GRAPPLE

GRAPPLE
Bunny & Snowy


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Berjanji untuk saling mencintai satu sama lain sampai maut yang memisahkan._


 


 


~•o•~


 


 


Para pelayan sedang sibuk. Mereka tengah membereskan rumah yang baru saja selesai dibangun. Ada banyak truk dan mobil pengangkut barang yang berukuran besar di depan rumah tersebut. Tidak ada satu orang pun yang diam berpangku tangan. Semuanya bekerja cepat.


 


 


Bukan tanpa alasan mereka sibuk.


 


 


Sore ini, Tuan muda Hardiswara bersama istrinya akan tiba di rumah baru itu. Mereka akan tinggal di sana, setelah 1 bulan pernikahan.


 


 


Sebuah rumah bertingkat dua yang tidak terlalu besar, namun tampak elegan dan nyaman. Nyonya Hardiswara sendiri yang meminta rumah tersebut untuk dibangun dengan ukuran yang tidak terlalu besar.


 


 


Selain itu, mereka hanya tinggal berdua. Oleh karena itu, Tuan Hardiswara tidak memerlukan pelayan di rumah mungil tersebut.


 


 


Rumah itu keseluruhannya dicat dengan warna putih. Semua barang, perabotan, dan dekorasi di dalamnya didominasi oleh warna merah muda dan biru muda.


 


 


Dua warna muda yang disukai oleh dua pasangan muda.


 


 


Foto pernikahan yang besar sedang dipajang oleh dua orang pelayan pria. Dalam bingkai tersebut, tampak dua pasangan pengantin yang tersenyum manis ke kamera. Tuxedo dan satin yang berwarna biru muda itu melekat sempurna di tubuh mereka.


 


 


Mereka terlihat seperti pasangan yang bahagia.


 


 


Sore harinya, sebuah mobil sport hitam memasuki halaman rumah tersebut. Seorang pria dengan kemeja putih dan jeans selutut keluar dari mobil yang baru tiba itu.


 


 


Iris hitam kecoklatan yang memiliki bulu mata lebat dan centik itu bergerak mengedarkan netranya ke sekeliling rumah tersebut. Pria tampan itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari letiknya.


 


 


Pria yang tidak lain adalah Tuan Givar Hardiswara itu membuang napas lega melihat rumah barunya yang sudah siap ditinggali.


 


 


Givar memiliki tubuh tinggi tegap dengan otot di lengan dan kotak di perutnya. Rambutnya berwarna hitam kecoklatan. Dia memiliki bibir merekah berwarna merah gelap. Hidungnya mancung tegas dan sepasang mata yang indah seperti perempuan, yang diturunkan dari ibunya, Yelma Hardiswara.


 


 


Pemilik nama lengkap Bumantara Givarel Tri Hardiswara itu dikenal sangat tegas dan dingin. Namun, dia akan berubah hangat dan konyol ketika bersama istrinya.


 


 


Givar menoleh ke dalam mobil. Dia berputar menuju pintu satunya. Tangan kekarnya bergerak membuka pintu mobil. Pria itu melihat wanita cantik berkulit seputih salju itu terlelap tidur dengan kedua tangan memeluk boneka beruang besar berwarna merah muda. Wanita itu tidak lain adalah istrinya, Shasha Hardiswara.


 


 


Pria itu tersenyum sembari menggelitik pinggang istrinya membuat wanita itu tertawa kegelian.


 


 


"Jangan pura-pura tidur, Snowy. Aku tahu, kamu lagi pengen jahil sama aku. Kamu pikir, aku ini bakalan lupa dengan kebiasaan sahabat kecilku ini?" Kata pria itu sembari mencubit pipi Shasha.


 


 


"Gendong," ucap Shasha sambil merentangkan kedua tangannya seperti bayi. Pria itu tertawa karena tingkah istrinya yang selalu manja.


 


 


"Ada banyak pelayan di dalam," bisik Givar sembari mendekatkan wajahnya. Shasha menggembungkan pipinya tanda kesal.


 


 


"Ya udah, sini gendong." Pria itu mengalah sambil merentangkan kedua tangannya. Namun, melihat banyak orang yang bekerja di depan rumah tersebut, Shasha menggeleng sambil tertawa lalu keluar dari mobil.


