet. Shasha menoleh dan terkejut karena pria itu tidak mengikat tali jubah mandinya. Alhasil, bagian depan tubuhnya terekspos jelas oleh kedua mata Shasha. Wanita itu segera mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kamu lakukan? Talinya kebuka, Var." Shasha menggerutu.
Givar melihat bagian bawah tubuhnya. Dia terkekeh lalu membenarkan jubah mandinya.
"Kenapa gak liat aja? Semalam kamu udah ngerasain, kan?" Goda Givar sambil mendekati istrinya. Pria itu menatap cermin sambil membenarkan rambutnya.
"Ya... lagian semalam aku gak liat. Kamu juga gak ngeliatin ke aku," ujar Shasha dengan polosnya. Givar menoleh, "Kalo aku tunjukkin, kamu bisa-bisa menjerit dan ketakutan. Nanti gak jadi lagi."
"Emm..." Shasha bergumam tidak jelas.
"Emangnya kamu mau lihat?" Tanya Givar sembari memegang tali jubah mandinya bersiap membukanya lagi.
Shasha menahan tangan Givar, "Gak perlu, lagian ini udah kesiangan. Kamu harus ke kantor, nanti papa Juan ngiranya aku bukan istri yang baik yang tidak bisa mengurus suaminya."
Givar tersenyum sembari memiringkan kepalanya. Shasha merinding melihat ekspresi buas dari wajah suaminya. Pria itu mendekat dan memojokkan Shasha ke dinding.
"Aku gak bisa nahan ini. Aku masih mau main-main, harusnya kamu gak mandi dulu. Kamu istri yang baik, kan? Lakukan lagi, ya."
Shasha memeluk tengkuk Givar, "Nakal."
"Kamu juga."
Givar melahap bibir istrinya. Cermin menjadi saksi siaran langsung tersebut.
~
Amelia memarkirkan mobilnya di depan rumah Shasha. Gadis cantik itu keluar sembari melepaskan kaca mata hitam miliknya. Dia merasa heran melihat mobil Givar yang masih terparkir di sana.
Amelia melihat jam tangannya, "Jam 10... dia belum pergi ke kantor?"
Sven keluar dari rumahnya. Perhatian Amelia teralihkan padanya. Pria itu membuang wadah plastik besar berwarna hitam ke tong sampah. Sekilas Sven menoleh pada Amelia yang sedang menatapnya sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.
Pintu rumah Givar dan Shasha terbuka. Amelia menoleh pada Givar yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya.
"Pagi," sapa Givar.
Amelia melihat ekspresi cerah dari wajah sepupunya itu, "Ini hampir siang, Var."
Givar hanya menaik turunkan kedua alisnya lalu memasuki mobil. Amelia memperhatikan mobil Givar yang bergerak melaju pergi.
Wanita itu memasuki rumah. Dia melihat Shasha sedang duduk di sofa sembil mengusap kedua kelincinya.
"Hai, apa Bunny kecil sudah membaik?" Tanya Amelia sambil mengusap kelinci coklat di pangkuan Shasha.
Wanita itu mengagguk, "Eh, Mel... tolong bawain wortel di atas meja, dong. Wortelnya abis di makan Snowy." Shasha menunjuk kelinci putih yang sedang mengunyah wortel.
"Eh, TV-nya tolong dinyalain, dong." Shasha menyuruh lagi. Amelia mengambil remote lalu menyalakan TV.
"Oh ya... aku ada cemilan di atas kulkas, hehehe... tolong bawain, ya."
Amelia memutar bola matanya. Dia bangkit lalu mengambil apa yang diinginkan wanita itu.
"Kamu lagi mager, ya?" Tanya Amelia yang kemudian kembali duduk di samping Shasha.
"Emm... iya," jawab Shasha asal.
Film kartun yang mereka tonton. Kadang kedua wanita itu tertawa melihat aksi lucu karakter penuh warna yang imut-imut.
Begitulah... masa kecil kurang bahagia.
Telepon rumah berdering. Keasyikan kedua perempuan pecinta kartun itu teralihkan. Mereka berdua menoleh. Terpaksa Shasha bangkit dan mengangkat teleponnya.
Melihat cara berjalan Shasha yang berbeda, Amelia mengernyit heran.
Beberapa menit Shasha terlibat percakapan dengan seseorang di seberang sana. Wanita itu kembali duduk bersebelahan dengan Amelia yang terus-menerus memperhatikan cara berjalannya.
"Siapa yang nelpon?" Tanya Amelia dengan ekspresi kepo seperti tetangga sebelah rumah gua.
"Mama... nanyain kabar." Setelah menjawab pertanyaan Amelia, wanita itu kembali fokus ke layar kaca.
Sementara Amelia masih merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun, dia memilih diam.
Shasha tertawa kecil melihat karakter kartun itu terjatuh. Merasa tertawa sendirian, Shasha menoleh pada Amelia yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Shasha. Amelia bersuara, "Givar gak kasar sama kamu, kan?"
Shasha mengerutkan dahinya sembari menggeleng, "Enggak, memangnya kenapa?"
"Melihat cara berjalan kamu... aku pikir..."
Shasha terkekeh, "Kamu akan mengerti setelah menikah."
Amelia mencerna ucapan Shasha. Merasa masih ada pertanyaan di kepala Amelia, Shasha menunggu gadis itu untuk bertanya lagi.
