GRAPPLE

GRAPPLE
Bribery


__ADS_3

 


 


 


 


~•o•~


 


 


_Dompet tebal\, mulut tersumpal._


 


 


~•o•~


 


 


Givar dan Shasha tengah memperhatikan para pekerja yang sedang memotong pohon menggunakan gergaji mesin.


 


 


Givar dan Shasha berharap, semoga tidak ada lagi yang masuk ke halaman belakang dengan memanjat pohon itu lalu melompati benteng.


 


 


Givar merangkul istrinya.


 


 


"Aku takut sendirian di rumah, aku ke rumah Sven, boleh?" Tanya Shasha. Givar mengangguk, "Iya, aku lebih tenang kalo kamu sama dia."


 


 


Shasha mengangguk.


 


 


Givar mengantarkan Shasha ke rumah Sven, "Gua nitip Shasha, ya. Nanti gua pulang ke sini. Ke kantor cuma sampe jam 1 siang."


 


 


Sven mengangguk, "Iya."


 


 


Givar tidak memberitahu keluarganya maupun keluarga Shasha. Dia tidak ingin membuat mereka cemas. Givar yakin, dia bisa mengatasi semuanya dengan baik.


 


 


Orang-orang kepercayaannya dan orang-orang suruhan Sven bisa diandalkan dengan baik.


 


 


Sementara itu di kantor polisi....


 


 


Seorang polisi duduk berhadapan dengan pria itu. Beberapa polisi berdiri tegak di setiap sudut ruangan itu untuk mengawasinya.


 


 


Pria itu hanya duduk dan tidak banyak bergerak. Kepalanya tertunduk dalam, berbeda dengan kemarin yang terus-menerus mengamuk.


 


 


"Tulis sesuatu," kata polisi di depannya sembari memberikan selembar kertas dengan bolpoin.


 


 


Di luar dugaan, pria itu menerimanya dan menuliskan sesuatu. Beberapa polisi yang ada di sana memperhatikannya serius.


 


 


Polisi yang duduk di depan pria itu tampak menunggu dengan ekspresi harap-harap cemas.


 


 


Terdengar suara ketukan sepatu pantofel yang beradu dengan lantai. Langkah itu menuju ke ruangan dimana para polisi dan pria itu berada.


 


 


Pandangan para polisi tertuju pada seseorang berjas biru gelap yang memasuki ruangan tersebut diikuti oleh dua orang polisi dengan seragam yang berbeda.


 


 


"Selamat siang," sapa pria itu. Mendengar suara pria itu, orang yang menyusup ke rumah Givar menoleh padanya. Dia segera bertekuk lutut di depan pria itu sembari menangis tanpa suara.


 


 


Namun, malang sekali, tangisan orang itu sama sekali tidak dipedulikannya.


 


 


"Pak polisi, aku ingin sedikit berbicang," ucap pria itu pada polisi yang sedang duduk. Polisi itu mengangguk untuk meresponnya.


 


 


Kedua iris mata berwarna abu-abu itu teralihkan pada selembar kertas di meja. Dia mengambil kertas tersebut lalu merobeknya sampai menjadi potongan kecil dan membuangnya ke tempat sampah.


 


 


Para polisi di ruangan itu saling pandang.


 


 


"Kita bisa bicara di ruangan lain? Ini, kan, tempat menginterogasi orang yang berbuat jahat. Aku ini orang baik."


 


 


Semua polisi keluar dari dalam ruangan menyusul pria itu dan meninggalkan orang yang masih menangis itu sendirian di sana.


 


 


Di rumah Sven,


 


 


Shasha memasak makanan, sementara Sven menonton TV. Givar memberikan TV di rumahnya untuk Sven. Itu karena Givar merasa kasihan melihat Sven yang kesepian tinggal sendirian. Dan Givar membeli TV baru untuk Shasha.


 


 


Selesai memasak, Shasha memberitahu kakaknya, "Sven, makan siangnya udah mateng, nih."


 


 


"Bentar, nungguin suami kamu aja," kata Sven yang tampaknya asyik menonton film action di TV.


 


 


Ketika Shasha akan mendekat, Sven mengibaskan tangannya, "Jangan liat, ini bukan untuk anak kecil. Anak di bawah umur nonton yang lain aja."


 


 


Shasha cemberut.


 


 


"Kamu lagi nonton blue film, ya?" Tanya Shasha menyelidik. Sven terperanjat, "Bukan, sana, sana kamu duduk aja di sana."


 


 


Shasha berlalu sembari menghentakkan kakinya dan duduk di sofa. Melihat adiknya yang sedang kesal, Sven terkekeh.


 


 


"Mau cemilan? Tuh, ngambil di kulkas."


