GRAPPLE

GRAPPLE
Battle Over


__ADS_3

 


 


~•o•~


 


 


_Luka yang kamu rasakan sekarang adalah luka yang pernah kurasakan dulu._


 


 


~•o•~


 


 


Air mata Shasha menetes membasahi pipinya. Dia menangis. Shasha melelapkan wajahnya ke kedua tangannya yang terlipat di atas meja.


 


 


Dia menangis sejadi-jadinya.


 


 


Felix yang melihat Shasha menangis, tidak berniat melakukan apa pun. Dia hanya memperhatikan Shasha.


 


 


Kakak....


Kakak maafkan aku.


 


 


Selama ini aku salah menilaimu.


Kakak yang selama ini melindungiku darinya. Kakak yang jauh lebih peduli bahkan dibandingkan Papa.


 


 


Kakak, aku minta maaf.


 


 


Aku telah salah paham. Maafkan aku.


 


 


Jika saja waktu itu kakak menceritakannya, maka aku tidak akan bersikap seperti ini. Aku pasti bakalan bantuin kakak sebisaku.


 


 


Shasha menangis tanpa suara, karena suaranya sudah habis.


 


 


"Shaquellin," tegur Felix.


 


 


Shasha tidak menjawab. Wanita itu masih menangis.


 


 


"Bunga mawar hitam itu adalah simbol dari perasaanku. Selain itu, nama kamu Shaquellin yang artinya kelopak bunga mawar."


 


 


Tidak ada respon dari Shasha.


 


 


Tiba-tiba Shasha mendongkak menatap tajam ke arah Felix. Kedua matanya yang sembab bergetar menandakan jika dia sedang marah.


 


 


Felix memberikan pertanyaan, "Bagaimana perasaanmu setelah menjadi orang yang memiliki gangguan jiwa? Bukan hanya mentalmu, tapi juga harga diri dan karirmu harus berakhir. Itulah yang aku rasakan."


 


 


Shasha tidak menanggapi. Dia masih menatap tajam pada Felix.


 


 


"Itu yang aku rasakan. Sekarang kita sama. Sama-sama pernah merasakan luka, sama-sama gila, dan sama-sama berakhir."


 


 


Tanpa diduga, Shasha berdiri dan mendorong meja hingga semua makanan di atas meja berhamburan ke lantai.


 


 


Felix sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shasha. Wanita itu tidak terlihat seperti Shasha. Dia terlihat seperti iblis cantik yang siap menghunus pedangnya kapan saja.


 


 


Dia menunjukkan senyuman yang sinis yang menusuk, "Bagaimanapun alasannya, kamu tidak bisa menghabisi nyawa orang seperti mematahkan lidi! Meskipun posisi kamu sebagai korban, kamu juga bersalah karena melukai orang lain."


 


 


Felix mendecih.


 


 


"Tidak ada alasan untuk membunuh nyawa orang, sekalipun orang yang kamu bunuh itu berdosa!" Teriak Shasha.


 


 


Pintu loteng terbuka. Masuklah Sven dengan sedikit memar di pipi dan dahinya. Dia melihat Shasha dan Felix bergantian.


 


 


"Kamu ingin aku menjadi orang gila, kan? Kamu mau tahu seperti apa orang gila ketika berhadapan dengan orang seperti kamu? Orang gila itu kebal dengan hukum!" Shasha mencakar wajah Felix.


 


 


Sven terbelalak. Dia berlari untuk menjauhkan Shasha dari Felix, atau Felix akan melukainya.


 


 


"Orang gila tidak akan masuk penjara! Tidak akan! Sekarang apa kau masih bisa tersenyum?!!" Shasha mengamuk.


 


 


Sven menarik tubuh adiknya, "Berhenti, Sha! Jangan mengotori tangan kamu, biar aku yang mengurus orang gila ini."


 


 


Felix tertawa sambil bangkit dan menatap kedua kakak beradik itu. Ada luka cakaran di wajahnya.


