GRAPPLE

GRAPPLE
Terrorize


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Tidak selamanya rencana bisa berjalan mulus


Ada kalanya hal yang kecil terlewatkan dan membuat sesuatu yang besar menjadi kegagalan._


 


 


~•o•~


 


 


Selama penyelidikan, Felix Donovan tidak bisa keluar sembarangan, apalagi ke luar negeri. Dia berada dalam pengawasan semua pihak. Pria itu hanya bisa duduk di kursi kebesarannya.


 


 


Sementara Shasha akan berada di rumah Amelia ketika Givar pergi ke kantor.


 


 


Lalu bagaimana dengan Juan dan Adam? Keduanya tidak tinggal diam. Mereka mencari banyak informasi dan menyelidiki hal-hal yang terkait. Mereka tidak ingin Givar dan Sven berusaha terlalu keras yang hanya akan membuat dua anak muda itu stres.


 


 


Lalu bagaimana dengan Sven?


 


 


Pria itu baru bangun tidur. Dia menggaruk punggungnya sambil berlalu ke kamar mandi. Selesai dengan mandi dan ganti baju, Sven berlalu keluar dari apartemennya.


 


 


Ketika dia membuka pintu, tubuh lunglai itu tergeletak ke lantai. Sven terkejut. Tampaknya orang itu bersandar ke pintu semalaman. Ada darah yang mengalir di lantai, sebagian ada yang sudah mengering.


 


 


Ketika Sven melihat dengan jelas wajah itu, dia terbelalak. Pria itu adalah Froy. Ada luka tusukan di dada, leher, dan perutnya.


 


 


Froy sudah meninggal. Dia meninggal setelah keluar dari apartemen milik Sven.


 


 


Tidak ada pilihan lain, Sven menghubungi polisi. Empat polisi itu langsung datang dan melakukan penyelidikan. Ditambah tiga orang yang memiliki kemampuan mengolah TKP, selain polisi tentunya.


 


 


Apartemen Sven diperiksa. Begitupun dengan barang-barang milik korban.


 


 


Semua data-data di laptop Froy sudah menghilang. Dua buah flashdisk dan CD juga hilang dicuri pembunuhnya.


 


 


Sven menghela napas berat. Dia merasa bersalah pada Froy, karena telah melibatkan temannya itu dengan masalah pribadi keluarganya.


 


 


Tapi, apa boleh buat. Hanya Froy teman yang bisa dipercayai olehnya. Ditambah lagi, Froy itu sama seperti dirinya, ingin menjadi polisi. Oleh karena itu, Froy memiliki insting dan kemampuan yang baik.


 


 


Sven kembali mencurigai Felix. Dia yakin, Felix tidak mau masuk penjara, itu sebabnya dia membunuh 'kunci' milik Sven.


 


 


Apa ini perbuatan si Donovan itu? Sven bertanya-tanya dalam hati.


 


 


Kepala Sven terangkat. Ada CCTV di sudut langit-langit di dekat pintu apartemennya. Melihat para polisi sedang memeriksa ruangan apartemen, Sven memiliki kesempatan untuk mengambil CCTV itu dan menyembunyikannya dari polisi.


 


 


Setelah para polisi itu pergi, Sven mengecek CCTV tersebut. Dia memutar jam ketika Froy pamit untuk pulang.


 


 


Dalam rekaman video tersebut, tampak Froy yang menenteng ranselnya keluar dari apartemen dan berlalu. Namun, hanya berselang 30 detik, dua orang berpakaian hitam dan berpenutup wajah datang. Mereka akan membobol pintu.


 


 


Sven mengepalkan tangannya geram. Dia melihat Froy kembali dan melawan dua orang berbadan besar itu. Berkali-kali mereka memukul Froy dan yang terakhir, mereka menusukka pisau ke perut, dada, dan leher temannya itu. Darah segar mengalir di mana-mana.


 


 


Kenapa Sven tidak mendengarnya semalam? Seharusnya ada suara keributan ketika mereka berkelahi.


 


 


Tanpa sadar, air mata Sven menggenang di pelupuk matanya.


 


 


"Froy... sorry...." Sven bergumam pelan.


 


 


Belum sampai di sana, kedua orang yang gagal masuk ke apartemennya itu segera mengambil barang-barang penting milik Froy. Mereka juga menghapus data-data di laptop. Setelah itu, mereka pergi tanpa merasa bersalah. Mereka meninggalkan tubuh Froy yang sudah lemah.


 


 


Brughh!


 


 


Sven menggebrak meja, sampai-sampai beberapa benda di atas meja berjatuhan ke lantai.


 


 


Ternyata Froy belum sepenuhnya meninggal. Pria itu menulis sesuatu dan meletakkannya di ventilasi di samping pintu.


