
~•o•~
_Racun maupun pisau\, itu sama-sama menyakitkan. Tinggal mengetahui\, mana yang paling lambat membunuh._
(Psikopat)
~•o•~
Givar dan Sven sedang berbincang di depan. Mereka tampak serius.
"Apa lo masih yakin, Felix yang melakukan ini?" Tanya Givar.
Sven tidak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang, "Memangnya kenapa? Lo ragu? Gua udah yakin banget dia pelakunya."
"Kalo lo salah orang?" Tanya Givar.
"Gak mungkin."
Givar tidak mau lagi mendebat kakak iparnya. Itu hanya akan membuat Sven kesal padanya.
"Gua udah denger dari Amelia soal petugas RSJ yang datang itu. Kenapa lo malah bilang begitu? Gimana kalo Shasha terbukti mengalami gangguan jiwa dan harus tinggal di RSJ?" Givar menatap kesal pada Sven.
"Ini gak akan jadi masalah. Apa Amelia sudah menceritakan rencana gua?" Jawab Sven diakhiri dengan pertanyaan.
"Enggak, emangnya lo punya rencana apa?" Tanya Givar.
Sven menepuk bahu Givar, "Gua tahu, lo gak masih ragu sama gua. Ya... gua ngerti, kok. Jadi, gua belum bisa bilang sama lo rencananya."
Setelah mengatakan itu, Sven berlalu pergi meninggalkan Givar yang masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.
Sven menghentikan langkahnya dan menoleh, "Rumah lo yang lama gak bakalan didatengin lagi, kan?"
Givar tampak berpikir, "Emm, gak tahu. Emangnya kenapa?"
Sven menaikkan kedua alisnya, "Enggak, cuma nanya doang."
Keesokan harinya,
Givar sudah berangkat ke kantor. Shasha berlalu ke halaman belakang. Dia ingin memberikan wortel untuk kedua kelincinya.
Namun, betapa terkejutnya dia melihat salah satu kelincinya tidak bergerak.
Shasha segera mengeluarkan kedua kelincinya dari dalam kandang.
Bunny yang sudah tidak bergerak dan tidak bernapas. Shasha menangis. Dia panik dan memeluk kelincinya itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba begini? Kemarin kamu baik-baik aja... siapa yang telah melakukan ini?" Tangisnya.
"Bunny, jangan tinggalin Snowy." Shasha mengusap kasar rambutnya.
Mulut Bunny berwarna hitam, menandakan jika kelinci itu telah memakan sesuatu yang mungkin saja beracun. Tapi, Shasha tidak pernah sembarangan memberikan makanan. Dia hanya memberikan wortel dan sayuran hijau yang disukai oleh kelincinya.
Shasha melihat ke sekeliling halaman. Dia melihat ada banyak sekali kelopak bunga mawar berwarna hitam yang bertebaran di sana.
"Orang itu lagi," geram Shasha.
Amelia datang dan terkejut melihat Shasha tampak sedih. Shasha menceritakan Bunny pada Amelia.
Shasha mengusap air matanya, "Meskipun aku pindah rumah, orang itu gak akan berhenti ganggu aku. Dia terus-menerus mengirimkan teror."
Amelia memeluk Shasha, "Bunny yang malang. Tapi, kamu tenang aja... dia pasti udah bahagia di alam sana. Kamu gak perlu khawatir."
"Tapi, Snowy sendirian." Shasha bergumam pelan.
"Kalo kamu mau, aku bakalan beli kelinci baru untuk kamu. Biar Snowy gak sendirian lagi."
Shasha menggeleng, "Snowy hanya akan bahagia bersama Bunny. Tidak boleh ada kelinci lain yang mendekatinya."
"Apa kamu tega melihat Snowy sendirian? Bagaimana jika Snowy sedih?"
Shasha terdiam.
"Besok aku bakalan beli beberapa ekor kelinci buat nemenin Snowy."
Tidak ada respon dari Shasha. Amelia melihat Shasha yang berada dalam pelukannya.
Ternyata dia tertidur.
Amelia terkekeh kecil.
~
Shasha mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Dia tersenyum sembari menatap pantulan dirinya lewat cermin.
Pernikahan, bukankah itu yang diinginkan oleh semua pasangan yang sudah siap untuk menikah?
Iya, termasuk Shasha.