 


 


"Malu, ah."


 


 


Mereka berdua berjalan menuju ke rumah itu. Shasha tidak ingin melepaskan boneka beruangnya. Dia memeluknya dengan erat dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lainnya mengandeng lengan Givar.


 


 


Beberapa pelayan yang bekerja menoleh. Sejenak mereka berhenti bekerja untuk menyapa dengan sedikit membungkukkan badan.


 


 


"Tuan dan Nyonya Hardiswara, selamat datang."


 


 


Givar mengangguk, sementara Shasha melihat ke sekeliling. Rumah baru mereka diapit oleh dua rumah besar yang berjarak sekitar 15 meter.


 


 


"Apa sudah selesai?" Tanya Givar.


 


 


"Sudah, Tuan."


 


 


Givar membawa Shasha masuk ke rumah itu. Aroma cat yang kuat menyambut kedatangan mereka.


 


 


Shasha terpukau dengan rumah barunya.


 


 


"Kita harus menyemprotkan wewangian di ruangan ini," gerutu Givar sambil mengibaskan tangannya di depan hidung.


 


 


"Wah, lihat dapurnya!" Shasha melihat perabotan dapur yang berwarna merah muda dan biru. Givar tertawa. Dia memegang piring berwarna biru muda dan mangkuk berwarna merah muda.


 


 


"Papa benar-benar sayang sama kita!" Seru Shasha. 'Papa' yang dimaksud oleh Shasha adalah ayahnya Givar, Juan Hardiswara.


 


 


Ayah dan ibunya Givar sangat menyayangi Shasha. Itu karena Givar adalah anak tunggal, jadi orang tuanya menganggap Shasha seperti putri mereka sendiri.


 


 


Shaquellin Adisilla Hardiswara, dia memiliki kulit yang begitu putih dan wajah yang cantik dan polos. Bila orang belum mengenalnya, mungkin akan berpikir jika dia pendiam dan tenang. Nyatanya dia sangat ceria dan suka jahil.


 


 


Karena kulitnya yang putih, sejak kecil Givar memiliki panggilan sayang untuknya, yaitu snowy. Sementara Shasha memanggil Givar dengan sebutan bunny, karena pria itu memiliki gigi kelinci, meskipun tidak terlalu tampak. Uniknya, nama panggilan itu tetap abadi dan tidak berubah sejak mereka kecil sampai sekarang.


 


 


Persahabatan Shasha dan Givar membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Itu sebabnya juga mereka menikah.


 


 


Ya, pernikahan tanpa cinta, melainkan pernikahan karena rasa persahabatan.


 


 


Bisa begitu? Entahlah.


 


 


Orang tua mereka juga memiliki hubungan yang sangat baik. Melihat keakraban anak mereka, kedua pihak memutuskan untuk menjodohkan mereka berdua.


 


 


Namun, diluar dugaan, Givar dan Shasha bersorak gembira. Mereka menerima keputusan untuk dijodohkan. Ya, bukan dijodohkan, sih. Mereka menerima karena memang ingin menikah.


 


 


"Yeee!! Nikah!"


 


 


Perjalanan cinta mereka tidak serumit Don't Leave Me, kan?


 


 


Setelah melihat-lihat ruangan di lantai bawah, Shasha berlari menaiki tangga menuju kamar di lantai atas. Givar menggeleng pelan melihat semangat istrinya. Dia menyusul.


 


 


Shasha membuka pintu dan melihat kamarnya yang dipenuhi boneka beruang.


 


 


"Waaahhh, banyak banget bonekanya."


 


 


Shasha naik ke tempat tidur lalu melompat-lompat seperti anak kecil. Dia mengulurkan tangannya pada Givar. Pria itu ikut melompat-lompat sembari berpegangan tangan dengan istrinya.


 


 


Selesai dengan acara melompat-lompat di atas tempat tidur, keduanya berlalu ke dapur.


 


 


Givar memasak untuk makan malam. Dia koki yang handal. Shasha yang tidak terlalu bisa memasak hanya membantu seadanya.


 


 


"Besok kamu mulai masuk kerja, ya?" Tanya Shasha sambil memberikan wortel pada Givar. Pria itu menerima wortel tersebut kemudian memotongnya dengan telaten.


