
Malam hari di hotel Jakarta, di sebuah kamar hotel Ness sedang dalam keadaan ragu ragu dan takut.
Ia tidak bisa mengerti kenapa ada yang mengetuk pintu kamarnya malam malam begini, jika memang pelayanan dari hotel, seharusnya menelpon.
Namun ini tidak, dan langsung mengetuk.
Apakah penyewa lain di kamar sebelah? Mungkin, tapi kemungkinannya sangat kecil karena penyewa lain sibuk dengan kegiatannya sendiri di malam hari.
Di pintu itu tidak ada lubang untuk mengecek siapa yang di luar.
Memberanikan diri, ia kemudian merapikan bajunya menarik nafas dalam dalam dan langsung membukanya.
Namun badan Ness sedikit tertutup oleh pintu, dan hanya kepalanya saja yang muncul untuk melihat siapa yang mengetuk.
Ketika pintu terbuka, sosok lain tersenyum.
Pihak lain adalah seorang pegawai hotel, memberi tahu bahwa ada tamu yang ingin bertemu.
Ness kemudian menanyakan kenapa tidak menelpon terlebih dulu, hal ini membuatnya ketakutan.
Pegawai itu meminta maaf karena dirinya sedang tidak berada di meja resepsionis dan bertemu dengan tamunya di jalan ketika akan ke meja resepsionis, jadi sekalian langsung menuju ke kamar Ness.
Setelah penjelasan, Ness kemudian menanyakan siapa tamunya dan dimana.
Pegawai hanya menjawab bahwa tamunya seorang wanita dan menunggu di lobby.
Segera Ness keluar dan berjalan menuju lobby.
...
Di lobby, Ness tidak melihat siapa siapa. Pegawai yang berada di belakang Ness dan mengikutinya, ketika dia melihat Ness mencari, dia langsung menunjukan di sebelah kanan dekat bunga sedang duduk di sofa.
Ness mengalihkanya dan melihat bahwa memang ada seorang wanita.
Segera Ness menghampirinya.
"Hallo, ada apa nona mencari saya?"
Suara Ness membuyarkan lamunan wanita itu, segera dia mendongak dan melihatnya. Wanita itu awalnya sedang fokus bermain handphone nya, Ness juga melihat sedikit bahwa wanita ini sedang melihat akun instagram miliknya.
"Haii."
__ADS_1
Ness mengerutkan kening, nyatanya ketika wanita itu saling bertatapan, Ness samar samar ingat dengan wanita ini.
"Apakah terlihat aneh?"
Ness menggelengkan kepalanya dan tersenyum, kemudian menanyakan tujuannya mencari ada apa.
Wanita itu menjelaskan bahwa dirinya ingin bertemu dan berkenalan dengannya secara formal. Ness merasa aneh dengan wanita di depannya.
Apakah wanita ini gila?
Kemudian wanita itu menjelaskan bahwa dirinya adalah wanita yang dulu makan bareng Ness di rumah makan dan berbagi tempat di kota Surabaya.
Ness kemudian mengingat ngingat ingatannya dan akhirnya samar samar ingat.
Dia kemudian mengangguk kepalanya menandakan bahwa dirinya ingat, wanita itu pun senang dan tersenyum.
Ketika suasana menjadi canggung karena Ness melihat senyuman wanita itu, dia kemudian mengingat pembicaraan wanita di depannya yang ingin berkenalan dengannya, segera dia mengulurkan tangannya dan berkata Ness Sebastian.
Wanita di depannya tersenyum dan melihat ke arah Ness dan tidak menyadari uluran tangan Ness.
Merasa aneh, Ness langsung berpura pura batuk.
"Raline Audrey."
Ness berjabat tangan dengan wanita sembari tersenyum, ia hanya mengerti formalitas saja.
Semenjak berpindah kehidupan, diri Ness sepenuhnya berubah untuk sepak bola. Dulu dia memang tergila gila oleh sepak bola namun tetap bisa menjaga keseimbangan kehidupannya, termasuk keseimbangan seksualnya.
Di kehidupan sebelumnya Ness juga tidak sedingin ini kepada wanita, namun semenjak berpindah dunia menjadi begini.
