GRAPPLE

GRAPPLE
Engagement


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Pengkhianat itu jahat\, dia telah menyakiti 3 pondasi; kejujuran\, kesetiaan\, dan kebahagiaan._


 


 


~•o•~


 


 


Givar sudah siap berangkat ke kantor. Dia melihat istrinya memberikan beberapa wortel pada Bunny dan Snowy. Nama sayang mereka diberikan pada kedua kelinci kesayangan Shasha.


 


 


Apa boleh buat, Givar hanya bisa bilang, iya.


 


 


"Sayang, Kyiev di mana?" Tanya Givar. Shasha menoleh, "Tadi dia sama Stella main di luar."


 


 


Ketika Shasha mengantarkan Givar sampai ke depan, mereka berdua tidak melihat keberadaan Kyiev maupun Stella.


 


 


"Kemana mereka?"


 


 


Keduanya mulai panik dan mencari ke sana kemari, termasuk ke rumah Verald dan Gween. Namun, mereka juga tidak ada di sana. Verald dan Gween jadi ikut panik.


 


 


Givar dan Shasha mencari ke setiap rumah. Shasha mengetuk setiap pintu rumah tetangganya.


 


 


Dia sudah putus asa. Dia menangis ketika pemilik pintu rumah terakhir bilang, tidak ada.


 


 


Shasha jatuh terduduk di pelataran rumah tetangganya. Dia menangis tersedu-sedu. Dia takut, takut Kyiev dan Stella menghilang. Takut... orang-orang terdekatnya satu per satu pergi meninggalkannya.


 


 


Shasha menjambak rambutnya sendiri dan menangis histeris.


 


 


Givar segera menghampiri istrinya. Pria itu memeluk Shasha.


 


 


"Jangan khawatir, aku udah lapor polisi," bisik Givar. Shasha tetap menjambak rambutnya. Dia juga memukuli kepalanya sendiri.


 


 


Givar menahan kedua tangan Shasha, "Jangan lakukan ini, please. Kamu nyakitin diri kamu sendiri."


 


 


Ponsel Shasha bergetar, wanita itu segera merogoh sakunya. Ternyata panggilan dari Gween. Dia segera mengangkat panggilan tersebut.


 


 


"Kak Gween?" Tanya Shasha dengan suara bergetar. Givar melihat Shasha dengan serius.


 


 


"Stella sama Kyiev ada di rumah sekarang. Sini, mereka baik-baik aja, kok."


 


 


Shasha merasa tulang-tulang dalam tubuhnya menghilang, sehingga dia terkulai lemas. Givar merangkul istrinya.


 


 


"Sayang?"


 


 


Shasha bersuara, "Mereka di rumah Javier."


 


 


Givar bisa menghela napas lega. Pria itu mengangkat tubuh istrinya dan segera bergegas ke rumah Javier.


 


 


"Maaf, kami membuat kalian cemas," kata Givar kepada Verald dan Gween.


 


 


"Tidak apa-apa, mereka baik-baik saja, katanya mereka habis membeli ice cream. Aku memang melarang Stella mengkonsumsi ice cream pagi-pagi begini," kata Verald.


 


 


"Di mana mereka sekarang?" Tanya Shasha yang muak dengan basa-basi mereka.


 


 


"Ada di dalam," jawab Verald. Shasha segera masuk dan mencari kedua anak itu.


 


 


"Mereka lupa jalan pulang, untung saja mereka bertemu dengan seorang pemuda," kata Gween. Givar mengernyit.


 


 


"Karena mereka menghilang, kita jadi cemas dan kalian tidak pergi ke kantor," kata Gween lagi.


 


 


Givar menggeleng, "Tidak, tidak, anak-anak lebih penting."


 


 


Shasha membuka pintu kamar Stella. Dia terbelalak kaget ketika pintu terbuka lebar. Shasha melihat kedua anak itu... bersama seseorang.


 


 


Svender, kakaknya berada di sana.


 


 


Shasha mengepalkan tangannya geram ketika pria itu tersenyum lebar melihatnya.