 


 


Shasha mendengus dan berlalu ke dapur. Dia membuka lemari es. Banyak sekali cemilan di dalam sana. Shasha kembali duduk di sofa dengan makanan yang banyak di dalam pelukannya.


 


 


Sven menoleh, "Kok, banyak banget ngambilnya?"


 


 


Shasha menjulurkan lidahnya, "Biarin! Aku, kan, anak kecil di bawah umur... jadi, aku butuh banyak makanan buat proses pertumbuhan. Orang dewasa nonton aja, jangan ganggu."


 


 


"Aku lagi irit, tahu!" Sven menggerutu kesal. Shasha mencibir, "Pelit!"


 


 


Wanita itu melelapkan tubuhnya ke sofa sembari membuka cemilannya.


 


 


Sven cemberut dan melanjutkan menonton TV. Tak lama kemudian, Shasha tertidur.


 


 


"Kita dalam bahaya... pembunuhnya semakin dekat!" Tokoh utama dalam film tengah bersembunyi di balik dinding.


 


 


Sven memperhatikannya dengan serius.


 


 


"Kamu bersembunyi di mana?!" Teriak si pembunuh. Tokoh utamanya berusaha untuk diam dalam ketakutan.


 


 


Di saat serius menonton TV, Sven melihat Givar kembali dari kantor. Dia memasuki rumah kakak iparnya dan lewat di depan Sven menghalanginya yang sedang penasaran dengan film tersebut.


 


 


Givar kembali lewat di depan Sven dan membuatnya kesal.


 


 


"Lewatnya muter ke belakang, kek." Sven menggerutu. Bukannya merasa bersalah, Givar malah kembali lewat ke depan Sven sambil tertawa jahil.


 


 


"Dasar, gak inget umur, masih aja kayak anak kecil."


 

__ADS_1


 


Givar melihat Shasha yang tertidur di sofa. Pria itu menghampiri istrinya. Tangan Shasha berada di dalam kemasan snack.


 


 


Givar terkekeh, "Dia tertidur sambil makan snack?"


 


 


Sven menoleh, "Iya, udah lama dia tidur."


 


 


Givar menarik tangan Shasha dari dalam kemasan snack. Bumbu-bumbu penyedap berwarna kuning yang gurih itu menempel di jemari Shasha yang lentik.


 


 


Terbesit ide jahil di kepala Givar. Dengan senyuman lebar, Givar melahap jari-jari Shasha. Merasa sesuatu yang basah dan hangat di tangannya, Shasha terbangun dan melihat suaminya sedang memakan jari tangannya.


 


 


Shasha terkejut, "Jangan dimakan jari aku!"


 


 


Givar tersenyum geli tanpa mau berhenti melumat jari-jari istrinya.


 


 


Melihat kemesraan kedua orang itu, Sven memutar bola matanya malas. Amelia datang dengan senyuman ceria.


 


 


"Halo, semuanya?!"


 


 


Ketiga orang itu menoleh. Amelia melihat jemari tangan Shasha berada di dalam mulut Givar. Merasa diperhatikan seperti itu, Shasha segera menarik tangannya.


 


 


~


 


 


Ruang makan di rumah Sven....


 


 


Terlihat empat orang itu tengah menikmati makan siang.


 


 


"Oh, ya... hari ini aku mau ke kantor polisi untuk melihat kemajuan apa yang mereka dapatkan," ujar Givar sembari mengambil tisu dan mengelap mulutnya.


 


 


"Gua ikut," kata Sven yang kemudian meneguk habis air dalam gelasnya.


 


 


"Kalian gapapa ditinggal sendirian?" Tanya Givar dengan pandangan tertuju pada Shasha dan Amelia.


 


 


"Kita berdua, aku sama Amel, lah." Shasha yang mejawab.


 


 


"Kalo ada apa-apa, telepon aja, ya," ucap Givar sambil mengisyaratkan dengan tangannya.


 


 


Seperti anak kecil yang penurut, Shasha dan Amelia mengangguk berbarengan.


 


 


"Kalo ada apa-apa, teriak aja, tetangga pasti datang," ujar Sven menambahkan.


 


 


Kedua pria itu berlalu.


 


 


Sesampainya di kantor polisi, Givar dan Sven tampak bingung melihat mobil ambulans yang keluar dari area kantor polisi.


 


 


"Kenapa ada ambulans?" Gumam Givar. Sven yang mendengar Givar bergumam menoleh pada pria itu, "Mungkin ada salah seorang narapidana yang sakit."


 


 


Tanpa mau berpikir panjang, Givar dan Sven menemui polisi yang kemarin.


 


 


"Bagaimana, Pak polisi, apa sudah ada kemajuan? Apa orang itu sudah mengatakan sesuatu?" Tanya Givar dengan ekspresi harap-harap cemas. Sven juga tampak serius menunggu jawaban darinya.


