
1 minggu telah berlalu dari debut kedua pemainnya itu, dimana Nantes kalah 2 - 0 dari Rennes. Jamil juga akhirnya memecahkan telurnya berkat umpan satu dua dengan Wesley.
Ness juga senang melihat pemainnya memiliki statistik sekarang.
Suara sistem waktu itu yang memberikan hadiah sudah Ness cek dan memang sama dengan debutnya Zain dan Fathur.
Debut Jamil : 1x kartu permain tingkat perunggu dan 10 poin.
Debut Jefri : 1x kartu pemain tingkat perunggu dan 10 poin.
Gol pertama Jamil : 1x kartu pemain tingkat perak dan 20 poin.
Ness membuka layar virtual nya.
Dan melihatnya dengan tersenyum.
Poin yang dimilikinya adalah 490 dimana kurang 10 poin dari 500 poin agar bisa membeli kartu pramuka tingkat unexpected.
Kartu pemain yang dimilikinya juga banyak.
4x kartu pemain tingkat perunggu dan 3x kartu pemain tingkat perak.
Ness merasa bahwa dirinya sangat kaya.
Namun Ness belum ingin membukanya, dia akan menbukanya ketika dirinya sudah di Belanda.
Selama 7 hari ini, Ness telah mencarikan guru less dan akhirnya dapat, waktu itu Ness menemukan seorang mahasiswi yang sedang bekerja di sebuah cafe dan Ness melihat wajahnya yang menunjukan seperti wajah Asia, Ness mau tak mau bertanya dan benar saja dugaannya itu.
Kemudian Ness meminta mengobrol sebentar dengan mahasiswi itu.
Mahasiswi itu bekerja di cafe karena dia harus mendapatkan uang untuk membantu keluarganya yang berada di Indonesia, lebih tepatnya adalah ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit.
Ness merasa tertekan ketika mendengar cerita mahasiswi itu, niat belajar di luar negeri namun malah harus mencari uang karena kebutuhan keluarganya.
Ness juga baru tahu ternyata mahasiswi ini juga mendapatkan beasiswa dari Universitas ternama di Paris.
Dia di undang oleh universitas itu karena menghargai karya yang sudah di buatnya dan nilai nilainya juga yang bagus.
Mahasiswi itu berasal dari jurusan seni.
Ness mau tak mau merasa bahwa dirinya punya kesempatan untuk mempekerjakannya mengingat keadaannya sekarang.
Tak mau menganggu orang lain bekerja, Ness langsung mengutarakan niat nya waktu itu.
Dia menjelaskan bahwa dia membutuhkan guru les bahasa Prancis untuk kedua pemainnya, mahasiswi itu terkejut pasalnya dia tidak tahu berita apapun.
Namun meski begitu, di Indonesia ramai, karena mereka juga mendapatkan kabar bahwa klub Rennes dari Prancia memperkenalkan 2 pemuda asal Indonesia.
Ness menjelaskan kepada mahasiswi itu bahwa dirinya bisa bekerja ketika sore hari sampai malam hari sebagai guru les.
Ness menawarkan gaji yang sangat menggiurkan, dia mengatakan bahwa gajinya akan di bayar setiap pertemuan, dan akan memberikan bonus di awal karena menerima tawaran Ness.
Ness memberitahu bahwa setiap 1 minggu ada 3 pertemuan dan gajinya setiap pertemuan adalah 100 euro.
Jadi dalam 1 minggu mahasiswi itu bisa.mendapatkan 300 euro.
__ADS_1
100 euro sama dengan 1,5 juta rupiah dan jika 1 minggu maka 4,5 juta rupiah.
Mahasiswi itu terkejut, namun dia masih sedikit waspada karena takut Ness memberikan pekerjaan yang berhubungan dengan *** atau menjual dirinya.
Namun segera Ness mengeluarkan kartu namanya, dan berkata bahwa dirinya setuju dirinya bisa menelpon ke nomor itu.
Segera mahasiswa itu berterima kasih dan pergi.
Namun pada malam harinya waktu itu, mahasiswi itu menelpon dan memberi tahu bahwa dia setuju, mungkin mahasiswi itu sudah mengecek informasi Ness.
...
Ness sekarang berada di Paris dan berpisah dengan kedua pemainnya itu.