 


 


"Aku orang gila?! Hahaha, dasar tidak bercermin! Kamu juga gila, Svender! Kamu juga Shaquellin!" Felix tertawa seperti orang gila sambil menunjuk pada Shasha dan Sven.


 


 


Ada helikopter menghampiri Felix.


 


 


"Sampai jumpa, aku akan pergi ke tempat lain. Setelah ini, kalian tidak akan menemukanku lagi," kata Felix sambil melakukan flying kiss.


 


 


Shasha bergidik jijik.


 


 


Sebelum pria itu menaiki helikopternya, tiba-tiba helikopter itu meledak karena sebuah tembakkan.


 


 


Felix terlempar cukup jauh.


 


 


Shasha terkejut, dia menoleh pada kakaknya yang ternyata memegang pistol.


 


 


Sven yang menembak helikopter milik Felix.


 


 


Felix bangkit dengan darah yang mengalir dari telingaya. Sven menautkan alisnya.


 


 


"Orang gila itu kebal hukum. Palingan aku cuma di isolasi," ucap Sven.


 


 


Shasha tersenyum sendu, karena Sven menirukan gaya bicaranya. Dia tetaplah kakaknya yang sangat mencintainya.


 


 


"Terserah, kamu pikir... aku punya satu kendaraan?" Tanya Felix. Dia mundur ke unjung atap.


 


 


Sven menautkan alisnya.


 


 


Felix mundur dan jatuh ke bawah. Shasha terbelalak. Sven berlari ke sana dan melihat apa yang terjadi, ternyata Felix jatuh ke balon besar di bawah.


 


 


"Shit, aku tidak akan membiarkannya lari kali ini!" Geram Sven kemudian berlalu, namun Shasha menggenggam tangannya.


 


 


"Jangan... aku sudah kehilangan Refandi dan papa. Aku gak mau kehilangan kamu juga," kata Shasha.


 


 


Sven menangkup wajah adiknya, "Jika kamu harus kehilangan seseorang yang berharga, maka itu adalah aku. Dan ini yang terakhir kamu kehilangan. Setelah ini, kamu akan bahagia."


 


 


Shasha menggeleng, "Aku tidak mau kehilangan kamu! Kamu kakakku!"


 


 


Sven tersenyum. Dia mengusap rambut adiknya kemudian bergegas pergi. Shasha menyusulnya.


 


 


Sementara itu, dengan sempoyongan, Felix memasuki mobilnya.


 


 


"Damn! Kenapa orang gila itu benar-benar gila!" Felix kesusahan memasukkan kunci mobilnya.


 


 


Sven mengambil kunci mobil dari kamar Shasha kemudian memasuki mobilnya. Dia melihat mobil Felix keluar dari area RSJ.


 


 


Dengan segera, Sven melajukan mobilnya menyusul Felix.


 


 


Sementara Amelia dan Givar baru tiba.


 


 

__ADS_1


Amelia melihat mobil Felix dan Sven yang melaju ke arah lain.


 


 


Givar melihat Shasha yang berlari ke arahnya. Ketika Givar akan keluar dari dalam mobil, Shasha malah masuk.


 


 


"Ikuti Sven! Ikuti! Aku takut dia kenapa-napa."


 


 


Givar mengangguk.


 


 


Amelia melajukan mobilnya dengan segera. Dia menyusul mobil yang dikendarai oleh Sven.


 


 


Givar menyusul di belakang.


 


 


"Kamu benar! Orang sialan itu Felix! Aku tidak akan memaafkannya," gerutu Shasha.


 


 


Sesaat Givar menoleh pada istrinya lalu kembali fokus ke jalanan.


 


 


Sementara Amelia terlihat khawatir. Dia mempercepat laju mobilnya.


 


 


"Kenapa perasaanku tidak enak. Please Sven, don't make me down again."


 


 


Sementara Felix di jajaran paling depan menoleh ke spion, dia baru menyadari keberadaan mobil Sven yang menyusulnya.


 


 


Sven menginjak gas dan menabrakkan bagian depan mobilnya ke belakang mobil Felix.