 


 


"Iya."


 


 


"Kamu ninggalin aku, dong." Shasha terlihat sedih. Givar menoleh pada Shasha lalu menangkup pipinya dengan lembut, "Aku pulang cepet, kok."


 


 


Setelah masakan mulai matang, mereka berdua menyantap makan malam dengan lahap.


 


 


Menonton TV adalah jadwal mereka selanjutnya. Keduanya duduk di sofa minimalis sambil memusatkan perhatian ke layar kaca.


 


 


Hanya acara komedi yang sama sekali tidak membuat mereka tertawa. Keduanya tampak bosan dan malas.


 


 


Givar meregangkan tubuhnya sembari menguap kecil, "Aku ngantuk, tidur aja, ya."


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Givar langsung tengkurap di tempat tidur. Sementara Shasha memakai baju tidur yang hangat dan memakai kaos kaki tebal. Cuaca cukup dingin malam itu.


 


 


Melihat suaminya yang sudah berbaring, Shasha merebahkan tubuhnya **** punggung Givar dengan punggungnya.


 


 


"Jangan tidur dulu, aku gak mau kamu tidur lebih dulu," kata Shasha sambil bergerak-gerak membangunkan Givar.


 


 


Givar membuka matanya. Dia sedikit melirik pada Shasha.


 


 


"Kamu gak bisa tidur lagi?" Tanya Givar. Shasha pindah ke sisi lain ranjang. Dia mengangguk pelan.


 


 


Givar menarik tubuh Shasha agar mendekat. Pria itu memeluknya. Shasha membalas pelukan Givar sembari menyembunyikan wajahnya di leher pria itu.


 


 


"Kenapa gak bisa tidur lagi? Kamu mikirin apa, Snowy?" Tanya Givar.


 


 


"Aku gak tahu. Aku sering merasakan banyak hal." Shasha mendongkak menatap Givar.


 


 

__ADS_1


"Jangan dirasakan," kata Givar sambil menutup matanya. Shasha mengguncangkan tubuh Givar, "Jangan tidur dulu, aku takut sendirian."


 


 


Givar kembali membuka matanya. Mereka saling pandang sejenak.


 


 


"Bunny, kamu inget gak? Waktu kita kecil, kamu nginep di rumah aku. Malemnya kita nonton film horor, hantunya nyeremin banget. Sampe sekarang aku takut sama hantu itu," gerutu Shasha.


 


 


Givar tertawa, "Iya, lagian kamu ngapain juga nonton horor."


 


 


"Abis... penasaran, kenapa hantunya bisa mati."


 


 


"Ya udah, orang mati gak bisa ngapa-ngapain, kan?" Kata Givar sambil kembali menutup matanya.


 


 


Shasha mengguncangkan tubuh Givar sambil cemberut kesal, "Jangan tidur duluan, aku gak mau jadi orang yang masih bangun sendirian di malam hari."


 


 


Givar tertawa, "Ya udah, kamu tidur buruan."


 


 


Shasha mengangguk kemudian menutup matanya. Givar mengusap rambut Shasha dengan lembut.


 


 


Tatapan Givar pada Shasha berubah sendu.


 


 


Setelah kembali dari Kyoto, Givar langsung menemui keluarga Gustiar untuk melihat keadaan Shasha yang dikabarkan memburuk.


 


 


Givar melihat Sarah Gustiar, ibunya Shasha, duduk di depan ruangan di mana Shasha bersama psikolog itu berada. Pria itu menyapa Sarah. Mereka sedikit berbincang.


 


 


Sarah mengaku jika putrinya selalu menolak untuk dibawa ke psikolog. Jika dipaksa, gadis itu akan mengamuk.


 


 


Namun, beruntung hari ini Shasha mau dibawa ke psikolog yang berbeda.


 


 


Givar bangkit sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia berdiri di depan ruangan tersebut. Pria itu melihat ke dalam ruangan lewat kaca pintu yang transparan. Di dalam sana, Shasha terlihat tengah melamun di depan psikolog yang duduk berhadapan dengannya.


 


 


Tampaknya Shasha begitu tertekan. Tak lama, gadis itu mengamuk pada psikolog.


