Great Broker

Great Broker
Keputusan


__ADS_3

Semenjak kepergian Ness terakhir kali ke Eropa, itu menjadi sebuah pukulan untuk Raline. Meski Raline hanya bersamanya sebentar ketika Ness berada di Indonesia.


Raline merasa bahwa hidupnya berbeda dengan yang biasanya, dia juga pertama kali merasakan bahwa hidupnya sedikit berwarna dimana tidak ada kebisingan suasana kantor dan kepentingan kepentingan pertemuan bisnisnya.


Ia senang menjalani kehidupan seperti itu. Ketika mengantar Ness membicarakan kontrak dengan sponsor, Raline merasa bahwa dirinya seperti seorang kekasih atau istri dari seseorang karena mengikuti pertemuan suaminya.


Semenjak kepergian Ness itu, Raline sudah memikirkan semuanya.


Ia ingin meninggalkan semua bisnisnya dan fokus pada kehidupannya, dimana tidak ada urusan pekerjaan penting dimana melibatkan urusan keluarga dan bisnis, dia berniat begini karena mengingat nasehat dari neneknya waktu masih bersekolah di tingkatan SMA.


Neneknya mengatakan untuk tidak terlalu peduli atau terlalu mementingkan bisnis, kehidupan dirinya sendiri lebih penting. Bisnis bisa datang kapan saja dan hilang kapan saja, namun masih bisa dicari, tapi jika tidak menikmati kehidupan, dan hilang seketika, itu tidak bisa di cari lagi atau di ulang lagi.


Neneknya juga tahu bahwa cucunya itu tertekan oleh kepentingan keluarga. Makanya memberi beberapa nasihat untuk cucunya yang wanita satu satunya.


Neneknya tidak mau cucunya itu menjadi stress karena banyaknya tekanan pekerjaan dan kurang menikmati kehidupannya.


Dalam keadaan kontemplasi yang lumayan cukup panjang, Raline teringat wejangan neneknya itu dan semakin menguatkan niatnya untuk melepaskan semua bisnisnya.


Dia datang ke rumah keluarganya dan menjelaskan semuanya itu.


Dia juga menjelaskan alasannya yang paling utama, yaitu sedang jatuh cinta dan sedang mengejar pria itu namun karena terjerat oleh bisnis dirinya tidak bisa terus mengejarnya.


Ketika ibunya mendengar bahwa putrinya mengatakan itu juga tersenyum senang, nyatanya tidak ada atau bahkan tidak pernah Raline bersikap seperti itu untuk mengejar seorang pria.


Ibunya juga debat dengan ayahnya yang lebih mementingkan urusan keluarga. Namun setelah perdebatan panjang ayahnya mengalah dan hanya mengizinkan jika dia bertemu dengan pria itu.


Setelah diizinkan begitu, Raline menghubungi Ness namun tidak di jawab jawab olehnya. Raline kesal dan sedih, nyatanya dia sudah membulatkan keinginannya dan tekadnya bahwa dia benar benar sudah melepaskan semuanya namun pria yang di sukainya masih belum peduli padanya.


Beberapa menit kemudian, Raline kembali tenang dan mencoba tersenyum.


Menyalakan kembali handphone nya dan melakukan panggilan lagi.


Tak lama panggilan juga terhubung, senyum lebar muncul dari wajahnya.


Di sebrang sana, dimana Ness berada.


Ketika panggilan ke tiga datang, Ness masih mengabaikannya dan berkata,


'Aku ingin melihat sampai mana kamu akan berusaha? Apakah kamu orangnya?'


Ness tersenyum dan tetap mengabaikannya, namun Ness juga menetapkan niatnya untuk mengangkat di panggilan ke empat jika memang Raline benar memanggilnya lagi.


Namun setelah ditunggu tunggu, tidak ada panggilan ke empat dari Raline yang membuat Ness merasa kesal.


'Aku sudah menetapkan niatku, tapi kamu malah berhenti melakukan panggilan.'


Beberapa menit kemudian, Ness masih tetap di tempat sebelumnya dan memandangi handphonenya, menunggu handphone nya berdering lagi.


Tak lama, handphone nya berdering lagi dengan nama panggilan Raline.


Ness tersenyum dan langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo "


"Kamu mengabaikanku 3x huh! Ku kira yang ini akan di abaikan juga."