 


 


Stella dan Kyiev berlari memeluk Shasha. Tangan wanita itu melemah.


 


 


"Kakak, tadi kita lupa jalan pulang, untung ada kakak itu," ucap Stella sembari menunjuk Sven.


 


 


Shasha tetap memberikan tatapan kejam pada kakaknya.


 


 


"Lihat, lihat, kakak itu membelikan ice cream ini!" Sven menunjukkan beberapa ice cream yang didapatnya dari Sven pada Shasha.


 


 


Wanita itu sedikit membungkukkan badannya kemudian mengusap rambut Stella dan Kyiev.


 


 


"Sayang, kalian tidak boleh mengkonsumsi ice cream sebelum sarapan," ucap Shasha.


 


 


"Tapi, kakak itu bilang, ini sehat. Karena ice cream rasa sereal," ujar Stella dengan polosnya.


 


 


Dasar pria gila, batin Shasha menjerit.


 


 


"Kalian masukin ice cream lainnya ke lemari es, ya. Kalian sarapan dulu sana." Mendengar perintah Shasha, kedua anak itu mengangguk dan berlalu.


 


 


Shasha menatap Sven dengan penuh rasa kekesalan, "Kenapa datang lagi? Jika datang untukku, jangan libatkan mereka."


 


 


Sven bangkit dari tempat duduknya. Dia melipat kedua tangan di depan dada sambil menghampiri Shasha.


 


 


"Gua cuma mau berkunjung ke tetangga baru, pas lo sama Givar pindah ke sini, lo berdua juga datang ke rumah tetangga, kan?"


 


 


Shasha mengerutkan keningnya, "Tetangga?"


 


 


Sven menepuk dahinya sendiri memasang ekspresi seolah-olah dia melupakan sesuatu.


 


 


"Ah, gua lupa gak bilang sama adek gua yang polos ini. Gua pindah rumah," kata Sven.


 


 


Shasha terkejut.


 


 


"Lo tahu, pasangang yang tinggal di samping rumah lo itu?" Tanya Sven sambil memasang wajah seolah-olah sedang mengingat sesuatu.


 


 


"Barra, Divya..." Shasha bergumam.


 


 


"Iya, rumah mereka gua beli," ucap Sven sembari menjentikkan jarinya.


 


 


Shasha menarik bagian depan baju kakaknya, "Apa yang lo lakuin ke mereka, sampe-sampe mereka jual rumah itu ke lo?"


 


 


"Owwwhh, tenang, tenang, Nyonya Hardiswara... ternyata anda memiliki sisi galak juga, ya."


 


 


"Gua tadi udah bilang, kan... gua beli rumah mereka."


 


 


"Lo punya uang dari mana?" Shasha bertanya dengan nada kurang sopan, karena sudah kehabisan kesabaran.


 


 


"Yang penting uangnya bersih, kok." Sven memperlihatkan raut kepura-puraan.


 


 


"Bersih? Emang lo kerja apa? Setelah lo ninggalin rumah dan pergi begitu aja... lo punya uang?"


 


 


"Lo gak percaya sama gua?"


 


 


Givar membuka pintu kamar. Dia melihat istrinya sedang mencengkram baju Sven.


 


 


"Sayang," Givar mencoba membujuk sang istri agar melepaskan cengkramannya.


 


 


"Kita pulang," kata Givar.


 


 


~


 


 


Givar tidak jadi pergi ke kantor, karena pagi ini Kyiev dan Stella sempat menghilang. Dia memilih diam di rumah untuk mengantisipasi keadaan Shasha. Apalagi Sven sekarang tinggal bersebelahan dengannya.


 


 


Shasha duduk melamun di sofa. Dia tampak tertekan dan memendam ketakutan dalam hatinya.


 


 


Sementara Givar sedang menelpon ayahnya.


 


 


"Iya, Pa. Nanti aku hubungi lagi." Givar mengakhiri panggilannya. Dia menoleh pada Shasha. Pria itu menghela napas panjang kemudian menghampiri istrinya dan duduk bersebelahan.


