Great Broker

Great Broker
Undangan


__ADS_3

Dalam panjangnya lebar perbincangan dan perdebatan antara Ness dengan keluarga Ahmad Alfarizi, Ness akhirnya berhasil menandatangani Ahmad Alfarizi sebagai pemain yang di bawah panjinya.


Kesediaan keluarganya untuk melepaskan Ahmad Alfarizi cukup sulit karena mereka terlalu khawatir pada anaknya itu.


Ahmad Alfarizi merupakan anak yang penurut terhadap perkataan orang tuanya, dia juga sedikit pemalu.


Ness juga awalnya tidak ingin terlalu memaksakannya karena melihat sifat pemalu, namun melihat potensinya, dia tidak bisa membuang kesempatan bagus seperti itu, apalagi untuk Indonesia.


Sebenarnya, untuk pemain dengan sifat sedikit pemalu seperti ini akan sedikit susah bergaul, namun untungnya Ahmad Alfarizi juga mempunyai sifat penurut yang memungkin memudahkannya akrab dengan rekan tim nantinya.


.....


3 hari telah berlalu, Ness sudah kembali ke Jakarta untuk memudahkan kehidupan sehari harinya dan memudahkannya ketika nanti akan kembali ke Eropa.


Setelah penandatanganan para pemain baru ini, Ness juga mendaptkan hadiah seperti biasa dari sistem.


3x kartu pemain tingkat perunggu, 3x kartu pemain tingkat perak dan di tambah 120 poin.


Hadiah hadiah tersebut belum Ness buka karena dirinya harus mengistirahatkan tubuhnya karena sudah melakukan pekeejaan bulak balik yang tidak ada istirahatnya.


Dalam 2 hari terakhir juga, Ness menyempatkan diri untuk melihat berita berita berkaitan dirinya datang ke Indonesia, dan melihat berita PSSI yang dikatakan Zain beberapa hari yang lalu.


Keputusan PSSI untuk memberanikan diri menghubunginya menggunakan media seperti ini membuat Ness sedikit malu.


Meski dirinya sudah mempunyai sedikit reputasi di Indonesia, sepak bola Indonesia, apalagi pemain pemain muda, Ness masih tetap malu karena kemunculannya yang tiba tiba dan membawa talenta talenta muda Indonesia berkarir di Eropa.


Memang semua ini dalam harapan banyak orang, yang ingin melihat kemajuan sepak bola di Indonesia dan majunya tim nasional sepak bola Indonesia ke puncak dunia.


Namun kemunculannya yang tiba tiba ini membuat orang semakin penasaran, dan ingin melihat tujuan sebenarnya dan motif tersembunyi apa yang ada di belakangnya.


Banyak orang orang Indonesia memiliki asumsi nya masing masing, mengingat penggila sepak bola di Indonesia sangat gila, mereka mungkin juga beranggapan bahwa Ness adalah bidak untuk orang orang Eropa menaikan eksposure pendapatan tim mereka dalam bidang media sosial dan penjual penjual merchandisenya.


Meski memang hanya akan segelintir orang yang membelinya, namun nama tim tersebut akan naik dengan cepat dan mendapatkan sponsor baru dengan bayaran lebih tinggi.


Banyak orang beranggapan mungkin Ness juga melakukan hal yang sama, apalagi mengingat wawancara terakhir Ness terlalu meragukan, meski banyak orang bangga dan senang akan tujuannya tapi jika tidak ada hubungan dengan PSSI yang di mana menaungi persepak bolaan Indonesia, ini akan sedit melecehkan organisasi mutlak persepak bolaan Indonesia.


Jadi banyak orang ingin melihat Ness bekerja sama dengan PSSI dan menuangkan semua tenaganya dan pikirannya untuk memajukan sepak bola Indonesia.

__ADS_1


Ness juga melihat komentar komentar para penggila sepak bola yang dimana ingin sekali melihat Ness bekerja sama dengan PSSI dan memberikan keputusan atau keaslian tentang tujuannya itu.


Setelah melihat lihat itu, Ness juga mendapati bahwa dirinya mendapatkan pesan instagram dari akun PSSI, namun belum membukanya.


Ness yang berada di sebuah hotel itu sedang duduk dan mendapati bahwa telponnya berdering.


Ness kemudian melihat nomor yang tidak dikenal namun tetap mengangkatnya.


"Hallo."


"Haii, Tuan Ness."


"Dengan siapa?"


"Mohon maafkan kami karena menghubungi Anda di waktu yang sibuk ini, saya merupakan perwakilan dari PSSI ingin mengundang anda untuk menghadiri pertemuan yang diadakan dalam beberapa hari ini."