 


 


Tanpa pikir panjang, dia segera berlalu ke depan dan mengambil kertas yang penuh darah itu dari ventilasi.


 


 


Sven membacanya.


 


 


Selesaikan segera. Ada banyak mata dan tangannya. Dia tidak akan berhenti. Terus fokus sampai sidang terakhir.


 


 


Fr_


 


 


Froy meninggal sebelum dia menyelesaikan menulis namanya. Sven mendengus dan menendang pintu.


 


 


"Shit! Shit! Gua bakalan bales mereka, Froy. Gua janji, mereka akan membayarnya."


 


 


Sven kembali masuk ke dalam. Layar sedang menunjukkan ketika para polisi dan ahli TKP akan pulang. Sven akan mematikannya. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


 


 


Yang keluar dari apartemennya adalah empat orang polisi dan dua orang ahli TKP. Lalu... satu orang lagi kemana?


 


 


Sven merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ketika dia berbalik, pria bertubuh tinggi itu menusukkan pisau ke lengannya. Darah itu merembes membasahi kaosnya yang berwarna putih.


 


 


Sven meringis tertahan, tanpa mau memainkan drama lebih lama lagi, dia menendang perut orang itu.


 


 


"***!" Sven menarik pisau yang menancap di lengannya. Darah segar mengalir makin banyak lewat luka itu.


 


 


Dengan cepat, dia bergerak menusuk-nusuk perut orang itu. Darah membasahi tangannya dan menetes ke lantai.


 


 


Pria itu meringis kesakitan.


 


 


"Ini yang dirasakan Froy! Ini!" Sven menusuk dada orang itu.


 


 


Tanpa belas kasihan, Froy menyayat lehernya, dan berakhir sudah hidup penyusup itu.


 


 


"Neraka bahkan tidak pantas untuk para penjahat seperti kalian," geram Sven. Dia menarik pisau dari leher yang sudah koyak dan menganga itu.


 


 


Sven menyentuh lengannya, "Ah, sakit juga ini."


 


 


Sven duduk dan mengambil handuk putih untuk melilit luka tersebut agar tidak terus-menerus mengeluarkan darah.


 


 


Sven menoleh ke arah tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Darahnya masih mengalir membasahi lantai.


 


 


"Ah, ****... gua harus bersihin itu juga," gerutu Sven.

__ADS_1


 


 


~


 


 


Pagi ini, Adam pergi ke kantor. Di perjalanan, jalanan lumayan lenggang. Ketika fokus menyetir, tiba-tiba sesuatu menabraknya dari belakang membuatnya tersentak ke depan.


 


 


Untung saja Adam mengenakan seatbelt. Jadi, tidak sampai terbentur dashboard mobil. Melalui spion, dia melihat mobil di belakangnya. Tampaknya orang itu ingin mencelakai Adam.


 


 


Dengan rasa kesal, Adam mempercepat laju mobilnya. Mobil di belakangnya menyusul dan mengejar, tanpa berniat mendahului mobilnya.


 


 


Adam mendecih, "Sepertinya di depan ada polisi lalu lintas. Kalau aku melaju dengan kecepatan tinggi, mereka pasti akan memberhentikanku. Maka aku akan terbebas dari penjahat itu."


 


 


Benar saja, ada dua orang polisi yang sedang berlalu lintas. Adam mengendarai sampai kecepatan 90 kilometer per jam. Kebetulan di daerah itu diharuskan mengendarai maksimal 50 kilometer per jam.


 


 


Diluar dugaan, kedua polisi itu mengabaikannya. Seolah-olah mereka tidak melihat mobil Adam yang melaju cepat.


 


 


Adam memukul stir, "Seharusnya aku sudah menduganya sejak awal!"


 


 


Lagi-lagi mobil dibelakangnya menubruk bagian belakang mobil Adam.


 


 


Adam tidak mendengus kesal. Dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


 


 


"Temukan lokasiku dan segera kemari. Aku dikejar."


 


 


"Baik, Tuan."


 


 


Adam melemparkan ponselnya ke kursi di sampingnya karena kesal.


 


 


Sementara mobil di belakangnya masih terus berusaha menabrak.


 


 


"Kenapa jalan ini bisa lenggang? Biasanya macet, apa mungkin mereka merencanakan ini?"


 


 


Mobil itu melaju dan kini bersebelahan dengan mobil Adam. Dia menoleh. Kaca mobilnya terlalu gelap. Dia tidak bisa melihat ke dalam. Dia tidak tahu, siapa yang menyetir mobil tersebut.


 


 


Mobil itu mendekat dan memojokkannya. Bagian pinggir mobil Adam bergesekan dengan dinding beton yang berdiri di sepanjang jalan.


