
Keesokan harinya, Ness bangun dari tidurnya. Ia merasa kepalanya sedikit berat dan pusing. Kemarin malam dirinya pulang dengan keadaan lelah karena setelah selesai makan malam, Hande Ercel mengajaknya menonton film di rumahnya.
Ness yang awalnya berniat untuk segera pulang karena mengingat janji yang sudah di buat dengan Nicolas harus sedikit membiarkan dirinya menemani wanita itu menonton.
Melihat jam yang ada di handphone menunjukan pukul 6, Ness segera bangun dari kasurnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit, dirinya keluar untuk memastikan kedua pemainnya telah bangun, namun yang tak disangkanya adalah dua pemainnya itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Ness kemudian menyapanya dengan tersenyum dan menanyakan sudah berapa lama dirinya berada di luar pintu kamar.
Setelah beberapa kata basa basi,
"Apakah kalian sudah siap?"
Keduanya menjawab dengan anggukan semangat sembari tersenyum.
"Ingat, rajinlah dan bekerja keras. Jangan pernah membuat hal yang terlalu berlebihan dimana itu bisa menyebabkan pemain lainnya atau pelatih akan merasa sedikit kurang menyukainya. Untuk sekarang, kalian hanya bisa rajin dan bekerja keras. Jika sudah mendapatkan kontrak, terserah kalian. Namun harus tetap Ingat, kita sebagai pemain asing dari luar Eropa harus menunjukan attitude yang baik juga, supaya tidak mempermalukan nama Indonesia. Kalian disini untuk Indonesia masa depan, jadi cobalah yang terbaik. Aku percaya kalian!"
Ness mengatakannya dengan sungguh dan memasang wajah yang sangat serius, dia juga memegang pundak kedua pemain itu ketika berkata dan sedikit mencengkramnya mengisyaratkan bahwa dirinya sedang serius dan benar benar berharap.
Benar benar berharap agar keduanya lolos dan berhasil.
Merasakan cengkraman Ness di pundaknya, kedua pemain itu merasakan ambisi Ness yang lebih besar. Mereka juga mengerti dan tau ambisi sesungguhnya Ness karena perkataan Ness barusan. Dimana Ness melakukan ini untuk Indonesia dan sepak bola Indonesia.
Kedua pemain itu juga akhirnya memiliki 1 tujuan lain yang sudah mereka simpan dalam di hatinya yaitu menjadi pemain Tim Nasional Indonesia dan membawanya menuju panggung dunia.
Ness tidak tahu bahwa dirinya sudah banyak memotivasi kedua pemainnya itu, meskipun tau dia akan tetap memasang wajah dingin dan serius namun di hatinya dia senang karena pemainnya mengerti ambisi dan tujuan Ness sebenarnya.
"Baiklah ayo berangkat."
"Ayo kak."
Mereka bertiga akhirnya berangkat menggunakan taksi yang ada di sekitar. Ness mengatakan agar taksinya sedikit lebih mempercepat laju kendaraan.
Meski latihannya di mulai pukul 10 pagi, Ness haris tiba disana sebelum pukul 10.
Di perjalanan Ness juga melakukan panggilan kepada Nicolas, namun Nicolas tidak mengangkatnya sepertinya belum bangun.
Perjalanan Rennes ke Paris adalah 3 jam kurang lebih, meski jauh namun harus di tempuh. Ness juga awalnya berniat menginap di Rennes tadi malam namun karena harus makan malan dirinya jadi tidak bisa, dia juga awalnya berniat mengirim ke dua pemainnya untuk menginap disana namun kasian karena mereka belum bisa bahasa Prancis.
__ADS_1
Ness juga belum mencarikan guru les bahasa, namun untung saja kedua pemainnya bisa berbahasa Inggris jadi sudah cukup.
....
Ketika perjalanan akan sampai sedikit lagi, dimana hanya membutuhkan waktu 15 menitan lagi, handphone Ness berdering.
Ness melihatnya bahwa itu Nicolas, dia segera menerimanya.
Dalam perbincangan di panggilan itu, Nicolas meminta maaf karena tidak sempat menjawab telpon, Nicolas mengatakan bahwa dirinya sedang terburu buru menuju kantor klub mengingat janji yang sudah di buat dengan Ness dan akan menjamu Ness.