Ness terkejut, kenapa pihak PSSI mempunyai kontaknya, apalagi mengingat apa yang dikaatakan PSSI di wawancara itu bahwa mereka sudah mencari kontaknya selama berbulan bulan.


Kemudian Ness teringat, ketika perusahaan Ortuseight menghubungi nya, dia mencantumkan nomor telponnya di biodata akun instagramnya, namun karena kecerobohan itu juga banyak yang melakukan panggilan tidak jelas dan langsung menghapusnya.


"Apakah Tuan Ness bisa datang untuk menghadiri pertemuan yang di adakan itu?"


"Pertemuan seperti apa lebih tepatnya?"


"Mungkin mengobrol biasa dengan Tuan Ness dan tidak ada kegiatan lain."


"Kapan lebih tepatnya?"


"3 hari lagi."


"Baiklah saya akan hadir."


"Terima kasih Tuan Ness. Kalau begitu, maaf menganggu sekali lagi."


Ness langsung membalasnya dan langsung menutup panggilannya. Meski pihak lain PSSI, Ness tidak akan takut bahwa dirinya tidak sopan, karena mengingat kebobrokan yang di buatnya.


Ness berjanji akan hadir karena ingin melihat apa yang akan di lakukan PSSI nanti ketika pertemuan yang di rencanakan ini berlangsung.

__ADS_1


Setelah menutup panggilan telpon tersebut, telpon Ness kembali berdering lagi. Dia segera melihatnya dan menemukan nama Raline.


Dia membiarkan panggilan itu sampai panggilan berhenti, tak lama panggilan datang lagi.


Ness masih membiarkannya, dia ingin melihat apakah wanita gila ini akan terus memanggilnya meski sudah di abaikan. Perlakuan Ness ini, semata mata ingin memastikan atau merasakan apakah dengan banyak nya panggilan atau usaha yang di berikan Raline akan memberikannya sedikit warna pada kehidupannya yang sepi dan membosankan ini atau tetap seperti biasa.


Ness memiliki pemikiran begini setelah dirinya berada dalam kontemplasi yang dalam selama beberapa bulan ini ketika dirinya sedang luang di kamarnya. Ia memikirkan setiap perkataan sistemnya.


Menurutnya, sistemnya sangat benar. Jika dirinya terus begini, mungkin dia juga tidak menikmati hidup dan menyakiti dirinya sendiri.


Namun yang masih dikhawatirkan oleh Ness adalah kepribadiannya yang dingin ini membuatnya sedikit susah untuk bergerak mencari kehidupan yang lebih berwarna.


Ness yang berada dalam kontemplasi itu mengingat dirinya yang diganggu oleh 2 wanita aneh dan gila setiap waktunya kosong itu dan merasakan memang ada sedikit kehidupan yang menyenangkan dalam hidupnya itu, meski memang sulit untuk mengakuinya, namun hati kecilnya tetap merasakan itu.


Mencoba mencari dimana hal yang bisa membuatnya merasakan kehidupan lebih berwarna lagi dan tidak membosankan, namun masih belum menemukannya.


Setelah pencarian lama itu, Ness memikirkan sesuatu, apakah mungkin dirinya membutuhkan pasangan yang akan menemaninya dan membuat hari harinya lebih berwarna. Tak lama, Ness mencapai kesimpulan bahwa itu yang dia butuhkan, namun sekali lagi Ness masih khawatir karena sikap dinginnya itu akan membuatnya sulit, dan membuat orang tidak nyaman dan meninggalkannya lagi. Ness menetapkan tujuan kecilnya saat itu bahwa orang nya harus benar cocok.


Setelah di abaikan kedua kalinya oleh Ness, Raline yang berada jauh dari tempat Ness berada merasa kesal dan menghentakan sepatu hak tingginya ke tanah sembari mendecak.


Tak lama, dia melakukan panggilan lagi terhadap Ness berharap akan di angkat panggilannya. Namun sampai panggilan terturup dengan sendirinya, panggilan itu tidak diangkat lagi.


Raline semakin kesal dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang ada dalam ruang kantornya.


"Dimana dia?"


Raline berbicara sendiri.


"Aku melihat dia di berita bahwa dia sudah di Indonesia, tapi dia mengingkari perkataannya. Apakah menghindariku?"


Raline mau tak mau berpikir seperti itu setelah panggilannya diabaikan selama 3x oleh Ness.


Sebenarnya, dalam beberapa bulan ini, Raline sudah memikirkan matang matang segala niatnya, keinginannya dan keputusannya matang matang.


Dia juga sudah kembali ke rumah keluarganya dan membicarakan niatannya, keinginannya dan keputusannya itu kepada ayah dan ibunya di rumah.


Meski awalnya mendapatkan penolakan langsung, namun Raline tetap kukuh dalam pendiriannya itu.

__ADS_1


__ADS_2