Great Broker

Great Broker
IBU! IBU! IBU!


__ADS_3

Ness segera menjelaskan rencana sama seperti menjelaskan kepada orang tua dari Ryan Abdullah di malang.


Ness berkata begitu karena memang begitu keadannya, apalagi Ness juga berencana mengirim keduanya ke tim yang sama.


Setelah menjelaskan semuanya, ibunya Bima langsung melirik anaknya, dimana Bima sedang menunjukan mata penuh harap pada ibunya itu.


Apalagi ketika mendengar Ness mengatakan bahwa dirinya memiliki potensi yang lebih tinggi dari rata rata pemain Eropa biasa. Ness juga menambahkan bahwa atmosfer Eropa sangat baik untuk perkembangan Ryan, dan mungkin bisa menjadi pilar negara di masa depan.


Ryan sangat tersentuh, dia sangat yakin bahwa dirinya harus pergi ke Eropa. Ryan yakin karena dirinya mendengar Ness mengatakan bahwa dirinya akan menjadi pilar negara di masa depan.


Ryan mengerti maksud Ness, itu mengartikan bahwa dirinya akan menjadi pemain timnas dan menjadi pilar tentu saja bukan pemain biasa tapi sebagai punggung atau pemain paling penting timnas, dia benar benar sangat tersentuh.


Ibunya melihat anaknya yang penuh harap dan semangat itu mau tak mau tersenyum bangga, meski hanya memiliki 1 putra dan sudah menjadi janda, namun keinginan dan mimpi anaknya lebih penting meski dirinya harus tinggal sendiri.


Segera ibunya juga menyetujui perrmintaan anaknya itu dan menyetujui Ness menjadj agennya Ryan untuk membawanya ke Eropa.


Setelah panjang kebar, Ness akhirnya menjelaskan tentang biaya biaya yang akan diambil oleh dirinya. Dan tidak ada perdebatan sama sekali.


Setelah menyelesaikan semuanya, Ness langsung pergi.


Namun, disaat Ness pergi ibunya Bima melirik putranya itu.


"Ibu mempercayaimu, jadi jangan sia siakan kesempatanmu ini, apalagi jika yang kamu katakan itu benar bahwa agen barusan meski masih muda namun sudah sangat berpengaruh di Eropa, kamu harus benar benar menuruti perkataannya demi kesuksesanmu. Ibu tidak akan mempersulitmu namun ingat beri kabar untuk ibumu ini setiap ada waktu. Ibu juga berharap agen tadi mengatakan yang benar dan kamu memiliki potensi yang luar biasa di masa depan. Jika kamu bisa menggapai impianmu, itu sudah menjadi hadiah besar bagi ibu dan menjadi kebanggaan bagi Ibu. Jadi ingat pesan ibu, jangan sia siakan, kerja keras. Jangan sampai menjadi beban, Ibu menyayangimu jadi ibu rela berpisah denganmu."


Bima benar benar tercengang dengan perkataan ibunya itu. Sebelum ibunya mengatakan perkataan itu, dia juga sudah merasa sedikit takut ketika ibunya melihatnya.


Dia benar benar tidak berharap ibunya akan mengatakan hal yang begitu menyedihkan. Bima langsung mengeluarkan air mata dan langsung memeluk ibunya sambil menangis.


Ibunya hanya tersenyum dan menepuk nepuk punggungnya sambil mengatakan 'Jangan nangis, kamu sudah dewasa.'


Bima juga akhirnya melepas pelukannya dan mengangguk mengerti dan tersenyum.


Bima benar benar tidak menyangka bahwa ibunya bisa bersikap seperti ini padahal di hari hari biasa tidak seperti ini, mungkin karena akan segera berpisah jadi ibunya meluapkan emosinya, apalagi setelah membesarkan anak sendirian, mana mungkin emosinya tidak besar.

__ADS_1


Bima merupakan seorang anak yang di besarkan oleh ibunya saja karena ayahnya kabur setelah mengetahui identitas ibu Bima yang berasal dari keluarga kelas atas.


Jadi bisa dibilang ibu Bima mengandung di luar nikah. Namun tetap tidak mengugurkannya dan tetap mengurusnya meski sendirian karena mendapat dukungan dari keluarganya, justru keluarganya sangat marah karena ayah bima malah kabur sebelum menikahinya.


...