Raline langsung menerobos batas, namun sikap Raline seperti inilah yang menjadi ciri khasnya.


Ness juga tersenyum.


"Maaf."


"Kenapa? Sedang sibuk sampai tidak mengangkat panggilan ku seperti biasanya?"


"Ohh itu, aku tidak sibuk, aku sengaja mengabaikannya saja."


Raline mendengar perkataan Ness yang sengaja mengabaikannya menjadi kesal.


"Huhh! Dimana kamu sekarang?"


Tiba tiba suaranya menjadi lembut.


"Di tempat dimana aku seharusnya berada."


Ness mencoba bercanda, mencoba menghilangkan sikap dinginnya itu, dia ingin mencobanya karena jika tidak mencobanya, dia akan terus bersikap dingin.


"Serius!"


Nada kesal.


"Kamu tahu dimana aku berada!"


"Ahh, aku ada di hotel yang dulu ku sewa untuk menginap."


Ness langsung berbicara lagi, takut sikap dinginnya tadi merusak rencana perubahan hidupnya.


Raline awalnya terkejut dengan perkataan Ness di awal yang dengan dingin dan sedikit ada rasa kesal dan marah mengatakan bahwa Raline mengetahui dimana dirinya berada.


Meski begitu, Raline juga mendengar suara susulan Ness yang lembut.


Raline tersenyum.


"Waktu mu kosong kan?"


"Ah iya, tapi biasanya jika waktu ku kosong atau tidak pun, kamu akan tetap datang seperti sebelumnya."


Ness mencoba bercanda lagi dan mengingat kejadian kejadian sebelumnya, apakah Raline pernah datang di saat dirinya mempunyai pekerjaan, namun tidak mengingatnya.


"Huhh! Aku serius bertanta karena ini sangat penting dan serius."


Ness pun segera menjadi serius.


"Kosong, katakan ada apa?"

__ADS_1


"Orang tuaku ingin bertemu denganmu."


Raline mengatakannya terus terang tanpa malu sedikit pun.


Berbeda dengan Ness yang terdiam tercengang.


'Apa maksudnya? Ada apa ini?'


Dia tiba tiba merasa bahwa obrolannya ini tidak bisa dia mengerti.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Aku baru tiba di Indonesia dan orang tuamu ingin bertemu denganku. Ada apa ini? Kamu mengandung? Aku bukan anak dari ayah yang kamu kandung."


Ness mau tak mau berasumsi dan berkata begitu karena dalam kehidupan sebelumnya, biasanya obrolan seperti ini mengarah pada hal seperti ini.


Raline yang di sebrang juga diam, dia juga tidak mengerti apa yang dibicarakan Ness. Namun segera dia juga teringat bahwa tadi Ness mengatakan bahwa dirinya mengandung.


Dia merasa kesal.


"Apa maksudmu mengatakan aku mengandung? Aku tidak mengandung!"


"Terus apa tujuan orang tuamu ingin bertemu denganku dan kenapa mereka ingin bertemu denganku?"


Ness malah semakin bingung.


"Ahh dia ingin bertemu denganmu karena aku bercerita."


Ness menjadi bingung sekali dengan topik obrolannya ini.


"Bercerita apa?"


Raline merasa malu untuk mengatakan bahwa dirinya menceritakan tentang rasa cintanya.


"Ahh tidak ada, tidak ada. Lupakan saja!"


"Kamu ini aneh."


"Ikut saja denganku, nanti kamu akan tau juga." Raline akhirnya lebih memilih to the point saja.


"Ohh, kapan dan dimana?"


"Nanti sore."


Ness melihat jam di tangannya menunjukan pukul 2 siang, mungkin sekitar 1 jaman lebih lagi.


"Mendadak?"


"Ya, aku tau kamu akan sibuk kedepannya jadi selagi ada waktu."


"Hahh baiklah."


Setelah persetujuan Ness, percakapan menjadi lebih cair. Ness juga sering tersenyum namun sikap dinginnya kadang kadang datang namun tetap dirasakan oleh Ness dan segera di kontrol olehnya.

__ADS_1


Panggilan berakhir.


Ness melihat masih ada waktu dan dia pergi untuk membersihkan tubuhnya.


__ADS_2