GRAPPLE

GRAPPLE
Tell


__ADS_3

 


 


~•o•~


 


 


_Orang yang sering memberikan banyak solusi\, adalah orang yang memiliki banyak masalah dalam hidupnya._


 


 


~•o•~


 


 


Shasha berbalik dan kini dia melihat wajah itu. Wajah yang sebenarnya sudah dikenal olehnya sejak lama. Wajah yang sudah pastinya sebuah kepastian. Tidak salah lagi, dia orangnya.


 


 


Wajah pria yang dengan kejamnya membunuh sang ayah, membunuh orang-orang kepercayaannya, membuat dirinya berada di RSJ ini, membuat seluruh anggota keluarganya syok.


 


 


Dan satu lagi... membuat cinta pertamanya, tunangannya, calon suaminya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


 


 


Refandi Glend yang tidak tahu apa pun harus meninggal.


 


 


Shasha ingin sekali memukul wajah orang yang berdiri di depannya itu. Namun, itu tidak mungkin. Yang ada, pria itu memukulnya dan membuatnya bernasib sama seperti ayahnya dan tunangannya.


 


 


Seorang bodyguard terlihat berdiri di pintu kemudian menutup pintu dan menguncinya.


 


 


Kini hanya ada mereka berdua di atap RSJ. Shasha sedikit waspada. Bisa saja pria itu dengan tiba-tiba membunuhnya.


 


 


"Halo, Nyonya Hardiswara. Akhirnya kita bertemu dan bertatap muka seperti waktu itu," ucap pria itu.


 


 


Tidak lain dia adalah Felix Donovan.


 


 


Benar!


 


 


Tebakan Sven tepat sekali!


 


 


Shasha menatap wajah Felix dengan air mata yang sudah berlinang memenuhi pelupuk matanya.


 


 


Shasha bersuara, "Kenapa kamu melakukan ini? Yang aku tahu, kamu orang baik. Ternyata tidak salah kakakku dan suamiku memasukkanmu ke penjara."


 


 


Felix mendekati Shasha membuat wanita itu mundur dua langkah.


 


 


Ternyata Felix hanya ingin menunjuk dua kursi dan meja yang sudah ada di sana.


 


 


"Silakan duduk," kata Felix.


 


 


Shasha masih berdiri terpaku dengan tatapan kosong. Dia merasa ini sulit dipahami.


 


 


Felix menarik tangan wanita itu agar segera duduk di kursi yang dia maksud. Felix menarik salah satu kursi dan mendudukkan Shasha di sana.


 


 


Felix juga duduk dan sekarang berhadapan dengan wanita itu.


 


 


"Kamu mau menanyakan sesuatu?" Tanya Felix tanpa mau berbasa-basi terlebih dahulu.


 


 


Dengan segera, Shasha menyahut, "Tidak, aku sudah menyimpulkan... kamu bukan orang baik. Kamu orang jahat. Kamu telah merenggut kebahagiaan orang lain tanpa merasa bersalah sedikit pun."


 


 


Felix tersenyum, "Kenapa kamu menyimpulkan dengan semudah itu? Kamu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya."


 


 


"Jangan menunjukkan senyum palsumu, penjahat!" Bentak Shasha.


 


 


"Aku tidak pernah menunjukkan senyuman palsu. Aku akan tersenyum jika aku mau, meskipun aku sedang terluka sekali pun."


 


 


Shasha membuang muka.


 


 


"Kalau kamu tidak mau bertanya, aku yang akan bertanya," ucap Felix.


 


 


Shasha menoleh padanya.


 


 


"Apa kamu terluka?" Tanya Felix.


 


 


Shasha menautkan alisnya karena geram, "Kenapa kamu malah menanyakan hal yang sudah pasti?"


 


 


"Jika kamu diberikan pilihan, kamu akan melakukan apa padaku atas perbuatanku?" Tanya Felix.


 


 


"Aku akan memukul wajahmu, aku tidak ingin melihat kamu tersenyum lagi."


 


 


Felix tertawa. Dia mendekatkan wajahnya membuat Shasha memundurkan tubuhnya.


 


 


"Kalau begitu pukul aku," kata Felix.


 


 


Shasha mengangkat tangannya. Felix menutup kedua matanya. Shasha tidak kunjung mendaratkan pukulannya.


 


 


Felix kembali membuka kedua matanya. Dia mengangguk sembari memperlihatkan ekspresi serius di wajah tampannya.


 


 


"Baiklah, kalau kamu tidak mau melihat senyumanku, aku tidak akan tersenyum lagi."


 


 


Melihat Felix yang menunjukkan ekspresi serius, membuat Shasha ingin bergidik. Pria itu terlihat kejam. Shasha mengalihkan pandangannya.