1 hari telah berlalu, Sekarang Ness berada di Makassar untuk menemui Ahmad Alfarizi. Ness benar benar bergerak sangat cepat untuk menyelesaikan segala urusannya itu.


Setelah sampai di Makassar pada dini hari, Ness langsung tidur. Dan keesokannya Ness langsung pergi menemui Ahmad Alfarizi bersama keluarganya.


Ness juga sudah mengirimiinya pesan seperti pemain pemain sebelumnya.


Setelah titik pertemuan ditentukan di sebuah restoran, Ness langsung setuju.


Beberapa menit kemudian, Ness sudah sampai di restoran, dia mencari dimana Ahmad Alfarizi berada.


Segera, seorang pemuda mendekati Ness.


"Apakah anda Tuan Ness?"


Ness tahu karena sudah melihat photonya.


"Iyaa,"


"Kalau begitu, tolong ikut saya Tuan Ness!"


Ness mengikuti Ahmad Alfarizi yang sudah berjalan duluan di depannya.


Setelah melewati beberapa meja makan, Ness melihat 3 orang sedang duduk di meja yang ditunjuk oleh Ahmad Alfarizi.


"Disini Tuan Ness."


Segera kedua orang tuanya juga meminta Ness untuk duduk.

__ADS_1


"Lebih baik kita makan dulu Tuan Ness."


Ayahnya Ahmad Alfarizi memberikan saran, dan Ness setuju setuju saja.


Beberapa menit kemudian, semuanya telah menyelesaikan makan siangnya dan meja pun menjadi hening.


"Jadi bagaimana Tuan Ness?"


"Saya sudah memberitahu putra anda sebelumnya, namun demi ke profesionalan saya, saya akan memperkenalkan diri lagi."


Segera Ness mengenalkan dirinya yang mengatakan dirinya agen sepak bola profesional yang berkarir di Eropa. Ness juga mengatakan tujuannya membawa talenta talenta muda Indonesia ke Eropa.


"Jadi tujuan saya kesini kali ini adalah untuk menandatangani anak anda sebagai pemain yang berada di bawah panji saya dan membawanya ke Eropa."


Keadaan menjadi hening, meski Ahmad Alfarizi sudah tahu Ness karena berita waktu itu, dirinya masih tidak menyangka ketika mendengarnya langsung. Dirinya juga sudah memberi tahu orang tuanya, namun susah untuk keluarganya percaya.


"Terus apa rencanamu jika menanda tangani anak saya?"


Ness mendengar itu sedikit bingung karena rencananya dia juga tidak terlalu spesifik untuk Ahmad Alfarizi karena tidak akan memiliki teman nantinya. Namun Ness tetap mengatakan kebenarannya.


Ness mengatakan bahwa dirinya akan merekomendasikan Ahmad Alfarizi pada tim tim yang memiliki kontak dengannya dan meminta melakukan percobaan.


Meski rencananya bagus, namun masih kurang percaya.


Segera, orang tuanya bertanya lagi.


"Apakah anak saya memiliki teman disana seperti pemain pemain sebelumnya?"


Ness benar benar tidak menyangka pertanyaan ini akan muncul, dia bingung, segera dia juga berkata dengan jujur namun sedikit berbohong.


"Jujur saja, Ahmad Alfarizi mungkin akan sendirian nanti, namun itu juga hanya akan setengah musim, karena setengah musim berikutnya, saya akan mengirim pemainnya ke tempat dimana Ahmad Alfarizi berada."


"Kenapa bisa?"

__ADS_1


"Kedatangan saya ke Indonesia kali ini terlalu membawa banyak pemain muda, awalnya saya membawa 2 pemain muda, namun karena kondisi khusus saya membawa lebih banyak. 2 lainnya juga sudah saya rekomendasikan ke klub klub di Eropa yang memiliki kontak dengan saya, mereka menyetujuinya, namun di kesempatan itu juga saya merekomendasikan Ahmad Alfarizi, tapi sayang klub itu hanya menerima 2 pemain untuk melakukan percobaan, jadi saya tidak bisa berbuat apa apa."


Setelah mengatakan begitu, orang tuanya Ahmad Alfarizi memandang anaknya itu yang sedikit sedih karena tidak memiliki teman namun masih memiliki mata yang penuh harap agar dirinya di izinkan.


__ADS_2