 


 


"Aku tidak gila!"


 


 


Setelah ibunya membawa Shasha ke psikolog yang terakhir, gadis itu mengurung diri di kamar. Dia tidak mau makan, tidak ingin berbicara, dan tidak mau melakukan apa pun.


 


 


Sebagai sahabat yang mengenal Shasha dengan baik, Givar memutuskan untuk membawanya ke psikolog yang dikenalnya.


 


 


Gadis itu tidak menolak, karena Givar beralasan ingin memperkenalkan seseorang padanya.


 


 


Dia mempertemukan Shasha dengan psikolog yang merupakan sepupunya sendiri, Amelia Evyaal Hardiswara di rumahnya.


 


 


Shasha dan Amelia berbicang hangat. Mereka cepat akrab. Itu membuat Givar bisa bernapas lega. Givar melihat gadis itu menunjukkan senyuman tipis padanya.


 


 


Pria itu juga tersenyum hangat.


 


 


Givar mengantarkan Shasha pulang ke rumah besar milik keluarga Gustiar. Pria itu tidak langsung pulang. Dia memastikan Shasha makan sesuatu, sebelum dia meninggalkan rumah itu.


 


 


Setelah Givar membujuknya, gadis itu mau makan. Meskipun tidak mengatakan sepatah katapun, Shasha menunjukkan jika keadaannya baik-baik saja.


 


 


Setelah itu, Givar kembali pulang ke kediaman Hardiswara. Pria itu menceritakan keadaan Shasha pada kedua orang tuanya.


 


 


Juan Hardiswara merasa sedih dengan keadaan Shasha, begitupun dengan Yelma. Mereka berharap keadaan Shasha terus membaik.


 


 


Givar memberitahu ayahnya, jika dia ingin menikahi Shasha. Pria itu ingin selalu melindungi sahabatnya dan selalu berada di sisi gadis itu.


 


 


Juan dan Yelma tidak keberatan. Justru mereka sangat senang, karena mereka juga menyayangi Shasha. Meskipun keadaan Shasha tidak seperti dulu.


 


 


"Mama seneng kamu mau berbaik hati untuk melindungi Shaquellin, tapi... bagaimana dengan pacar kamu? Apa kamu akan memutuskan hubungan baik itu?" Tanya Yelma.


 


 


Givar tampak berpikir.


 


 


Juan menghela napas panjang, "Pikirkan baik-baik perasaan kalian semua. Kamu menikahi Shaquellin bukan karena kamu mencintainya, Shaquellin juga belum tentu cinta sama kamu, lalu kamu meninggalkan pacar kamu. Keputusan kamu ini mengorbankan tiga perasaan sekaligus."


 


 


Givar mengangguk pelan, "Hanya aku yang mengenal Shasha dengan baik. Aku yang bisa membuatnya tersenyum. Cinta kami mungkin bisa muncul ketika kami bersama."


 


 


"Hubungan yang dibangun tanpa perasaan cinta tidak akan membuatmu bahagia," kata Yelma.


 


 


"Kebahagiaan bukan hanya tentang cinta, tapi juga kasih sayang dan rasa peduli."


 


 


 


 


Merasa tidak ada respon, Givar kembali bersuara, "Aku akan mengurus semuanya dengan baik."


 


 


"Givarel, kami harus bicara dulu dengan keluarga besar Gustiar. Mereka tidak mungkin menerima keputusanmu begitu saja," kata Adam.


 


 


Givar mengangguk, "Baiklah."


 


 


Ketika Givar bangkit dari sofa menuju kamarnya, Juan bersuara, "Jika Shaquellin menerima kamu, berhenti menjadi pria buruk."


 


 


Langkah Givar terhenti.


 


 


Ternyata bukan hanya Amelia yang tahu, orang tuanya pun tahu seperti apa Givarel.


 


 


Pria itu menganggukkan kepalanya.


 


 


Keesokan harinya, Givar datang lagi ke rumah Gustiar. Dia ingin melihat keadaan Shasha.


 


 


Sarah menggeleng pelan, "Pagi ini dia tidak mau sarapan. Sedari tadi dia mengurung diri di kamarnya."