Sistem juga sekali kali mengingatkan Ness ketika Ness sedang tiduran di rumah nya di Belanda dab tidak melakukan apapun, sistem mengingatkannya untuk mencari pacar atau istri agar mempunyai kehidupan dan kesibukan, tidak terbatas oleh sepak bola. Jika begini mimpinya akan hancur juga.
Kembali ke realitas.
Ness menarik tangannya dan menanyakan kembali, apakah dirinya datang malam malam karena hanya ingin berkenalan atau ada hal hal lain untuk di bicarakan.
Raline mengerti dan meminta maaf karena sudah menganggu waktunya, dia memang sangat ingin berkenalan dengan formal dengan Ness, dalam bayang bayang 6 bulan pikirannya terus memikirkan Ness.
Mungkin cinta pandangan pertama? Atau sekedar mengagumi biasa?
Tidak tau, yang tau hanya Raline.
__ADS_1
Raline kemudian menanyakan apakah dirinya punya waktu untuk mengobrol lebih banyak sambil makan malam atau nongkrong di cafe, Ness tidak langsung menjawab, dia memandang Raline dengan tatapan serius.
Ia sudah makan malam tadi tapi orang lain mengajaknya, Ness memilih nongkrong di cafe sambil mengobrol untuk menghargainya.
Kemudian mereka berdua berangkat ke cafe terdekat dengan jalan kaki.
Di meja resepsionis, para pegawai wanita yang melihat Ness dan Raline berjalan berdampingan malah bergosip.
Mereka membicarakan bahwa wanita itu beruntung bisa berjalan dengan pria tampan, namun yang lainnya mendukung karena mereka terlihat serasi.
Pembicaraan terus berlanjut dan malah menjadi debat antar pegawai di meja resepsionis, untung saja tidak ada pelanggan yang masuk dan menyewa kamar.
Ness dan Raline yang berjalan keluar tidak tau bahwa mereka berdua sedang dibicarakan, meskipun tau, Ness akan tidak peduli akan hal itu.
Segera.
10 menit kemudian, keduanya sampai di sebuah cafe, banyak anak anak muda yang sedang nongkrong. Entah itu anak anak muda yang sedang nongkrong bersamaa teman teman laki lakinya atau juga ada yang berpacaran.
Ketika melihat kumpulan anak muda itu, Ness membuka handphonenya karena merasa aneh, dia kemudian melihat bahwa hari ini hari sabtu, yang berarti malam minggu.
Untuk orang orang Indonesia, lebih tepatnya anak muda, ini merupakan hari cinta karena mereka bisa bermain dengan pacarnya tanpa harus memperhatikan keesokan harinya.
Keduanya memilih tempat yang kosong dan terlihat lebih sepi, Ness juga setuju dengan pemilihan tempat Raline ini.
Keduanya duduk dan menunggu pelayan datang untuk menanyakan pesanan apa yang akan dipesan.
Selang 10 menit, pesanan akhirnya datang. Mereka berdua juga menghentikan obrolannya dulu dan menerima pesanan dan langsung mencicipinya.
Setelah pelayan pergi, keduanya melanjutkan obrolannya lagi.
Dalam obrolan itu, Raline menanyakan banyak hal kepada Ness, pasalnya dia ingin tahu tentang Ness. Ness tidak terlalu dingin sekarang, karena ia menghargai sikap Raline yang berani memberanikan diri untuk menemuinya lebih dulu, apalagi kepada orang yang tidak dikenal awalnya. Ness juga mengagumi ingatan Raline.
Raline bertanya kepada Ness, tentang dirinya dimana dia tinggal di Indonesia dan pekerjaan apa yang dia jalani. Meski sudah tau, Raline tetap basa basi supaya tidak terlalu memalukan untuk tiba tiba mengetahui pekerjaan orang lain karena dirinya stalking.
"Bukannya kamu sudah tau?"
"Tau? Bagaimana aku tahu?"
"Kamu tadi melihat lihat profil instagram ku, mungkin kamu sudah tau apa yang kulakukan. Dan 1 lagi, aku tidak tinggal di Indonesia, makanya tinggal di hotel."
Raline kemudian mengerti kenapa dia mencari cari alamat Ness tapi tidak menemukannya. Raline mempunyai jaringan yang luas di seluruh Indonesia. Keluarganya merupakan raksasa bisnis di Indonesia.
__ADS_1