Ness teringat akan perusahaannya yang belum di urus urus, namun dia juga tau bahwa ini belum saatnya. Seketika Ness teringat.
Segera dirinya menelpon mahasiswi yang menjadi guru les itu.
Segera panggilan juga terhubung.
"Hallo."
"Ada apa Tuan Ness?"
"Berapa tahun lagi kamu lulus dari sekolahmu?"
"Ini semester terakhir, jika tepat waktu mungkin bulan April atai Mei saya sudah lulus."
"Ohh begitu, apakah setelah lulus kamu akan kembali ke Indonesia?"
Ness mendengar dengan baik.
"Apakah kamu bisa bahasa lain selain Francis, Inggris dan Indonesia?"
"Iyaa bisa, total ada 7 bahasa dan 8 bahasa jika dengan Indonesia."
Ness merasa aneh bahwa mahasiswi ini mempelajari banyak bahasa untuk apa pasalnya dia jurusan seni, namun dia juga tidak mempemasalahkannya mungkin karena ingin.
"Apa saja?"
"Inggris, Francis, Belgia, Spanyol, Italia, German, Belanda dan Indonesia."
Ness terkejut, apakah mahasiswi ini benar benar ditakdirkan untuk dirinya.
"Apakah kamu tertarik bekerja padaku?"
"Bekerjaa seperti apa?"
"Menjadi guru les untuk setiap pemain saya nantinya."
"Baik terima kasih tuan, tapi saya harus pikir pikir dulu karena keadaan keluarga di Indonesia juga sedang tidak baik."
"Iyaa pikirkanlah!"
Ness kemudian mengucapkan selamat tinggal dan menutup panggilannya lalu menyimpan handphonenya dimeja.
__ADS_1
Namun tak lama handphone nya berdering lagi.
"Apakah kamu sibuk?"
"Tidak."
"Aku melihat kedua pemuda yang bersamamu waktu itu ternyata bergabung sengan klub sepak bola Rennes, aku tidak menyangka bahwa 2 pemuda yang mengikutimu ternyata pemainmu."
"Selamat."
Hande Ercel melakukan panggilan pada Ness dan terus berbicara. Dirinya sudah lama tidak bertemu Ness mungkin selama 2 minggu kurang lebih, dirinya juga tidak melakukan panggilan karena sedang sibuk meski begitu dirinya merasakan hari harinya terasa sedikit kurang berwarna tidak seperti awal awal bertemu dengan Ness.
"Iya terima kasih, ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Paris, Hotel."
"Mari bertemu."
"Apakah kamu tidak menyadari dan mengingat hal terakhir yang terjadi?"
"Ohiyaa, kalau begitu kamu kerumah ku lagi kita makan malam atau aku yang menghampirimu?"
"Aku sedang tidak sibuk dan tidak ada kerjaan terus merasa bosan di rumah."
Hande Ercel terus berbicara.
"Haaahh."
Ness menghela nafas namun masih terdengar.
"Aku rasa kamu sedang sakit."
"Hah kenapa?"
"Aku menerima makan malam waktu itu karena menghargai permintaan maafmu, tapi sekarang kita tidak memikiki hutang apapun dan kita juga ini baru kenal."
Hande Ercel merasakan sakit di hatinya ketika mendengar Ness mengatakan hal seperti itu, nyatanya dia belum pernah mendengar seorang pria berkata seperti itu padanya.
Hande Ercel merasa semakin tertarik, dia merasa bahwa apakah pria ini meamang begitu dingin dan misterius atau apakah tidak normal.
"Apakah kamu tidak normal?"
Hande Ercel bertanya di sebrang panggilan yang membuat Ness menjadi hitam, dirinya sedikit tersinggung.
"Apakah kamu mengatakan bahwa aku adalah bukan seorang pria?"
"Iyaa, karena kamu seperti tidak tertarik pada wanita termasuk aku."
"Aku tertarik pada wanita namun aku harus mencari yang cocok."
"Kamu tidak akan pernah mendapatkan yang cocok karena sikap dingin dan so misterius mu itu."
Ness tertegun.
__ADS_1
Dia tidak menyangka Hande Ercel akan mengatakan itu. Dia segera teringat sistem yang mengatakan bahwa dirinya terlalu dingin pada perempuan.