Empat orang anak kecil dengan gaun yang sama mengantarkannya pada pengantin pria. Shasha menyipitkan matanya untuk melihat pria itu.
Itu bukan Givar. Shasha mulai merasa panik. Dia mengernyit.
Namun, ketika mereka saling berhadapan, jelas terlihat paras tampan itu, Refandi Glend.
Kedua mata Shasha melebar. Dia menggelengkan kepalanya. Refandi tersenyum dan menggenggam tangan Shasha.
"Aku mencintaimu, kita akan bersama dalam ikatan pernikahan."
Shasha menggeleng cepat sambil menarik kembali tangannya, "Maafin aku, Refandi... tapi, aku mencintai pria lain. Aku sudah menikah dan mencintai suamiku, Givarel Hardiswara."
Refandi terlihat sedih, "Kamu sudah menikah? Kamu ninggalin aku?"
Shasha tidak merespon.
"Kenapa kamu menikah dengan pria lain?!" Bentak Refandi.
Shasha menautkan alisnya, "Kamu bukan Refandi yang aku kenal, kamu orang lain. Refandi tidak pernah bicara keras padaku."
Refandi terlihat sedih, "Aku kecewa sama kamu."
Shasha menghela napas berat.
"Refandi," Shasha menyentuh bahu Refandi yang kemudian mendongkak menatapnya, "kita udah beda dunia... kamu udah tinggal di dunia kamu yang baru. Suatu hari nanti... aku juga pasti nyusul kamu... tapi, gak tahu kapan."
Refandi menggeleng sambil memegang kedua lengan Shasha, "Jangan bilang begitu... kamu gak boleh kemana-mana. Kamu harus hidup dan memiliki kebahagiaan."
Shasha tersenyum sendu. Tak terasa butiran bening itu menetes dari matanya.
Refandi mengusapnya, "Tidak boleh menangis. Setelah ketemu sama kamu hari ini, aku merasa tenang. Aku bisa pergi dengan damai."
"Refandi...."
__ADS_1
Refandi menyentuh bibir Shasha, "Untuk yang terakhir." Dia mendekatkan wajahnya.
Tiba-tiba kedua mata Shasha terbuka. Dia mengerjap sesaat.
Yang barusan hanyalah mimpi.
Shasha tersenyum, "Akhirnya kamu bisa pergi dengan damai... untuk semua yang pernah kita jalani, terima kasih, Refandi."
Shasha menatap ke sekeliling. Dia tidak melihat keberadaan Amelia. Dia mencari gadis itu ke setiap ruangan. Ternyata Amelia ada di depan rumah bersama Sven. Keduanya sedang berbicara sambil sesekali tertawa.
Shasha tersenyum melihat kedekatan kedua orang itu. Jarang sekali Shasha melihat senyuman kakaknya sejak beberapa tahun terakhir.
Amelia memiliki aura positif dan memberikan energi baik bagi orang yang berada di dekatnya, termasuk Shasha dan Sven.
Mereka memang cocok. Sven akan terus tersenyum jika Amelia terus berada di sisinya. Semoga saja, batin Shasha.
Tidak berniat mengganggu, Shasha berlalu ke dalam.
"Sven?" Panggil Amelia pelan.
"Hemm?" Sven merespon sembari menoleh pada Amelia.
Amelia menatap Sven, "Aku merasa khawatir. Kelinci milik Shasha pagi ini mati."
"Kenapa?"
Amelia kembali menatap lurus. Dia berkata, "Yang mati itu salah satu kelincinya, yang diberi nama Bunny. Aku takut terjadi sesuatu pada Givar. Bisa saja itu berupa pesan ancaman."
Sven tampak berpikir.
Amelia kembali bersuara, "Kelinci itu mati karena memakan kelopak bunga mawar hitam dan terdapat racun di kelopak bunga itu. Bukankah itu sangat jelas disegaja?"
"Benar juga. Aku akan menghubungi Givar."
Sven mengambil ponselnya. Dia mencari nomor Givar dari kontak di HP-nya.
Call...
"Ada apa, Sven?"
"Lo di kantor?" Tanya Sven.
"Iya, kenapa?"
Sven menoleh pada Amelia yang sedang memperhatikannya.
"Kayaknya orang itu belum mau berhenti ganggu kita, lo hati-hati, ya."
"Iya, gua tahu, kok."
"Oke."
Panggilan berakhir.
"Gimana?" Tanya Amelia.
"Dia kantor."