 


 


"Jangan meremehkan orang yang memiliki gangguan jiwa, kamu sendiri yang membuatku seperti ini, cihh."


 


 


Felix tersentak ke depan. Dia segera memasang seatbelt.


 


 


Sven mendecih, dia kembali menginjak gas dan dengan sengaja dan berulang-ulang menabrak mobil Felix.


 


 


"Ini untuk mama!" Teriak Sven.


 


 


Felix mempercepat laju mobilnya yang sudah ringsek bagian belakangnya.


 


 


Sven mengejar. Kali ini mobil mereka bersebelahan. Felix menoleh dengan ekspresi terkejut. Sven menatapnya dengan tajam dan penuh kemarahan.


 


 


Sven menabrakkan mobilnya ke bagian samping mobil Felix membuat mobil milik Felix itu terpojok ke pagar beton yang ada di sepanjang jalanan.


 


 


"Arrgghh, shit!" Felix mengumpat.


 


 


Sven berdecak pelan, "Ini untuk papa!"


 


 


Felix melihat ke depan. Kedua matanya terbelalak ketika pagar beton mulai jarang dan habis.


 


 


Felix ingat, dia pernah menyuruh orang untuk melakukan hal yang sama pada Adam waktu itu. Kali ini dia mengalaminya juga, dan pelakunya adalah Sven.


 


 


Dengan segera, Felix memojokkan balik mobil Sven. Sven sedikit terpengaruh dan agak kewalahan. Namun, tidak berselang lama. Sven menginjak rem dan mobil Felix berbenturan dengan pagar beton di sebelah kanan jalan. Sampai-sampai mobilnya makin ringsek.


 


 


Sven mendecih, "Aku memang gila, tapi tidak bodoh sepertimu! Itu untuk Refandi."


 


 


Dalam kesempatan itu, Felix menginjak gas. Darah dari dahinya sudah tidak dihiraukannya lagi.


 


 


Mobilnya terhenti ketika semua jalan di depannya di tutup. Felix tidak melihat celah sedikit pun untuk lari. Blokade jalan atas perintah Juan Hardiswara itu berhasil.


 


 


Felix memukul setir ketika beberapa polisi dan angkatan darat keluar dari persembunyian mereka. Semuanya membawa senjata yang ditodongkan padanya.


 


 


Apa-apa ini?! Teriak Felix dalam hati.


 


 


 


 


Ini untuk Claretta, ***! Sven berteriak dalam hati terdalamnya.


 


 


Dalam hitungan detik, mobil Sven menabrak mobil Felix hingga kedua mobil Felix terseret menabrak tiang papan iklan. Semua orang yang berada di sana menyaksikan itu secara langsung.


 


 


Felix sudah tidak berdaya, darah di mana-mana. Luka di tubuhnya diakibatkan oleh pecahan kaca mobilnya.


 


 


Mau pergi ke tempat lain? Neraka adalah pilihanku untukmu. Jadi, kami tidak akan bertemu lagi denganmu.


 


 


Beberapa polisi dan aparat lainnya menghampiri kedua mobil yang sudah setengah hancur itu. Mereka melihat Felix yang sudah tidak bernyawa dalam keadaan dipenuhi darah.


 


 


Amelia telah tiba. Dia memarkirkan mobil dengan asal dan berlari menghampiri mobil Sven.


 


 


"Maaf, Nona. Anda tidak boleh ada di sini," ujar salah satu petugas.


 


 


Amelia menangis melihat keadaan mobil Sven yang sebegitu parahnya. Bagaimana dengan keadaan Sven di dalam sana?


 


 


"Pak polisi, kumohon. Aku ingin melihat keadaan kekasihku," tangis Amelia yang mengaku sebagai kekasihnya Sven.


 


 


Merasa kasihan, polisi itu membuka pintu mobil Sven. Kedua mata Amelia membelalak ketika pintu itu sudah terbuka.


 


 


Ada darah di dalam mobil itu, tapi dia tidak melihat keberadaan Sven.