 


 


Dengan ekspresi sedih dan penuh penyesalan, polisi itu menjawab, "Maafkan kami, kami tidak mendapatkan banyak petunjuk. Lalu... pagi ini, pria itu meninggal dunia."


 


 


 


 


Givar menggebrak meja tanpa memikirkan nama baiknya, "Apa maksud anda?! Meninggal dunia? Kenapa dia bisa meninggal?!"


 


 


"Sepertinya dia sedang sakit, ditambah lagi pukulan Tuan Sven membuat kondisinya semakin buruk."


 


 


Sven mengepalkan tangannya geram, "Dia tidak sakit! Pria itu sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit. Dia sangat sehat dan mampu berkelahi denganku! Anda pasti berbohong!"


 


 


"Saya tidak berbohong, kalian bisa menanyakannya pada polisi lain yang bersaksi. Kalau masih belum percaya, kalian bisa melihat buktinya dari dokter," tegasnya.


 


 


"Berapa banyak yang diberikan penjahat itu?! Dia pasti datang ke sini dan menyuap kalian agar tidak bicara, kan?!" Bentak Givar.


 


 


"Beraninya anda menuduh, kami bisa melaporkan kalian ke pengadilan atas pencemaran nama baik!"


 


 


Sven melihat ada sobekan kertas kecil di tong sampah.


 


 


Givar menarik bagian depan baju polisi itu. Beberapa polisi masuk ke ruangan dan berusaha mengamankan Givar.


 


 


"Istriku hampir dalam bahaya! Dan kamu malah membunuh orang itu hanya demi lembaran uang!" Bentak Givar.


 


 


Tatapan Sven masih tertuju pada tong sampah.


 


 


Setelah beberapa keributan, akhirnya Sven dan Givar memilih kembali ke rumah.


 


 


Sven yang menyetir mobil milik Givar. Suasana hati Givar sedang buruk, jadi dia meminta Sven yang menyetir.


 


 


"Shit!" Givar memukul dash board, "Kalo begini terus, gua gak bisa tenang. Harusnya kita gak bawa orang sialan itu ke polisi. Orang-orang suruhan gua bisa kerja lebih baik dari mereka!"


 


 


Sven tidak menanggapi. Dia fokus menyetir. Merasa tidak dipedulikan, Givar menoleh pada Sven.


 


 


"Kok, lo bisa setenang ini? Lo gak khawatir sama adek lo? Lo juga gak kesel sama orang itu yang udah mukul pelipis lo ampe kayak gitu?!" Givar mengeluarkan kekesalannya.


 


 


"Gua khawatir, tapi gua pake pikiran, gak pake perasaan doang."


 


 


Givar mendengus kesal.


 


 


"Lagian kalo orang itu udah mati, kita bisa apa, coba? Mau nanya-nanya sama mayatnya? Nggak, kan?"


 


 


Givar menghela napas berat. Ucapan Sven ada benarnya juga.


 


 


Sven kembali bersuara, "Orang seperti ini pasti memiliki banyak koneksi untuk melindungi dan menutupi kejahatannya selama ini. Seharusnya itu juga jadi bumerang buat dia. Kita bisa dapetin salah satu koneksinya dan menjadikannya kunci jawaban."


 


 


Givar tidak mengira, Sven memiliki pemikiran sejauh itu.


 


 


Sesampainya di rumah, Shasha dan Amelia menunggu penjelasan Givar dan Sven.


 


 


Namun, hasilnya mengecewakan.


 


 

__ADS_1


"Apa mungkin... karena kemaren aku mukul kepala dia pake nampan, ya? Jadinya orang itu meninggal sekarang," kata Amelia dengan konyolnya.


 


 


"Ah, mana mungkin. Lagian setelah kamu pukul pake nampan pun, dia masih hidup," gerutu Givar.


 


 


Shasha menghela napas panjang dia menghempaskan bokongnya ke sofa. Givar menenangkan istrinya.


 


 


Amelia memilih keluar dan memberikan ruang dan waktu untuk Givar dan Shasha. Duduk di teras rumah, itu yang dilakukan Amelia.


 


 


Dia merasa sedih, karena tidak bisa banyak membantu. Padahal Givar dan Shasha sedang dalam masalah.


 


 


Sven menghampiri Amelia, dia juga duduk dengan posisi yang mirip seperti wanita itu.


 


 


"Maaf, aku gak bisa bantu banyak," ucap Amelia dengan nada penuh penyesalan.


 


 


Sven menoleh pada Amelia, "Gapapa, kamu udah banyak membantu, kok."


 


 


Hening.


 


 


Amelia menunduk memperhatikan kedua kakinya yang sedang memainkan batu di atas sepatunya.