 


 


Adam mulai panik ketika melihat  pagar beton mulai jarang. Sementara dirinya sedang berada di atas jembatan.


 


 


Adam terlonjak ketika sebelah pintu mobilnya terlepas dan terlempar. Alhasil angin masuk ke dalam.


 


 


Di depannya sudah tidak ada pagar beton. Jika mobil itu masih memepet, maka dia akan terjatuh ke bawah jembatan.


 


 


Tidak kehabisan akal, Adam balik memojokkan mobil itu, sehingga mobil keduanya berada di tengah.


 


 


Tiba-tiba jendela mobil itu turun dan memperlihatkan seseorang berpenutup wajah sedang menodongkan pistol padanya.


 


 


Adam terbelalak. Dia membanting stir dan menabrak keras mobil itu.


 


 


Sehingga mobil tersebut sedikit oleng. Pengendaranya memasukkan kembali tangannya dan menutup jendela mobil.


 


 


Adam bisa merasa sedikit lega. Apalagi melalui spion, dia melihat mobil orang-orangnya di belakang menyusul.


 


 


 


 


Namun, tidak tinggal diam. Orang-orang Adam menyusulnya. Sehingga Adam selamat dan bisa pulang ke rumah.


 


 


Sarah terlihat panik melihat keadaan Adam yang berantakan, apalagi mobilnya sudah seperti barang rongsokan berjalan.


 


 


"Apa yang terjadi, Pa? Papa gapapa?" Tanya Sarah sembari menghampiri Adam.


 


 


"Papa gapapa, Ma. Mama gak perlu khawatir. Orang-orang suruhan Papa sudah disuruh untuk menyelidiki ini."


 


 


Sarah menghela napas panjang.


 


 


~


 


 


Rumah Amelia,


 


 


Shasha melihat buku miliknya yang sudah dicetak oleh Amelia. Dia tersenyum melihat gambar hasil kerja kerasnya itu bisa dicetak dengan baik.


 


 


"Makasih, Mel." Shasha tersenyum cerah. Amelia juga tersenyum, "Sama-sama."


 


 


Amelia menoleh ke jendela. Dia melihat ada taksi yang berhenti di depan gerbang. Tampaklah seorang pria keluar dari taksi itu. Ternyata Sven. Dia datang ke rumahnya. Amelia tersenyum.


 


 


Sementara Shasha masih fokus pada bukunya.


 


 


Amelia menuruni tangga untuk menemui Sven. Pintu utama rumah dibukanya. Sven berjalan mendekat.


 


 


Amelia tersenyum pada pria itu. Namun, tampaknya Sven sedang dalam masalah. Ekspresinya datar dan dingin. Ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.


 


 


Sven berhenti di depan Amelia.


 


 


"Aku mau ngomong sama kamu," kata Sven. Amelia terdiam, namun kemudian dia tersenyum seraya mengangguk.


 


 


Di kursi taman halaman depan, Sven dan Amelia duduk bersebelahan. Pandangan Sven tertuju pada beberapa bodyguard yang berjaga di setiap sudut rumah.


 


 


"Kamu tinggal sendirian?" Tanya Sven.


 


 


Amelia mengangguk, "Iya, kenapa?"


 


 


"Tidak... oh ya, Shasha di dalam?"


 


 


Lagi-lagi Amelia mengangguk.


 


 


"Hari ini ada yang meneror papa."


 


 


Amelia terbelalak, "Apa Tuan Gustiar baik-baik saja?"


 


 


Sven mengangguk, "Hanya saja... aku sudah cukup lelah dengan ini. Aku harus bagaimana?"


 


 


Hening.


 

__ADS_1


 


Sven terlihat putus asa. Amelia menguasap bahu Sven.


 


 


"Aku yakin, sebentar lagi semuanya terungkap. Kamu sudah berusaha sejauh ini. Tapi, jika nantinya keadilan tidak berpihak pada kita, akan ada karma yang siap menghancurkan mereka."


 


 


Mendengar ucapan Amelia, Sven menoleh pada wanita itu. Kata 'karma' mengingatkannya pada seseorang, kekasihnya yang sudah lama meninggal.


 


 


Mereka masih saling menatap, "Jika karma itu masih lama datangnya, aku akan menjadi karma yang nyata buat mereka."


 


 


Amelia menggeleng, "Itu tidak benar. Jika kamu membalas mereka, berarti kamu sama saja seperti mereka. Tidak memiliki hati."


 


 


Sven berdecih sembari membuang muka, "Hatiku memang sudah hilang sejak lama."


 


 


Amelia menggeleng, "Jika iya hatimu sudah menghilang, kenapa kamu memiliki rasa benci pada Felix? Kenapa kamu menyayangi keluarga kamu?"


 


 


Sven kembali menatap Amelia, tanpa berniat menjawab.


