Great Broker

Great Broker
Sombong dan Mengharukan


__ADS_3

Pukul 11 siang, Ness berjalan jalan di sekitaran kota Jakarta sembari mencari taksi. Sebelum berangkat keluar dari hotel, Ness sudah nemeriksa akun instagram kedua pemain yang akan ia temui hari ini.


Ness juga sudah mengirimi pesan kepada mereka berdua, mengutarakan niatnya bahwa dirinya datang untuk menjadi agen dan meminta untuk bertemu orang tuanya.


Pertama, pihak lain langsung menolak karena mereka mendapatkan pesan tiba tiba.


Namun, setelah itu Ness tidak mengatakan apa apa. Dia hanya ingin alamatnya supaya bisa berbicara lebih tenang, nyaman karena pembicaraannya serius.


Akhirnya setelah pembicaraan lama lewat pesan, pihak lain menyerah dan mengirimkan alamat rumahnya.


Berjalan jalan disekitaran kota Jakarta yang panas, akhirnya Ness menemukan taksi juga. Ia pun meminta supir untuk mengantarkannya ke alamat yang sudah di tuliskan Ness dalam secarik kertas.


....


25 menit kemudian.


Ness sudah berada di depan pagar rumah Jamil Iskandar.


Segera, ia meminta satpam yang menjaga untuk memberitahunya tuannya agar memperbolehkan masuk dan bertemu karena sudah membuat janji.


Setelah memasuki rumah, Ness dari awal sudah mengira bahwa pihak lain orang yang kaya raya makanya pihak lain langsung menolak.


Di dalam rumah, Ness duduk di ruang tamu.


Tak lama, ketiga orang datang ke ruang tamu. Mereka adalah Jamil Iskandar dengan ayah dan ibunya.


Setelah mereka duduk, Ness langsung ditanya.


Mereka menanyakan tujuannya datang kesini, Ness pun menjelaskan niatnya dan tidak menutupi apa apa dan ada sedikit kebohongan.


Setelah meyakinkan mereka, pihak lain masih tetap kukuh bahwa anaknya tidak akan berkarir di Eropa karena mereka tidak kekurangan apapun.


Ness merasa kesal dengan orang kaya di depannya ini.


Segera Ness memberi tahu bahwa dia juga mempunyai 2 pemain yang sekarang sudah sukses di Eropa.


Setelah mengatakan itu, Jamil Iskandar segera terkejut.


Ia kemudian mengingat ngingat ingatannya, dan tak lama dia mengingat bahwa ada 2 pemain muda Indonesia yang sekarang berada di Eropa dan mereka berada di Belanda.

__ADS_1


Jamil tidak tahu, bahwa orang didepannya merupakan orang yang berkontribusi pada karir 2 pemain itu.


Ia tidak mengecek akun instagram Ness karena merasa tidak perlu. Ia juga tidak tahu Ness adalah orang yang dibicarakan banyak pemain muda Indonesia karena banyak pemain muda Indonesia berharap ditanda tangani oleh agen itu.


Jamil merasa terpukul.


Meskipun Jamil kaya raya, ia juga masih mempunyai mimpi yang tinggi, ia ingin bermain sepak bola di Eropa dan menjadi terkenal.


Jamil kemudian mengisyaratkan kepada ayah dan ibunya untuk menanyakan rencana Ness kedepannya dan lain sebagainya.


Ness tidak tahu apa yang dilakukan dan dipikirkan Jamil Iskandar, kedatangannya hanya menandatangani pemain agar mendapatkan hadiah.


Ia sebenarnya ingin pergi dari tadi karena melihat kesombongan keluarga didepannya ini, namun demi kepentingan hadiah, dia menahannya.


Segera, pihak lain menanyakan rencana rencana Ness.


"Pertama, saya akan membawanya ke Eropa, namun tidak dengan Belanda, dimana 2 pemain saya ada di Belanda. Jika saya membawanya kesana, mungkin terlalu banyak pemain Indonesia. Saya akan membawanya ke negara Eropa lainnya."


"Kedua, saya akan merekomendasikan Jamil ke klub klub yang memiliki kontak dengan saya. Setelah direkomendasikan, kedepannya akan di tanggung Jamil sendiri, karena dia akan melakukan tes."