 


 


Sepertinya pria itu segera keluar ketika mobil Felix mulai mengeluarkan asap.


 


 


Givar dan Shasha menghampirinya. Tidak melihat keberadaan kakaknya, Shasha mulai menangis histeris.


 


 


"Sven!" Amelia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia berlari mencari keberadaan Sven.


 


 


Sven pasti belum jauh dari sini. Aku mohon, Sven... jangan seperti ini. Aku belum menyatakan perasaanku padamu, Sven.


 


 


Sven, aku mencintai kamu.


 


 


~


 


 


Kedua mata Sven terbuka. Dia berdiri di atas pagar jembatan di mana ada laut yang luas di bawah jembatan tersebut.


 


 


Namaku Svender, artinya badai dan guntur.


 


 


Penderitaan kalian sudah berakhir, jika badai dan Guntur ini berlalu. Aku penjahat dan pembunuh. Aku sudah seperti seorang psikopat yang tidak pantas berada di sisi kalian. Kalian harus bahagia tanpa aku.


 


 


Tugasku sudah selesai....


 


 


Aku akan menyusulmu, Clary. Kita akan bahagia di surga.


 


 


Pria itu merentangkan kedua tangannya dan siap melompat.


 


 


"Svender!!!!!" Teriakan Amelia membuat Sven menoleh. Wanita itu berlari ke arahnya.


 


 


"Jangan melompat, atau aku akan membunuhmu!" Bentak Amelia.


 


 


Sven tertawa kecil, "Ancaman macam apa itu?"


 


 


Amelia menarik tangan Sven agar turun dari pagar jembatan. Pria itu menurut.


 

__ADS_1


 


Amelia memeluknya dengan erat, "Aku hampir gila karena tidak menemukan kamu di mobil itu."


 


 


Sven tersenyum sambil membalas pelukan Amelia, "Kamu takut aku mati?"


 


 


Amelia melepaskan pelukannya kemudian menatap kesal pada Sven, "Tentu saja!"


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Karena aku mencintai kamu."


 


 


Sven terkejut, "A-apa?"


 


 


Amelia mengecup bibir Sven sesaat membuat pria itu semakin terkejut.


 


 


"Aku mencitai kamu, apa kamu gak denger?" Tanya Amelia.


 


 


"Aku... aku mendengarnya."


 


 


Amelia tersenyum dengan pipi yang sudah memerah karena malu.


 


 


Sven mengusap rambut Amelia, "Aku juga cinta sama kamu, tapi... aku bukan orang yang pantas untuk dicintai. Kamu mencintai orang yang salah."


 


 


"Itu tidak benar! Aku sungguh-cinta sama kamu."


 


 


"Aku pembunuh. Siapa yang mau menerima orang sepertiku?"


 


 


"Aku! Aku! Aku akan menerima kamu."


 


 


Sven tersenyum.


 


 


Pria itu mendekatkan wajahnya. Amelia menutup kedua matanya. Kecupan hangat itu mendarat di bibirnya.


 


 


Maaf, Claretta... sepertinya aku belum bisa menyusul kamu.


 


 


Tanpa mereka sadari, ciuman itu diperhatikan oleh Givar dan Shasha.


 


 


"Apa-apaan mereka berciuman begitu di depan umum!" Gerutu Givar, bikin ngiri aja, sambungnya dalam hati.


 


 


Shasha menangkup wajahnya sendiri melihat keromantisan kakaknya dengan Amelia.


 


 


"Aaahhh, mereka manis sekali." Shasha menggelinjang senang.


 


 


Merasakan kehadiran orang lain, Sven dan Amelia mengakhiri ciuman mereka. Keduanya menoleh pada Givar dan Shasha.


 


 


Mereka berdua tersenyum. Sven menggerakkan tangannya pada Shasha agar mendekat. Wanita itu berlari menghampiri Amelia dan kakaknya.


 


 


Sven memeluk Shasha.


 


 


"Kakak, aku sayang sama Kakak."


 


 


Kedua alis Sven terangkat. Setelah sekian lama, Shasha memanggilnya 'kakak' lagi.