 


 


Felix mulai bercerita, "Adam Hermano Gustiar adalah pengusaha kaya. Dia sangat sukses di Indonesia. Dia memiliki banyak perusahaan cabang, Singapura, Malaysia, China, India, dan di Indonesia juga ada 4 perusahaan cabang."


 


 


Meskipun Shasha tidak mau melihat wajah Felix, dia tetap mendengarkan dengan serius.


 


 


"Di sisi lain ada ayahku, Nicholas Donovan yang memiliki perusahaan juga, salah satunya di Indonesia dan pusatnya di New York."


 


 


Felix berkata, "Aku akan menceritakan yang sebenarnya, karena informasi yang didapatkan Sven tidak sepenuhnya benar. Informasi itu didapatkan dari salah satu orang kepercayaan Adam, dan dibuatlah kenyataan palsu. Aku tidak tahu, apakah kamu tahu soal informasi palsu itu, atau tidak. Tapi itu bukan masalah, aku akan menceritakannya sekarang."


 


 


Shasha tidak tertarik untuk menjawab.


 


 


Felix melanjutkan berbicara, "Pada tahun 2002, Adam membangun perusahaan pertamanya di Indonesia. Sebenarnya... ayahmu itu pernah menjadi karyawan perusahaan ayahku."

__ADS_1


 


 


"Setelah memiliki cukup banyak uang, Adam ingin membangun perusahaan sendiri bersama keluarga Gustiar lainnya, dan jadilah perusahaan Gustiar yang dulu. Orang menyebutnya 'perusahaan kaya baru', karena untuk pertama kalinya ada nama keluarga Gustiar dalam daftar nama keluarga berpengaruh di Indonesia,"


 


 


"apalagi perusahaan Gustiar yang terbilang baru itu mampu bersaing dengan perusahaan besar dan sukses seperti keluarga Mahali dan Danuarga."


 


 


Felix menyandarkan punggungnya ke kursi, "Namun, sikap Adam kurang baik dengan sesama pengusaha yang merupakan keluarga Gustiar juga. Dia tidak ingin berdiri bersama keluarga Gustiar yang lain. Dia ingin berdiri sendirian. Tidak mau disebut tuan Gustiar, dia mau dipanggil Tuan Adam Gustiar."


 


 


"Pada tahun 2003, Adam melepaskan diri dari keluarga Gustiar yang lain. Dia memegang perusahaannya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Iya, dia memang sukses apalagi dia bekerja sama dengan perusahaan asing, termasuk perusahaan ayahku."


 


 


"Tapi, pada 2007, entah ada apa... perusahaan Gustiar yang benar-benar sedang berjaya itu mendadak bangkrut."


 


 


Shasha ingat itu. Di tahun tersebut, keluarganya harus pindah ke New York.


 


 


"Mereka memutuskan pindah ke New York untuk menghindari rasa malu dari para pengusaha lain yang mengolok-oloknya karena si sombong telah bangkrut."


 


 


Shasha tidak senang dengan ucapan Felix. Namun, dia menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan emosinya.


 


 


"Di New York, Adam menemui ayahku yang masih bekerja sama dan berhubungan baik dengannya. Dia meminta pada ayahku untuk membantu perusahaannya yang sedang berada di ambang bahaya."


 


 


"Karena ayahku orang yang baik, dia membantu ayahmu. Perusahaan Adam kembali maju seperti dulu."


 


 


"Tahun 2008, ayahmu itu mungkin merasa kalau perusahaannya jauh lebih maju dibandingkan perusahaan ayahku. Apalagi di tahun itu, ayahku sakit dan perusahaan Donovan berada di tanganku. Jadi... Adam memutuskan kerja sama di antara perusahaan kami dan memilih bekerja sama dengan keluarga Mahali dan keluarga Danuarga di Indonesia, ya meskipun kalian masih memilih tinggal di New York."


 


 


"Di tahun yang sama, perusahaan yang aku pegang mengalami kebangkrutan, karena ada yang menggelapkan uang perusahaan. Aku meminta bantuan pada ayahmu. Aku ingin dia membantuku seperti ayahku yang pernah membantunya. Sial sekali, Adam menolak dengan tidak sopannya. Dia benar-benar melupakan kebaikan ayahku,"


 


 


"tapi aku tidak mempermasalahkannya. Meskipun penilaianku terhadapnya mulai miring. Aku memilih bekerja sama dengan perusahaan Adiwijaya yang waktu itu sedang berhubungan kurang baik dengan perusahaan Danuarga, kabarnya masalah pribadi. Keluarga Adiwijaya dengan tangan terbuka membantu perusahaanku."


 


 


Shasha masih mendengarkan dengan serius. Dia menatap lurus ke meja di depannya.