 


 


Givar meminta izin untuk menemui Shasha ke kamar gadis itu. Pria itu mengetuk pintu kamar Shasha.


 


 


"Snowy, ini aku, Bunny. Aku boleh masuk?"


 


 


Tidak ada jawaban. Givar memutar knop pintu. Tidak dikunci.


 


 


Pria itu masuk dan melihat Shasha yang duduk di tempat tidur sembari memeluk lututnya. Dia tidak menoleh sedikit pun pada Givar.


 


 


Pria itu menutup pintu dan melihat ke dinding. Ada fotonya bersama Shasha ketika mereka masih kecil. Givar tersenyum lembut. Shasha adalah Shaquellin yang dia kenal. Gadis itu masih sama seperti dulu.


 


 


Pria itu duduk di samping Shasha dan melakukan hal yang sama, memeluk lututnya.


 


 


Shasha menoleh padanya. Pria itu juga meniru apa yang dilakukan Shasha. Ketika Shasha berkedip, Givar juga berkedip.


 


 


Shasha tersenyum, "Kenapa meniruku?"


 


 


Givar senang sekali mendengar sahabat kecilnya itu mengeluarkan suara setelah semua yang dia lewati.


 


 


"Aku suka bikin kamu kesel," kata Givar. Shasha mengedikkan bahunya.


 


 


Givar melihat ada bingkai yang menghadap ke bawah alias nangkub. Pria itu mengira jika bingkai tersebut terjatuh. Tangannya bergerak akan membenarkannya, namun Shasha menggenggam tangan Givar.


 


 


Pria itu merasakan tangan Shasha yang begitu dingin. Givar mendongkak menatap Shasha yang menggeleng pelan.


 


 


Setelah hari itu, Givar sering mengajak Shasha berbicara. Pria itu membuat Shasha kembali ceria. Mereka mengingat masa-masa kecil dengan baik.


 


 


Keadaan Shasha sepenuhnya membaik. Shasha tidak hanya bicara dengan Givar, dia juga mulai bicara dengan keluarganya.


 


 


Amelia juga tidak mengira jika Givar bisa membuat gadis itu melewati masa-masa sulitnya dengan mudah.


 


 


"Ternyata lo punya sisi hangat yang bikin Shaquellin bahagia," kata Amelia. Givar mendelik kesal, "Jadi, karena gua dingin, lo mikirnya gua juga jahat?"


 


 


Amelia tertawa, "Iya, lo emang punya reputasi yang buruk di mata cewek sejak SMA. Dasar penjahat kelamin."


 


 


"Lagian itu udah lama," gerutu Givar.


 


 


Amelia memutar bola matanya.


 


 


Setelah dirasa waktunya tepat, keluarga Hardiswara membicarakan keinginan Givar pada keluarga Gustiar tanpa sepengetahuan Shasha.


 


 


Awalnya keluarga Gustiar merasa sedikit ragu.


 


 


"Aku merasa sangat terhormat dengan apa yang diinginkan Givarel, tapi... seperti yang kalian tahu... Shaquellin tidak seperti dulu lagi. Aku tidak ingin dia jadi istri yang tidak sempurna untuk putramu," kata Adam Gustiar, ayahnya Shasha.


 


 


Juan menggeleng lalu berkata, "Aku yakin, Givar sudah memikirkan ini dengan matang. Kami juga sangat menyayangi putrimu. Kami ingin mereka bersama. Itu pun jika Shaquellin mau menerimanya. Seandainya tidak, kami tidak apa-apa. Givar juga sudah siap dengan pilihan Shaquellin."


 


 


Sementara itu, Givar bersama Shasha sedang berada di taman. Mereka menikmati sore yang hangat di kota Jakarta.


 

__ADS_1


 


Shasha mendongkak menatap Givar, "Kamu inget, gak... waktu itu kamu belajar naik sepeda. Aku yang ngajarin kamu. Tapi, kamu jatuh terus."


 


 


Givar tertawa, "Iya, gara-gara jatuh terus, aku gak bisa naik sepeda sampai sekarang."


 


 


Shasha tertawa, "Gapapa, lagian kamu punyanya mobil, gak perlu belajar naik sepeda."