 


 


"Aku takut Sven menyakiti anak-anak," gumam Shasha. Givar merangkul istrinya. Dia tidak tahu harus bilang apa, dirinya juga merasa kurang tenang dengan keberadaan Sven di dekat mereka.


 


 


Sudah beberapa hari Kyiev berada di rumah Givar dan Shasha. Sore ini, Claraa datang untuk menjemputnya. Dengan berat hati, Shasha membiarkan wanita itu menjemput anaknya.


 


 


Shasha akan merasa kesepian lagi di rumah.


 


 


Ketika malam sudah tiba, Givar yang memasak untuk makan malam mereka. Melihat suasana hati Shasha, Givar tidak tega jika membiarkan istrinya itu memasak.


 


 


Shasha duduk melamun di meja makan. Tiba-tiba pintu terbuka. Pandangan pasangan muda itu tertuju ke pintu.


 


 


Sven berdiri di sana dengan piring dan sendok di tangannya.


 


 


"Aaahh, hai... gua mau numpang makan," kata Sven sambil duduk bersebelahan dengan Shasha.


 


 

__ADS_1


"Gua lupa, belum beli persediaan makanan. Kalian tahu, lah. Gua baru pindah rumah, jadi hal penting pun satu-satu gua lupain."


 


 


Tidak ada respon. Kedua pasangan itu hanya menatapnya dengan ekpresi acuh tak acuh.


 


 


Givar melanjutkan memasak. Shasha juga kembali melamun. Sven menoleh ke arah Givar dan Shasha bergantian.


 


 


"Aku ganggu kalian, ya?" Tanya Sven dengan ekspresi sedih.


 


 


Tidak ada jawaban.


 


 


Ketika Sven mau pergi, Shasha bersuara, "Aku tahu, kamu itu psikopat."


 


 


Langkah Sven terhenti. Dia menoleh pada adiknya. Givar menyajikan makanan ke meja. Seolah-olah dia tidak mendengar apa pun.


 


 


Sven kembali duduk di samping Shasha. Dia menuangkan makanan yang masih panas itu ke piringnya.


 


 


"Kenapa kamu jadi begini?" Tanya Shasha dengan suara bergetar. Lalu dia menatap kakaknya.


 


 


"Memangnya kenapa kalo gua psikopat? Keluarga Gustiar memang sudah terlahir untuk memiliki gangguan jiwa," celetuk Sven.


 


 


Shasha menutup matanya mencoba untuk bersabar.


 


 


"Gua juga tahu, lo bipolar," kata Sven. Givar tidak terima dengan ucapan kakak iparnya.


 


 


"Makan saja makanan lo, tujuan lo ke sini buat numpang makan, kan? Jadi, makan... bukan bicara."


 


 


Sven menoleh pada Givar dan memasang wajah sedih seperti anak kecil, "Jangan marahin gua dong."


 


 


Mereka bertiga makan malam bersama dalam kesunyian. Merasa sudah cukup kenyang, Sven bangkit dari tempat duduk kemudian meregangkan tubuhnya.


 


 


"Ah, thanks udah ngizini gua makan, bye-bye." Sven berlalu. Namun, dia berhenti dan menoleh, "Tenang aja, gua gak mungkin nyakitin anak kecil, kok. Seenggaknya gua masih sedikit normal."


 


 


Setelah mengatakan itu, Sven melanjutkan langkahnya.


 


 


Shasha melihat piring bekas Sven, "Dia meninggalkan piringnya."


 


 


Hari terus berlalu, tiba saatnya acara pertunangan Amelia dengan sang kekasih, Maxwern Valdion.


 


 


Shasha dan Givar datang, sesuai dengan janji mereka.


 


 


Amelia terlihat begitu bahagia. Semua keluarga hadir, terutama keluarga besar Hardiswara dan keluaga besar Valdion.


 


 


Sebelum acara pertunangan dimulai, Maxwern terus-menerus izin ke kamar mandi. Itu membuat ketidaknyamanan bagi orang yang hadir.


 


 


Merasa khawatir dengan keadaan, Nyonya besar Valdion bilang, Maxwern memiliki masalah pencernaan. Apalagi kalau sedang gugup. Jadi, pria itu akan keluar masuk kamar mandi.