 


 


"Kamu lapar, atau haus? Aku akan menyuruh bodyguard-ku untuk membawakan makanan dan minuman."


 


 


Felix tidak melanjutkan ceritanya karena merasa khawatir jika Shasha kelaparan. Apalagi Shasha belum sarapan.


 


 


Menggeleng, itu adalah jawaban Shasha.


 


 


Felix mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang, "Bawakan kami sarapan. Aku butuh sekarang."


 


 


"Baik, Tuan."


 


 


Felix melanjutkan ceritanya.


 


 


"Tidak hanya bekerja sama dengan para pengusaha di Indonesia, aku juga bekerja sama dengan perusahaan yang ada di sini, yaitu perusahaan Rigaav, perusahaan Smith, dan Davidson."


 


 


"Jadi, di tahun yang sama... perusahaanku bangkit lagi bahkan semakin maju. Tahun 2010 ayahmu mencium bau keuntungan ketika mendengar perusahaanku bangkit. Tanpa merasa malu, dia datang dan membicarakan kerja sama denganku."


 


 


Pintu dibuka, Felix dan Shasha menoleh. Ada beberapa pelayan masuk. Mereka membawa banyak hidangan dan meletakkannya di meja.


 


 


 


 


Berlebihan memang, padahal hanya sarapan.


 


 


"Aku sangat suka dengan makanan. Bukankah menyenangkan rapat sambil makan?" Kalimat itu sering diucapkan Felix.


 


 


Melihat Shasha tidak mengambil satu pun makanan, Felix juga tiak tertarik makan sendirian. Dia hanya meminum jus jeruk.


 


 


"Tenang saja, aku tidak memasukkan racun ke makanan itu. Aku tidak mungkin meracuni makhluk hidup."


 


 


"Lalu kelinciku?!" Sambar Shasha.


 


 


"Ah? Iya, aku lupa."


 


 


Shasha mengepalkan tangannya kesal.


 


 


"Aku akan melanjutkannya kalau kamu tidak mau makan," kata Felix. Shasha menggeleng dengan tatapan kosong.


 


 


"Waktu itu, aku sudah mendengar tentangmu, jadi aku tahu... Adam memiliki dua orang anak, satu laki-laki, yaitu Svender, dan satu lagi perempuan, yaitu kamu. Iseng-iseng aku mencari tahu tentang kamu."


 


 


Mendengar itu Shasha langsung merasa takut. Dia mendongkak menatap Felix.


 


 


"Ternyata kamu cantik dan memiliki kharisma yang kuat. Aku menyukai gadis yang seperti itu. Aku sering melihat kamu keluar dari gerbang sekolah dan memperhatikan kamu dikejauhan."


 


 


Shasha menelan saliva. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


 


 


"Karena menyukaimu, seleraku juga berubah. Aku lebih menyukai gadis yang jauh lebih muda dariku."


 


 


"Kebetulan sekali Adam mengundangku ke rumahnya untuk makan malam bersama. Sebenarnya itu hanya cari muka saja, agar dia mudah membicarakan tentang kerja sama denganku." Berakhirnya kalimat itu, Felix tertawa sarkas.


 


 


"Ketika makan malam, aku tidak melihatmu. Hanya ada Sarah dan Sven yang makan malam bersama kami. Mungkin Adam tahu, aku menyukai gadis yang jauh lebih muda dariku, karena waktu itu aku memiliki kekasih yang masih SMA."


 


 


Shasha merasa jijik mendengarnya. Waktu itu Shasha masih SMP kelas 1.


 


 


"Selesai makan malam, Adam dan aku berbicara di ruang tamu. Dia mulai membicarakan tentang kerja sama."


 


 


"Karena aku masih kesal dengan sikapnya yang dulu, aku bilang, aku akan bekerja sama dengan satu syarat, jika dia mau memberikan putrinya untuk dijadikan istriku, aku akan memberikan salah satu perusahaanku yang sedang maju pesat. Dia terlihat kaget."


 


 


Bukan hanya Adam di masa lalu yang kaget, Shasha di masa sekarang juga terkejut mendengarnya.


 


 


Serendah itukah Felix?


 


 


"Dia marah dan menolak, dia mengataiku gila dan pedofil. Aku diusirnya. Mulailah permasalahan itu...."


 


 


Belum sempat Felix melanjutkan kalimatnya, terdengar suara berisik dari dalam.


 

__ADS_1


 


Pandangan Shasha dan Felix tertuju ke pintu. Ada suara Sven di dalam sana. Tampaknya dia sedang berkelahi dengan para bodyguard.


 


 


Shasha terbelalak, "Jangan sakiti kakakku!"


 


 


Felix memasang ekspresi berpikir, "Emm, akan aku pikirkan itu nanti. Sekarang kita lanjutkan saja."