 


 


Givar mengangguk sambil tersenyum.


 


 


Shasha menatap Givar dengan serius. Merasa diperhatikan, pria itu menoleh pada Shasha sembari mengangkat kedua alisnya.


 


 


"Kamu bakalan balik lagi ke Jepang?" Tanya Shasha. Givar tampak berpikir, "Aku gak tahu."


 


 


Shasha terlihat sedih.


 


 


Givar mengusap rambut Shasha dengan lembut, "Kenapa?"


 


 


"Kalo kamu pergi, aku gak bakalan punya sahabat lagi. Cuma kamu sahabat aku. Kamu doang yang ngerti."


 


 


Givar menarik Shasha ke dalam dekapannya, "Kamu juga satu-satunya sahabat aku."


 


 


Givar mengantar Shasha kembali ke kediaman Gustiar. Shasha tampak bingung melihat ada tamu di rumahnya, ditandai dengan keberadaan mobil yang terparkir di pelataran.


 


 


Ternyata ada ayah dan ibunya Givar di rumah itu.


 


 


"Halo, Shasha." Yelma memeluk Shasha dengan eratnya seperti seorang ibu. Shasha yang masih bingung membalas pelukan Yelma.


 


 


"Kalian habis jalan-jalan, ya?" Tanya Juan sambil mengusap rambut Shasha.


 


 


Gadis itu mengangguk pelan.


 


 


"Sayang, kemarilah." Sarah yang duduk di sofa menepuk ke sebelahnya. Shasha melangkah duduk di samping ibunya.


 


 


Givar duduk disamping Juan.


 


 


"Sayang, Mama sama Papa udah bicara sama Mama dan Papanya Givarel. Kalian tampak dekat satu sama lain. Kami berpikir, mungkin kalian bisa bersama dalam ikatan pernikahan. Bagaimana menurut kamu?" Tanya Sarah.


 


 


Shasha tampak berpikir.


 


 


Yelma menambahkan, "Kamu perlu memikirkannya baik-baik, nak."


 


 


Shasha tersenyum, "Kalo aku mau, Givar gak akan pergi lagi ke Jepang, kan?"


 


 


Keempat paruh baya itu mengangguk kompak.


 


 


"Iya, iya, aku mau."


 


 


Givar terkejut. Dia tidak mengira Shasha akan menerimanya semudah itu.


 


 


"Ye!! Nikah!"


 


 


~Bumantara Givarel Tri Hardiswara


                       &


         Shaquellin Adisilla Gustiar~


 


 


Pernikahan mewah pun terlaksana di kediaman keluarga Gustiar. Tema biru muda dan merah muda menjadi pilihan Givar dan Shasha.


 


 


Shasha terlihat begitu cantik dengan balutan satin berwarna biru muda. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Terdapa flower crown yang senada dengan satin yang dia kenakan.


 


 


Begitupun dengan Givar. Dia tampak begitu tampan sekaligus imut, karena mengenakan tuxedo berwarna biru muda.


 


 


Mereka tersenyum manis ketika fotografer memberikan aba-aba.


 


 


Banyak tamu yang hadir, diantaranya adalah keluarga dan kerabat, teman-teman Shasha dan Givar, orang-orang penting yang kenal baik dengan keluarga Gustiar dan keluarga Hardiswara.


 


 


Regar Mahali, sahabatnya Givar sejak SMA juga hadir bersama Dion. Mereka mengucapkan selamat padanya dan Shasha.


 


 


"Maafin gua yang duluan nikah," canda Givar. Regar menggeleng cepat, "Justru gua bahagia buat lo, Var."


 


 


"Tungguin aja, gua sama pacar gua pasti nyusul, kok." Dion bersuara. Regar tertawa, "Ah, kayaknya dia emang bakalan nikah lebih dulu dari gua."


 


 


Dion mengangguk semangat, "Tentu."


 


 


Selesai pernikahan, Amelia menyampaikan pesan kepada Givar.


 


 


"Gua harap, lo gak ngapa-ngapain Shasha untuk saat ini. Atau... itu akan membuat keadaannya jadi makin down. Kecuali, dia udah siap," kata Amelia.


 


 


Givar mengangguk siap.


