Great Broker

Great Broker
Raline aneh dan Sponsor


__ADS_3

Keesokan harinya, waktu masih sangat pagi, Ness terbangun karena ada telpon masuk.


Disana tertulis nomor tidak di kenal, Ness mengangkatnya meskipun tidak tahu siapa itu.


"Hallo, selamat pagi."


Ness tercengang.


Dia tercengang untuk beberapa detik, kemudian suara lain datang lagi.


"Hallo, sudah bangun?"


"Apakah aku membangunkanmu? Maaf kalau begitu."


Ness ingat suara ini.


"Hah? Raline?"


"Iyaa ini aku."


Dengan nada senang Raline menjawab.


Ness kemudian menanyakan ada apa menelpon pagi pagi buta sampai membangunkan tidurnya.


Raline menjelaskan hanya ingin membangunkan saja dan memberi tahu ini nomornya. Ness bingung dengan pola pikir wanita yang menelponnya ini.


Dia kemudian menjawab dengan malas segala pertanyaan yang di ajukan oleh Raline. Merasa bahwa pihak lain terdengar seperti masih mengantuk, Raline pun menyudahi panggilannya.


Ness yang sudah bangun terpaksa bangun dari tempat tidurnya, ia mengambil air putih untuk diminum kemudian berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Ness belum mandi dan akan keluar untuk mencari sarapan namun telponnya berdering lagi tanda adanya panggilan.


"Hallo hallo dimana?"


"Di hotel, ada apa?"


"Sudah sarapan?"


"Ini mau pergi untuk cari sarapan."


Ness menjawab dengan lemas, nyatanya yang melakukan panggilan kali ini Raline lagi. Ness bingung ada apa dengan wanita ini, tadi mematikan panggilan, sekarang melakukan panggilan lagi.


Setelah berbincang sedikit, Ness kemudian tidak jadi keluar dari hotel untuk mencari sarapan karena Raline akan datang untuk membawakan sarapan, meskipun Ness sudah menolak berkali kali namun Raline kekeuh bahwa dirinya ingin mampir untuk sarapan bersama.


Hanya dengan memikirkannya saja membuat Ness lelah. Wanita dan pria baru kenal dan sudah melakukan hal hal begini membuat Ness memutarkan matanya, bingung.


Ness tidak tau apa yang dipikirkan Raline dan di rencanakan Raline.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu diketuk. Disana Raline datang membawa beberapa kotak makan.


Ness melihat kotak makan ini mau tak mau memicingkan matanya lalu menatap Raline dengan serius.


Ini bukan beli, tapi membuatnya?

__ADS_1


Apakah dia sengaja?


Wanita aneh!


Pikiran Ness terus mengata ngatai Raline, otak Ness sudah berhenti memikirkan keanehan wanita di depannya.


Setelah dipersilahkan masuk oleh Ness, Raline tetap berdiri, mungkin menunggu Ness untuk menyuruhnya duduk, namun Ness tidak menyuruhnya, Ness bahkan menjadi dingin karena melihat wanita di depannya sangat agresif.


Setelah berdiri lama, Ness akhirnya kasian dan menyuruhnya duduk sambil tersenyum.


Membuka kotak makan, didalam kotak terdapat banyak sekali makanan.


Ness mau tak mau menanyakan, apakah membuatnya sendiri atau dibantu oleh siapa?


Ness berbasa basi, intinya dia ingin cepat makan karena lapar.


Menjelaskan membuatnya sendiri, Ness langsung terkejut.


Kenapa dengan wanita ini sampai sampai begini?


"Ada apa denganmu? Membuat makanan sendiri untuk orang asing yang baru dikenal?"


Ness akhirnya mengutarakan pikirannya yang sudah lama ia simpan, nyatanya Ness sangat kesal karena wanita di depannya sangat niat.


"Tidak ada apa apa, aku normal. Inilah bentuk kesukaan seseorang ketika menyukai seseorang."


Raline menjawab jujur dan tidak menutupi niatnya. Ness yang mendengar pun terkejut, apa yang didengarnya itu tidak salah.


Segera dia menjadi serius dan menatap Raline dengan dingin.


Apakah wanita di dunia ini memang begini?


Pikirnya.


Ness kemudian tak ambil pusing dan segera menyantap makanan yang ada didepannya.


20 menit kemudian.