Tampaknya Amelia tidak berniat bertanya lagi.
~
Pukul 3 sore.
Givar telah kembali dari kantor. Dia memasuki rumahnya sembari bersenandung pelan.
__ADS_1
Pria itu melihat istrinya sedang berbincang dengan Amelia.
"Aku kira, kamu udah pulang," kata Givar yang terdengar seperti usiran halus di telinga Amelia.
"Lo ngusir gua?" Gerutu Amelia sambil menatap kesal pada Givar.
Pria itu tertawa, "Iya, sana pulang."
Shasha hanya tersenyum geli melihat Amelia yang mulai cemberut seperti anak kecil.
"Oke, aku pulang." Amelia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Givar dan berbisik, "Awas jangan kasar sama Shasha."
Givar memundurkan wajahnya ketika gadis itu hengkang dari depannya.
Setelah keluar dari rumah Givar, Amelia menoleh ke rumah Sven. Pria itu sedang duduk melamun di depan rumahnya. Amelia tersenyum. Dia berjalan menghampiri pria itu.
Mendengar suara langkah high heels, Sven menoleh. Amelia melambaikan tangannya.
"Hai?!" Sapa Amelia dengan ceria. Sven menggeser tempat duduknya untuk psikolog muda itu.
Amelia menghempaskan bokongnya dan duduk bersebelahan dengan Svender.
"Kemarin-kemarin aku gak ngeliat kamu." Amelia memulai pembicaraan.
"Ada urusan di luar," jawab Sven pendek.
Hening.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku lihat... Kondisi Shaque membaik setelah mengenal kamu." Sven memecahkan kesunyian sebelum kecanggungan datang.
Amelia menoleh pada pria tampan itu, "Aku rasa... itu buka karena aku. Itu karena Givarel."
"Aku ingin kamu juga mengerti seperti apa diriku dan aku ingin sembuh seperti Shaque."
Kedua mata Amelia membulat. Apa dia tidak salah dengar? Pria itu sedang meminta bantuan padanya.
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Meskipun kamu psikolog teraneh yang penah kutemui, tapi aku merasa nyaman ketika kamu bersamaku," ucap Sven.
Kenapa jantungku berdebar? Batin Amelia, ah! Jangan dirasakan. Pria di depanmu ini sering berubah sikap dalam waktu singkat.
"Emmm, aku tidak yakin," kata Amelia.
"Bantu aku," ucap Sven. Amelia mengangguk. Seorang pengantar paket datang. Sven menghampiri orang itu. Pandangan Amelia tertuju pada kantong besar berwarna hitam di tong sampah. Melihat Sven yang masih sibuk berbicara dengan pengantar paket, gadis itu bangkit mendekati tong sampah.
Dibukanya plastik itu dengan hati-hati. Kedua matanya membelalak melihat tumpukkan rambut dan darah di dalam kantong tersebut. Amelia merasa mual. Dia menutup mulutnya sambil menjauh dari tong sampah.
Rambut manusia? Darah manusia? Apa Svender membunuh orang? Hhh... apa dia benar-benar seorang psikopat?
Sven kembali sambil memperlihatkan paket yang baru saja diterimanya.
Amelia masih melamun memikirkan isi kantong plastik itu.
Apa yang membuat kamu begini? Kamu kenapa? Kenapa membunuh orang?
"Lihat, aku membeli ini." Pria itu tersenyum ceria sembari membuka isi dari paket tersebut. Amelia masih berdiri mematung dengan wajah pucat.
Kenapa harus kamu yang seperti ini? Kenapa tidak orang lain saja? Amelia menutup matanya sesaat.
Merasa tidak ada tanggapan, Sven mendongkak menatap gadis itu, "Kamu kenapa?"
Amelia segera menggeleng. Dia bertekuk sambil membantu Sven membuka bungkusan yang berukuran sedang itu.
Ternyata isinya adalah beberapa buku bertema psikologi. Amelia merasa iba pada Sven. Dia menatap sendu pada pria itu.
Jadi... kamu beneran mau sembuh?
Sven melihat ada boneka anjing berwarna putih dengan pita merah di lehernya. Terdapat surat kecil di punggungnya.
"Karena membeli 5 buku, anda mendapatkan hadiah berupa boneka ini," baca Sven. Pria itu menyodorkan boneka tersebut pada Amelia membuat lamunan gadis itu buyar.
"Buat kamu aja anjingnya," kata Sven. Amelia menerimanya dan melihat dengan teliti boneka lucu tersebut.
Sven membuka plastik yang membungkus bukunya. Dia mulai membaca. Sven begitu serius menelaah isi bacaan dari buku tersebut. Kedua iris matanya bergerak sesuai kalimat yang dibacanya.
Perhatian Amelia terfokus pada pria itu. Air matanya berlinang. Sungguh... dia benar-benar sangat payah dalam menyembunyikan emosi.
Memang seharusnya dari awal aku tidak menjadi psikolog. Harus memiliki kekuatan mental yang kuat ketika berhadapan dengan pasien, batin Amelia.
Sven membuka lembaran selanjutnya. Pria itu sedang berada dalam dunianya sendiri.
Tangan itu terulur mengusap rahang kokoh milih Svender. Kedua mata pria itu teralihkan pada Amelia yang tengah menatapnya dengan sendu.
"Aku akan membantu kamu, Sven."
Pria itu tersenyum.
~•o•~
14.13 : 26 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1