 


 


Namun, Amelia merasa alasan itu sama sekali tidak masuk akal. Dia memutuskan untuk menyusul Maxwern ke kamar mandi.


 


 


Di depan pintu kamar mandi, Amelia mendengar suara percakapan dari dalam. Rupanya Maxwern sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


 


 


Amelia menguping.


 


 


"Aku bakalan selesain ini," ucap Maxwern. Amelia mengerutkan kening tanda bingung.


 


 


Gadis itu membatin, dengan siapa Max bicara?


 


 


Amelia mendengar suara wanita dari telepon. Karena ruang kamar mandi yang membuat suara si penelpon menggema.


 


 


"Lalu aku gimana?"


 


 


"Aku ngelakuin ini demi perusahaan. Papa aku maksa aku tunangan sama Amel. Jadi, nanti kalo perusahaanku udah kembali kayak dulu, aku bakalan ninggalin dia buat kamu."


 


 


Amelia terkejut. Dia tidak mengira, Maxwern akan sejahat itu. Padahal Amelia sudah mencintainya dengan tulus.


 


 


"Maxy, aku gak bisa nunggu... aku hamil."


 


 


Amelia terbelalak. Ternyata Maxwern tidak lebih dari seorang bajingan.


 


 


Gadis itu membuka pintu kamar mandi dengan paksa membuat Max terkejut. Pria itu melihat kekecewaan yang tergambar di wajah cantik Amelia.


 


 


Acara pertunangan pun dibatalkan oleh Amelia. Gadis itu benar-benar marah dan juga terluka. Dia menangis dalam dekapan Yelma dan Shasha.


 


 


Shasha merasa sangat sedih. Baru kali ini dia melihat Amelia serapuh itu. Selama ini, di mata Shasha, Amelia adalah gadis yang penuh dengan keceriaan dan bisa membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya.


 


 


Setelah kembali ke rumah, suasana hati Shasha semakin buruk. Dia terus-menerus melamun. Givar merasa sedih. Tidak mungkin dia meminta bantuan pada Amelia. Gadis itu juga membutuhkan ketenangan untuk dirinya sendiri.


 


 


Givar memeluk Shasha dari belakang, "Katakan sesuatu."


 


 


 


 


Givar menghela napas pelan. Dia tidak ingin memaksa Shasha mengungkapkan isi hatinya.


 


 


Keesokan harinya, Amelia datang berkunjung ke rumah Givar dan Shasha. Dia tampak ceria dan memperlihatkan banyak senyuman. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu padanya.


 


 


Justru, ekspresi kepura-puraannya itu membuat Givar dan Shasha semakin merasa sedih.


 


 


"Aku berangkat," kata Givar kemudian berlalu.


 


 


Amelia dan Shasha berbincang kecil. Mereka sama-sama menunjukkan keceriaan yang dusta.


 


 


Namun, Shasha tidak bisa menahannya. Tiba-tiba dia memeluk Amelia, membuat gadis itu terkejut. Amelia membalas pelukan Shasha.


 


 


"Kamu kenapa?" Tanya Amelia. Shasha menangis, "Tolong berhenti berpura-pura... aku tahu, kamu juga terluka. Jangan hanya memikirkan kesembuhanku. Kamu juga harus memikirkan diri kamu."


 


 


Amelia merasa terharu, dia juga menangis. Gadis itu tidak menyangka, Shasha memiliki empati terhadapnya.


 


 


"Katakan semuanya, aku akan mendengarkan," kata Shasha sembari melepaskan pelukannya.


 


 


Amelia menatap istri dari sepupunya itu. Dia tersenyum sembari menggeleng.


 


 


Shasha menggenggam tangan Amelia, "Aku pendengar yang baik."


 


 


"Aku benci padanya," gumam Amelia. Shasha menatap Amelia dengan serius.


 


 


"Aku sudah mencintainya dengan tulus, tapi dia malah memanfaatkanku untuk kepentingannya sendiri. Dia telah menghamili anak orang."


 


 


Shasha tampak sedih.