 


 


"Kakak juga sayang sama Shasha."


 


 


Sven mengeratkan pelukannya. Dia menarik Amelia agar berpelukan bersama. Dengan senang hati, Amelia merangkul Shasha juga.


 


 


Givar menghampiri mereka dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.


 


 


"Kumohon... jangan berpelukan seperti ini di depan umum. Bagaimana jika ada reporter dan malah memotret kalian dalam keadaan seperti itu? Nanti malah jadi berita di TV. Ini memalukan." Givar menggerutu kesal.


 


 


"Baguslah, nanti acara TV jadi lebih bagus, kan?" Ucap Sven.


 


 


"Tapi... aaawwww." Givar tidak jadi melanjutkan kata-katanya, karena kedua wanita yang disayanginya menarik tubuhnya agar ikut bergabung dalam pelukan hangat.


 


 


Alhasil mereka berempat berpelukan.


 


 


"Oke, ini karena kalian yang meminta," ucap Givar sambil memeluk mereka.


 


 


"Hangatnya pelukan keluarga," gumam Sven.


 


 


"Emmm... jadi... kapan ini berakhir?"


 


 


~


 


 


Setelah semua kasus yang terjadi, Sven dinyatakan bersalah karena telah menghabisi nyawa Felix Donovan. Dia akan dimasukkan ke dalam penjara dan dituntut dengan hukuman yang berlaku.


 


 


Namun, Amelia menjelaskan, kalau Sven mengalami gangguan jiwa dan harus diisolasi, bukan dimasukkan ke penjara.


 


 


Dengan berbagai bukti, akhirnya Sven dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan dia harus diisolasi.


 


 


Memangnya, iya?


 


 


Tidak, Juan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dia mengeluarkan Sven dari RSJ dan membuatnya kembali ke kehidupan normal.


 


 


Sven merasa bahagia karena ada Amelia di sampingnya. Wanita itu akan selalu bersama Sven. Pria itu juga berjanji akan selalu menjaganya.


 


 


Lalu bagaimana dengan keadaan Sarah? Sekarang Sarah bisa merasa lebih baik. Perasaannya tidak lagi terbebani. Dia bahagia bisa melihat anak-anaknya bisa hidup tenang. Akhirnya dia kembali bekerja di perusahaan.


 


 


Begitupun dengan Yelma dan Juan juga merasa bahagia, mereka ingin Shasha dan Givar segera memberikan cucu.


 


 


Sementara itu, Givar dan Shasha kembali ke rumah lama mereka dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Keluarga Javier menyambut mereka dengan baik.


 


 


Shasha sangat merindukan rumah itu setelah sekian lama meninggalkannya, namun tetap saja tampak rapi dan bersih. Selalu ada pelayan dan tukang kebun yang datang setiap minggunya.


 


 


Shasha melihat bingkai foto pernikahannya yang besar itu. Namun, kedua matanya tertuju pada pintu rahasia di dekatnya. Ternyata ada ruangan rahasia di sana.


 


 


Karena penasaran, Shasha menarik handle pintu yang berbentuk seperti batu hiasan dinding.


 


 


Tidak bisa dibuka.


 


 


Dia memberitahukannya pada Givar. Pria itu juga tidak bisa membukanya. Dia menyuruh tukang kebun untuk membuka paksa pintu rahasia yang baru mereka sadari keberadaannya itu setelah sekian lama tinggal di sana.


 


 


Setelah dibuka, mereka terlonjak kaget melihat ada beberapa tubuh manusia yang duduk dan memperlihatkan ekspresi ketakutan luar biasa di wajah mereka.


 


 


Orang-orang itu ditemukan sudah tidak bernyawa dengan bau busuk di mana-mana.


 


 


"Siapa yang meletakkan mereka di sini?" Tanya Givar seolah bertanya pada dirinya sendiri.


 


 


"Sepetinya mereka mati dalam keadaan ketakutan," gumam Shasha.


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


18.30 : 29 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2