 


 


"Tidak!" Shasha berdiri.


 


 


"Jangan melukai kakakku!"


 


 


Felix mendengus, "Baiklah. Aku akan memberitahu mereka."


 


 


Jadi, setelah bebicara dengan Juan di telepon, Sven mencari Shasha. Dia khawatir dengan keadaan adiknya.


 


 


"Aku mengerti. Aku akan menjalankan rencana sesuai dengan keadaan. Sekarang aku harus mencari Shasha, Pa." Ucap Sven pada Juan di seberang sana.


 


 


"Iya, aku akan bilang pada Givar. Kamu hati-hati, Sven."


 


 


"Iya."


 


 


Sven mengakhiri panggilannya. Dia mulai mencari Shasha.


 


 


"Kemana Shasha pergi, ya? Di mana tempat pertemuan mereka?" Sven mengusap kasar wajahnya.


 


 


Setiap ruangan yang tertutup dibukanya.


 


 


"Felix tidak mungkin melukai Shasha. Dia, kan, menyukai Shasha." Sven bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri.


 


 


Dia berpapasan dengan pasien perempuan yang melihatnya dengan tatapan terpesona. Sven terkejut dia segera berbalik arah.


 


 


"Svender!! Aku mencintaimu! Kenapa kamu pergi!" Wanita itu berlari mengejar Sven.


 


 


"Hell, dia mengejarku." Sven berlari. Namun, dia melihat ada beberapa pria berbadan besar menaiki tangga menuju ke atas diikuti beberapa pelayan yang membawa banyak makanan.


 


 


Sven mengernyit, mereka pergi ke atas? Bukankan di atas tidak ada lantai lagi, itu atap RSJ, kan? Mungkin Felix dan Shasha di sana.


 


 


Tanpa sadar, wanita itu berhasil mengejarnya. Dia memeluk Sven dari belakang membuat pria itu terkejut.


 


 


"Sven! Kenapa kamu pergi dari RSJ New York? Jadi, kamu di sini? Aku senang sekali akhirnya bertemu dengan kamu."


 


 


Sven mendengus, "Bagaimana bisa orang gila seperti kamu berada di sini?"


 


 


"Ini, kan, rumah sakit untuk orang sakit jiwa. Seharusnya aku yang nanya, kenapa orang yang tidak gila seperti kamu ada di sini?"


 


 


Sven terkesiap, "Emm...."


 


 


Wanita itu tertawa, "Kamu bodoh, ya? Aku memang gila, tapi tidak bodoh seperti kamu."


 


 


Sven melepaskan diri dari wanita itu. Dia berlari ke atap menyusul para bodyguard dan para pelayan itu.


 


 


"Sven! Jangan ninggalin aku lagi!!"


 


 


Sven melihat para bodyguard itu berdiri menjaga pintu. Dia menghampiri mereka. Melihat kedatangan Sven, mereka menghalangi pintu.


 


 


"Aku hanya ingin masuk. Tenang saja, aku tidak akan melukai 'bayi' yang kalian jaga itu."


 


 


Terjadi perkelahian.


 


 


Sementara itu,


 


 


Givar bergegas keluar dari rumah. Dia akan memasuki mobilnya, namun dia melihat mobil Amelia yang datang.


 


 


Kaca jendelanya turun. Terlihat Amelia menatapnya dengan penuh tanya.


 


 


"Mau ke RSJ?" Tanya Amelia.


 


 


Givar mengangguk cepat, "Iya, Felix udah nunjukkin muka dia di depan Shasha. Kemungkin akan ada perkelahian di antara pria. Lo gak perlu ikut, bahaya."


 


 


"Tapi, ada Sven di sana. Gimana kalo dia kenapa-napa? Gua harus ikut," gerutu Amelia.


 


 


"Jangan! Lo balik lagi aja," gerutu Givar sembari memasuki mobilnya.


 


 


Amelia mendengus. Dia memutarbalikkan mobilnya dan melaju lebih dulu ke tempat tujuan.


 


 


Melihat itu, Givar mendengus, "Ya ampun, tuh cewek gak bisa dibilangin. Udah tahu, sepupu baiknya ini lagi khawatir."


 


 


Givar melajukan mobilnya dengan earphone terpasang ke sebelah telinganya.


 


 


"Papa, aku udah di jalan."


 


 


"Papa akan mengurus jalanan agar tidak macet. Kamu lewati jalan biasanya saja."


 


 


"Hah? Apa? Ngurus jalanan biar gak macet? Emang bisa? Gimana caranya?"


 


 


"Kayak gak tahu aja."


 


 


Givar tampak berpikir.


 


 


~•o•~


 


 


16.56 : 28 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2