 


 


"Dia benar-benar..."


 


 


Shasha mengusap lengan Amelia dengan lembut, "Bersyukurlah, karena kamu tahu sedari awal. Coba kalau kamu terlambat mengetahuinya, dan kamu sudah menikah dengan dia. Itu akan lebih buruk."


 


 


Amelia mencerna ucapan Shasha. Dia menatap Shasha. Amelia merasa jika Shasha itu tidak seperti yang dikatakan keluarganya. Shasha tidak 'sakit'.  Dia sangat 'sembuh', bahkan sangat 'normal'.


 


 


"Kamu masih beruntung... berpisah dengan orang jahat yang kamu cintai karena dia membuat kesalahan besar. Sementara aku... mencintai seseorang yang baik, dan kami berpisah karena kematian."


 


 


Amelia terlihat sedih, "Maafkan aku."


 


 


Shasha menggeleng, "Tidak, jangan katakan itu. Aku hanya ingin kamu melupakannya saja. Aku tahu, ini tidak mudah."


 


 


Hening.


 


 


Keadaan menjadi sedikit canggung.


 


 


"Jadi, pada intinya... setiap orang pasti memiliki masa sulit dalam hidupnya. Itu tergantung seperti apa kita menangani semua itu. Kesulitan bagiku hanya itu," kata Shasha.


 


 


Amelia mengangguk mengerti.


 


 


Setelah berbagi kisah dengan sesama perempuan, Amelia pamit untuk pulang.


 


 


Namun, dia melihat keberadaan Sven di samping rumah sepupunya. Amelia tampak heran, namun dia tidak peduli dan memasuki mobilnya untuk pulang.


 


 


Sven menoleh melihat mobil Amelia yang melaju meninggalkan pelataran rumah adiknya.


 


 


Sven tersenyum, "Gadis baik."


 


 


~


 


 


Di kantor,


 


 


"Tuan, hari ini kita akan kedatangan tamu penting," ucap Helieen. Givar yang sedang membaca majalah hanya mengangguk.


 


 


Setelah itu, Givar memasuki ruang rapat. Matanya membeku ketika melihat seseorang duduk di kursi dengan tatapan penuh makna tertuju padanya.


 


 


Bibir Givar sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


 


 


Melihat bosnya yang tiba-tiba menjadi manekin, Helieen bingung.


 


 


"Tuan Hardiswara?" Tanya Helieen. Givar terkejut lalu mengangguk. Dia duduk berhadapan dengan wanita yang kini tersenyum padanya.


 


 


"Selamat datang di perusahaan kami, Nona Aarletha Mallory." Helieen menyapa wanita itu. Dengan senyuman ramah, wanita cantik bernama Aarletha itu menjawab, "Terima kasih... kami merasa senang dengan sambutannya."


 

__ADS_1


 


"Mulai saja rapatnya," kata Givar.


 


 


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Rapat selesai. Givar akan memasuki mobilnya, namun suara wanita memanggilnya, membuat niatnya urung.


 


 


Pria itu menoleh, melihat Aarletha berjalan agak cepat ke arahnya.


 


 


"Halo, apa kabar?" Tanya Aarletha. Pria itu mengalihkan pandangannya, "Kita sudah bertemu sebelumnya di ruang rapat."


 


 


Aarletha tersenyum, "Itu pertemuan secara formal. Seharusnya ayahku yang datang untuk rapat itu, tapi aku datang karena ingin menemuimu."


 


 


"Kenapa?" Tanya Givar.


 


 


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."


 


 


"Aku baik-baik saja." Givar membuka pintu mobilnya, namun Aarletha menutup pintu mobil tersebut.


 


 


"Kenapa?" Kali ini giliran Aarletha yang bertanya. Givar menghela napas panjang kemudian menoleh padanya.


 


 


"Apanya?"


 


 


"Apa salahku?" Tanya Aarletha dengan suara bergetar. Givar mengusap kasar wajahnya sendiri.


 


 


"Kenapa memutuskan hubungan kita? Aku tidak bersalah, kan?" Tanya Aarletha lagi.