Ness mengatakan tidak apa, dirinya juga berkata bahwa dirinya akan segera sampai.
Sekarang sekitar jam 9 lebih 10 menit, dimana Ness bisa sampai mungkin jam setengah 10 pagi, ini sudah cukup untuk kedua pemainnya sedikit istirahat karena perjalanan jauh.
....
Sesampainya di kantor klub Rennes, Ness langsung masuk dan menemui Nicolas diikuti kedua pemainnya itu.
Segera.
Nicolas melihat kedatangan Ness yang diikuti oleh dua pemuda dengan postur tubuh yang lumayan bagus untuk anak seusianya.
"Hallo Tuan Ness."
"Hallo Tuan Nicolas."
"Apakah perjalanannya cukup melelahkan?"
"Haha, tidak apa. Sekarang kenalkan ini kedua pemain yang saya bawa untuk melakukan percobaan disini." Sambil menunjuk ke arah dua pemuda di belakangnya yang mengikutinya.
"Aku tau."
"Baiklah, yang 1 berposisi sebagai penyerang tengah dan 1 lagi berpososi sebagai pemain belakang kanan."
Nicolas mengangguk nganggukkan, meski dirinya membutuhkan prajurit muda untuk klubnya, dia masih tidak tahu kualitas pemuda ini namun dia harus tetap menghargainya.
Segera Nicolas melakukan panggilan kepada pelatih klub. Dan hanya butuh beberapa saat sampai pelatih datang ke kantornya.
"Ada apa Ketua?"
__ADS_1
"Ini pemain yang saya bicarakan sebelumnya denganmu, tolong bawa dia untuk mengikuti pelatihan. Kedepannya aku tidak ikut campur, itu terserah penilaian kamu terhadap dua pemain muda itu."
Pelatih itu langsung melirik dua pemuda yang ada di kantor itu dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Dia pun langsung melihat jam tangannya dan langsung berkata.
"Baiklah, ikut saya. Saya akan membawa kalian ke ruang ganti untuk berganti pakaian dan bertemu pemain lainnya."
Keduanya langsung mengerti dan mengatakan selamat tinggal kepada Ness.
Ness yang berada di kantor berduaan bersaama Nicolas menjadi merasa sedikit canggung.
"Hahahaha."
Nicolas tiba tiba tertawa, meskipun sudah tua, Nicolas masih suka sedikit bercanda.
"Haha, bagaimana itu bisa terjadi?"
Nicolas mengajukan pertanyaan yang membuat Ness sedikit bingung, karena tujuan perkataannya ini dia tidak tahu kemana.
"Haha, jangan berpura pura. Istriku melihat beritamu dan memberitahuku bahwa ada pria misterius yang menaklukan Hande Ercel. Istriku bilang pria misterius itu tampan dan muda yang membuatku penasaran, jadi aku menontonnya namun yang tidak kusangka pria misterius itu kamu Tuan Ness."
Ness mengerti sekarang.
"Itu sebuah kesalahpahaman Tuan Nicolas. Kejadiannya tidak seperti itu."
"Baiklah baiklah aku tau sedikit tentangmu. Namun, dia itu wanita cantik jangan lepaskan! Hahah."
Nicolas menggoda Ness namun juga memberikan sedikit saran padanya.
Keadaan di ruangan menjadi hening lagi.
Namun suasana lebih cair kemudian karena mereka sudah tau arah pembicaraannya, Nicolas memberikan beberapa petuah pada Ness karena merasa pria di depannya ini sangat menarik untuk di perhatikan.
Ness tidak keberatan dengan beberapa petuah yang diberikan dia juga mendengarnya dan mengingat ngingatnya supaya jadi pembelajaran bagi dirinya.
Setelah beberapa topik obrolan, akhirnya waktu menunjukan pukul 10 pagi dimana latihan akan segera di mulai. Ness pergi ke lapangan dan duduk di tribun sendiri.
Nicolas tidak ikut karena harus mengurus pekerjaannya dan dia juga percaya pada penilaian pelatihnya.
__ADS_1
Di lapangan, Ness melihat para pemain sudah melakukan pemanasan namun masih ada beberapa pemain yang masih bermain main dengan pemain lainnya mungkin mereka sedang bercanda.