 


 


"Kamu nyaman jadi psikolog?" Tanya Sven. Amelia menoleh pada Sven yang juga sedang menatapnya.


 


 


"Emm, iya." Amelia menjawab, namun ekspresinya tampak ragu.


 


 


Kembali hening.


 


 


Amelia bertanya, "Sebenarnya... sejak kecil, cita-cita aku pengen jadi aktris... tapi... sepertinya aku gak ada bakat."


 


 


Sven mengerutkan keningnya, "Kenapa? Kamu, kan, cantik."


 


 


Mendengar Sven menyebutnya, 'cantik', Amelia jadi malu. Kedua pipinya memerah.


 


 


"Emm, setelah usiaku menginjak remaja, aku mulai tertarik dengan kepribadian orang. Jadi, aku bertekad ingin menjadi seorang psikolog. Begitu."


 


 


Sven menatap Amelia, "Kamu gak lagi bohong, kan?"


 


 


Amelia terkejut, darimana dia tahu, aku bohong?


 


 


"Meskipun kamu psikolog, kamu juga manusia yang memiliki perasaan. Kenapa menyembunyikannya? Kamu juga berhak mencurahkan perasaanmu."


 


 


Sven benar, Amelia sering berusaha menyembunyikan perasaannya di balik senyuman ceria untuk memberikan kenyamanan bagi para pasien. Ya, meskipun terkadang dia tidak sengaja menunjukkan ekspresinya yang asli.


 


 


Sven tertawa. Amelia terpukau dengan ketampanan Sven ketika tertawa lepas seperti itu. Selama ini Sven tidak pernah menunjukkan tawanya. Jadi, itu adalah pertama kalinya Amelia melihat Sven tertawa.


 


 


Wanita itu tersenyum dengan pipi memerah.


 


 


Sven menghentikan tawanya. Dia menatap Amelia, "Kamu sungguh berbakat jadi aktris."


 


 


Amelia terkekeh, "Kalo cita-cita kamu dulu mau jadi apa?"


 


 


"Aku pengen jadi polisi, tapi Papa nyuruh aku sekolah di SMA khusus di New York."


 


 


Amelia serius mendengarkan.


 


 


"Aku berontak dan memilih kabur dari rumah. Jadilah aku yang sekarang... seseorang yang tidak menjadi apa-apa."


 


 


Amelia tampak sedih, "Kamu sudah menjadi diri kamu sendiri. Itu yang terpenting. Menjadi orang lain itu tidaklah menyenangkan."


 


 


Sven tersenyum mendengar ucapan Amelia yang mulai terdengar seperti psikolog profesional.


 


 


Keduanya bertatapan. Sven menyadari kecantikan Amelia, bukan hanya wajahnya, tapi juga hatinya.


 


 


Mengesampingkan urusan pribadinya demi pasiennya. Tidak ada yang tahu penderitaan Amelia di belakang sana. Dia mengorbankan perasaannya demi membantu para pasien.


 


 


Cukup lama mereka saling menatap.


 


 


"Kamu suka sama aku?" Mendengar pertanyaan polos Sven, Amelia terbelalak. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


 


 


Sven memiringkan kepalanya melihat ekspresi Amelia.


 


 


Sven kembali bersuara, "Ya, gapapa kali."


 


 


"Emm, suka itu artinya kagum, kan?" Tanya Amelia tanpa mau menoleh pada Sven.


 


 


Pria itu tersenyum, "Wajarlah, Givar aja cowok bilang aku ganteng."


 


 


Amelia menoleh pada Sven, "Kamu bisa PD juga, ya?"


 


 


Sven tertawa, "Akhirnya kamu melihatku juga."


 


 


Kedua pipi Amelia memerah. Dia mendorong lengan Sven karen kesal.


 


 


"Jangan menyakiti pasien. Apa ini diperbolehkan? Nanti aku laporin kamu ke pihak berwajib, gimana?" Gerutu Sven.


 


 


"Pasien macam apa yang suka menggoda seperti dirimu!" Gerutu Amelia. Sven menyahut, "Lagian kamu suka di goda, kan?"


 


 


"Apaan, sih!" Amelia tertawa dengan kedua pipi memerah. Dia terus-menerus memukul lengan Sven.


 


 


Pria itu memegang kedua tangan Amelia, agar berhenti memukulinya.


 


 


"Aku senang melihat kamu ketawa seperti ini. Kamu tertawa karena kamu mau, bukan karena kamu berakting."


 


 


Ucapan Sven terdengar serius. Amelia berhenti memukul Sven. Dia terdiam.


 


 


"Jadi, yang psikolog itu sebenarnya siapa, sih? Aku atau kamu?" Gerutu Amelia.


 


 


Sven tersenyum.


 


 


~•o•~


 


 

__ADS_1


21.30 : 27 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2