Setelah selesai sarapan, Ness membantu merapikan peralatan makanan yang sudah di bawa Raline. Ketika merapikan peralatan, telpon Ness berbunyi.


Dia kesal, siapa lagi ini.


Kemudian dia melihat bahwa itu Zain.


"Ada apa Zain?"


"Tuan, Saya dan Fathur di kejar kejar reporter lokal dan Indonesia menanyakan kabar rumor yang sekarang sedang ramai itu."


"Saya harus apa? Saya takut salah, jadi menelpon tuan."


"Panggil saja kakak, jangan tuan!"


Ness menyela, meski sudah diingatkan beberapa kali waktu itu, Zain tetap memanggilnya tuan.

__ADS_1


Ness yang mendengar kabar disana sangat panas mau tak mau menjadi tersenyum.


"Jangan terima wawancara. Abaikan saja. Jika terus masih sama, bilang saja, hubungi saja agen saya!"


Memberitahu Zain supaya untuk terus terang supaya reporter tidak mengejar ngejar mereka lagi.


"Kalau sudah dibilangin tapi tetap bagaimana kak? Saya juga sudah mengatakan itu sekali namun tetap."


Ness yang berada jauh dari Zain mau tak mau menggaruk kepalanya, ini diluar kendalinya, apalagi dirinya saat ini jauh dari Belanda.


"Bilang saja, untuk saat ini saya tetap berada tim. Meski rumor di luar akan segila apapun, saya tetap berada di tim untuk saat ini. Kami akan fokus ke liga dan mencapai hasil maksimal supaya bisa mendapatkan kualifikasi UCL atau UEL."


Setelah mendengarkan penjelasan Ness, Ness membuat Zain sedikit tenang dan mengerti. Kemudian dia menutup panggilannya.


Ness yang berada di Indonesia, kini harus mempercepat jadwal keberangkatannya supaya bisa mempermudah urusan pemainnya.


Setelah itu, Ness langsung melakukan panggilan kepada Jefri dan Jamil untuk bersiap dalam 2 hari.


Pihak lain terkejut, namun masih senang karena keberangkatannya dipercepat.


Ness juga harus segera memesan tiket pesawat.


Kembali ke keadaan di hotel, Ness lupa bahwa Raline masih ada. Raline pun mendengarkan pembicaraan Ness di telpon dan menanyakan keaslian dari keberangkatannya yang dipercepat.


Raline awalnya berniat mengunjungi Ness setiap hari ketika Ness berada di Indonesia, namun sekarang akan menjadi 1 hari kurang. Ia merasakan sakit di hatinya.


Tak lama kemudian, telpon Ness berdering lagi dengan nama panggilan, nomor tidak dikenal. Ness menjawabnya.


"Hallo, Tuan Ness."


"Haii. Dengan siapa ini?"


"Saya dari perusahaan Ortuseight."


Ness mendengar pihak lain dari perusahaan Ortuseight. Mau tak mau menjadi terkejut, pasalnya perusahaan ini didirikan tahun 2018 di Tanggerang Indonesia. Namun sekarang belum 2018 tapi sudah ada. Ini meyakinkan Ness bahwa sejarah bisa berubah kapan saja.


Namun tidak ada yang perlu dipanikan oleh Ness.


Ortuseight merupakan brand lokal Indonesia dalam industri olahraga, mereka memproduksi banyak sekali peralatan olahraga entah itu sepatu atau kaus.


"Ini dengan siapanya?"


"Saya dengan Arif, pendiri Ortuseight."


Ness terkejut mendengarnya, apakah mungkin Ortuaeight baru berdiri sekarang.


"Ada kepentingan apa sampai sampai Tuan Arif menelpon saya yang tidak dikenal ini?"


Ness basa basi.


"Jujur saja, perusahaan saya sedang mencari Brand Ambassador untuk produk pertama. Dimana produk pertama ini yaitu sepatu bola, saya sedang mencari talent talent namun pihak lain menolak karena perusahaan tidak dikenal dan baru berdiri."


Ness tersenyum mendengar ini, dugaannya benar. Perusahaan baru berdiri.

__ADS_1


"Mengenai ini, saya tertarik untuk menandatangani dan mensponsori kedua pemain anda yang bermain di Belanda, meski bayarannya akan sangat besar. Itu tidak apa apa, itu sangat berguna bagi kami. Mungkin kami yang harus berterima kasih jika Tuan Ness menyutujuinya."


__ADS_2