~
Givar sedang rapat bersama kliennya.
Selesai rapat, dia berniat untuk pulang ke rumah. Di perjalanan, dia terjebak macet. Jadi, Givar harus bersabar.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menamakan ada seseorang yang menelpon.
Diambilnya ponsel tersebut. Ternyata dari nomor yang tak dikenal. Tanpa mau pikir panjang, Givar mengangkatnya.
"Halo? Dengan siapa ini?"
"Bagaimana kabarmu, Bumantara Givarel?"
Givar mengernyit mendengar nama depannya disebut oleh orang asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Kamu siapa?"
"Sebentar lagi akan ada seseorang yang menghilang dari dunia ini. Kira-kira siapa, ya? Hemmm."
Givar terbelalak kaget mendengar itu, "Apa maksud kamu?! Jadi, kamu penjahat yang sesungguhnya?!"
"Siapa orang yang kamu pilih untuk mati? Ayah, ibu mertuamu, ayahmu, ibumu, dirimu... atau...."
"Jangan macam-macam!" Bentak Givar.
"Lihat ke arah kirimu."
Mendengar itu, Givar segera menoleh ke arah yang dimaksud oleh si penelepon. Terlihat mobil sport berwarna hijau di sana. Ada seseorang di dalamnya, namun tidak terlalu jelas, karena kaca mobilnya gelap.
Givar masih bisa sedikit melihat dan memastikan jika orang di dalam mobil tersebut sedang melihat ke arahnya.
"Itu kamu?" Tanya Givar.
"Bukan, dia kaki tanganku. Aku sedang sibuk di tempat lain. Kalau kamu menanyakan sesuatu, ikuti dia."
"Dasar pengecut! Seharusnya kamu menemuiku secara langsung, jika kamu seorang pemberani."
"Hahaha, aku ingin sekali menemuimu. Tapi, tidak sekarang."
"Sebenarnya apa maumu?"
"Aku? Aku hanya ingin kalian tahu... apa itu gila dan apa itu marah!"
Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh si penelepon sebelum orang itu mengakhiri panggilannya.
"Shit!"
Givar mengikuti kemana mobil hijau itu pergi. Setelah melewati lautan kendaraan, akhirnya Givar bisa menemukan jalanan yang lumayan lenggang.
Givar tidak berhenti mengikuti mobil itu. Rasa penasaran mengganggu pikirannya. Sekilas dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Ponselnya berdering lagi. Ketika dilihat, itu adalah telepon dari Sven.
Sebenarnya dia malas mengangkat panggilan dari kakak iparnya itu. Namun, dia memilih mengangkatnya.
"Ada apa lagi?"
__ADS_1
"Lo di mana?"
"Gua lagi ngikutin kaki tangannya orang itu. Barusan dia nelpon gua."
"Hah?! Jangan diikuti... orang itu hanya ingin mengelabui. Cepetan balik ke rumah!"
"Gak ada kesempatan lain! Gua harus dapetin orangnya sekarang!"
"Givar! Itu jebakan!"
"Thanks, kemaren-kemaren lo udah berjuang buat kita semua. Sekarang giliran gua."
"Ini beda lagi ceritanya! Jangan keluar dari dalam mobil, sebelum gua ke sana!"
Givar memutuskan panggilan secara sepihak. Dia masih melajukan mobilnya. Entah kenapa, mobil itu tidak kunjung berhenti. Seolah sengaja ingin mengajak Givar ke tempat yang jauh.
"Apa maunya orang itu?"
Setelah setengah jam, akhirnya mobil hijau itu menepi di dekat jembatan.
Givar melihat keluar jendela mobil. Di bawah jembatan itu adalah lautan.
Orang dari mobil itu keluar dan menggerakkan tangannya, menyuruh Givar keluar dari mobil.
Orang itu berperawakan tinggi dengan rambut pirang berkacamata hitam. Tampaknya dia adalah pria asing.
Givar mengingat ucapan Sven, agar dirinya tidak keluar dari mobil, sebelum kakak iparnya itu datang.
Merasa tidak mendapatkan respon, pria itu bersandar pada mobilnya sambil menunjukkan jari tengah pada Givar.
Givar tidak terpengaruh. Dia melihat jam tangannya. Jika dalam 5 menit Sven tidak datang, dia akan keluar dan menemui orang itu.
"Ini akan lama," gumam orang itu sambil menyalakan rokok dan menyesapnya.