 


 


"Bukan kamu yang salah, aku yang salah."


 


 


Setelah mengatakan itu, Givar memasuki mobilnya yang kemudian melaju meninggalkan Aarletha dalam kesedihan.


 


 


Di perjalanan, Givar tampak tidak tenang. Dia memikirkan Aarletha. Wanita itu kembali menemuinya. Dan itu membuat perasaannya menjadi campur aduk.


 


 


Padahal, rasa cintanya untuk Shasha mulai muncul, namun kehadiran wanita itu membuatnya kembali teringat semuanya.


 


 


Aarletha menatap Givar dengan ekspresi bingung, "Kenapa? Aku salah apa? Kenapa kamu mau kita putus?"


 


 


Givar yang membelakangi Aarletha tampak sedih. Dia tidak ingin memutuskan hubungannya dengan sang kekasih, namun di sisi lain, Shasha sangat membutuhkannya. Hanya dia yang bisa mengerti dengan keadaan Shasha. Hanya dirinya yang bisa membujuk Shasha.


 


 


"Maafkan aku, kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku," kata Givar kemudian berlalu. Namun, Aarletha menggenggam tangan Givar.


 


 


"Kamu udah gak cinta lagi sama aku?" Tanya Aarletha. Givar tidak tahu harus menjawab apa, sejujurnya dia sangat mencintai Aarletha.


 


 


Namun, dia juga memikirkan keadaan Shasha, sahabatnya.


 


 


"Maaf." Givar melepaskan tangan Aarletha darinya kemudian berlalu.


 


 


Aarletha menitikkan air matanya.


 


 


Givar menghentikan mobilnya dengan posisi sembarangan di depan rumah. Pria itu memasuki kamarnya dengan ekspresi serius.


 


 


Shasha yang sedang memasak tampak bingung. Namun, dia menerka kalau suaminya sedang lelah dan memiliki banyak masalah di kantor. Dia melanjutkan memasak dan menyajikan makanannya ke meja.


 


 


Sementara itu, Givar baru selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Dada bidang dan perutnya yang eight pack dibiarkannya terekspos begitu saja.


 


 


Karena Givar tak kunjung turun untuk makan, Shasha merasa khawatir. Dia memutuskan untuk ke kamar dan memberitahu suaminya, kalau makanannya sudah siap.


 


 


Tanpa mengetuk, Shasha menarik knop pintu dan membukanya. Dia terkejut melihat Givar yang akan membuka handuknya.


 


 


Givar juga terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba. Shasha segera menutup pintu sembari menepuk dahinya sendiri.


 


 


"Maaf, lain kali aku akan mengetuk pintu dulu," kata Shasha.


 


 


Givar terkekeh dengan sikap malu-malu istrinya itu. Dia hanya menggeleng pelan. Pria itu telah memilih pakaian kemudian menuruni tangga. Dia melihat istrinya duduk menunggu.


 


 


Givar tersenyum, "Kamu nunggu aku lagi?"


 


 


Shasha mengangguk sembari tersenyum. Mereka makan bersama.


 


 


"Sven gak dateng lagi? Dia gak gangguin kamu?" Tanya Givar. Shasha menggeleng, "Enggak."


 


 


Givar mengangguk.


 


 


Di rumah sebelah,


 


 


Svender, nama itu tergantung di pintu kamar yang sedikit terbuka. Di dalamnya lampu masih menyala. Apa yang dilakukan Sven malam-malam begini?


 


 


Pria itu tampak sedang meneliti foto-foto di mejanya. Sesekali dahinya mengernyit. Dia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di google.


 


 


~


 


 


Hari mulai pagi, Sven tertidur dengan kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ponselnya bergetar membuat pria itu agak tersentak. Dia mengambil ponselnya sembari mengucek kedua matanya.


 


 


Setelah kesadarannya penuh, Sven melihat ke layar. Dia tampak terkejut. Pria itu segera menuruni tangga dan keluar dari rumahnya. Dia membuka kotak surat dan ada paket di sana.


 


 


Pria itu tampak berpikir.