 


 


"Gua tahu, cowok kayak lo gak mudah nahan ini. Tapi, gua percaya sama lo. Gua yakin, semakin sering kalian bersama, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Jadi, sekarang lo hanya bisa anggap dia sahabat lo, meskipun kalian udah resmi jadi suami istri."


 


 


Selesai acara pernikahan, Shasha sedang berada di kamar pengantin. Dia membuka semua kado yang didapatnya.


 


 


Kamar milik Shasha itu di dekorasi seindah mungkin. Ada banyak bunga warna-warni dengan aroma memenuhi seisi ruangan.


 


 


Givar masuk kamar. Dia mengenakan kemeja putih dan jeans selutut berwarna sama.


 


 


Melihat Shasha yang masih memakai gaunnya, Givar mengernyit,"Kenapa belum mandi?"


 


 


Shasha mendongkak menatap pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu, "Lagian ini udah malam. Tinggal tidur. Aku mandi kalo mau keluar doang."


 


 


Givar menaikkan sebelah alisnya, benar juga, ya. Lagian kita juga gak bakalan ngapa-ngapain.


 


 


Givar merebahkan tubuhnya di sisi lain ranjang. Pria itu menutup matanya. Shasha menyimpan semua kado ke dekat kemari. Dia berlalu ke kamar mandi.


 


 


Ketika mendengar gemericik air shower, Givar membuka matanya. Pria itu menoleh ke pintu kamar mandi.


 


 


Terbayang olehnya, Shasha mandi dibawah rintikan air tanpa memakai sehelai benang pun. Busa sabun memenuhi tubuh polosnya. Tetesan air jatuh dari rambutnya yang panjang.


 


 


Givar menggeleng lalu membelakangi pintu kamar mandi. Pria itu berusaha menepis pikirannya yang nakal.


 


 


Tak berselang lama, Shasha keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur. Gadis itu tidur di sisi lain ranjang sembari menghadap pada Givar yang membelakanginya.


 


 


Shasha menatap punggung Givar. Sementara Givar masih dalam posisi, tidak berniat bergerak sedikit pun. Pria itu mati-matian menahan dirinya.


 


 


Aroma wangi dari tubuh istrinya membuat pria itu membuatnya hampir gila. Pikiran dan tubuhnya memaksa untuk menuntaskan itu. Namun, beruntung hatinya masih ada di dalam sana ikut serta mengendalikan diri Givar.


 


 


Tangan lembut Shasha menyentuh lengan Givar. Jantung pria itu berdegup kencang. Dia merutuki dirinya sendiri.


 


 


Jangan dirasakan. Ngapain juga Snowy pegang-pegang gua?! Jerit Givar dalam hati.


 


 


"Bunny," bisik gadis yang sekarang sudah menjadi istri sahnya. Givar menelan saliva. Baginya, itu terdengar seperti desahan seksi.


 


 


"Givar," panggil Shasha. Pria itu *** sprei menahan hasrat dan pikirannya yang sudah jungkir balik.


 


 


"Givar," panggil Shasha lagi. Pria itu berbalik sembari mencengkram erat kedua lengan Shasha. Gadis itu sedikit terbeliak dengan respon suaminya.


 


 


Givar menatap Shasha dengan intens. Tersirat keinginan di matanya. Sementara Shasha menatap heran padanya.


 


 


"Bunny, aku... mau..." Shasha menggantung kalimatnya sembari mengalihkan perhatiannya. Itu membuat Givar penasaran dan tidak sabar menunggu.


 


 


"Katakan saja," ucap Givar dengan cepat. Shasha kembali menatap suaminya.


 


 


"Sebenarnya aku mau bilang... kamu jangan tidur duluan. Aku takut kalo aku jadi orang terakhir yang tidur. Jadi, aku dulu yang tidur, ya."


 


 


Givar membeku.


 


 


Shasha menatapnya menunggu jawaban dari Givar.


 


 


Pria itu tersenyum, "Iya."


 


 


Shasha sudah berpetualang dalam mimpinya. Givar tersenyum sembari mengeratkan pelukannya.


 


 


"Sekarang malah aku yang gak bisa tidur."


 


 


~•o•~


 


 


18.25 : 01 Oktober 2019

__ADS_1


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2