Lima menit sudah berlalu, akhirnya Givar keluar dari mobilnya. Dia melangkah untuk menghampiri pria itu.
Namun,
"Givar!"
Mendengar namanya dipanggil, Givar menoleh, ternyata Sven berlari ke arahnya.
"Jangan ke sana!" Teriak Sven. Givar berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Givar!"
Pria asing itu membuka pintu mobilnya dan membawa seseorang yang terikat dari dalam.
Kedua mata Givar membelalak, itu Zed. Mulutnya tertutup lakban hitam.
"Lepaskan dia, brengsek!" Bentak Givar sembari berjalan mendekat.
Tangan kekar Sven menarik bagian belakang jas Givar membuatnya menoleh.
"Lepasin gua! Dia orang kepercayaan gua! Dia yang bantu gua selama ini!" Bentak Givar.
"Lo gak bisa kesana! Berbahaya!"
Givar menepis tangan Sven, "Gua harus kesana!"
Pria asing itu bersuara, "Hei, kalian... biar kuberi tahu. Orang ini sudah mendapatkan semua informasi. Dia masuk ke markas dengan menyamar dan mengambil barang bukti. Kalo kalian mau dia, ambil sini."
Givar mengepalkan tangannya geram. Dia melangkah semakin dekat, tinggal 6 meter lagi.
Sven melihat ke mobil hijau itu. Perasaannya tidak baik. Dia menarik lengan Givar.
Dan....
Druagggssshhhh!!!
Tiba-tiba mobil hijau itu meledak dan terlempar. Karena ledakannya cukup besar, tubuh Givar dan Sven sampai terbanting ke mobil Givar.
Sementara Orang asing itu terlempar ke laut bersama Zed dan mobil hijau tersebut.
Givar terbelalak melihat ledakkan itu dengan mata kepalanya sendiri. Kedua matanya bergetar.
"Zed...."
Sven meringis pelan. Dia menyentuh bagian belakang kepalanya yang terbentur bagian depan mobil.
~
Polisi dan beberapa aparat lainnya datang ke lokasi. Mereka mengangkat mobil dan membawa dua jenazah itu dari dalam laut.
Sementara Givar bersandar di bagian belakang mobilnya sembari menatap kosong. Sven tidak berniat mengeluarkan suaranya. Dia mengerti dengan suasana hati Givar. Sehingga dia memilih diam.
Polisi yang sama yang waktu itu mengintrogasi tersangka yang tidak bisa bicara, melangkah menghampiri kedua pria itu.
"Kalian ada di lokasi ketika ledakan ini terjadi. Kami harus membawa kalian ke kantor," ucapnya.
Givar mendecih kemudian berlalu memasuki mobilnya. Sven menyusul Givar.
"Ikut kami dengan baik-baik, atau kami akan melakukan dengan cara lain," ucap polisi itu.
"Akan aku urus nanti," kata Sven sebelum masuk ke dalam mobil.
Melihat Givar yang duduk di kursi sebelah, maka Sven duduk di kursi kemudi. Dia melajukan mobilnya menuju rumah Givar.
"Gua ngerasa bersalah sama Zed." Givar bersuara setelah melewati beberapa kesunyian.
Sven menoleh sesaat sebelum kembali fokus ke jalan raya.
"Kayaknya bukan Felix. Tadi... orang itu menelpon. Gua tahu suara Felix itu seperti apa. Dan... yang ini berbeda."
Sven membantah, "Itu bisa saja orang lain yang disuruh menelepon oleh Felix. Atau... bisa saja si Felix itu menggunakan efek suara. Zaman sekarang apa, sih, yang gak bisa?"
Givar memutar bola matanya, "Lo dateng ke sini pake apa? Terus lo bisa tahu lokasi gua dari mana?"
"Kartu HP lo gak di lepas, jadi gua nyari lokasi dengan bantuan orang-orang gua. Terus gua dateng ke sini naik helikopter Tuan besar Hardiswara," jawab Givar.
Givar memutar bola matanya, "Jadi... lo sampe harus ngehubungin Papa gua?"
Sven hanya mengangguk, "Ya... secara, kan... di udara gak macet. Makanya gua nyampenya juga cepet. Lagian Papa lo gak keberatan, kok. Namanya orang tua, ya... cemas, lah."
~•o•~
17.26 : 28 Oktober 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1