 


 


Namun, pandangannya Sven teralihkan ke rumah sebelah. Terlihat Givar yang sudah rapi memakai jasnya memasuki mobil. Sementara Shaha melambaikan tangannya.


 


 


Perut Sven mulai berdemo. Shasha menoleh ke arahnya. Sven tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya pada Shasha. Wanita itu tidak mereponnya. Dia malah kembali masuk ke dalam rumah.


 


 


Sven memutuskan untuk datang ke rumah adiknya. Seperti biasa, dia menumpang makan.


 


 


Shasha tidak keberatan, selama pria itu bisa menjaga sikap dan cara bicaranya.


 


 


Amelia datang lagi untuk menemui Shasha. Namun, dia terkejut melihat keberadaan Sven.


 


 


"Kenapa dia di sini?! Hati-hati, Sha. Dia bisa membuat kamu terluka," ceroscos Amelia dengan ekspresi dan bahasa tubuh memperlihatkan kewaspadaan.


 


 


Sven hanya menoleh sesaat sembari melanjutkan makan tanpa merasa terganggu.


 


 


Shasha menghela napas berat, "Dia gak ngapa-ngapain, kok. Dia juga pernah makan di sini."


 


 


Amelia masih menatap waspada terhadap Sven.


 


 


Kedua perempuan itu berlalu meninggalkan Sven sendirian.


 


 


"Kamu gak takut, dia ngelakuin hal jahat ke kamu?" Tanya Amelia setengah berbisik.


 


 


"Aku masih mempercayainya sebagai kakakku. Ya... meskipun ucapannya seperti paku. Dia hanya sekali melukaiku. Itu pun sudah lama."


 


 


Amelia masih terlihat ragu, "Kenapa dia bisa tinggal di rumah sebelah? Dia pasti punya niatan jahat?"


 


 


Shasha terkekeh, dia tidak menyangka, psikolog seperti Amelia bisa mengungkapkan sudut pandangnya secara frontal.


 


 


Shasha memberi makan kedua kelincinya. Amelia memperhatikannya.


 


 


Terdengar suara dari ruang tengah. Kedua perempuan itu menoleh.


 


 


"Apa yang sedang dia lakukan?" Gerutu Shasha. Keduanya melihat Sven sedang menonton TV sambil tertawa.


 


 


Shasha dan Amelia saling pandang.


 


 


"Siapa yang nyuruh kamu bawa TV itu ke ruangan ini?" Gerutu Shasha. Sven menoleh, "Tidak ada yang nyuruh. Gua cuma bosen aja, pengen nonton TV."


 


 


Shasha menggeleng pelan kemudian berlalu. Sven menoleh pada Amelia yang berdiri dan melihat ke layar TV.


 


 


"Mau nonton bareng? Sini," ucap Sven sembari menepuk sofa di sebelahnya. Dengan sedikit ragu, Amelia duduk di samping Sven.


 


 


Mereka tampak serius menonton film kartun. Kemudian tertawa bersama ketika melihat sesuatu yang lucu.


 


 


Tiba-tiba TV-nya mati. Padahal Sven dan Amelia tidak mematikannya. Kedua orang itu menoleh, ternyata Givar sudah pulang. Mereka tidak menyadari hari sudah sore, sementara keduanya masih asyik menonton kartun.


 


 


Givar berlalu sambil membawa remote tanpa merasa bersalah karena mengganggu kesenangan dua orang itu.


 


 


Lagian itu rumah Givar.


 


 


Hening.


 


 


Sven dan Amelia jadi merasa canggung dalam keadaan seperti itu.


 


 


"Emmhh..." Sven mendesah pelan. Amelia menoleh padanya kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


 


 


"Psikolog kayak lo, bisa menunjukkan ekspresi asli juga, ya? Gua pikir, psikolog itu biasanya punya muka datar," ujar Sven.


 


 


Amelia menoleh padanya, "Sembarangan, gua juga manusia kali. Lagian... gua, kan... gak lagi kerja, bebas dong."


 


 


Sven tertawa, "Ada juga, ya... psikolog macam ini."


 


 


Amelia cemberut.


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


16.44 : 24 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2