 


 


"Orang yang kehilangan hatinya itu seperti psikopat. Tapi, dia tidak memiliki emosi dalam dirinya. Dia tidak membenci, apalagi mencintai. Itu sebabnya dia membunuh tanpa merasa bersalah atau takut," sambung Amelia.


 


 


Sven masih menatap Amelia. Wanita itu sedikit gugup. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


 


 


Sven tersenyum lalu menarik dagu Amelia agar kembali menatapnya.


 


 


"Kamu tahu? Kamu itu cantik dan banyak bicara, bagaimana jika aku merasakannya?" Pertanyaan ambigu Sven membuat Amelia bingung.


 


 


Namun, Sven mendekatkan wajahnya. Amelia melihat ke sekeliling, dia tidak ingin dilihat oleh para bodyguard-nya. Amelia menahan lengan Sven.


 


 


Sven meringis ketika Amelia tidak sengaja menyentuh lukanya.


 


 


"Ah? Sakit, ya? Maafin aku. Kamu kenapa?" Tanya Amelia cemas.


 


 


Sven menggeleng, "Aku gapapa."


 


 


Amelia jadi canggung, begitupun dengan Sven.


 


 


Kenapa ciumannya gak jadi, sih?


 


 


~


 


 


Sidang kedua....


 


 


Di pengadilan, pengacara Sven menunjukkan banyak bukti baru. Termasuk percobaan pembunuhan yang dilakukan Felix pada ayahnya.


 


 


Ketika pengacaranya akan menyatakan sanggahan, Felix berdiri. Tanpa diduga, dia mengakui perbuatannya.


 


 


"Iya, aku yang melakukannya."


 


 


Semua yang ada di ruangan sidang tampak terkejut. Tidak terkecuali pengacaranya sendiri.


 


 


"Aku yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Adam Gustiar."


 


 


Adam mengepalkan tangannya geram. Sementara Shasha dan Amelia tidak mengira dengan pengakuan itu. Givar menghela napas lega ketika pria itu mau mengakuinya.


 


 


"Lalu bagaimana dengan kejahatanmu yang lain?" Tanya Sven dengan nada ketus.


 


 


"Hanya itu kesalahanku. Aku tidak mengakui tuduhanmu yang lainnya. Aku tidak melakukannya."


 


 


"Kenapa kamu melakukan percobaan pembunuhan terhadap Adam Gustiar?" Tanya Hakim.


 


 


Felix tidak langsung menjawab. Dia tampak memikirkan sesuatu.


 


 


"Sebenarnya ini hanya dendam pribadi. Aku sudah melupakan yang sudah berlalu itu. Tapi, ketika sidang pertama kami bertemu, rasa kesalku kembali muncul." Itu jawaban Felix.


 


 


Dengan pengakuannya sendiri, Felix dinyatakan bersalah dan masuk penjara sesuai hukum yang berlaku.


 


 


Akhirnya keluarga Gustiar dan keluarga Hardiswara bisa bernapas lega.


 


 


Namun, tidak bagi Sven. Semuanya masih menjadi misteri. Tidak ada Froy yang biasa membantunya. Sekarang hanya ada dirinya.


 


 


Pria itu masih merasa ragu.


 


 


Amelia menenangkannya, "Yang penting dia sudah masuk penjara, kita tidak perlu khawatir lagi, kan?"


 


 


Givar tampak berpikir, "Bagaimana jika kita salah orang? Bagaimana jika dalang di balik semua ini bukan Felix, melainkan seseorang yang masih berkeliaran di luar sana?"


 


 


Sven mengusap kasar wajahnya, "Aku sudah yakin dia pelakunya, tapi kenapa akhirnya jadi begini. Ini tidak sesuai dengan rencana awalku."


 


 


Hening.


 


 


Ketika Shasha menghampiri mereka. Langsung saja mereka mengubah topik pembicaraan.


 


 


"Kita akan makan malam bersama, kan? Givar yang traktir!" Seru Amelia.


 


 


Shasha menoleh pada suaminya.


 


 


"Ah? Aku? Ooohhh, iya, iya." Givar tampak gelagapan.


 


 


Amelia tersenyum. Shasha juga tersenyum. Namun, melihat Sven yang masih serius melamun, Shasha tampak bingung.


 


 


"Svender? Kamu kenapa?" Tanya Shasha. Sven menoleh pada adiknya kemudian menggeleng.


 


 


"Shasha yang pilih restorannya, kamu mau makan di mana?" Tanya Amelia pada Shasha.


 


 


"Emmm..." Shasha tampak berpikir, "... aku mau makan di restoran yang ada soto ayamnya. Udah lama aku gak makan soto."


 


 


"Yuhuu! Soto, kami datang!"


 


 


~•o•~


 


 


16.32 : 27 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2