"Jika lolos, dia akan langsung saya uruskan dan bergabung dengan klub tersebut. Saya yakin Jamil akan lolos jadi tidak usah merasakan banyak tekanan."


Setelah menjelaskan panjang lebar semuanya, pihak lain senang, yang paling senang adalah Jamil. Melihat putranya senang, ayah dan ibunya Jamil mau tak mau ikut senang. Ia mengerti keinginan dan mimpi anaknya.


Segera, akhirnya Ness menandatangani Jamil yang berposisi sebagai striker menjadi pemain ketiga yang berada di bawah panjinya.


Ness kemudian menjelaskan bahwa dirinya hanya mengambil 8% dari jumlah biaya kontrak Jamil nantinya, termasuk sponsor.


Namun pihak lain tidak mempersalahkannya, asalnya mereka menanyakan kenapa tidak lebih tinggi. Ness yang mendengar itu ingin muntah, pasalnya orang tua Jamil terlalu sombong, setelah itu Ness melihat bahwa Jamil tersenyum.


Ness tidak tahu apakah sikap dan sifat pemain ini akan merepotkannya atau tidak, namun dia tidak mempersalahkannya, dia akan mencoba yang terbaik.


Sebelum pergi, Ness meminta agar Jamil bersiap selama 1 minggu sebelum mereka berangkat ke Eropa.


Setelah keluar, Ness langsung meminta taksi yang tadi dia naiki untuk mengantar ke lokasi selanjutnya.


Taksi itu menunggu karena sudah Ness bayar dengan tinggi supaya mau mengantarnya dan menunggunya terlebih dulu, setelah melihat uang yang di keluarkan Ness, supir taksi langsung setuju.


....

__ADS_1


30 menit kemudian.


Ness sampai di sebuah kampung, dia sedang berada di kota Jakarta namun bagian yang sedikit padatnya. Berbeda dengan Jamil tadi.


Datang kesini untuk menandatangani pemain keduanya, Jefri Pratama.


Setelah menemukan rumahnya, ia langsung bertemu Jefri yang sedang menunggu di depan rumahnya dendiri.


Melihat kedatangan Ness, Jefri langsung tahu karena dia sudah mengecek akun instagram Ness. Dia juga senang, ternyata orang di depannya adalah orang yang dibicarakan banyak pemain muda.


Pihak lain yang menolak adalah Jamil, sedangkan untuk Jefri, dia membalas pesan dengan baik dan sebelum membalas dia juga mengecek profil instagram Ness.


Setelah mengetahuinya, Jefri membalasnya dengan hati hati karena takut pihak Ness tidak senang.


Setelah membawa masuk Ness ke dalam rumah, Jefri meminta maaf karena keadaan rumahnya tidak baik, Ness tidak mempermasalahkannya dan hanya tersenyum.


Kemudian setelah Ness duduk di kursi kayu yang disiapkan Jefri, datanglah seorang pria tua menggunakan tongkat kayu untuk memapah jalannya sendiri.


Ness hanya diam dan memandanginya.


"Tuan, apakah anda orang yang dibicarakan oleh cucu saya?"


Ness mendengar itu terkejut.


Cucu?


Kemudian melihat Jefri yang mempunyai mata sedih.


Mengerti keadaan, segera menjawab.


"Iyaa, anda kakeknya?"


"Iya, karenaa......."


Kakek Jefri menceritakan kehidupan yang dijalaninya bersama Jefri, dimana Jefri kehilangan orang tuanya karena kecelakaan ketika bekerja di sebuah pabrik. Ness turut berduka ketika mendengar itu, ia melihat bahwa Jefri menahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.


Selesai menceritakan, Ness mau tak mau langsung meminta maaf dan menjelaskan semua keinginannya datang kesini menemui Jefri.


Kakek Jefri tentu saja senang dengan tujuan Ness, ia juga tahu bahwa cucunya itu rajin dan bekerja keras terhadap sepak bola namun karena masih muda, cucunya itu tidak mendapatkan kontrak dari klub meskipun sudah berlatih keras.

__ADS_1


Ness senang bahwa ketika menemui 2 pemain ini tadi, mereka tidak mempunyai kontrak dengan klubnya, yang mengisyaratkan bahwa klub sedikit buta akan bakat.


__ADS_2